Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi merambat perlahan di langit Bogor. Burung-burung mulai berkicau riang, dan cahaya matahari menembus celah-celah gorden kamar Laura. Namun bagi Laura, pagi ini terasa sedikit berbeda. Ada beban haru yang menyelimuti hatinya, bercampur dengan tekad membeton. Hari ini, ia berencana mengunjungi tiga tempat penting, tiga monumen kecil yang menyimpan arsip kenangan yang penah hidup: makam Doni, Roni dan makam Ariana.
Meski hanya sekitar tiga jam yang ia lalui dalam tidur yang melelahkannya tadi malam, Laura ternyata masih dapat bangun lebih awal dari biasanya, tanpa perlu alarm. Begitu matanya terbuka, bayangan ketiga orang itu langsung melintas di benaknya. Rasa rindu dan sedikit ketakutan bercampur aduk.
Laura segera beranjak dari tempat tidur, langsung menuju kamar mandi. Mandi air dingin pagi itu terasa menyegarkan, seolah mencuci bersih sisa-sisa kegelisahan yang menempel di jiwanya. Sambil mengeringkan rambut, ia memilih pakaian yang rapi namun nyaman: kemeja putih polos dan celana panjang berwarna gelap. Bukan untuk gaya, melainkan untuk menghormati tempat yang akan ia kunjungi.
Di meja rias, Laura memandang pantulan dirinya. Ada kematangan yang berbeda di matanya. Kejadian di Kalimantan, serta perjuangan Amelia, telah memberinya pelajaran berharga tentang hidup dan kematian, tentang kekuatan dan kerapuhan manusia. Ia menyisir rambutnya, mengikatnya menjadi kuda poni sederhana. Ia tak butuh riasan tebal; aura ketenangan dan kesedihan samar sudah terpancar alami dari wajahnya, dan itu membuatnya lebih apa adanya.
Setelah berpakaian, Laura turun ke dapur. Aroma kopi dan roti bakar sudah tercium. Ayah dan Ibunya sudah sarapan. "Pagi, Nak," sapa Ibu Laura, melihat putrinya sudah rapi. "Mau sarapan apa?"
"Pagi, Ibu, ayah," jawab Laura. "Aku mau sarapan roti bakar saja. Sedikit saja." Ia duduk sambil mengambil selembar roti, dan mulai mengolesnya dengan selai cokelat.
"Kok sudah rapi begini, Nak? Mau ke mana?" tanya Ayah Laura, mengamati putrinya.
Laura menarik napas sambil mengunyah roti. "Aku... mau... pergi sebentar, ayah. Aku mau ziarah." Ia melihat ekspresi kedua orang tuanya berubah. Mereka tahu siapa yang akan Laura ziarahi.
"Sendirian, Nak?" tanya Ibunya, suaranya terdengar khawatir.
Laura mengangguk. "Iya, Bu. Aku mau nyetir sendiri. Sudah lama aku tidak menyetir." Laura sebenarnya baru saja mendapatkan surat izin mengemudi beberapa pekan sebelum kejadian di Banjarmasin.
Ayah Laura meletakkan sendoknya. "Kau yakin bisa, Laura? Itu tiga tempat yang berbeda, dan lumayan jauh. Padahal tadi malam ayah meminta kamu untuk tetap di rumah. Tapi... jika kamu memang sangat ingin berkunjung, baiklah ayah izinkan." Suaranya melunak di akhir kalimat.
"Terimakasih ayah, aku sangat yakin," balas Laura, menatap mata ayahnya. Ada tekad yang kuat di sana. "Aku harus pergi sekarang. Aku hanya ingin sekedar mengobati kerinduanku."
Ibu Laura mengusap lengan putrinya. "Baiklah, Nak. Tapi hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut. Dan kalau ada apa-apa, langsung telepon Ibu atau Ayah."
"Tentu, Bu," jawab Laura mencoba tersenyum.
Setelah sarapan, Laura mengambil kunci mobil di gantungan. Ia mengecek tasnya: dompet, ponsel, power bank dan sebotol air mineral.
Ia melangkah keluar rumah menuju garasi. Sebuah mobil Renault Triber hitam terparkir di dalamnya. Laura membuka pintu mobil, merasakan joknya yang familiar. Ia menekan tombol start, mesin mobil menyala halus. Perlahan, ia menginjak pedal gas, melaju keluar dari gerbang rumah.
Pagi itu, Laura mengemudi dengan tenang, membiarkan pikiran dan perasaannya naik di langit jalur pelarian beban. Di jalan raya yang mulai ramai, ia tahu perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, ini adalah perjalanan batin. Langkah hati yang masih merekam ketakutan, langkah jiwa yang masih merasa dibentak kengerian. Dan keduanya dipaksa mengikuti langkah kerinduan, meski ia harus menengok di antara sisi teror. Tetapi ia tak memiliki tempat persembunyian dari kenyataan bahwa ia pernah mengenal mereka. "Baiklah, aku harus sebisa mungkin membuat diriku tenang." Bisik Laura, destinasi pertama yang ia pilih, makam Doni.
Konsentrasinya terjaga, matanya lurus, Laura benar-benar mengemudi dengan tenang, membiarkan pikirannya menenangkan diri. Ia menyetel radio, mencari stasiun yang memutar lagu-lagu yang terdengar riang, atau setidaknya tidak terlalu riuh. Pagi itu, Jalan Raya Bogor terasa cukup bersahabat. Mobil-mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak terlalu padat, tidak juga sepi. Laura merasakan sedikit kelegaan, berpikir bahwa perjalanannya akan lancar sesuai rencana.
Namun, harapan itu buyar saat ia mendekati perempatan yang terkenal padat. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat antrean kendaraan yang mengular panjang. Rem mobil di depannya menyala merah, lalu merah lagi, dan lagi. Tanda-tanda kemacetan parah mulai terlihat. Laura menghela napas jengkel. "Astaga, Bogor lagi, Bogor lagi," gumamnya, meskipun ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Ini adalah Bogor, kota yang identik dengan kemacetan, terutama di jam-jam sibuk.
Perlahan, mobilnya ikut terseret dalam antrean tak berujung itu. Kemacetan yang awalnya hanya terlihat di simpang empat, kini meluas, membentuk rantai kendaraan yang bergerak sangat lambat, bahkan seringkali berhenti total. Laura menekan tombol AC mobil lebih kencang, karena udara mulai terasa pengap dan panas, meskipun pagi masih terasa menjelang siang.
Ia melihat sekeliling. Beberapa pengendara motor tampak nekat, menyusup paksa di antara mobil-mobil yang berbaris rapat, menciptakan riuh klakson yang semakin menambah tingkat stres. Penjual asongan mulai berkeliling, menawarkan koran, air mineral, atau jajanan. Di sampingnya, seorang bapak-bapak di mobil sebelah tampak frustasi, berulang kali memukul setir mobilnya.
Laura mencoba untuk tidak ikut larut dalam emosi negatif itu. Ia ingat pesan ayahnya: "Kalau menyetir, kepala harus dingin, Nak." Ia mematikan radio, memilih untuk menikmati kesunyian yang diselingi suara klakson sesekali. Pikirannya kembali melayang pada Doni, Roni dan Ariana. Mungkin ini adalah cara terselubung yang memberinya waktu lebih lama untuk merenung, untuk mempersiapkan diri secara mental.
Ia meraih ponselnya, mengecek aplikasi peta. Estimasi waktu tempuh yang tadinya hanya 30 menit kini melonjak menjadi 1 jam lebih. "Wah, aku sama sekali tidak menduga kemacetannya akan sampai separah ini." Ketuk batinnya. Ia memegang kemudi erat-erat, menatap lurus ke depan.
Satu jam berlalu, dan ia baru bergerak beberapa kilometer. Kaki Laura mulai terasa pegal menginjak pedal rem dan gas secara bergantian. Lehernya terasa kaku karena terus menengok ke kanan dan kiri, berharap ada celah untuk bergerak lebih cepat. Matahari kini sudah hampir tegak di atas kepala, cahayanya menembus kaca depan mobil, membuat pandangan sedikit menyilaukan.
Perutnya mulai terasa keroncongan. Ia menyesal tidak sarapan lebih banyak tadi. "Andai tadi aku bawa bekal," keluhnya. Ia meraih botol air mineralnya, meneguknya hingga tandas.
Di tengah kemacetan yang membosankan itu, Laura mencoba mencari hiburan. Ia mengamati tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Ada anak kecil di mobil sebelah yang asyik menggambar, ada remaja yang sibuk dengan ponselnya, dan ada juga yang tertidur pulas di kursi penumpang. Pemandangan itu sedikit menghibur Laura, mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian dalam penderitaan kemacetan ini.
Laura lalu membayangkan bagaimana rasanya saat ia berdiri di hadapan makam Doni, bercerita tentang kehidupannya yang baru, tentang kesembuhannya. Lalu, membayangkan bagaimana ia akan menziarahi Roni dan Ariana, memberikan ucapan manis terbaiknya.
Setelah hampir dua jam berjibaku dengan kemacetan, laju mobil akhirnya sedikit demi sedikit mulai lancar. Laura menghela napas lega. "Syukurlah," ujarnya pelan. Meskipun tubuhnya terasa lelah dan pikirannya sedikit penat, ia tahu bahwa ia harus tetap fokus. Tujuan utamanya sudah di depan mata. Kemacetan ini hanyalah ujian kecil sebelum ia bisa bertemu dengan tiga orang yang memberinya kenangan.