Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan di Atas Angsuran
Jika di lantai teratas gedung Wijaya Group sore itu ditutup dengan tatapan obsesi gelap Keisha dan langkah angkuh Arsen, maka di belahan kota lain, sore hari berjalan dengan cara yang jauh lebih melelahkan bagi Alana.
Aroma gurih ayam goreng tepung dan sengatan wangi cabai rawit segar kembali menguar dari kedai kecil Geprek Rumah Rasa.
Di balik etalase kaca sederhana yang mulai berembun oleh hawa panas dapur, Alana bergerak dengan cekatan.
Tangannya yang mungil bergantian membalik ayam di penggorengan besar dan mengulek sambal di atas cobek batu.
Sekilas, semua tampak berjalan normal. Beberapa pelanggan bahkan sudah mulai mengantre demi mendapatkan sepiring geprek hangat buatan Alana untuk menu makan malam mereka.
Namun, di balik senyum ramah yang selalu ia sunggingkan saat melayani pembeli, ada gemuruh kecemasan yang sedari tadi mencengkeram dada Alana.
Jualan sore ini tidak lahir dari ketenangan, melainkan dari sebuah keputusan nekat yang terpaksa ia ambil beberapa jam lalu.
Alana menghela napas panjang saat teringat momen setelah sarapan bersama keluarga Naira tadi pagi.
Begitu berpamitan dengan Naira, Alana sengaja tidak langsung pulang ke kontrakan. Ia berjalan menyusuri gang-gang pasar dengan pikiran yang buntu total.
Sebenarnya, sempat terlintas di benaknya untuk meminjam uang kepada Naira. Ia tahu betul, jika ia membuka mulut, Naira dengan senang hati akan meminjamkannya—atau bahkan memberikan modal itu cuma-cuma.
Namun, justru karena kebaikan itulah Alana menahan diri. Rasa sungkan dan harga dirinya sebagai seorang sahabat melarangnya untuk terus-menerus menjadi benalu di hidup Naira.
Naira sudah terlalu banyak membantunya, dan Alana tidak ingin persahabatan tulus mereka tercoreng oleh urusan utang-piutang.
Alhasil, dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Alana membawa dirinya menemui seorang pria berjaket kulit yang biasa mangkal di sudut pasar—seorang agen bank harian.
“Pinjam lima ratus ribu, besok sore sudah mulai dicicil tiga puluh ribu per hari selama dua puluh lima hari. Telat satu hari, denda sepuluh ribu. Gimana, Mbak Alana? Mau?”
Suara serak pria itu masih terngiang jelas di telinga Alana.
Tanpa punya pilihan lain demi menyelamatkan kedainya hari ini, Alana menandatangani selembar kertas lusuh dan menerima beberapa lembar uang ratusan ribu yang kini telah berubah menjadi bahan baku di hadapannya.
Plak! Plak!
Alana menekan ulekan batunya dengan tenaga ekstra, meluapkan seluruh rasa sesak di dadanya ke atas cabai-cabai merah di atas cobek.
Uang lima ratus ribu dari bank keliling itu memang berhasil membuat kompornya kembali menyala sore ini.
Namun, ia juga sadar, mulai besok sore, hidupnya akan dikejar-kejar oleh setoran harian yang tidak mau tahu apakah dagangannya laku atau sepi.
"Mbak Alana, geprek level limanya satu, dibungkus ya," seru seorang pelanggan tetap, memutus lamunan Alana.
Alana buru-buru mengerjapkan mata, mengusir kabut tipis yang sempat menghalangi pandangannya, lalu melempar senyum manis andalannya. "Siap, Kak. Ditunggu sebentar ya, ayamnya baru mau diangkat."
"Oke Mbak, aku tunggu di sana ya," ujar pria itu sembari menunjuk kursi panjang di dekat jendela usang kontrakannya.
"Oke, ditunggu ya." Alana mengangguk ramah, tangannya kembali cekatan memainkan capitan besi untuk meniriskan ayam goreng yang baru matang.
Srek! Cklek.
Suara standar dua sepeda motor yang bergesekan dengan semen teras kedai terdengar, disusul deru mesin yang mati. Belum sempat Alana mendongak dari wajannya, seuntai kalimat akrab sudah lebih dulu menyapa telinganya.
"Wangi banget, Na. Sampai depan gang keciuman aromanya."
Alana menoleh. Di ambang pintu kedai, Reno sudah berdiri sembari menepuk-nepuk debu jalanan di bahunya. Pria berpostur tegap dengan kemeja flanel hitam-merah yang lengannya digulung asal sampai siku itu tersenyum lebar, membuat suasana kedai yang sempat terasa tegang bagi Alana mendadak sedikit mencair.
Reno adalah kakak tingkat Alana di kampus. Di tengah kesibukannya menyelesaikan tingkat akhir, pria itu sering kali menyempatkan diri mampir ke kedai Alana, entah sekadar untuk makan atau memastikan juniornya itu baik-baik saja.
Reno tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Gimana jualan hari ini? Laris?"
"Eh, Kak Reno. Habis dari mana nih?" tanya Alana, mencoba menormalkan suaranya yang sempat serak.
"Habis bimbingan langsung belok ke sini begitu sadar perut udah demo," Reno terkekeh pelan.
Ia mengambil tempat duduk di salah satu kursi plastik kosong, lalu memperhatikan wajah Alana dengan saksama.
Senyum di wajah pria itu perlahan menyusut. "Kamu... kok kelihatan pucat banget, Na? Capek banget ya hari ini?"
Alana tersentak kecil, buru-buru menyeka pelipisnya yang berkeringat dengan ujung celemek. "Ah, masa sih, Kak? Enggak kok, cuma efek hawa kompor aja dari tadi siang. Gerah banget."
Reno menyipitkan mata, jelas tidak langsung percaya dengan alasan klasik itu.
Sebagai orang yang cukup lama mengenal Alana, ia tahu seberapa keras kepala gadis ini kalau menyangkut rasa lelahnya. "Jangan dipaksain kalau capek, Na. Ingat makan juga. Jangan sampai yang jualan ayam malah sakit karena kurang gizi."
"Iya, Kak Reno. Aku tahu kok," Alana tersenyum tipis, merasa sedikit hangat karena perhatian kecil itu.
Namun di saat yang sama, dadanya kembali terasa sesak mengingat kertas utang yang tersimpan di dalam lacinya. "Kakak mau pesan apa? Seperti biasa?"
"Iya, geprek dada, sambalnya sedang aja. Sama es teh manis satu," jawab Reno.
Matanya menyapu stoples plastik tempat uang di dekat etalase, yang isinya belum seberapa dibanding hari-hari biasanya. "Tadi pagi aku sempat lewat sini pas mau berangkat, tapi kedai belum buka. Tumben weekend bukanya sore?"
Pertanyaan sederhana Reno bak hantaman telak yang membuat gerakan tangan Alana yang sedang mengambil ayam mendadak kaku.
Bayangan wajah garang Hendra yang merampas paksa uang belanjanya subuh tadi kembali berputar di kepala.
"A-ah... itu..." Alana menelan ludah dengan susah payah, membelakangi Reno agar pria itu tidak melihat binar matanya yang mendadak bergetar panik. "Tadi pagi ada sedikit urusan mendadak sama Naira, Kak. Jadi agak telat ke pasarnya."
Reno hanya mengangguk-angguk paham, tidak ingin menginterogasi lebih jauh karena melihat antrean pelanggan yang mulai bertambah di belakangnya. "Oh, pantesan."
Matahari sore perlahan mulai tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh temaram lampu jalanan.
Sambil membungkus pesanan untuk Reno dan pelanggan lainnya, Alana menatap nanar ke arah stoples plastik tempat ia menyimpan uang hasil penjualan sore ini.
Di belahan kota yang sama, Arsen mungkin baru saja menghancurkan masa depan bisnis seseorang tanpa berkedip dengan selembar kertas.
Namun di sudut kecil ini, Alana justru sedang berjuang mati-matian, mengikat lehernya sendiri dengan utang harian, hanya demi menyambung napas usaha dan senyum tipis yang harus tetap ia pasang di depan kakak tingkatnya yang peduli kepadanya.