“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Semua tamu langsung menoleh ke arah pintu besar di ujung aula. Beberapa kamera langsung bersiap. Pintu aula perlahan terbuka.
Dan di sana… Kayla muncul.
Gaun pengantin putih yang ia kenakan tampak begitu anggun di bawah cahaya lampu aula. Kainnya menjuntai lembut mengikuti langkahnya. Kerudung panjang yang menutupi rambutnya dihiasi mahkota kecil yang berkilau halus.
Riasan wajahnya terlihat lembut, membuat kecantikan alaminya semakin terpancar. Kayla berjalan dengan langkah pelan.
Anggun.
Tenang.
Namun di dalam hatinya, jantungnya masih berdebar. Di sisi kanan dan kirinya, Umi Anisa dan Fatimah menggandeng tangannya dengan lembut.
Umi Anisa menatap Kayla dengan penuh kasih, seolah benar-benar menerima gadis itu sebagai bagian dari keluarganya.
Fatimah sendiri terlihat sangat bahagia, sesekali tersenyum lebar kepada kakak iparnya yang baru saja resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.
Di belakang Kayla, tiga sahabatnya berjalan mengiringi.
Adelia, Ditha, dan Zayn. Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna biru muda yang lembut. Warna itu kontras namun tetap terlihat serasi dengan dominasi warna putih di aula.
Adel berjalan sambil sesekali menahan senyum bangga. Ditha terlihat lebih tenang, namun matanya berbinar.
Sedangkan Zayn berjalan dengan wajah penuh ekspresi dramatis seperti biasanya, seolah tidak percaya sahabat mereka benar-benar menikah hari ini.
Membuat para tamu mulai berbisik kagum melihat penampilan Kayla.
“Cantik sekali…”
“MasyaAllah…”
Beberapa bahkan mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen itu. Sementara di depan, di dekat meja akad…
Hanan berdiri. Matanya langsung tertuju pada Kayla. Sejak pintu aula terbuka, ia tidak pernah memalingkan pandangannya.
Wajahnya perlahan dipenuhi senyuman. Senyuman yang tulus. Senyuman yang bahkan tidak bisa ia sembunyikan.
Kayla terlihat sangat cantik di matanya. Bukan hanya karena gaun putih itu. Tetapi karena perempuan itu kini benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.
Hanan sampai tidak menyadari bahwa Kyai Hasan sedang memperhatikannya dengan senyum kecil.
“Ditahan sedikit senyumnya, Nan,” bisik ayahnya pelan.
Hanan sedikit tersadar. Namun bukannya berhenti, senyumnya justru semakin lebar.
“Astagfirullah, maaf Bah,” jawabnya pelan.
Aula besar itu kembali menjadi hening ketika Kayla akhirnya berdiri tepat di hadapan Hanan. Cahaya lampu gantung yang lembut memantul di gaun putih yang ia kenakan, membuatnya terlihat semakin anggun.
Semua mata tertuju pada mereka.
Para tamu yang duduk di kursi masing-masing memperhatikan dengan penuh perhatian. Bahkan beberapa orang sampai menahan napas, seolah tidak ingin merusak momen sakral yang sedang terjadi.
Perempuan yang beberapa minggu lalu masih berdiri di tepi jurang kehidupannya… Sekarang berdiri di depannya, siap memulai kehidupan baru bersamanya.
Kayla sendiri berdiri dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia bisa merasakan semua tatapan di ruangan itu tertuju kepadanya. Namun entah mengapa, ketika matanya bertemu dengan tatapan Hanan, rasa gugup itu perlahan berubah menjadi ketenangan.
Tatapan Hanan terasa menenangkan. Seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Beberapa detik mereka hanya saling memandang. Lalu dengan suara pelan namun jelas, Hanan berkata,
“Assalamualaikum, ya zawjati.”
Suara itu terdengar lembut, tapi sedikit ada getaran dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Dan kata zawjati atau istriku sukses membuat jantung Kayla langsung berdegup lebih cepat.
Kayla mendongak perlahan. Matanya menatap wajah Hanan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kenyataan bahwa laki-laki di hadapannya kini adalah suaminya.
Bahwa hidup mereka mulai hari ini akan berjalan bersama. Kayla tersenyum tipis. “Wa’alaikumussalam…”
Dengan sedikit bergetar Hanan kemudian mengulurkan tangannya kepada Kayla. Tangannya terbuka dengan lembut.
Kayla menatap tangan itu sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia meraih tangan Hanan dengan kedua tangannya.
Kemudian dengan penuh hormat, Kayla menundukkan tubuhnya sedikit dan mencium punggung tangan suaminya.
"MasyaAllah... "
Beberapa tamu langsung tersenyum melihat momen itu. Sementara Hanan menatap istrinya dengan tatapan yang semakin hangat.
Setelah Kayla kembali berdiri tegak, Hanan mengangkat tangannya perlahan. Ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Kayla dengan lembut.
Gerakan itu membuat Kayla sedikit terkejut, namun ia tetap diam dengan kepala tertunduk.
Hanan memejamkan matanya sejenak. Lalu dengan suara pelan namun jelas, ia membaca doa.
“Allahumma inni as’aluka khairahā wa khaira mā jabaltahā ‘alaihi…
wa a’ūdzu bika min sharrihā wa sharri mā jabaltahā ‘alaihi.”
Suasana aula menjadi sangat hening. Beberapa tamu bahkan ikut menundukkan kepala mereka.
Hanan kemudian membuka matanya kembali. Tatapannya kembali bertemu dengan mata Kayla.
Lalu perlahan ia menunduk sedikit. Dan mencium kening Kayla dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat.
Tenang. Penuh rasa hormat sekaligus kasih sayang. Kayla memejamkan matanya sejenak saat merasakan kecupan itu.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Namun kali ini bukan karena gugup. Melainkan karena perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Di sekitar mereka, para tamu mulai tersenyum haru. Beberapa bahkan berbisik pelan.
“MasyaAllah…”
“Indah sekali…”
“Ya Allah… romantis banget,” bisik Ditha pada Adel.
Sementara Adel langsung menyikut Zayn pelan. “Lo lihat tuh, cowok tuh gitu Zayn!’’
Zayn sampai menggeleng sambil menatap pasangan pengantin di depan.
“Gue iri banget sumpah.” gumam pelan, menatap penuh kagum.
Matanya bahkan sedikit berkaca-kaca melihat sahabatnya akhirnya menemukan kebahagiaan.
Sementara di tengah aula itu… Hanan dan Kayla masih berdiri berhadapan. Di tengah keramaian orang-orang yang menyaksikan mereka.
Namun bagi keduanya… Saat itu dunia seolah hanya milik mereka berdua.
...💠💠...
Suasana aula masih diliputi kehangatan setelah Hanan mencium kening Kayla. Para tamu yang menyaksikan momen itu masih tersenyum, sebagian bahkan berbisik pelan penuh haru.
Kayla perlahan membuka matanya.
Ia masih bisa merasakan hangatnya sentuhan di keningnya. Jantungnya berdegup cepat, namun perasaan di dadanya terasa begitu tenang.
Di hadapannya, Hanan menatapnya dengan senyum lembut yang tidak pernah lepas sejak tadi.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap. Kemudian penghulu yang berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum kecil dan berkata dengan suara lembut,
“Baik, sekarang prosesi penyerahan mahar dan penyematan cincin.”
Seorang panitia segera mendekat membawa sebuah kotak kecil berwarna putih gading di atas nampan berhias bunga.
Kotak itu diberikan kepada Hanan. Hanan menerimanya dengan hati-hati. Ia membuka kotak kecil itu perlahan. Di dalamnya, sebuah cincin berkilau indah di bawah cahaya lampu aula.
Cincin Cartier yang telah disebutkan dalam akad beberapa menit yang lalu. Cincin sederhana namun sangat elegan dan mahal.
Hanan mengangkat cincin itu dengan jari-jarinya. Lalu ia menoleh kepada Kayla.
“Kayla…” ucapnya pelan.
Kayla langsung menatapnya. Wajahnya sedikit memerah. Hanan kemudian mengulurkan tangannya.
“Boleh?”
Kayla mengangguk kecil. Dengan sedikit gugup, Kayla mengulurkan tangan kirinya. Jari-jarinya tampak sedikit gemetar.
Hanan memperhatikan itu dan tersenyum kecil. Tangannya memegang lembut jari manis Kayla.
Sentuhan itu membuat Kayla tanpa sadar menahan napas. Dengan sangat hati-hati, Hanan menyematkan cincin itu ke jari manis Kayla.
Gerakannya pelan. Penuh perhatian. Seolah ia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga. Cincin itu akhirnya terpasang dengan sempurna di jari Kayla.
Beberapa tamu langsung bertepuk tangan kecil.
“MasyaAllah…”
“Cantik sekali…”
Kayla menunduk sedikit, menatap cincin di jarinya. Kilau kecil dari permata itu memantulkan cahaya lampu aula.
Namun yang membuat dadanya terasa hangat bukanlah cincin itu. Melainkan cara Hanan menatapnya. Hanan kemudian berkata pelan, hanya cukup untuk didengar oleh Kayla.
“Mulai hari ini… kamu milikku.” Kalimat itu membuat pipi Kayla semakin merah. Namun Hanan segera melanjutkan dengan senyum lembut, “Dan aku juga milikmu.”
Kayla akhirnya mengangkat wajahnya lagi. Matanya menatap Hanan dengan perasaan yang dalam.
Di sekitar mereka, para tamu kembali bertepuk tangan lebih meriah.
‘’Sumpah, gue pengen teriak!’’ gumam Adel gemas sendiri.
‘’Kalau aja yang menikahi Kayla bukan orang pondok, yakin gue pasti lo udah heboh!’’ saut Ditha.
‘’Sumpah, ini lebih romantis dari drama china yang sering gue tonton!’’
‘’Anjirr ya jauh ege! Ini kesan islami lo samain sama drachin yang bentar bentar cipokann!’’
‘’Eh tapi gue penasaran, kira kira bakal ada wedding kiss gak ya?’’ ucap Zayn tiba tiba membuat Ditha dan Adel kompak menoleh.
Menurut mereka, Zayn cukup gila. Berharap ada wedding kiss, jangankan itu, hanya sekedar cium kening saja tadi mereka bisa melihat Hanan dan Kayla sangat gugup dan bergetar. Apalagi wedding kiss yang di saksikan para tamu undangan.
‘’Dibanding wedding kiss, gue lebih penasaran ke malam pertama sih!’’ celetuk Adel tiba tiba, sontak membuat mata Ditha membola sempurna.
‘’Nah kan, dia lebih gila dari gue!’’ ucap Zayn lalu ia terkekeh Bersama Adel.
smoga aja gak terjadi apa²,,,
mending lupakan....jgn di inget atau di ingatkan kmbali....
klau dia GK dpt perhatian ayh ibu nya
trus kalau GK ktmu Hanan dia ma spa.....beda dgn kmu dong...
dia idup sndiri Slma ini.....kmu.... ada ibu kn....ma ayah mu dia GK...
pnya BP juga gila.....
udh nurut aj kata mama mu
ntar durhaka lho...
sudah menikahpun mau berkumpul dgn mamanya terpisah jarak