NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Han tidak menarik tangannya. Bagi orang normal itu hanyalah hal biasa. Namun bagi seseorang seperti dirinya, itu berarti sangat besar. Ruangan bunker tetap sunyi, hanya suara ventilasi dan dengung monitor tua yang terdengar samar di antara mereka.

Nara masih menggenggam tangan Han dengan pelan. Tidak erat dan tidak memaksa hanya sekadar memastikan kalau dia tidak sendirian saat membuka luka lamanya kembali. Arga yang biasanya paling cerewet pun memilih untuk diam. Ia duduk bersandar di kursinya sambil memandangi file Rian di atas meja.

Wajahnya muram.

“Delapan tahun…” gumamnya pelan, “...mereka ambil organ tubuh dari anak umur delapan tahun…”

 “Helios tidak melihat umur,” jawab Han dengan nada suara yang tetap datar.

“Terlalu muda, terlalu tua, sakit, sehat… itu semua cuma angka buat mereka.”

Nara perlahan melepaskan tangan Han, tapi tetap duduk di dekatnya.

“Kamu tidak pernah cari tahu… di mana Rian dimakamkan?”

Pertanyaan itu membuat Han terdiam cukup lama, lalu ia menggeleng pelan.

“Tidak ada makam.”

“Tubuhnya tidak pernah dikembalikan.”

Kalimat itu kembali membuat dada Nara terasa sesak. Semantara Arga menunduk sambil mengusap wajahnya dengan tangan.

“Oke,” katanya akhirnya. “Mulai sekarang aku resmi dendam pribadi sama Helios.”

Han meliriknya sekilas, “…kamu bisa pergi kalau mau.”

Arga langsung mendelik.

“Hah?”

“Setelah tahu semua ini,” lanjut Han tenang, “semakin jauh dari kami akan semakin aman.”

“Han.”

“Helios tidak akan berhenti memburu siapa pun yang tahu terlalu banyak.”

Tatapan Han berpindah ke Nara. “Kalian masih punya kesempatan untuk pergi.”

Nara langsung menjawab tanpa ragu.

“Tidak.”

Han sedikit mengernyit. Nara menatapnya lurus.

“Kalau aku pergi sekarang, semua orang yang mati karena organisasi itu jadi tidak ada artinya.”

“Kamu lupa kalau aku juga jadi target mereka?” lanjut Nara.

Han menatapnya dalam. Suasana kembali hening. Arga menaruh  kepalanya diatas tangannya dengan malas.

“…jujur aja, habis lihat altar kepala manusia itu, rasanya hidup gue ngga bakal normal.”

 “Lagipula kalau gue harus mati, minimal mati sambil ngerepotin organisasi sesat.”

Han menghela napas, seperti ingin protes. Namun sudut bibirnya bergerak tipis. Sangat tipis. Dan itu cukup membuat Nara sadar; kalau Arga mungkin satu-satunya orang yang masih bisa menarik Han sedikit keluar dari aura gelap dikepalanya.

Tiba-tiba monitor tua itu berbunyi pendek. Semuanya otomatis langsung menoleh. Layarnya terlihat berkedip beberapa kali.

Arga langsung bergerak cepat, tanganya bergerak lebih cepat dari pada mulutnya.

“Ada file lain kebuka.”

“Kayaknya sistem lama ini mulai sinkron karena barcode Han tadi.”

Beberapa folder baru muncul otomatis. Sebagian rusak dan sebagian lagi terkunci. Namun satu file menarik perhatian Han.

ORISON — ACTIVE DISTRIBUTION

Tatapan Han langsung berubah tajam.

“Buka.” Sambil menunjuk file itu.

Arga mengklik file itu, loading berjalan lambat. Sistem tua itu seperti berusaha hidup sambil sekarat. Lalu data mulai muncul.

Daftar lokasi.

Kode fasilitas.

Jalur pengiriman.

Dan beberapa status operasi terbaru.

Nara membaca salah satu baris perlahan.

Sector 9 — active

Sector 12 — expansion approved

Youth intake scheduled

Ia mengernyit. “Youth intake?”

Han langsung berdiri mendekat dengan wajah yang menegang. Arga men-scroll lebih bawah lagi. Dan seluruh ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Incoming subjects: 48

Sunyi. Nara perlahan menoleh.

“Subjects…”

Han menjawab pelan. “Anak-anak.”

Arga berhenti mengetik.

“Tidak mungkin…”

Namun ekspresi Han menunjukkan sebaliknya. Selama Helios masih ada. Program ORISON tidak akan berhenti dan mereka masih mengambil anak-anak.

Sekarang. Hari ini.

Nara menatap layar dengan jantung berdegup keras.

“Lokasinya?”

Arga memperbesar data. Sebagian koordinat rusak tapi ada satu nama wilayah masih bisa dibaca.

District Epsilon — Coastal Route

Han langsung mengenalinya. Rahangnya mengeras.

“Itu jalur pelabuhan lama.”

Damar pernah menyebut wilayah itu beberapa kali. Daerah kumuh dekat perbatasan distrik industri. Tempat dimana banyak anak yang hilang tanpa pernah dicari.

Arga perlahan bersandar.

“Bangsat…”

Nara menatap Han.

“Apa yang akan mereka lakukan?”

Han tidak langsung menjawab, karena ia tahu jawabannya akan terlalu baik.

“Mereka sedang memulai batch baru.”

Potongan memori kembali muncul di kepalanya.

Lorong putih. Anak-anak yang menangis. Nomor di tangan. Pintu besi yang menutup.

Dan suara seseorang berkata: “Batch berikutnya sudah datang.”

Han mengepalkan tangannya dengan kuat.

Tidak.

Bukan lagi.

Bukan setelah semua ini.

Nara melihat perubahan itu. Amarah Han terlihat jelas. Bukan dingin. Bukan kosong. Ini murni kemarahan.

“Kalau data ini benar…” kata Arga sambil tetap menatap layar.

“…berarti mereka bakal ambil empat puluh delapan anak.”

Han mengangguk sambil melihat ke arah layar monitor.

Arga menarik napas panjang lalu berkata, “..Oke,” sambil menatap Han. “Kita hancurin tempat itu.”

Nara menoleh cepat.

“Arga..?”

“Apa?” Arga mengangkat bahu. “Kita mau nunggu mereka jadi mayat dulu?”

Han tetap diam. Namun pikirannya bergerak cepat, ini bukan misi kecil. Kalau mereka bergerak sekarang, Helios mungkin langsung sadar Han masih hidup. Tapi kalau tidak, empat puluh delapan anak itu akan bernasib sama seperti dirinya dulu atau lebih buruk.

Nara memperhatikan Han.

“Apa kau tahu tempat itu?”

Han mengangguk perlahan.

“Aku pernah dikirim ke sana.”

Jawaban itu membuat Arga langsung menatapnya. Han memandang layar monitor dengan tatapan mata yang dingin.

“Itu bukan fasilitas utama.”

“Tapi cukup besar buat jadi tempat transit.”

Tempat transit, kata itu saja sudah terdengar mengerikan. Han menarik napas pelan. Lalu akhirnya berkata,

“Kita tidak bisa menyerbu langsung.”

Arga mendesah.

“Ya jelas. Kita cuma bertiga dan satu abang gangster pelabuhan.”

“Tapi kita bisa mengintai dulu.”

Nara mengernyit.

“Kapan?”

Han menatap layar beberapa detik, lalu menjawab dengan suara rendah,

“Malam ini.”

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!