Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kedua dinas
Ana melangkah keluar kamar dengan dress pantai selutut, berjalan menuju ruang makan.
Namun tak sengaja kakinya terhenti, sebab suara familiar yang asik berbincang lirih di sudut lain. Matanya melirik ke sekeliling sebelum bersembunyi di balik tembok,
Langsung menempelkan telinga guna menguping.
"Tidak kusangka Perusahaan Sidney akan dipimpin oleh orang sepertinya." kata salah satu pria,
Suaranya mengingatkan Ana pada direktur yang hanya duduk diam di acara semalam.
"Ya, aku juga tak menyangka. Menurutku kinerjanya sangat buruk---pertama kalinya, ada pertemuan bisnis semacam ini." jawab direktur lain,
"Seharusnya para dewan perusahaan tidak menunjuknya sebagai direktur."
"Mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya penerus sah menurut surat ahli waris yang istrinya tinggalkan."
"Hah! Omong kosong apa ini? Aku ga pernah membuat surat ahli waris semacam itu." batin Ana tercengang mendengarnya,
"Kalau terus begini, aku yakin tidak lama lagi Perusahaan Sidney akan bangkrut."
"Kamu benar. Tapi kita tidak bisa mundur sekarang---Perusahaan kita jauh lebih lemah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita memutuskan kerja sama begitu saja."
Langkah kaki mereka beralih, memaksa Ana pergi sebelum ketahuan. Kembali melanjutkan perjalanan ke arah lain,
Meski begitu pikirannya masih dipenuhi oleh perbincangan tadi. Satu fakta lain tentang kejahatan mereka yang telah memalsukan surat ahli waris,
"Pantas saja, Ryan diangkat jadi direktur. Dasar sialan! Mereka pasti sudah merencanakan semua ini sejak lama." umpat Ana menggertak kesal,
Ikut mengkhawatirkan nasib perusahaan keluarganya. Dia tahu betul bagaimana kinerja Ryan yang hanya bisa membual,
Lalu bagaimana jika perusahaan itu runtuh sebelum Ana merebutnya kembali?
Langkahnya sampai di ruang makan. Sejenak memindai ruangan, mencari keberadaan seseorang namun tak ditemukan.
Di sana hanya ada Syla, Ryan dan Wira, direktur sialan yang sempat bercekcok dengannya.
Wira tampak asik menjilat, berbincang penuh antusias pada Ryan sembari menunggu makanan disajikan.
"Silahkan duduk dimana saja." sambut pelayan tersenyum pada Ana.
Dia pun mengangguk, menjawab dengan senyuman. Menduduki kursi kosong di samping Syla.
"Ng, apa anda melihat Tuan Max?" bisiknya,
"Bagaimana sih, bukankah kamu asistennya? Masa gitu aja ga becus!" cibir Syla menatap sinis.
Membuat Ana terbungkam, enggan berdebat panjang.
Ana diam melihat sepiring makanan yang baru saja diletakkan. Mengundang tanda tanya sebab menu yang didapat begitu jauh berbeda dari lainnya,
"Apa nasi gorengnya habis?" tanya Ana menoleh,
"Masih ada, apa mau saya ambilkan? Tadi Tuan Maxime berpesan untuk menghidangkan makanan penambah darah buat anda---jadi saya sengaja tidak menyajikan nasi goreng,"
"Kalau anda mau, saya akan---"
"Tidak usah, ini saja. Nanti kalau memang belum kenyang, aku akan memanggilmu." jawab Ana tersenyum kikuk,
Nyaris mencurigai adanya rencana licik, namun ternyata tidak. Hidangan steak mewah itu memang sengaja dipesan oleh Max,
"Apa dia masih khawatir soal semalam?" batin Ana mulai menikmati makanan,
Pipinya mengunyah lembut sembari membayangkan seseorang. "Jangan bilang, dia kabur gara-gara ga mampu bayar 3M?"
"Silahkan..." lugas pelayan mempersilahkan 3 pria yang baru saja datang.
Ana diam melirik polos Max yang duduk di sampingnya.
"Pelan-pelan kalau makan. Tidak ada yang mau merebutnya," tegur Max, suaranya lantang tapi tak mencela.
Mengusap sisa saus di ujung mulut Ana, sekilas menyentuh bibir ranum itu.
"Hh!" Ana tertegun sambil menahan nafas, nyaris dibuat tersedak.
Pipinya memerah, saat menatap wajah datar Max. Tak disangka tiba-tiba teringat penampilan tubuh telanjangnya semalam,
"Hm!" berdehem singkat, Ana langsung membuang muka.
Mengatur nafas demi menenangkan diri,
Diliriknya para direktur lain yang datang bersama Max. Raut mereka tampak aneh, seperti orang bimbang yang tengah berpikir keras.
Di lain sisi, Ryan duduk menikmati makanan sambil mencuri pandang, menerbitkan senyum tengil sebelum berbasa-basi.
"Tuan Max kelihatan lebih segar---apakah semalam anda tidur dengan nyenyak?"
"Iya, berkat anda tidur saya menjadi lebih nyenyak." jawab Max dengan santai,
"Terima kasih atas liburan gratisnya. Saya sangat menikmati suasana di sini,"
Ryan mengangguk pelan. "Santai saja, tidak perlu sungkan..."
Senyumnya palsu guna menilai reaksi Max, Ryan yakin jika obat perangsang semalam telah bekerja dengan baik.
Tapi entah siapa wanita yang telah ditidurinya, sebab pelayan suruhannya kembali dengan tubuh memar berkat amukan Syla.
"Apa maksudnya tadi? Jadi yang semalam, itu ulah Ryan?!" batin Ana tercengang.
"Kupikir Syla pelakunya. Tapi---buat apa Ryan melakukannya?"
...----------------...
Ana baru saja selesai membasuh tangan, di depan kaca dia melihat Max sudah berdiri di belakang, menunggu dengan raut datar seperti biasa.
Tak ingin bertegur sapa, Ana berbalik dan berjalan melewati namun lengan kekar itu menghadangnya.
Sambil menunjukkan selembar cek yang diambil dari dalam saku,
"Ini bayaranmu semalam," kata Max merendahkan suara.
Ana sedikit tak percaya, diraihnya cepat dan melihat nominal di atasnya. 3 miliar rupiah, angka fantastis untuk seorang pengusaha kecil.
"Dari mana anda mendapat uang sebanyak ini?" sontak Ana terdengar kaget,
Max melangkah maju, matanya menatap Ana dengan intens. "Jumlah ini tidak seberapa buatku,"
"Lebih baik kamu menjaga kesepakatan kita semalam." imbuhnya lalu berjalan pergi,
Kalimat tadi terdengar serius, membuat Ana tertekan. Seketika otaknya berpikir, mengingat kembali perjanjian kemarin.
"Kesepakatan apa? Bukannya dia cuma membayar karena sudah meniduriku?"
"Perasaanku tidak enak. Apa aku kembalikan saja..." cicit Ana menatap selembar kertas di tangannya.
Mulai bimbang tak karuan, namun berat untuk melepaskan. Dia sudah bertekad memakai uang itu guna melunasi hutang keluarganya,
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua