Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Tidak semua pilihan datang dengan jelas.
Kadang…
kita harus memilih
bukan antara yang benar dan salah,
tapi antara masa lalu
dan sesuatu yang baru saja mulai.
Hari itu dimulai seperti biasa.
Nara bangun pagi, bersiap, lalu berangkat kerja tanpa banyak berpikir. Tapi jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum benar-benar tenang.
Pertemuannya dengan Raka beberapa hari lalu masih meninggalkan jejak.
Bukan rasa.
Tapi pertanyaan.
Tentang apakah ia benar-benar sudah selesai.
Tentang apakah ia benar-benar siap untuk melangkah.
Dan tentang satu hal yang tidak bisa ia abaikan
Arga.
Di kantor, semuanya berjalan normal.
Sampai siang hari, ketika Dina kembali menghampirinya.
“Nara…,” katanya pelan.
Nada suaranya berbeda.
Nara langsung menoleh.
“Iya?”
Dina terlihat ragu.
“Dia datang lagi.”
Jantung Nara seolah berhenti sesaat.
Ia tidak perlu bertanya siapa.
Ia sudah tahu.
Dan benar saja
saat ia berjalan ke depan kantor, Raka sudah berdiri di sana.
Kali ini, tidak seperti sebelumnya.
Ia terlihat lebih serius.
Lebih… yakin.
“Nara,” ucapnya saat melihatnya.
Nara berhenti beberapa langkah darinya.
Tidak terlalu dekat.
Tidak juga terlalu jauh.
“Ada apa?” tanyanya.
Singkat.
Jelas.
Raka menarik napas panjang.
“Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu.”
Kalimat itu langsung jatuh begitu saja.
Tanpa basa-basi.
Tanpa ragu.
Nara terdiam.
Bukan karena terkejut.
Tapi karena ia sudah pernah mendengar hal seperti ini.
Dulu.
Dan ia tahu bagaimana semuanya berakhir.
“Aku sudah bilang, semua sudah selesai,” jawab Nara pelan.
Raka menggeleng.
“Buat kamu mungkin.”
Jawaban itu membuat Nara menatapnya lebih dalam.
“Aku datang bukan cuma buat minta maaf lagi,” lanjut Raka.
“Aku datang karena aku mau kita mulai lagi.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan untuk beberapa detik, dunia terasa sunyi.
Mulai lagi.
Dua kata yang dulu sangat ia tunggu.
Dua kata yang dulu bisa membuatnya menangis bahagia.
Tapi sekarang…
rasanya berbeda.
“Aku nggak bisa,” ucap Nara akhirnya.
Raka langsung menatapnya.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya… tidak sesederhana itu.
Karena ini bukan hanya tentang Raka.
Tapi juga tentang dirinya sendiri.
Tentang semua yang sudah ia lalui.
Dan tentang seseorang yang sekarang ada di hidupnya
“Aku sudah berubah, Ka,” katanya pelan.
Raka menggeleng.
“Aku juga bisa berubah.”
Nara tersenyum tipis.
Bukan mengejek.
Tapi lebih seperti seseorang yang sudah mengerti sesuatu.
“Masalahnya bukan itu,” katanya.
“Terus apa?” tanya Raka.
Nara terdiam sejenak.
Menarik napas panjang.
Lalu akhirnya berkata
“Aku sudah nggak mau lagi ada di tempat yang sama.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi penuh arti.
Raka terlihat terpukul.
“Karena aku?” tanyanya.
Nara menggeleng pelan.
“Karena aku nggak mau jadi orang yang sama lagi.”
Hening.
Lebih panjang dari sebelumnya.
Raka terlihat kehilangan kata-kata.
Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.
Dan di saat yang sama
Nara sadar, ini belum benar-benar selesai.
Karena masih ada satu hal yang belum ia hadapi.
Perasaannya sendiri.
Sore itu, setelah pulang kerja, Nara langsung menuju kafe.
Langkahnya cepat.
Seolah ada sesuatu yang harus ia selesaikan.
Saat ia membuka pintu, suasana terasa sama seperti biasa.
Tapi hatinya tidak.
Arga ada di sana.
Duduk seperti biasanya.
Tapi saat melihat Nara, ia langsung tahu
ada sesuatu yang berbeda.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Nara tidak langsung duduk.
Ia hanya berdiri beberapa detik.
Menatap Arga.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Dia datang lagi,” ucapnya pelan.
Arga langsung mengerti.
Raka.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Tidak perlu.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya Arga.
Pertanyaan itu membuat Nara terdiam.
Karena untuk pertama kalinya
ia benar-benar harus jujur.
“Bingung,” jawabnya.
Arga mengangguk.
“Wajar.”
Nara akhirnya duduk di depannya.
Tangannya saling menggenggam.
Gugup.
“Aku nggak mau balik ke dia,” lanjutnya.
“ Tapi… aku juga takut salah pilih.”
Kalimat itu jujur.
Sangat jujur.
Dan itu tidak mudah.
Arga terdiam.
Menatap Nara dengan tenang.
“Ini bukan tentang pilih aku atau dia,” katanya pelan.
Nara menatapnya.
Sedikit terkejut
“Terus?”
“Ini tentang kamu.”
Jawaban itu membuat Nara diam.
Lebih dalam dari yang ia kira.
“Kamu harus pilih apa yang bikin kamu tenang,” lanjut Arga.
“Bukan yang bikin kamu takut kehilangan.”
Kalimat itu langsung mengenai.
Karena selama ini
ia selalu memilih karena takut.
Takut ditinggalkan.
Takut sendiri.
Takut kehilangan.
Dan sekarang…
ia diberi pilihan untuk memilih dengan cara yang berbeda.
Hening.
Lebih lama dari biasanya.
Tapi kali ini, Nara tidak menghindar.
Ia justru menatap dirinya sendiri.
Dalam diam.
Dalam pikirannya.
Mengingat semua yang sudah ia lalui.
Tentang bagaimana ia pernah berjuang sendirian.
Tentang bagaimana ia pernah merasa tidak cukup.
Dan tentang bagaimana sekarang
ia mulai belajar mencintai dirinya sendiri.
Ia menarik napas panjang.
Lalu menatap Arga.
Matanya lebih tenang.
Lebih jelas.
“Aku sudah tahu jawabannya,” ucapnya pelan.
Arga tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menunggu.
Karena ia tahu
ini bukan keputusan kecil.
Nara berdiri.
Tangannya tidak lagi gemetar.
“Aku harus ketemu dia lagi,” katanya.
Arga mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada larangan.
Tidak ada kekhawatiran yang ditunjukkan.
Hanya… kepercayaan.
Dan itu membuat langkah Nara terasa lebih ringan.
Malam itu, di bawah lampu jalan yang redup, Nara berdiri di depan Raka sekali lagi.
Kali ini, bukan untuk mendengarkan.
Tapi untuk menyelesaikan.
“Aku sudah mikir,” katanya.
Raka menatapnya.
Penuh harap.
Dan untuk pertama kalinya
Nara tidak ragu.
“Aku nggak akan kembali.”
Kalimat itu keluar dengan tegas.
Jelas.
Tanpa jeda.
Raka terdiam.
Matanya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kehilangan.
“Apa karena dia?” tanyanya pelan.
Nara menggeleng.
“Karena aku.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi penuh arti.
“Aku memilih… diriku sendiri.”
Dan di saat itu
untuk pertama kalinya,
Nara benar-benar merasa bebas.