Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. WATACI
Beberapa hari berlalu, Nika memilih mengurung diri di rumah untuk memulihkan mentalnya. Di sela waktu istirahat,memastikan semua operasional tetap berjalan meski badai isu miring belum sepenuhnya reda.
Hari ini, Nika akhirnya kembali ke gedung perusahaan. Sebuah konferensi pers besar telah menanti di aula utama. Di luar gedung, para pendemo yang dulu menagih janji masih bertahan, menuntut pembuktian bahwa perusahaan tidak bersalah atas kasus bahan berbahaya dalam produk kecantikan mereka.
Dengan langkah tegap dan balutan setelan formal yang elegan, Nika berdiri di balik podium. Di bawah sorotan lampu kamera yang menyilaukan, ia berbicara dengan nada lantang dan penuh keyakinan.
"Semua tuduhan mengenai kesengajaan penggunaan bahan berbahaya dalam produk kami adalah fitnah yang tidak berdasar. Kami telah mengantongi hasil laboratorium independen yang membuktikan adanya sabotase dari pihak luar," tegas Nika sambil menunjukkan dokumen-dokumen penting ke arah awak media.
Suasana yang mulai kondusif itu tiba-tiba pecah saat pintu aula terbuka dengan kasar.
Brak!
"Jangan percaya pada omong kosong wanita ini!"
Semua mata tertuju ke arah pintu. Barra, berjalan masuk dengan langkah angkuh dan wajah penuh kemarahan. Kehadirannya seketika menciptakan kegaduhan di antara para wartawan.
"Perusahaan ini selalu bermasalah sejak diambil alih oleh Nika!" seru Barra sambil menunjuk wajah adiknya di depan kamera yang terus menyala.
"Dia hanya mementingkan ambisi pribadinya sampai tidak becus mengelola keamanan produk. Kepemimpinannya adalah kegagalan besar bagi keluarga kita!"
Barra terus memprovokasi, membeberkan kerugian perusahaan dalam beberapa bulan terakhir dengan data yang sudah diputarbalikkan. Ia sengaja menciptakan kekacauan di saat Nika baru saja mencoba berdiri tegak kembali.
Nika terpaku di balik podium. Tangannya mulai gemetar saat melihat tatapan menghakimi dari orang-orang di ruangan itu.
Di sudut ruangan, Adnan yang melihat Nika mulai goyah segera bergerak maju. Ia tidak akan membiarkan Barra menghancurkan pertahanan yang susah payah Nika bangun kembali.
Barra berdiri membusung dada, ia tersenyum sinis menatap Nika yang terdiam. Ia merasa di atas angin, yakin bahwa karier adiknya akan berakhir hari ini juga.
"Dengar semuanya!" Barra berseru pada para wartawan. "Kalian lihat sendiri betapa hancurnya perusahaan ini di bawah tangan Nika. Tidak ada bukti sabotase, itu hanya karangannya saja!"
Namun, Adnan melangkah maju ke samping Nika. Ia mengangkat sebuah tablet dengan tenang. "Maaf memotong drama Anda, Barra. Tapi kurasa ada seseorang yang ingin menyapa Anda."
Layar besar di aula itu tiba-tiba menyala, menampilkan sambungan video call. Di sana muncul wajah Elena yang pucat, mengenakan seragam tahanan berwarna oranye. Aula seketika riuh dengan bisikan wartawan.
"Elena?" gumam Barra, wajahnya mulai berubah pasi.
"Silakan, Elena. Katakan yang sebenarnya di depan semua media ini," ujar Adnan tegas.
Elena menarik napas panjang, matanya nampak sembab. "Saya... saya adalah orang yang memasukkan bahan berbahaya itu ke dalam tangki produksi produk kecantikan Nika. Saya melakukannya dengan sengaja."
"Elena! Apa-apaan kamu! Jangan memfitnah!" teriak Barra panik.
"Saya tidak memfitnah, Pak Barra," sahut Elena lewat layar dengan suara bergetar namun pasti.
"Saya diperintah oleh seseorang untuk menyabotase produk ini agar nama Nika hancur dan dia didepak dari jabatannya. Dan orang itu ... orang itu ada di ruangan bersama Anda saat ini."
Pandangan semua orang serentak beralih ke arah Barra. Kamera-kamera wartawan kini menyorotinya dengan gencar.
"Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti ini, hah?!" Barra berteriak nyaris histeris.
Elena menatap Adnan sejenak di layar, lalu kembali bicara. "Karena Pak Adnan memberikan apa yang tidak Anda berikan, Pak Barra. Dia menjamin keselamatan nyawa saya dan masa depan sekolah anak saya yang masih kecil. Saya tidak mau lagi melindungi orang yang hanya memanfaatkan saya."
Adnan mematikan sambungan video itu, lalu menatap Barra dengan tajam. "Permainan selesai, Barra. Polisi sudah dalam perjalanan ke sini untuk menjemputmu atas tuduhan sabotase dan konspirasi."
Nika menoleh ke arah Adnan dengan tatapan tak percaya. "Adnan ... kamu melakukan semua ini?"
"Aku sudah janji padamu, Nika," bisik Adnan lembut, "tidak akan ada lagi yang menyakitimu selama aku ada di sini."
Barra terjatuh lemas saat beberapa petugas keamanan mulai mendekatinya, sementara Nika hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa pria di sampingnya baru saja menyelamatkan dunianya.
Setelah kegaduhan di aula mereda, Nika dan Adnan masuk ke dalam ruang kerja yang tenang. Nika berdiri membelakangi Adnan, jemarinya sibuk merapikan berkas yang sebenarnya sudah rapi untuk menutupi rasa gugupnya.
"Terima kasih," ucap Nika lirih, hampir seperti bisikan. "Untuk semuanya. Elena ... dan juga Barra."
Adnan menyandarkan tubuhnya di pinggir meja kerja, tersenyum tipis melihat telinga istrinya yang memerah. "Aku tidak mendengar apa pun. Bisa ulangi?"
Nika berbalik, mendelik kesal namun tak bisa menyembunyikan rona di pipinya. "Jangan membuatku mengulangnya! Intinya ... terima kasih."
Adnan terkekeh pelan. "Sama-sama, Nika. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang suami."
Suasana mendadak berubah canggung. Keheningan yang manis menyelimuti ruangan, membuat detak jantung Nika berpacu lebih cepat. Ia segera melangkah menuju kursinya untuk menghindari tatapan Adnan yang terlalu intens.
"Ah!"
Malang, ujung sepatu hak tingginya tersangkut kabel proyektor yang melintang di lantai. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, terpelanting ke belakang. Nika memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya lantai.
Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang. Sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya dengan sigap, sementara tangan Adnan yang lain menahan tengkuknya, mencegah kepalanya terbentur.
Nika membuka matanya perlahan. Wajah Adnan hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Napas mereka saling beradu, hangat dan teratur. Dalam posisi sedekat itu, Adnan bisa melihat dengan jelas binar di mata Nika.
"Hati-hati, Nika. Kamu selalu saja ceroboh saat sedang gengsi," bisik Adnan, suaranya rendah dan serak.
Adnan seolah terhipnotis oleh keindahan netra di depannya. Tanpa sadar, ia menundukkan wajahnya. Bukan ke bibir, melainkan ke arah kelopak mata Nika yang bergetar lembut.
Cup.
Sebuah kecupan singkat namun penuh perasaan mendarat di mata kanan Nika, lalu berpindah ke mata kirinya. Sentuhan bibir Adnan terasa begitu tulus, seolah sedang berusaha menghapus sisa-sisa kesedihan dan trauma yang pernah singgah di sana.
Nika membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.