Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Harapan?
Hari-hari berikutnya di kediaman Klan Lu berubah menjadi sebuah akademi dadakan yang disiplinnya sekeras baja.
Di bawah instruksi Tian Shan, halaman belakang yang luas kini menjadi saksi bisu perjuangan Tuan Muda Lu dan Tian Feng.
Tian Shan tidak hanya menempa raga mereka dengan teknik bela diri yang mematikan, tetapi juga memaksa mereka duduk berjam-jam untuk mempelajari literatur klasik, strategi perang, dan filsafat.
Bagi Tian Shan, seorang pendekar tanpa kecerdasan hanyalah senjata tumpul yang mudah dimanipulasi.
"Ulangi sepuluh ribu kali lagi," ucap Tian Shan singkat, berdiri di bawah pohon plum sambil memperhatikan Tian Feng yang bersimbah keringat mencoba menguasai satu gerakan tusukan tombak yang sempurna.
Di sisi lain, Tuan Muda Lu—yang biasanya hanya tahu cara berfoya-foya—kini duduk bersila dengan buku tebal di pangkuannya. Ia harus merangkum esensi dari "Seni Mengatur Rakyat" sambil menahan beban batu besar di atas kepalanya. Tekanan Qi dari Tian Shan membuat mereka tidak berani mengeluh sedikit pun.
Tian Shan jarang bicara. Ia hanya akan menjentikkan jarinya, melepaskan energi kecil yang menyengat meridian mereka jika gerakan atau fokus mereka sedikit saja goyah.
Yue Ling memperhatikan semua itu dari kejauhan.
Kehadiran Tian Shan yang serba bisa—seorang petarung ulung, alkemis berbakat, musisi jenius, dan kini seorang guru yang bijak—membuat jantungnya berdegup tidak keruan.
Rasa kagum itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membingungkan bagi seorang wanita dari Ras Roh Bulan yang biasanya tenang.
Malam itu, bulan purnama menggantung rendah, membasahi kota dengan cahaya perak yang dingin.
Yue Ling telah membulatkan tekadnya. Ia mengenakan gaun sutra terbaiknya, membiarkan rambutnya tergerai indah.
Ia ingin menyatakan perasaannya, atau setidaknya, mendapatkan kepastian tentang posisi dirinya di mata pemuda misterius itu.
Ia berjalan perlahan menuju paviliun pribadi Tian Shan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu balkon yang terbuka.
Di sana, Tian Shan sedang duduk di depan meja kayu panjang. Ia tidak sedang bermeditasi.
Di depannya terbentang perkamen sutra putih yang sangat panjang.
Tangannya memegang kuas dengan kemantapan yang luar biasa, namun tatapannya ... tatapan itu adalah sesuatu yang belum pernah Yue Ling lihat sebelumnya.
Itu bukan tatapan dingin seorang pembunuh, bukan pula tatapan malas seorang pendekar.
Itu adalah tatapan penuh kerinduan yang amat dalam, seolah-olah jiwanya sedang mengembara ke dimensi lain.
Tian Shan mulai menggerakkan kuasnya. Kamar itu sunyi senyap, bahkan suara napas pun nyaris tak terdengar.
Tian Shan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia membiarkan tinta hitam dan warna merah darah berbicara di atas kain.
Garis demi garis terbentuk dengan presisi yang menghancurkan hati siapa pun yang melihatnya.
Di atas kertas itu muncul sosok Bai Yaoji. Rubah surgawi itu tampak begitu hidup, dengan rambut putih yang seolah berkibar tertiup angin abadi.
Wajahnya digambarkan dengan kelembutan yang luar biasa—senyum tipis yang mengandung pengorbanan yang tak terlukiskan.
Yue Ling terpaku di tempatnya. Ia melihat Tian Shan melukis ekor-ekor rubah itu.
Satu per satu, ia menggambarkan delapan ekor yang tampak memudar dan hancur menjadi serpihan cahaya, menyisakan hanya satu ekor yang melilit tubuh wanita itu dengan protektif.
Adegan itu begitu kuat sehingga Yue Ling bisa merasakan kepedihan yang luar biasa memancar dari lukisan tersebut.
Ia menyadari bahwa setiap goresan kuas Tian Shan adalah sebuah harapan, sebuah penghormatan bagi satu-satunya wanita yang pernah mendapatkan tempat di hatinya sebagai wanita.
Tian Shan tetap diam.
Bahkan ketika setetes air mata—sesuatu yang jarang ada pada diri "Monster" sepertinya—nyaris jatuh namun tertahan di pelupuk matanya, ia tidak bergeming.
Fokusnya mutlak. Baginya, dunia di sekitarnya tidak lagi ada. Yang ada hanyalah dia dan bayangan Bai Yaoji yang telah mengorbankan delapan nyawa hanya agar dia bisa tetap hidup.
Yue Ling meremas dadanya sendiri. Ia merasa seperti seorang penyusup yang melihat ke dalam ruang suci yang paling rahasia.
Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: hatinya yang bergejolak tidak akan pernah bisa menembus benteng es di hati Tian Shan.
Bukan karena Tian Shan membencinya, tapi karena hati itu sudah hancur dan terkunci bersama wanita di dalam lukisan itu berabad-abad yang lalu.
Yue Ling mundur selangkah demi selangkah, mencoba tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Air mata mulai mengalir di pipinya, membiaskan cahaya ungu matanya. Ia tidak jadi masuk. Ia tidak jadi menyatakan perasaannya.
Bagaimana mungkin ia bisa bersaing dengan sebuah kenangan yang begitu suci dan menyakitkan?
Tian Shan meletakkan kuasnya. Ia menatap lukisan yang sudah selesai itu untuk waktu yang sangat lama.
Cahaya bulan menyinari wajah Bai Yaoji di atas kertas, seolah-olah roh wanita itu benar-benar hadir di sana, memberikan berkat yang sunyi kepada pria yang sangat ia cintai.
Tian Shan menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan beban ratusan tahun.
Ia menggulung lukisan itu dengan sangat hati-hati, menyimpannya di tempat yang paling dekat dengan jantungnya.
"Sepertinya tadi aku merasakan ada seseorang yang menatapku? Ah, Biarkan saja lah. Lagi pula sepertinya dia tidak ada niat jahat."
Pagi itu, Kota Teratai Merah tampak begitu damai, diselimuti kelopak bunga yang berguguran ditiup angin sepoi-sepoi.
Namun bagi Tian Shan, kedamaian hanyalah kulit ari yang menutupi luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Tian Mei, dengan keriangannya yang tak terbendung, menarik-narik lengan jubah kakaknya, memohon untuk berjalan-jalan di sepanjang taman kota.
Tian Shan, sang Legenda Naga yang telah melintasi siklus waktu, entah mengapa selalu kehilangan daya tolaknya jika berhadapan dengan permintaan polos adik perempuannya ini.
Ia berjalan dalam diam, mendengarkan celotehan Tian Mei, sementara Tian Feng mengekor di belakang sambil memanggul tombak barunya dengan bangga.
Yue Ling mengikuti dari kejauhan; matanya masih sedikit sembab akibat kejadian semalam, namun ia berusaha menjaga jarak yang sopan.
Namun, di tengah tawa riang Tian Mei, udara mendadak membeku.
Deg.
Jantung Tian Shan berdegup kencang. Aura purba yang selama beberapa pekan ini ia rasakan dari kejauhan, kini meledak tepat di atas kepala mereka.
Skala energinya begitu masif dan padat, hingga ruang di sekitar mereka tampak retak secara visual, seperti kaca yang dipukul palu tak kasat mata.
"Kakak, ada apa—"
SLASH!
Tanpa peringatan, Tian Shan mencabut Pedang Penjaga Langit. Gerakannya brutal dan penuh niat membunuh, namun targetnya bukan udara kosong. Bilah pedang itu menghantam telak dada Tian Feng.
"AAKKHH!" Tian Feng terpental hebat, darah segar menyembur dari lukanya yang cukup parah.
Ia tersungkur di tanah dengan wajah pucat pasi, matanya membelalak tak percaya bahwa kakaknya sendiri baru saja mencoba membunuhnya.
"Kakak! Apa yang kau lakukan?!" jerit Tian Mei histeris, jatuh berlutut di samping Tian Feng.
Tian Shan tidak menoleh. Matanya berkilat dingin, memancarkan aura membunuh yang paling pekat yang pernah mereka rasakan selama ini.
Ia memberikan isyarat tangan yang tajam kepada Yue Ling—sebuah kode agar ia segera membawa kedua adiknya lari dari tempat itu secepat mungkin.
"Pergi! Atau kalian akan mati di tanganku!" bentak Tian Shan dengan suara bergetar, tak menyisakan ruang untuk bantahan.
Yue Ling, yang menyadari ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang mendekat, segera menyambar tubuh Tian Feng yang terluka dan menarik Tian Mei yang menangis keluar dari taman.
Mereka berlari menjauh, meninggalkan Tian Shan yang kini berdiri sendirian di tengah taman yang hancur akibat tekanan energi.
Langit di atas Kota Teratai Merah berubah menjadi hitam pekat dalam sekejap.
Dari gumpalan awan hitam yang menyerupai lubang runtuhan di langit, sesosok manusia turun dengan perlahan, melayang tanpa beban.
Tian Shan melotot. Tangannya yang memegang pedang bergetar halus, bukan karena takut, tapi karena terkejut yang luar biasa.
Sosok itu memiliki wajah yang identik dengannya di masa lalu.
Sangat tampan, dengan pahatan rahang yang sempurna dan rambut hitam yang berkibar liar.
Namun, ia bukanlah manusia. Ia adalah gumpalan niat jahat, kehampaan, dan kesedihan yang terkonsentrasi, sebuah manifestasi fisik dari semua kegelapan yang ternyata tertinggal ketika ia memutar balik waktu di kehidupan sebelumnya.
Yang paling mengerikan adalah matanya. Tidak ada pupil vertikal layaknya naga di sana; hanya ada kegelapan total seperti lubang hitam yang siap menelan cahaya apa pun. Energinya meledak-ledak, berada di ranah Pendekar Langit Tahap Awal.
"Lama tidak berjumpa ... Wahai Jiwa Utama," ucap sosok itu. Suaranya terdengar seperti gesekan logam di atas es, dingin, hampa, dan tak bernyawa.
Sosok itu mendarat di tanah, menciptakan retakan besar hanya dengan kehadirannya. Ia menatap Tian Shan dengan senyum tipis yang tampak sangat asing di wajah yang identik itu.
"Kau?!" Tian Shan menggeram, mempererat genggamannya pada pedang.
"Hahaha," Orang tersebut tertawa dingin, suaranya bergema menyakitkan di telinga. "Kau tampak berbeda sekarang, Jiwa Utama. Kau tahu? Aku merasa muak akan hidup ini. Aku benci melihat semua orang yang bahagia, sedangkan diriku sendiri merasa begitu hampa."
Sosok itu menepuk dadanya sendiri, menatap Tian Shan dengan tatapan mengejek. "Mulai sekarang panggil saja aku Mo Tian Shan, dan singkat saja menjadi Mo Tian."
Tian Shan tetap waspada penuh. Ia tahu Mo Tian tidak datang untuk berdamai.
"Tian Shan, rasanya usaha kita membalikkan waktu seperti tidak ada artinya. Kau tahu kenapa?" Mo Tian bertanya, nada suaranya berubah menjadi filosofis yang mengerikan.
Tian Shan diam, matanya menatap tajam setiap gerak-gerik Mo Tian.
"Hahaha, kau sombong juga ya," Mo Tian terkekeh melihat kebisuannya. "Alasannya adalah karena tidak ada yang benar-benar mengingat kita dari garis waktu asli! Pada akhirnya, kita hanyalah makhluk cacat yang tidak seharusnya ada di dunia ini!"
Mo Tian perlahan berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka.
"Sejak kapan kau ada di dunia ini?" tanya Tian Shan, suaranya berat.
"Sejak 18 tahun yang lalu, tepat saat kau bereinkarnasi karena memutar waktu itu," jawab Mo Tian santai. "Selama itu, aku telah membunuh manusia-manusia sok bijak, manusia-manusia yang hidupnya sangat bahagia ... aku iri kepada mereka. Kau tahu? Walaupun aku sama sekali tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita, banyak dari mereka yang tertarik dengan wajahku ini. Aku mempermainkan mereka semua sampai mereka cinta mati kepadaku, memohon-mohon agar aku tetap bersama mereka, sebelum akhirnya kubuang."
Mo Tian kini berdiri tepat di depan Tian Shan, wajah mereka nyaris bersentuhan. "Berhentilah melakukan hal sia-sia ini, Jiwa Utama! Mari kita bersatu, cari jiwa mana yang mencuri tubuh asli kita, setelah itu kita bunuh setengah populasi manusia dan mengakhiri hidup ini bersama-sama! Bagaimana?"
Tawaran Mo Tian terdengar begitu menggiurkan bagi sisi gelap yang pernah dimiliki Tian Shan.
Namun, Tian Shan menatapnya dengan tatapan yang semakin tajam dan penuh keyakinan.
"Kau hanyalah gumpalan jiwa jahat yang harus dimusnahkan!" tegas Tian Shan.
"Ha, seperti yang kuduga," Mo Tian tersenyum lebar, menunjukkan taringnya yang tajam.
Dalam sekejap mata, keduanya melesat maju dengan senjata masing-masing.
SHING!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗡𝗢𝗧𝗘:
𝗔𝗟𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗧𝗜𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗛 𝗠𝗘𝗡𝗘𝗕𝗔𝗦 𝗧𝗜𝗔𝗡 𝗙𝗘𝗡𝗚, 𝗞𝗔𝗥𝗘𝗡𝗔 𝗗𝗜𝗔 𝗟𝗔𝗞𝗜-𝗟𝗔𝗞𝗜 𝗗𝗔𝗡 𝗜𝗔 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗞𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗜𝗧𝗨 𝗔𝗚𝗔𝗥 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗞𝗔 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗗𝗜 𝗜𝗡𝗖𝗔𝗥 𝗢𝗟𝗘𝗛 𝗝𝗜𝗪𝗔 𝗝𝗔𝗛𝗔𝗧 𝗝𝗜𝗞𝗔 𝗡𝗔𝗡𝗧𝗜 𝗜𝗔 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗗𝗔𝗣𝗔𝗧 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗟𝗔𝗛𝗞𝗔𝗡𝗡𝗬𝗔
lanjut thor💪