Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Tidak Seperti Dulu
Begitu Pak Guru melangkah keluar, seisi kelas meledak dalam bisik-bisik yang riuh.
"Jadi kamu sering ke rumah Kak Vyan?" tanya Reka dengan mata membelalak.
"Iya. Tiga kali seminggu," jawab Yasmin tanpa beban.
Atmosfer di kelas memang tampak tenang di permukaan. Namun, di bawah radar perlindungan yang dibangun oleh Tegar dan Dhini, racun gosip tetap mengalir melalui celah-celah sempit.
Tegar yang duduk dengan posisi siaga, sesekali melirik tajam ke arah siapa pun yang berani bersuara agak keras, membuat mereka yang berniat membully Yasmin secara langsung segera menciut. Begitu pula Dhini dan Reka yang menjadi pagar pelindung di sisi Yasmin. Namun, kebencian yang terpendam selalu menemukan jalannya sendiri—melalui bisikan-bisikan halus yang volumenya diatur sedemikian rupa agar tidak sampai terdeteksi radar mereka.
Para siswa di pojok kelas itu berbicara dengan posisi kepala saling merapat, nyaris tanpa suara, seolah sedang membicarakan rahasia negara. Mereka sangat ahli dalam menjaga ekspresi wajah agar tetap terlihat sedang mengerjakan tugas bahasa Inggris, padahal lidah mereka sedang tajam menguliti Yasmin.
"Gue gak nyangka si Yasmin gencar mengejar Kak Vyan. Wajar aja cowok paling cool kayak Kak Vyan pun sampai jatuh dalam perangkapnya," bisik salah seorang siswi dengan volume yang hanya bisa didengar oleh lingkaran kecilnya.
"Jelas. Cewek genit macam dia, sangat mahir godain cowok macam apapun. Malah katanya Kak Ray pun sampai berani meninju Kak Vyan gara-gara si Yasmin itu!"
"Yang bener?"
"Serius. Banyak saksi yang ngeliat peristiwanya."
"Kirain gue si Yasmin polos ternyata dia cuma pura-pura. Gue yang tadinya kadang kasihan pun, rasanya jadi benci sama dia."
Sementara itu, di pojok lain, dua orang cowok berbicara dengan nada yang lebih berat tapi tetap terjaga dari pendengaran Tegar. Mereka menggunakan tangan yang menutupi mulut seolah-olah sedang berpikir keras memecahkan soal di buku.
"Gue ngaku sih nggak ada yang bisa ngalahin orang kayak Vyan. Percuma juga ngotot kayak si Ray," bisik salah satu dari mereka sambil membolak-balik halaman buku bahasa Inggrisnya dengan pura-pura serius.
"Tapi gue nggak nyangka, selera Vyan sama kayak kita-kita. Fisik, Sob!" sahut temannya, matanya melirik sekilas ke arah Yasmin yang sedang fokus menulis.
"Lu tuh jangan bego. Kita sama-sama cowok. Kalo udah puas, ngebuang cewek sebodoh si Yasmin kan gampang." Dia melirik Tegar yang duduk cukup jauh dari mereka. Jarak yang cukup aman di luar radar ketua kelasnya itu.
"Tapi Sob, gue denger Vyan gak pernah pacaran sebelumnya."
Lawan bicaranya mendengus, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya. "Nggak pacaran bukan berarti nggak nafsu. Itu cuma buat jaga image doang. Di belakang? Siapa yang tahu berapa banyak cewek yang udah dia sikat..."
Temannya manggut-manggut pelan, seolah baru saja mendapatkan pencerahan yang masuk akal bagi logikanya yang dangkal. Tatapannya dipenuhi rasa iri yang pekat.
"Enak bener jadi Ketos," gumamnya pelan, suaranya sarat dengan kecemburuan terhadap posisi dan "keberuntungan" Vyan yang mereka pikir bisa didapatkan dengan cara yang semurah itu.
...****************...
Vyan menyunggingkan senyum kecil yang tampak ramah di permukaan, namun matanya tetap dingin saat menatap Zia yang berdiri di hadapannya.
"Ingin bantu sih, tapi nanti siang ruang OSIS dipakai rapat evaluasi kegiatan kemarin," ucap Vyan datar.
Zia tertegun. Biasanya, Vyan tidak pernah memberikan penolakan mentah-mentah tanpa menawarkan solusi lain. "Gue mengerti. Gue sudah janji sama Dila, Fifi, dan semua anggota Keputrian untuk membicarakan program baru. Kalau tidak bisa di ruang OSIS, tidak apa-apa. Kita bisa pakai kelas saja."
"Ya, baguslah. Tapi Dila sama Fifi juga ga bisa hadir," sela Vyan cepat. "Mereka anggota OSIS dan panitia inti yang wajib hadir dalam rapat nanti."
Zia merasa benar-benar terpojok. Hanya Dila dan Fifi yang selama ini serius membantunya menghidupkan kembali ekskul itu. Yolan, teman sebangkunya dulu, hanyalah tipe pengikut yang ada saat sukses namun menghilang saat perjuangan.
"Zia, kita bisa bantu, kok!" seru Sandra tiba-tiba. Zia menoleh, melihat Sandra dan kedua temannya menatapnya dengan semangat yang mencurigakan.
"Tapi kalian bertiga kan bukan anggota Keputrian?"
"Kita bisa mulai jadi anggota sekarang, terus bantu lo mengumpulkan orang," tawar Sandra manis.
Zia ragu, namun ia merasa tak punya pilihan. "Iya, terima kasih banyak kalian mau bantu gue."
Vyan berdiri dari duduknya. "Zia, kalau lo butuh bantuan gue, tinggal bilang saja."
Zia terpaku. Perkataan Vyan terasa sangat kontradiktif dengan kenyataan yang baru saja ia alami. Agil ikut berdiri, menambah tekanan di ruangan itu.
"Benar, Zia. Kita siap bantu lo. Dulu kita kan teman," ucap Agil. Kalimat itu membuat jantung Zia mencelos.
"Apa maksud lo dengan 'dulu', Gil? Maksud lo sekarang kita nggak bisa berteman lagi?"
"Jangan sensitif dong, Zia. Kita masih berteman. Ayo, mau ikut bareng ke kantin? Seperti dulu..." ajak Agil dengan nada yang dipaksakan santai.
"Oke. Gue ikut," jawab Zia, berusaha mencairkan kebekuan dengan senyuman.
"Eh, Zia!" seru Sandra. Zia menoleh ke arah geng itu. "Kalian mau ikut juga?"
Sandra, Mia, dan Resi serentak menggeleng. Sandra melambaikan tangan dengan senyum yang aneh, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan. "Lo saja deh," ucapnya. Zia hanya bisa tersenyum bingung lalu melangkah mengikuti Vyan dan Agil.
"Biarkan saja, Dra. Mungkin Zia perlu tahu situasinya sekarang," bisik Resi yang diamini oleh anggukan Sandra.
Zaki yang dari tadi diam-diam memperhatikan, pandangannya terus menatap Zia di balik jendela. Sosok mereka yang melintas di koridor akhirnya semakin menjauh.
Zia berjalan beriringan dengan Vyan dan Agil di koridor sekolah. Ia berusaha bersikap biasa, berharap mereka bertiga bisa kembali seperti dulu. Namun, keraguan tetap membayangi setiap langkahnya.
"Zia, sebenarnya kenapa lo kembali?" tanya Vyan. Nadanya terdengar ringan, namun pertanyaan itu terasa seperti sebuah interogasi yang memojokkan.
Zia menarik napas panjang. Ia sudah menyiapkan jawaban, namun setelah melihat perubahan sikap Vyan, alasan itu terasa hambar. "Gue memilih tinggal sama Tante lagi karena Papa pindah kerja ke Jambi. Mama juga ikut. Gue malas kalau harus ikut ke sana, jadi ya ke sini lagi saja."
"Kirain lo kangen sama kita. Habis selama di Cirebon nggak pernah kasih kabar," sindir Agil.
Zia tertawa garing, sebuah tawa yang menyembunyikan rasa pedih. 'Satu bulan penuh aku tanya terus kabar kalian, tapi kalian tidak pernah balas BBM, SMS atau angkat telepon,' batinnya menjerit.
"Kirain kalian berdua yang ingin melupakan gue."
"Memang sih. Kan pacaran lebih penting dari persahabatan," sahut Vyan dengan nada pedas yang dibalut ketenangan.
"Benar, Yan. Oh ya, gimana kabarnya pacar lo, Zia? Ditinggal lagi dong?" tambah Agil.
"Agil, lo nggak tahu sih kalau Zia itu tipe cewek setia..." ucap Vyan lagi.
Zia merasa mati kutu. Langkahnya terasa semakin berat, seolah seluruh tenaganya tersedot habis. Ia berusaha keras untuk tetap tersenyum. "Iya. Kita masih bisa telepon-teleponan, kok."
"Gue yakin, pacar lo bakal selalu angkat telepon karena bagi lo... pacaran lebih penting dari persahabatan," tutup Vyan dengan kalimat yang menghujam telak.
Kali ini Zia berhenti melangkah. Bukan hanya karena perkataan Vyan yang sangat menyakitkan, tapi juga karena ia menyadari arah jalan mereka. Agil dan Vyan menoleh saat melihat Zia tertinggal di belakang. Wajah Zia tampak gelisah.
"Gue mengerti kalian berdua masih marah..." ucap Zia dengan suara yang sedikit bergetar.
Vyan tersenyum tenang. "Zia, maafkan kita. Kita sudah tidak marah, kok. Lagian kejadiannya sudah lama. Kita cuma bercanda saja. Masa lo lupa sih dulu kita sering bercanda lebih nyelekit dari ini? Biasanya lo nggak apa-apa. Sekarang kenapa jadi sensitif sekali?" Vyan menjeda sejenak, menatap Zia tajam. "Jangan-jangan lo lupa bagaimana cara kita berteman dulu?"
Zia tertegun. Mereka memang dulu sangat akrab, bahkan saling sindir sudah menjadi makanan sehari-hari. Biasanya Zia akan membalas dengan lebih tajam, tapi sekarang rasanya berbeda. Kata-kata itu bukan lagi bercanda, tapi peluru.
"Iya, mungkin gue lupa..." ucap Zia akhirnya. "Gue nggak jadi ikut ke kantin."
"Kenapa?" tanya Agil.
'Karena gue tahu kalian berdua mau menjemput Yasmin dulu. Kalau benar mau ke kantin, seharusnya kita sudah belok dari tadi,' batin Zia pahit.
"Dompet gue ketinggalan."
"Kali ini gue yang traktir, Zia," sahut Agil.
"Tumben lo, Gil," sela Vyan.
"Buat Zia sobat kita, kenapa nggak?"
Zia tetap menggeleng. Ia tidak sanggup jika harus melihat bagaimana Vyan memperlakukan Yasmin di depan matanya. "Terima kasih, Gil. Kayaknya lain kali saja."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Zia berbalik dan berjalan cepat menjauh. Agil dan Vyan hanya berdiri mematung melihat kepergiannya.
"Baru kali ini gue lihat Zia seperti itu," komentar Agil pelan. Vyan tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang menyimpan kepuasan gelap karena berhasil membuat Zia merasakan sedikit dari rasa sakit yang selama ini ia simpan.
...****************...
Dari sudut jendela kelasnya, Dean terpaku menatap pemandangan di koridor sekolah. Ia melihat Yasmin berjalan melintas, diapit oleh Vyan dan Agil yang tampak begitu protektif. Sorot mata Dean meredup saat melihat bagaimana Vyan berdiri begitu dekat dengan Yasmin—sebuah posisi yang seharusnya menjadi miliknya.
Dean menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya.
'Sudahlah, Dean. Mereka saling mencintai. Sekarang Yasmin pun pasti bahagia. Kalau sama Kak Vyan, aku percaya dia bisa membahagiakan Yasmin. Apalagi mereka pasangan serasi. Cantik dan tampan, baik dan pintar,' batinnya berusaha menghibur diri.
Namun, logika Dean kalah telak oleh pemberontakan di hati kecilnya. 'Kenapa bukan aku? Aku orang yang lebih dulu mengenal Yasmin. Aku yang selalu menjaganya dari dulu. Kenapa aku tidak punya keberanian mengungkapkan perasaanku?'
Selama ini, Dean terjebak dalam ketakutannya sendiri. Ia selalu merasa bahwa jika ia menyatakan cinta, Yasmin yang lugu akan merasa asing padanya. Ia takut kenyamanan persahabatan mereka hancur dan berubah menjadi kecanggungan yang tak terperbaiki. Ia memilih diam demi menjaga kedekatan, namun kini ia harus membayar harga mahal: melihat Yasmin di pelukan orang lain.
Dean mencoba menenangkan kegalauan hatinya dengan menarik napas dalam-dalam. Namun, saat ia mencoba mengalihkan pandangan, matanya mendadak membeliak. Di luar jendela, tak jauh dari tempatnya berdiri, ada Reka yang sedang menatapnya.
Reka tersenyum manis—sebuah senyuman yang bagi Dean terasa seperti sebuah tagihan janji yang menuntut pelunasan.
Selama ini, Dean memang bersikap sangat dingin dalam hubungan mereka. Ia hanya membalas pesan seperlunya, jarang memulai percakapan, bahkan sering menghindar di sekolah dengan alasan tidak ingin menjadi konsumsi gosip. Dean memang sesekali menemani Reka jalan, tapi itu pun dilakukan dengan setengah hati.
Kali ini, Reka tidak ingin lagi menerima penolakan. Sorot matanya dengan jelas mengatakan bahwa ia ingin mereka menghabiskan waktu istirahat bersama, sebagai sepasang kekasih yang "normal".
Dean berdiri mematung. Ia merasa terjebak di antara rasa bersalahnya pada Reka dan rasa sakitnya melihat Yasmin. Ia sadar, pelariannya kepada Reka kini mulai menuntut tanggung jawab yang sebenarnya belum siap ia berikan.
kalau gk ad yg nyadarin bisa keblalasan tuh...
gk ada angin gk ada ujan, masuk sekolah pun enggak... aneh betul...