Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Chika Tak Dianggap Tiaras
Rido kemudian menatap embun dengan datar, dia melihat sang gadis yang sedang asik membaca sebuah buku tentang keuangan, yang dia dapatkan dari ruang belajar.
“Kamu sedang membaca buku keuangan ya?” Tanya Rido dengan penasaran, sambil dia meletakan laptopnya di atas meja, dia mendekatkan dirinya di dekat embun solai.
Embun menatap rido yang mendekat, kemudian dia mengangguk pelan “iya benar! Kenapa memangnya? Apakah saya tidak boleh membaca buku ini?” tanyanya dengan wajah serius menatap Rido.
“Ciih, siapa bilang kau tidak boleh membaca buku ini, kan saya cuman nanya doang” sahut Rido terdengar ketus, dia sedikit kesal dengan jawaban sang istri barusan.
“ooww, kirain gak boleh baca, mungkin tuan muda takut kalau ada pesaing beratmu di bidang keuangan” timpal embun dengan santai, tanpa dia sadari sepasang mata sedang menatapnya dengan tatapan serius.
“kapan saya katakan, kalau saya takut jika ada ada yang akan menyaingi saya di bidang keuangan, ciih, walau ibu Sri Muliyani sekalipun yang datang, saya tetap tidak akan gentar” seru Rido dengan mengangkat tubuhnya tegak, dia harus membanggakan dirinya sendiri, tidak mungkin dia kalah dengan gadis kecil itu.
“oke oke, saya salah paham! Stop mari kita tidur saja” saran embun dengan langsung meletakan bukunya di meja kecil, kemudian dia langsung pergi menuju tempat tidurnya.
Rido melihat embun yang pergi kearah sofa, dia langsung memanggil gadis itu “heei, kamu mau kemana?”.
“yah saya mau tidurlah, saya kan tidur di Sofa” jawab embun dengan santainya, sambil dia merebahkan tubuhnya diatas sofa itu.
“Tidak boleh, kamu harus tidur bersama saya disini, siapa tau saya butuh sesuatu di tengah malam, kan saya susah membangunkanmu kalau jarak kita terlalu jauh” cerocos Rido dengan mencari alasan.
“Heemm, baiklah” setuju embun tanpa bayak protes, dia berjalan kearah ranjang besar itu sambil dia memonyongkan mulutnya.
Embun juga memang agak tidak bisa tidur nyenyak kalau tidur disofa, karena ukuran sofa memanglah terbatas untuk dijadikan tempat tidur.
Keesokan harinya sinar matahari menampakkan dirinya, dia menyapa seluruh manusia yang sedang berada didalam isi dunia fana.
Embun dan Rido sudah siap pergi untuk ke kantor, namun sebelumnya embun sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, dimana dia menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami.
“dikantor saja nanti dimakan ya, karena kalau sekarang takutnya terlambat” ujar embun kepada Rido, dengan kedua tangannya memegang tempat makanan.
“Baiklah kalau begitu” sahut Rido menangguk dan langsung dia pergi dengan didorong oleh sang istri.
Giancarlo memanggil sekretarisnya ketika dia melihat Rido sudah pergi bersama embun.
“bagaimana kondisi perusahaan saat ini?” Tanya Giancarlo kepada sang sekretarisnya itu.
“emm, keadaan perusahaan baik baik saja Tuan, kemarin Tuan Muda sudah mengumumkan kepada seluruh pemegang saham, bahwa Embun adalah istrinya dan dia menjabat sebagai wakil CEO” ucap sang sekretaris itu dengan data yang cukup jelas.
“Heemm! Anak itu memang tidak sabaran, bagaimana kalau situasi ini dimanfaatkan oleh orang lain, dia berbuat selalu gegabah” tutur Giancarlo dengan menghembuskan napasnya dalam dalam.
Tiba tiba terdengar jejak kaki hig hils berjalan dari arah depan pintu, Giancarlo menatap arah suara langkah kaki itu dengan mengerutkan keningnya.
“hallo om! Apa kabar? Ini saya bawakan hadiah untuk om dan tante” jelas Chika siregar ketika dia langsung duduk disofa depan Giancarlo, sambil dia meletekan beberapa hadiahnya di atas meja.
“Nak Chika tidak usah repot repot membelikan ini, karena saya tidak suka dengan acara acara hadiah segala, saya takut nanti akan menyinggung perasaan orang” seru Giancarlo memberikan kata kata teka teki menanggapi Chika siregar.
“Oh tidak merepotkan kok paman, saya ikhlas kok memilihkan hadiah hadiah ini kepada om dan tante” ucap chika siregar meyakinkan Giancarlo dengan caranya sendiri.
Tiaras duduk disebelah sang suami, ketika dia mendengar kata kata seorang wanita yang terlihat bagaikan seorang narator pada saat demonstran di gedung putih abu abu, terkait proses tidak lancarnya MGB makan gaji buta.
“Eh tante, ini loh tant, chika sudah belikan om dan tante hadiah, karena berapa hari yang lalu, chika habis pulang dari luar negeri” bujuk chika kepada Tiaras yang sedang menatapnya dengan tatapan yang kurang menyukai.
“Baik terimakasih nak! Maaf ya, kami tidak bisa membalaskanmu, semoga kau bisa secepatnya mendapatkan jodoh yang lebih baik” ucap Tiaras memberikan berkat kepada chika siregar.
“terimakasih tan, semoga saya nanti bisa membahagiakan Rido dengan tenang” cerocos Chika dengan membuat reka adegan sedramatis mungkin, karena dia berpikir ketika dia terus menyebut kalau Rido sebagai calon tunangannya, maka keluarga Rido pasti bisa luluh kepadanya, kerena mengingat kebersamaan mereka pada masa lalu.
Giancarlo memicingkan matanya melihat sang gadis itu, dia menghela napasnya dengan sangat berat sambil dia memijit sedikit pelipisnya.
“ma, saya keluar dulu ya sebentar, ada yang mau ayah beli di supermarket” ucap Giancarlo sembarangan, yang langsung disahuti oleh sang istri “iya pak, hati hati ya, jangan lupa nanti beliin mama cokelat panda”.
“Oke deh, siap!” jawab Giancarlo yang langsung memegangi kedua lututnya untuk bangkit berdiri. Namun dia melemparkan pandanganya kearah chika siregar, kemudian dia menyahuti sang gadis “Saya permisi dulu ya nak, silahkan cerita cerita saja sama para pelayan disana, karena sebentar lagi tante Tiaras akan berangkat ke acara teman temannya”.
Chika siregar mengangguk dengan patuh, dia memaksakan senyuman terbaiknya menanggapi perkataan sang tuan besar, kemudian dia berkata “Ohh, saya juga akan pergi om, karena saya ada acara”.
“baiklah kalau begitu” timpal Giancarlo yang langsung melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Merasa keberadaannya di rumah itu seakan hanya angin berlalu, Chika mengeraskan giginya dengan sangat geram sekaligus mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras, kemudian dia berkata kepada Tiaras yang sedang asik membaca majalah fashion yang baru dirilis.
“Emm, baik!” sahut Tiaras dengan singkat, tanpa dia melirik kearah chika sama sekali.
Melihat tingkah wanita paruh baya itu, Chika Siregar sontak saja menghentakan kakinya dan langsung bergegas menancap gas meninggalkan ruangan itu.
Ketika Chika sampai di halaman rumah besar itu, dia menatap rumah itu dengan sangat tidak suka “Awas saja kalian keluarga Prasetio, tunggu saja kalian akan hancur berantakan" k”tuknya sambil dia meninggalkan tempat itu.
Diperjalanan Chika Siregar mendapatkan panggilan telepon “Hallo” jawabnya ketika dia sudah menekan tombol hijau.
“Bagaimana? Apakah sudah ada yang kau janjikan! Cepat transfer sekarang” teriak orang diseberang telepon yang membuat Chika Siregar menjauhkan gawainya dari telinga.
“eemm,, sabar dulu! Pasti akan saya bayarkan, usahaku tinggal sedikit lagi loh, pastinya nanti akan kubayar” jawab chika dengan nada pelannya.
“Ciih. Kau hebatnya bahasa janji doang, saya sudah bosan dengan janji janjimu itu, kau berjanji ibarat janji politik, hanya ketika masa kampanye kau hebat berkata kata, sekarang kau malah lari dari tanggung jawab” ketus orang diseberang telepon itu.
“heheeh.. itu kan beda bang! Janji masa kampanye kan itu adalah kenangan, yang penting flusnya jelas” ucap Chika meladeni bahasa pria dari seberang telepon itu.
“Arg.. Kau ini hanya pintar bercanda, gak pintar menepati janji, saya tunggu sampai pukul 12 malam nanti, kalau tidak! Ingat saja apa yang akan terjadi” ancam orang dari seberang sana.
Chika meletakan gawainya didalam tas tangan, kemudian dia menatap kearah depan dengan perasaan yang sulit diartikan.