Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Ratih terpaksa membawa jasad Intan dengan menggunakan motor butut milik Bagas, sebab tak ada yang ingin memberikan mobilnya untuk dipakai mengantar ke kampung seberang.
Terlihat Yuda dan Budi menangis terisak, karena melihat jasad ibunya dibawa pergi, dengan terbungkus kain kafan.
"Dasar si Ratih ini keras kepala sekali, gak bisa di atur, " Gina tampak kesal, dan itu di dengar oleh Juminten.
Juminten melirik orang yang dulunya menjadi bestie, tetapi kini, ia mulai menjaga jarak, sebab itu semua karena Bejo.
Bahkan siapa sangka, jika Gina adalah sosok yang sangat licik, ibarat menggunting dalam lipatan.
Ratih tak menggubris semua apa yang dikatakan oleh para tetangganya ia tetap pada pendiriannya, menguburkan Intan dengan layak, dan juga mulia.
Sepanjang perjalanan, Ratih terus saja menangis, wajahnya cukup sembab, hal ini karena ia terlalu lama menahan kesedihan.
Bagaimana tidak, bahkan hak yang sudah mati saja, masih tak bisa di dapatkan.
Saat ditengah perjalanan, sebuah mobil dinas yang ditumpangi oleh dua orang polisi sedang melintas, dan menghentikan motor mereka.
"Maaf, Bu. Kalau boleh tau, apa yang terjadi?" tanya Polisi itu dengan wajah penasaran.
Ia melirik jenazah Intan yang sudah dikafani, dengan hanya menaiki motor.
"—Kami tidak sanggup menyewa mobil jenazah, sehingga membawanya dengan motor," sahut Ratih, dengan suaranya yang bergetar, dan dadanya penuh dengan rasa sesak.
"Astaghfirullah, ayo, kami bantu naikkan ke bak mobil dibelakang. Kami akan antar sampai ke tujuan."
Ratih merasakan doanya menembus langit, dan dengan cepat menyetujuinya.
"Terimakasih, Pak. Terimakasih," Ratih tak dapat mengungkapkan rasa syukurnya, dan akhirnya jasad Intan di bawa ke kampung seberang dengan menggunakan mobil.
"Sama-sama, Bu. Sudah tugas kami melayani masyarakat di negeri Konoha ini," ucap pak Polisi, dan ikut duduk di bak belakang.
****
Malam beranjak, hari sudah semakin gelap, dan Dalli sudah tertidur dengan lelap.
Ia akhirnya di sapih, karena ibunya sudah meninggal dunia.
Sementara itu, Alawiyah yang hanya tinggal bertiga saja, menatap Bayu dengan harapan yang begitu besar.
"Mas, bangunlah. Aku sudah mengetuk pintu langit dengan doa, semoga saja Sang Pencipta membukanya," ucap Alawiyah dengan penuh harapan.
Ketika hatinya ditengah rasa gelisah, tiba-tiba saja, Alawiyah mendengar bisikan yang cukup jelas di telinganya.
Suara itu tanpa wujud, hanya saja, memang terdengar jelas, dan berulang kali.
"Ambil batu kerikil yang ada di depan rumah Novita, serta di rumah Sarinah, ambil botol kosong yang terletak di dekat vas bunga,"
Alawiyah mengetuk telinganya berulang kali. Ia mersa itu hanya sebuah halusinasi saja.
Akan tetapi, semakin ia mengabaikannya, suara itu semakin jelas terdengar.
"Astagfirullah!" Alawiyah memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ia terdiam sejenak, lalu merenungi apa yang dikatakan oleh sosok tak terlihat tersebut.
"Apakah aku harus melakukannya? Bagaimana kalau mereka mengiraku sedang ingin mencuri? Apalagi di depan rumah orang," gumamnya dengan ragu.
Ia menimbang-nimbang apa yang akan di lakukannya, dan entah desakan darimana, akhirnya ia menuruti bisikan tersebut.
"Semoga saja ini adalah jawabannya."
Ia beranjak dari tempatnya, lalu keluar rumah sendirian, sebab Ratih dan Bagas belum pulang dari kampung sebelah.
"Sebaiknya, aku membawa empon-empon, buat jaga-jaga, kalau ada setan yang mencoba menggangguku." ia membungkus ramuan jariangau dan juga kunyit bangle dalam kantong plastik kresek.
Setelah membulatkan tekadnya, ia keluar dengan sangat hati-hati, agar Dalli tidak terbangun dari tidurnya.
Saat ia akan membuka pintu, tiba-tiba saja, ia melihat Tejo masuk ke dalam rumah Novita.
"Pak Lek? Tega bener, istri baru saja di makamkan, dia sudah ke rumah wanita lain."
Alawiyah menggelengkan kepalanya, dan ini membuat ia merasa nasib Intan sangat miris, jika sikap pria seperti itu, mengapa bukan Tejo saja yang dicabut nyawanya?
Setelah melihat Tejo masuk dan menutup pintu, Alawiyah mengendap-endap keluar, lalu menuju depan rumah Novita.
Ia mengingat, jika bisikan itu memintanya memgambil batu kerikil yang ada disana.
"Dimana batu kerikilnya?" Alawiyah celingukan, dan mencari batu kerikil yang maksud.
Saat di tengah rasa putus asanya, tiba-tiba saja, ia melihat sebuah batu yang dimaksud.
Dengan rasa senang, ia mengambil batu itu, dan membungkukkan tubuhnya.
Akan tetapi, saat tangannya hampir mencapai batu kerikil berwarna putih mengkilap, terlihat sepasang kaki berukuran sangat besar, dengan jemari yang sebesar pisang ambon.
"Oo, kamu ketahuan, maling di rumahku," ucap Genderuwo, saat memergoki Alawiyah yang berusaha mengambil batu tersebut.
"Hah!" Alawiyah sontak terkejut, lalu secara refleks memukulkan sendal miliknya ke wajah sang Genderuwo.
Plaak.
"Setan, Lu. Sakit tau! Kalau mukul ngira-ngira, Dong!" sosok mengomel, sembari mengsap wajahnya yang terasa sakit., disertai rasa panas yang cukup luar biasa.
Sosok itu merasa heran, mengapa Alawiyah seolah memiliki kekuatan yang tak biasa, bukan pada manusia pada umumnya.
Ia seperti menyimpan sebuah ilmu kanuragan, yang dapat menyentuh makhluk ghaib.
"Lu yang setan! Aku mah, manusia tau!" balas Alawiyah dengan cepat.
Sosok Genderuwo itu menatap Alawiyah dengan sorot mata yang tajam dan bercahaya merah.
"Minta di cekik rupanya!"
Genderuwo mengarahkan tangannya yang berukuran besar, dan bersiap untuk membunuh Alawiyah.
Ia merasa, jika Alawiyah adalah ancaman baginya.
Alawiyah merasakan degupan jantungnya memburu.
ia tahu, jika itu adalah sosok Genderuwo, yang merupakan peliharaan keluarga Novita.
"Astaghfirullah," gumam Alawiyah dengan cepat. Ia memegangi dadanya, dan saat tangan berukuran cukup besar tersebut bersiap menggapainya, ia mengingat sesuatu.
Alawiyah dengan cepat mengambil ramuan empon-emponnya.
Kemudian, saat mereka saling menatap.satu sama lainnya, Alawiyah dengan cepat melemparkan empon-empon ke wajah Genderuwo.
Ssssspt
Sosok itu kembali berteriak dan terpekik kesakitan
"Dasar, setan! Ini bau sekali!" omel Genderuwo dengan rasa sakit yang semakin terasa kuat.
"Lu, yang—Setan!!" sabut Alawiyah, membalas makian Genderuwo, dan tangannya masih bersiap untuk mengambil.
Perlahan berubah menjadi percikan api api yang membakar bulu lebatnya.
"Aaaaarfg, Sakit ...." pekik Genderuwo m, sembari melesat menghilang, meninggalkan Alawiyah yang menatap bengong.
Sementara itu, Novita yang mendengar keributan diluar, merasa sangat penasaran.
Ia yang baru saja membuka pakaiannya, mengintai dari balik tirai jendela di lantai dua.
"Ada apa, Dik Novita?"
Tejo meloloskan pakaiannya, dan menghampiri gadis pujaannya.
"Entahlah, aku seperti me dengar ada yang merusuh," jawabnya, sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah, tetapi tak ada yang carinya, sebab Alawiyah bersembunyi dibalik pintu pagar.
"Sudahlah, jangan difikirkan, mungkin kucing yang masa kawin," sahut Tejo, sembari mendekap tubuh wanita muda tersebut.
"Ah, iya, Mas. Saya kira juga begitu."
Novita memutar tubuhnya, lalu saling berhadapan dengan Tejo.
Lurus, hitam dan berkilau /Facepalm/
Si Tejo dah kebanyakan makan yang haram ,hatinya pun mati
Tega bener sama istri dan anaknya
abisin aja si semua wargany 🤣🤣 saling kirim aja biar mati semua
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦