Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Sesampainya di parkiran suasana sudah sepi semua karyawan sudah pulang satu jam yang lalu. Tapi masih ada Dimas yang berada di situ karena ban motornya kempes. Dimas sedang menghubungi seorang temannya yang bekerja di bengkel untuk menjemputnya dan juga membawa motornya nanti.
Di sisi lain, ada Amel yang tersenyum licik karena ulahnya.
*Flashback on.
Waktu jam istirahat di kantor, saat Dimas menolak untuk di ajak makan siang bersama Amel. Dia merasa dirinya begitu murka, lagi-lagi Dimas menolaknya secara halus.
Amel berinisiatif untuk membuat ban motor Dimas kempes, dan nantinya dia yang akan menjadi pahlawan kesiangan yang menolong Dimas dengan memberi tumpangan. Dengan begitu dia bisa berduaan dengan Dimas.
Saat Dimas berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat Dzuhur, disitulah Amel mulai beraksi. Dia datang ke parkiran dan melancarkan aksinya saat merasa tidak ada orang di sekitaran situ.
"Jika dengan cara halus kamu tidak bisa aku dapatkan, maafkan aku harus melakukan ini Mas." Ujar Amel dalam hati.
*Flashback off.
Saat Amel hendak melangkah untuk menghampiri Dimas, papa Adit dan Lisa sudah mendekat lebih dulu.
"Sial, lagi-lagi aku gagal." Umpat Amel.
Amel mengurungkan niatnya untuk mendekati Dimas, dia kembali memasuki mobilnya dan melihat apa yang akan terjadi nantinya.
"Kenapa kamu belum pulang Mas?" tanya papa Adit setelah mereka sudah dekat.
"Ini, ban motor saya kempes pak."
"Terus gimana kamu pulangnya?"
"Saya sudah menghubungi teman saya untuk menjemput di sini pak, nanti motornya akan di bawa ke bengkel dulu."
"Bagaimana kalau kamu pulang bareng kita saja? aku antar ke rumah kamu."
"Terima kasih pak atas tawarannya, tapi saya tunggu di sini saja pak, mungkin sebentar lagi teman saya akan datang."
"Ini perintah Dimas, tidak ada penolakan." Ujar papa Adit menekan Dimas supaya dia mau mengikutinya.
"kamu ga perlu khawatir saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan motor kamu ke rumah kamu kalau sudah beres nanti." Lanjut papa Adit.
"Baik pak, maaf saya merepotkan bapak." Ujar Dimas dengan membungkuk sopan.
"Tidak Dimas."
Lisa hanya berdiam diri melihat usaha papanya untuk mendekatkan dirinya. Papa Adit mengajak Lisa dan Dimas ke parkiran mobil yang letaknya tidak jauh dari parkiran motor.
Lisa menggandeng lengan papanya manja, dan Dimas berjalan di belakang mereka seperti seorang bodyguard.
Sampai di mobil, Lisa duduk di depan sebelah kiri, Dimas duduk di belakang, dan papa Adit yang mengemudi. Dimas merasa tidak enak mengiyakan tawaran papa Adit ini, tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak bisa untuk menolak perintah atasannya itu.
Papa Adit melajukan mobilnya menuju rumah Dimas setelah Dimas menyebutkan alamat rumahnya. Lisa merasa bahagia bisa berada dalam satu mobil dengan Dimas. Begitu juga dengan Dimas, dia merasa jantungnya mau keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, orang yang sangat dia harapkan kini bisa berada dalam satu atap dengannya.
"Sadar Dimas, sadar.!! Kamu bukan level dia, kamu harus tau diri siapa kamu. Jangan berharap lebih, ini hanya secara kebetulan kamu bisa dekat dengannya dan karena kebaikan atasan kamu saja, ga lebih." Ujar Dimas bicara dalam hati.
Lisa melihat wajah Dimas dari spion mobil depan.
"Kamu memang tampan Mas, semoga kamu menjadi jodohku." Ujar Lisa dalam hati.
Seperti ada magnet yang menariknya, Dimas juga melihat ke arah spion dan pandangan mereka bertemu.
Deg deg deg.
Lisa merasa jantungnya mau meloncat keluar melihat tatapan Dimas. Dan Dimas juga merasakan hal yang sama, dia merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Lalu Dimas membuang pandangannya takut dirinya tidak kuat melihat sosok bidadari yang ada di depannya itu.
Tidak terasa perjalanan mereka sampai di depan rumah sederhana milik keluarga Dimas.
Dimas turun dari mobil, dan melihat papa Adit juga Lisa masih berdiam di dalam mobilnya.
"Mari masuk dulu pak."
"Ya Dimas. Ayo turun sayang."
Papa Adit dan Lisa turun bersamaan, mereka melangkah masuk mengikuti langkah Dimas.
Setelah mengetuk pintu rumahnya, ibu Sofia membukakan pintu.
"Dimas, kamu baru pulang nak. Eh ada tamu, mari silahkan masuk." Ujar ibu Sofia sambil tersenyum ramah.
""Assalamu'alaikum bu." Ujar Dimas sambil mencium tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam. Mari silahkan masuk tuan, nona, silahkan duduk, maaf rumahnya sempit."
"Iya bu, terima kasih."
Dimas, Lisa, dan papa Adit masuk ke rumah Dimas dan duduk di kursi ruang tamu. Ibu Sofia berjalan menuju dapur dan kembali lagi dengan membawa minuman untuk mereka.
"Maaf bu, merepotkan." Ujar papa Adit.
"Tidak tuan, mari silahkan di minum."
"Iya bu, terima kasih. Maaf bu, jangan panggil saya tuan, tidak enak kedengarannya."
"Baik tu,, eh maksud saya pak."
"Ini bapak Aditya bu, pemilik perusahaan tempat Dimas bekerja, dan ini putrinya namanya Lisa." Ujar Dimas memberitahu ibunya.
"Oh iya, saya Sofia pak, ibunya Dimas. Terima kasih bapak sudah mau datang kesini."
"Sama-sama bu."
"Motor Dimas kempes bu, jadi bapak Adit ini mengantarkan Dimas pulang."
"Terima kasih sekali lagi pak, bapak sangat baik."
"Sudah bu, jangan berterima kasih terus-menerus nanti habis stok terima kasihnya." Ujar papa Adit sambil tertawa pelan.
Mereka bertiga juga ikut tertawa mendengar ucapan papa Adit. Ibu Sofia kembali masuk ke dapur dan tidak lama keluar lagi dengan membawa piring berisi kue brownies kesukaan Dimas.
"Ini pak, nak Lisa, silahkan di cicipi." Ujar ibu Sofia sambil meletakkan kuenya di meja.
"Silahkan di makan pak, ini kue buatan ibu yang saya ceritakan tadi di kantor pak."
"Keliatannya ini sangat enak Mas, saya cicipi ya." Ujar papa Adit lalu mengambilnya satu potong.
"Silahkan pak." Jawab Dimas dan ibu Sofia bersamaan.
Lisa hanya diam dari tadi tidak bersuara sama sekali. Dia masih berusaha menetralkan detakan jantungnya.
"Wah ini enak banget bu, benar kata Dimas, kue buatan ibu sangat lezat. Sayang kamu harus coba ini." Ujar papa Adit dan menyuapi Lisa dengan potongan kue yang ada di tangannya.
"Pah, Lisa bisa makan sendiri. Malu lah pah, ada orang juga."
Dimas dan Ibu Sofia tersenyum melihat tingkah seorang anak dan papanya itu. Sedangkan Lisa tersipu malu dengan ulah papanya yang menyuapi dirinya seperti layaknya anak kecil.
"Dimas, saya setuju dengan rencana kamu tadi siang." Ujar papa Adit.
"Iya pak terima kasih, nanti saya bicarakan terlebih dahulu sama ibu saya." Ujar Dimas sambil menatap ibunya.
"Ada apa nak?" tanya ibu Sofia.
"Begini bu, bapak Aditya ini membeli resto yang dulu buat kerja Dimas, dan Dimas meminta izin untuk ibu bisa bekerja di sana dan mengembangkan bakat memasak ibu nantinya dan alhamdulillah pak Adit menyetujuinya. Ibu mau ga bekerja di situ? nanti berangkatnya bisa barengan sama Dimas dan pulangnya bsa Dimas jemput juga." Ujar Dimas panjang lebar.