NovelToon NovelToon
Mantu Idaman

Mantu Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"

"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.

"Sah"

" Sah"

Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.

"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.

Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.

"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai menerima

Rasti membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram. Langit-langit kamar terlihat samar, berputar pelan sebelum akhirnya kembali fokus. Kepalanya berat. Tubuhnya lemas dan nafasnya masih sedikit tersengal. Ia mencoba bergerak. Tangannya refleks menarik selimut tapi terhenti. Ada sesuatu yang menahannya.

Rasti menoleh pelan. Jantungnya seakan berhenti sejenak ketika melihat Xena tertidur di sisi ranjang. Kepalanya bersandar di pinggir kasur, masih dengan posisi duduk. Tangan mereka saling menggenggam erat. Seolah tidak pernah dilepas sejak semalam.

Rasti terdiam sejenak. Ia menatap wajah Xena yang begitu berbeda saat tidur. Tidak ada ketegangan. Dingin. Dan hanya lelah tapi...entah kenapa wajah itu terlihat lebih manusiawi.

Rasti menelan ludah pelan. Ia mencoba menarik tangannya perlahan. Namun genggaman Xena justru mengusap. Rasti membeku. Tatapannya turun ke tangan mereka lagi. Hangat dan berbahaya. Matanya perlahan berkaca-kaca.

"Kau membuatku semakin sulit.." bisiknya pelan.

Tangannya gemetar sedikit. Ia mencoba melepaskan lagi. Kali ini lebih hati-hati. Perlahan jemarinya terlepas dari genggaman Xena. Namun saat ia hendak menarik tangannya Xena bergerak. Menggenggam tangan Rasti, seolah menahannya agar tidak beranjak.

Alisnya mengernyit, nafasnya berubah. Dan perlahan matanya terbuka.

"Kau sudah bangun?"

Suaranya serak. Masih berat oleh sisa tidur. Rasti terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya.

"Iya," jawabnya singkat.

Xena langsung bangkit. Tangannya refleks menyentuh dahi Rasti, "Syukurlah. Panas mu sudah turun."

Rasti menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda. Cara Xena menyentuh, lebih hati-hati dan peduli. Dan itu justru membuat Rasti menghindar.

"Aku tak apa-apa."

Xena tidak langsung menarik tangannya, "Kau pingsan semalam."

"Aku tau."

"Kau membuat orang panik."

Rasti tersenyum tipis, "Maaf."

Xena masih di sana. Terlalu dekat. Rasti menarik nafas pelan.

"Lepaskan."

Xena mengernyit, "Apa?"

"Tanganmu."

Baru saat itu Xena sadar. Tangannya masih menyentuh dahi Rasti. Buru-buru Xena langsung menariknya. Ruangan itu kembali hening. Lebih canggung dari sebelumnya. Rasti menatap ke depan. Tidak berani melihat Xena.

"Kau tidak perlu seperti itu lagi," ucap Rasti pelan.

"Maksudmu?"

Rasti menelan pelan, "Menjagaku seperti semalam."

Xena langsung menatapnya, "Aku melakukannya karena aku ingin."

Kalimat itu terlalu cepat. Terlalu jujur. Rasti menutup mata sejenak.

"Kau tidak boleh mulai menginginkan sesuatu yang tidak bisa kau miliki," ucapnya pelan.

Xena terdiam.

"Aku bukan pilihanmu."

DEG

Kalimat itu menggantung Tajam dan tepat sasaran. Xena menatapnya dalam. Rahangnya mengeras lagi.

"Siapa bilang?"

Rasti tersenyum tipis, " Kau sendiri."

Hening lagi. Kali ini lebih berat. Dan sebelum Xena sempat menjawab terdengar suara ketukan dati luar.

TOK TOK TOK

"Tuan, boleh saya masuk," panggil Siti.

"Masuk saja," balas Xena datar.

Pintu terbuka. Siti masuk sambil membawa sarapan untuk Rasti.

"Nyonya sudah sadar?" tanya Siti.

"Sudah, Bu."

Siti meletakkan nampan itu ke meja, " Tuan Xena, Nyonya Mira meminta Anda untuk menemuinya sekarang," ucap Siti pelan.

Xena mengernyit, "Di mana Mama."

"Di taman, Tuan."

Xena terdiam sesaat. Rahangnya kembali mengeras. Ia rau betul panggilan itu bukan sekedar ingin bertanya kabar.

"Baik," jawabnya datar.

Siti mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Rasti, "Nyonya, sarapannya harus dihabiskan ya. Dokter bilang tubuh Nyonya masih lemah."

Rasti mengangguk tipis, "Iya Bu."

Siti pun keluar, meninggalkan mereka berdua lagi dalam keheningan yang belum selesai. Xena berdiri. Tangannya masuk ke saku celana. Tapi langkahnya tidak langsung pergi. Ia menoleh ke arah Rasti.

"Kamu makan dulu."

Rasti tidak menjawab.

Xena menghela nafasnya, "Jangan keras kepala."

Rasti tetap tak menjawab. Xena tidak berkata lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar. Begitu pintu ditutup, Rasti menatap nampan di depannya. Tangannya perlahan bergerak, tapi tidak benar-benar ingin makan. Nafasnya tertahan. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Aku harus berhenti..."

Di taman...

Mira duduk di kursi putih. Tenang. Tapi justru itu membuat terasa menekan. Budi berdiri sambil menyiram bunga kesukaannya. Tapi jelas, ia menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

"Mama memanggilku?"

Mira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Xena. Lama. Tajam. Seolah sedang membaca sesuatu yang bahkan Xena sendiri tidak ingin tunjukkan.

"Kau tau kenapa Mama memanggilmu."

Xena terdiam sejenak, "Kalau soal semalam...".

" Jangan memotong," potong Mira cepat.

Mira bangkit, melangkah pelan mendekati putranya, " Kau belum menerima Rasti sebagai istrimu, bukan?"

Xena mengernyit. Tatapannya sedikit berubah.

"Apa kau masih berhubungan dengan kekasihmu?"

Xena terdiam. Pertanyaan itu terlalu langsung. Tajam membuat rahangnya mengeras. Tapi kali ini ia tidak langsung menjawab. Mira menatapnya lekat. Tidak berkedip. Tidak memberi ruang untuk menghindar.

"Jawab, Xena."

Angin taman berhembus pelan. Daun-daun bergerak, tapi suasana di antara mereka justru semakin menekan. Budi menghentikan gerakannya menyiram bunga. Ia tidak menoleh, tapi jelas ia mendengar.

Xena menghela nafas, "Iya."

Mira memejamkan mata sesaat. Seolah menahan sesuatu. Lalu membukanya kembali.

"Sejauh apa?

Xena menatap lurus ke depan. Tidak lagi menghindar, " Aku belum mengakhirinya."

Kalimat itu lebih jujur dari yang seharusnya. Dan lebih menyakitkan dati yang dibayangkan. Budi akhirnya menoleh. Tataannya berat.

"Xena, kau tau kan kenapa aku memilih Rasti? Kau..."

Mira menahan Budi, "Dan Rasti?"

Xena terdiam. Sebelum akhirnya, "Aku..."

"Itu masalahnya, kau bahkan tidak tau harus menempatkan istrimu di mana," ucap Mira.

Xena mengangkat pandangan, "Ma, aku akan memulainya dari awal. Aku...sudah menerima Rasti menjadi istriku."

"Lalu apa semalam? Kau memberi harapan untuk wanita lain." potong Mira.

DEG

Xena terhenyak.

"Mama mendengar pembicaraanmu dengan kekasihmu itu."

"Itu..."

"Apa? Kau diminta untuk menceraikan istrimu karena dia tak ingin berbagi, begitu kan Xena?"

Xena terdiam. Tidak ada lagi yang bisa ia bantah. Semua sudah terlalu jelas.

"Iya," jawabnya singkat, pelan dan tegas.

Mira menatapnya dalam. Kali ini bukan hanya marah tapi kecewa. Meski sebenarnya Mira masih belum menganggap Rasti menantunya tapi dia tak ingin putranya menyakiti wanita.

"Jadi sekarang Mama tanya sekali lagi. Kau ingin mempertahankan pernikahanmu atau tidak?"

Xena menelan ludah. Rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar dipaksa memilih. Bukan oleh Sandra. Tapi oleh keadaan.

"Aku..."

Suara itu tertahan. Bahkan ia sendiri belum yakin dengan jawabannya. Budi melangkah mendekat. Nada suaranya lebih berat dari biasanya.

"Ini bukan tentang perasaanmu saja, Xena. Ini tentang tanggungjawab."

Xena menutup mata sejenak. Bayangan semalam muncul kembali. Rasti yang demam. Tubuhnya yang lemah. Dan kalimat yang memintanya agar tak memperlakukannya dengan baik. Semua itu masih melekat dibenaknya. Nafasnya tertahan.

"Aku tidak akan menceraikannya."

Kalimat itu terdengar sungguh-sungguh tapi Mira tidak yakin sepenuhnya.

"Karena tanggung jawab atau karena perasaanmu mulai berubah?"

Xena tidak menjawab. Namun diamnya itu membuat Mira mengerti.

Mira tersenyum tipis, "Kalau begitu, selesaikan hubunganmu yang lain. Tidak ada dua tempat untuk satu hati, Xena."

Budi mengangguk,

"Kami tidak memaksamu mencintai Rasti sekarang. Tapi setidaknya hargai dia sebagai istrimu."

Budi menatapnya beberapa detik. Lalu berbalik, "Masuklah, Temui istrimu."

1
amatiran
awal yang bagus 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!