NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DARAH YANG TIDAK PERNAH BOHONG

Aroma bubuk mesiu dan debu semen masih menggantung di lorong Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Petugas tim gegana mondar-mandir mengevakuasi sisa-sisa proyektil, sementara suara sirine ambulans di luar sana terdengar seperti orkestra duka yang tak kunjung usai. Saga berdiri terpaku di dinding lorong yang dingin, napasnya memburu, matanya menatap kosong ke lantai marmer yang kini berbercak darah.

Kata-kata Agatha tadi terasa lebih mematikan daripada peluru yang hampir mengenainya.

"Ayahmu masih hidup, Sasmita... dan dia adalah alasan kenapa Dewan Waskita ingin kamu mati."

"Nona! Anda tidak apa-apa?" Sakti berlari mendekat, wajahnya dipenuhi jelaga dan keringat. Ia memeriksa bahu Saga dengan cemas, memastikan tidak ada luka baru di tubuh majikannya.

Saga hanya menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Sakti. Hanya saja... Agatha mengatakan sesuatu."

"Dia pembohong, Nona. Dia akan melakukan apa pun untuk mengacaukan pikiran Anda di saat terakhir," ujar Sakti tegas. "Mari kita keluar dari sini. Gedung ini sudah tidak aman. Dewan Waskita baru saja menyatakan perang secara terbuka."

Bramasta muncul dari arah ruang sidang, memegang sebuah tas kulit yang berisi hard drive militer yang tadi sempat menjadi rebutan. "Data ini selamat, Saga. Tim ahli kepolisian sudah menyalinnya. Agatha tidak akan bisa mengelak lagi. Dia akan langsung dipindahkan ke Lapas Wanita Tangerang dengan pengawalan berlapis."

Saga menatap Bramasta, lalu menatap Sakti. Dua pria ini adalah pelindungnya, orang-orang yang ia percayai dengan nyawanya. Namun, di dalam benaknya, sebuah benih keraguan mulai tumbuh. Jika Wirya Janardana bukan ayah biologisnya, dan Hendra Waskita juga bukan, lalu siapa pria yang membuat ibunya harus menanggung rahasia sebesar ini hingga ke liang lahat?

"Kita tidak pulang ke Menteng," ujar Saga tiba-tiba, suaranya terdengar dingin dan berwibawa. "Kita ke laboratorium forensik independen di Jakarta Selatan. Aku ingin melakukan tes DNA ulang. Dari sampel rambut ibuku yang tersisa di liontin ini, dan sampel darahku sendiri."

Sakti dan Bramasta saling berpandangan. Mereka tahu Saga sedang mencari sesuatu yang sangat mendasar. "Baik, Nona. Saya akan siapkan jalur aman," jawab Sakti.

Perjalanan menuju laboratorium itu terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia. Jakarta sedang mencekam; berita penyerangan pengadilan menjadi headline di seluruh kanal televisi nasional. Saham-saham perusahaan yang terafiliasi dengan Waskita Group terjun bebas, menciptakan kepanikan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, bagi Saga, dunia luar sudah tidak relevan lagi.

Di dalam laboratorium yang steril, Saga memberikan sampelnya kepada seorang ahli genetika senior yang sudah lama menjadi rekanan terpercaya Yayasan Melati Putih.

"Saya butuh hasilnya dalam empat jam, Dokter," ujar Saga. "Uang bukan masalah. Rahasia adalah prioritas."

"Kami akan melakukan pemetaan genom lengkap, Nona Saga. Anda bisa menunggu di ruang observasi," jawab sang dokter.

Empat jam itu terasa seperti empat dekade bagi Saga. Ia duduk di kursi kulit yang kaku, menatap jam dinding yang berdetak monoton. Bramasta duduk di sampingnya, mencoba menghiburnya dengan membicarakan rencana ekspansi yayasan, namun Saga hanya merespons dengan anggukan singkat.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Dokter itu masuk dengan selembar amplop tersegel. Wajahnya tampak bingung sekaligus takjub.

"Nona Saga... ada sesuatu yang sangat tidak biasa dengan hasil ini," dokter itu duduk di depan Saga. "Secara biologis, Anda memang anak kandung dari Ratna Pratiwi. Tidak ada keraguan di sana."

Saga menahan napas. "Lalu, bagaimana dengan perbandingannya dengan data DNA Wirya Janardana atau Hendra Waskita yang ada di rekam medis publik?"

"Itulah masalahnya. Anda tidak memiliki kecocokan genetik dengan keduanya. Nol persen. Namun, ada satu hal yang mengejutkan. Kami menemukan penanda genetik langka pada kromosom Anda yang hanya ditemukan pada garis keturunan bangsawan dari wilayah Eropa Timur... atau keluarga diplomatik tertentu yang memiliki sejarah medis sangat tertutup."

Saga mengerutkan kening. "Eropa Timur? Ibuku tidak pernah pergi ke sana sebelum aku lahir."

"Ada satu hal lagi," dokter itu ragu sejenak. "Data DNA Anda menunjukkan adanya 'modifikasi' tertentu atau mungkin silsilah yang sangat unik yang melibatkan ketahanan terhadap toksin saraf tertentu. Itulah alasan kenapa Anda bisa selamat dari racun Aris tempo hari dengan pemulihan secepat ini. Darah Anda... memiliki antibodi yang tidak alami untuk orang sipil biasa."

Tangan Saga gemetar. Ia mengambil laporan itu dan membacanya dengan teliti. Kata-kata Agatha mulai masuk akal sekarang. Ia bukan sekadar hasil perselingkuhan; ia adalah hasil dari sesuatu yang jauh lebih terencana.

"Sakti," panggil Saga, suaranya bergetar. "Cari tahu semua daftar diplomat yang bertugas di Jakarta antara tahun 1995 sampai 1997. Khususnya dari wilayah Rusia, Ukraina, atau Polandia. Dan cari tahu apakah ibuku pernah bekerja di Kedutaan Besar mana pun saat itu."

Sakti segera mengeluarkan ponselnya, bergerak cepat melakukan koordinasi dengan jaringan intelijennya. Sementara itu, Bramasta menatap Saga dengan tatapan cemas. "Saga, jika ini benar... berarti ibumu menyembunyikan identitas ayahmu bukan karena malu, tapi untuk melindungimu dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar drama keluarga Waskita."

"Atau mungkin untuk melindungiku dari pria itu sendiri," balas Saga pahit.

Malam semakin larut saat mereka kembali ke markas Menteng. Saga tidak langsung beristirahat. Ia masuk ke ruang arsip rahasia ibunya yang baru saja berhasil dievakuasi dari brankas tersembunyi di Bogor. Ia membongkar tumpukan foto lama, surat-surat cinta yang sudah menguning, dan buku harian ibunya yang selama ini ia anggap sebagai catatan harian biasa.

Ia berhenti pada sebuah foto polaroid kecil yang terselip di balik sampul buku harian ibunya. Foto itu memperlihatkan ibunya, Ratna, sedang berdiri di sebuah taman yang penuh salju—pemandangan yang mustahil ada di Indonesia. Ratna tampak sangat muda, mungkin baru berusia sembilan belas tahun. Di sampingnya, berdiri seorang pria tinggi yang wajahnya sengaja dipotong dari foto tersebut. Pria itu mengenakan mantel hitam panjang, dan di jari manisnya, terlihat sebuah cincin dengan lambang Elang Ganda yang sangat spesifik.

Saga mengambil lup (kaca pembesar) untuk melihat lambang itu lebih jelas. Jantungnya berdetak kencang. Lambang itu bukan milik keluarga bangsawan biasa. Itu adalah simbol dari The Sokolov Syndicate, sebuah organisasi paramiliter dan intelijen bayangan yang berbasis di Rusia, yang dikenal sebagai salah satu penyokong dana utama bagi gerakan-gerakan politik di Asia Tenggara, termasuk pembentukan Dewan Waskita di masa lalu.

"Ibu..." bisik Saga. "Apa yang telah kamu lakukan?"

Tiba-tiba, lampu di ruang arsip padam. Kegelapan total menyergap.

Sakti segera masuk dengan senjata di tangan, namun ia tidak sendirian. Terdengar suara langkah kaki yang sangat teratur dari arah balkon. Bukan langkah kaki pengawal biasa. Langkah kaki ini berat, mantap, dan mengintimidasi.

"Sakti, jangan menembak!" teriak Saga saat melihat titik laser merah mengarah ke dada Sakti.

Sesosok pria muncul dari balik bayang-bayang balkon. Ia mengenakan pakaian taktis hitam, wajahnya tersembunyi di balik masker, namun matanya yang berwarna abu-abu tajam menatap Saga dengan intensitas yang mengerikan.

"Saga Anindita," suara pria itu berat, dengan aksen asing yang sangat kental. "Kamu seharusnya tetap diam di Singapura. Mencari kebenaran hanya akan membuatmu melihat neraka yang lebih dalam."

"Siapa kamu? Apakah kamu dikirim oleh Romo Waskita?" tanya Saga sambil menggenggam tongkatnya erat-hidup.

Pria itu tertawa kecil, suara yang tidak mengandung kegembiraan sama sekali. "Dewan Waskita hanyalah anjing peliharaan kami. Romo adalah pria tua yang ketakutan. Kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak kami. Darah Sokolov tidak boleh berada di tangan orang luar."

Sakti melepaskan tembakan ke arah pria itu, namun pria itu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menghindar dan membalas dengan sebuah tendangan yang membuat senjata Sakti terlempar. Bramasta mencoba menyerang dari samping, namun pria itu mengeluarkan pisau kecil dan dengan gerakan kilat melumpuhkan pergelangan tangan Bramasta.

Saga berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun. "Jika aku memang memiliki darah Sokolov, maka kamu tidak akan berani membunuhku di sini."

Pria itu berhenti tepat di depan Saga. Jarak mereka hanya beberapa senti. Ia menurunkan maskernya, memperlihatkan wajah yang keras namun memiliki kemiripan struktur tulang pipi dengan Saga.

"Namaku Nikolai," ujar pria itu. "Aku adalah pengawal pribadimu yang sebenarnya... atau setidaknya, aku adalah orang yang diperintah untuk membawamu pulang ke Moskow."

"Pulang?" Saga mendengus. "Rumahku ada di sini. Di atas reruntuhan yang dibuat oleh orang-orang sepertimu."

"Ibumu mencurimu dari kami, Saga. Dia melarikan diri ke Indonesia dengan membawa data intelijen paling sensitif milik Sindikat. Wirya Janardana memberinya perlindungan, dan Hendra Waskita menjadikannya obsesi. Kamu adalah kunci dari semua aset rahasia Sokolov yang selama ini disamarkan di bawah nama Waskita Group," Nikolai menjelaskan dengan nada datar.

Saga tertegun. Jadi itulah alasannya. Triliunan rupiah yang ia hapus tempo hari... itu bukan hanya milik Waskita. Itu adalah dana operasional intelijen internasional. Ia tidak hanya menghancurkan sebuah perusahaan keluarga; ia baru saja mematikan mesin uang dari sebuah sindikat kriminal global.

"Agatha tahu tentang ini?" tanya Saga.

"Agatha hanyalah pion yang mencoba menjadi pemain. Dia menggunakan rahasia ini untuk mengendalikan Dewan, tapi dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dia sedang bermain dengan api," Nikolai mengeluarkan sebuah jam saku tua dan memberikannya pada Saga. "Jam ini milik ayahmu. Dia menunggumu."

Saga menerima jam saku itu. Di dalamnya, terdapat foto yang sama dengan foto polaroid yang ia temukan, namun kali ini wajah pria itu terlihat utuh. Pria itu sangat tampan, dengan mata yang sama persis dengan mata Saga. Di bawah foto itu tertulis sebuah nama: Viktor Sokolov.

"Jika dia ayahku, kenapa dia membiarkan ibuku menderita selama dua puluh tahun di tangan Hendra Waskita?" tuntut Saga, suaranya penuh amarah.

"Karena ibumu memilih untuk menghilang. Dia memilih untuk mengorbankan kewarasannya demi memastikan kamu tidak pernah ditemukan oleh Sindikat. Tapi sekarang, dengan keributan yang kamu buat di pengadilan, seluruh dunia tahu siapa kamu," Nikolai melirik ke arah jendela. "Dewan Waskita sudah memerintahkan tim pembunuh bayaran untuk menghabisimu malam ini agar rahasia Sokolov tidak terbongkar. Kamu hanya punya dua pilihan: Ikut bersamaku, atau mati di sini bersama teman-temanmu yang tidak berguna ini."

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari lantai bawah gedung yayasan. Asap mulai masuk melalui ventilasi. Suara tembakan otomatis menyalak dengan brutal. Tim pembersih Dewan Waskita telah tiba.

Saga menatap Sakti yang terluka dan Bramasta yang meringis kesakitan. Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan mereka mati demi melindunginya lagi.

"Sakti, Bram... pergi ke ruang bawah tanah. Ada jalan keluar rahasia menuju selokan kota," perintah Saga.

"Nona, kami tidak akan meninggalkan Anda!" seru Sakti.

"Ini bukan permintaan, Sakti. Ini perintah! Bawa dokumen-dokumen penting yayasan. Aku akan menangani ini," Saga menatap Nikolai. "Aku akan ikut denganmu. Tapi dengan satu syarat."

"Katakan," ujar Nikolai.

"Bantu aku menghancurkan Dewan Waskita terlebih dahulu. Aku ingin melihat wajah Romo saat dia menyadari bahwa dia bukan lagi penguasa di kota ini."

Nikolai menyeringai, sebuah ekspresi yang menunjukkan bahwa dia menyukai keberanian Saga. "Kesepakatan yang bagus, Tuan Putri. Mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana cara Sokolov melakukan pembersihan."

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!