Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double Date
Bunyi jam weker berkarakter kucing membuatku terbangun. Ternyata sudah sepagi ini.
Lalu di mana Riski? Apakah ia juga meninggalkanku begitu saja seperti pada pertama kami bersatu dulu.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku berniat mencari tau tentang keberadaan Riski pada Bi Ijah.
Sambil pandangan menyisir setiap sudut ruangan, aku mendekati Bi Ijah yang sedang bergelut dengan peralatan dapur. "Pak Riski sudah berangkat ke kantor ya, Bi?"
"Ia, Non! Saya pikir Bapak sudah pamit sama Non Rini sebelum beliau berangkat."
Aku mencebik kesal, lalu berlalu dari hadapan Bi Ijah. Bagaimanapun yang wanita paruh baya itu tau, hubungan kami baik-baik saja. Lalu apa ini, ia bahkan mengabaikanku setelah apa yang kami lalui semalam.
Ting ... Tong!
Seseorang di luar sana menekan tombol bel.
Entah siapa yang datang sepagi ini. Mungkinkah dia kembali karena merindukanku. Tiba-tiba saja wajahku bersemu, ada garis senyum yang melengkung di bibir ini lalu dengan penuh semangat bergegas membuka pintu depan.
Ceklek!
"Selamat pagi cantik!" ucap Dion begitu aku membuka pintu.
'Ck! Ternyata dia,' aku mencebik dalam hati.
"Eh, Dion! Apa yang membuatmu datang kemari sepagi ini?"
"Kenapa? Kamu tidak suka melihat ku, atau ada orang lain yang sedang kamu tunggu."
"Bukan begitu, aku hanya ... em, ayo masuk!
Aku mendahului Dion, lelaki itu melangkah mengikutiku menuju sofa lalu ia menubrukkan tubuhnya. Sedangkan diriku pergi ke dapur, meminta Bik Ijah membuatkan secangkir kopi untuknya.
Saat ini pikiranku tak lepas dari memikirkan Riski. Lelaki yang ingin rasanya aku beri julukan 'brengsek' itu benar-benar menggaggu pikiranku.
"Malam ini kamu sibuk, ngak?"
Aku yang baru saja duduk, mengernyit dahi lalu menatap Dion dengan alis bertautan.
"Sejauh ini sih, enggak! Memangnya kenapa?"
"Enggak! Aku ingin ngajak kamu dinner."
Dion terlihat hati-hati dalam berucap. Aku hanya bergeming. Tak menolak ataupun mengiyakan. Meski sebenarnya aku tidak punya niat untuk pergi, sama sekali.
Ia mengubah posisi duduk lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Galuh ngajak kita makan malam, nanti. Ya ... semacam double date gitu,"
"Double date, .... Galuh?" aku mengernyit dahi, menunggu ucapan selanjutnya dari bibir seksi lelaki atletis di hadapan ku itu.
"Ia, double date, kamu bisa kan?"
Aku menarik nafas dalam lalu membuangnya kasar, "Selain kamu, Galuh dan Aku, ada siapa lagi?"
"Riski. Kamu taukan jika mereka akan segera bertunangan. Dalam waktu dekat ini."
Sudah ku duga.
Aku tersenyum kecut sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca. Memandangi pokok mangga yang baru tumbuh setinggi orang dewasa.
Tak dapat ku pungkiri, saat ini hatiku benar-benar sedang terbakar amarah. Lebih tepatnya amarah karena rasa cemburu. Tapi aku tidak boleh kalah begitu saja sebelum bertanding.
Dion telah pulang. Aku tidak langsung mengiyakan, tapi berjanji akan memberi tahunya nanti jika memang aku bisa pergi. Bagaimanapun aku harus bertanya pada Riski tentang kebenaran berita ini. Mungkin saja ini hanya akal-akalan Galuh.
Hari sudah menjelang sore, namun tak ada tanda-tanda Riski pulang lebih awal. Aku sengaja tidak menghubunginya. Ah, lagi pula semenjak kami menikah, aku tidak pernah menghubunginya. Kecuali saat di rumah sakit waktu itu. Itupun aku lakukan karena ingin memberitahu tentang kemalangan yang menimpa mendiang Oma.
***
Aku menghampiri Dion yang telah menungguku sejak tadi di depan gedung Hotel. Malam ini ia terlihat lebih tampan dengan perpaduan mantel berwarna coklat muda. Lelaki itu melempar senyum misterius begitu kami saling berhadapan. Lalu menyerahkanku sebuket bunga lili putih.
"Aku tidak tau bunga apa yang kamu sukai, jadi aku pilih ini. Tapi untuk selanjudnya akan ku cari tau setiap kesukaan kamu itu."
Aku meraihnya sambil mengeryit dahi, mencoba mencerna maksud dari perkataan Dion barusan.
Kini kami menuju restoran yang berada di lantai delapan belas. Kata Dion, restoran yang akan kami tuju sekarang adalah restoran dengan suasana paling romantis di kota ini.
Mungkinkah ini alasan Riski tak mencariku hari ini karena ia sibuk mempersiapkan dinner romantis dengan Galuh. Ah! Memikirkan semua itu membuat mukaku terasa semakin panas.
"Selamat malam semuanya!" Dion menyapa begitu kami telah sampai di depan meja 20.
Riski terlihat sangat kaget. Lalu menatap tajam Galuh, menatap gadis itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
Aku sudah menduganya jika ini semua adalah rencana Galuh. Gadis itu bahkan tersenyum dengan sangat manis menyambut kedatangan kami. Mungkin ia merasa sudah menjadi pemenangnya.
Merasa muak dengan kedua wajah tersebut, aku mengalihkan pandangan menatap penampakan kota malam hari dari balik lantai 18. Pintar sekali gadis itu dalam memilih lokasi. Area outdoor dengan anginnya yang sepoi-sepoi, mirip seperti sedang berada di pantai.
Dion menarik kursi dan mempersilakan aku duduk. Kami duduk saling berhadapan. Aku menghadap Riski dan Dion menghadap Galuh.
Seperti semuanya telah di atur oleh Galuh. Entahlah, mungkin saja Riskilah yang mengatur semua ini. Beberapa orang pramusaji menghampiri meja kami lalu membawakan beberapa menu tanpa kami minta sebelumnya.
"Terima kasih, Mas!" ucap Galuh begitu mereka telah siap menata.
Malam ini Riski tak banyak bicara. Ia lebih suka menyibukkan diri dengan sendok dan garpu. Menyuap satu persatu makanan di hadapannya. Terlihat sekali ia sedang menghindari kontak denganku.
"Jadi, sebenarnya kapan kalian akan bertunangan?"
Pertanyaan Dion membuatku menghentikan suapan. Aku bergeming menatap kearah Riski dan Galuh. Menunggu jawaban dari mereka.
Riski baru saja ingin membuka suara, namun ia kalah cepat dengan gadis di sebelahnya itu.
"InsyaAllah awal minggu depan." ucap Galuh sambil tersenyum menyeringai ke arah Riski.
Riski mendehem, lalu mengelap ujung bibir dengan tissu. Ia terlihat tidak nyaman, sangat kontras dengan Galuh yang seakan sangat menikmati momen gila ini.
Banyak hal yang kami bicarakan, lebih tepatnya Dion dan Galuh yang berbicara karena aku dan Riski lebih banyak diam walau sesekali ikut berkomentar atau menjawabnya. Bahkan dari percakapan mereka aku baru tahu jika keduanya itu sudah berteman sejak lama.
Waktu seakan merambat terlalu pelan. Hatiku semakin memanas saat Galuh mulai melancarkan aksinya untuk menyerangku secara halus.
"Rini! Menurutmu, kami ini cocok dan serasi enggak?"
Kupingku memanas, sekuat tenaga mencoba untuk tetap bersikap tenang. Aku galau antara menyerang balik wanita licik itu atau menjaga rahasia tentang hubungan kami di hadapan Dion. Dion pasti akan sangat kaget jika sampai ia mengetahui perihal pernikahan kami dengan cara seperti ini.
"Aku pikir kalian lebih cocok jadi kakak adik, dari pada sepasang ...." ucapanku terhenti dan menatap Riski sambil menggertakkan gigi.
Lelaki itu terlihat kelabakan. Bahkan aku dapat melihat bagian mukanya yang sudah berkeringat.
"Kakak adik? Haha, aku tidak salah dengar?" ucap Galuh, wanita itu tergelak cukup kuat. Ia mengambil gelas minuman lalu menyesap sedikit. Tak lupa mengelap bagian ujung bibirnya setelah itu. Aku yang menyaksikannya, tersenyum sinis melihat gelagat gadis tersebut.
Galuh kembali menatapku, seakan akulah sang pelakor di sini. Lalu kembali berucap,
"Mungkin kamu belum tau. Kami baru saja selesai memilih sepasang cincin untuk hari pertunangan. Apa kalian mau melihatnya?"
Lagi-lagi aku tersudutkan. Riski semakin risih. Ia mencoba pergi, namun Galuh mencegat tangannya. Lelaki itu seperti tanpa tulang di hadapan gadis berambut emas tersebut. Sangat kontras dengan sikap yang selama ini ia tujukan kepadaku.
Berbeda dengan Riski, Dion malah tergelak. Ia bahkan menantang Galuh untuk menunjukan cincin yang di maksud tadi.
Sepasang cincin emas putih polos bertuliskan nama mereka tertata indah di dalam kotak beldru berwarna merah.
Lagi-lagi, galuh menyeringai tersenyum puas kaarahku. Baginya. Cincin tersebut adalah mendali atas kemenangannya.
"Wah! Cincin yang sangat indah," ucapku sambil menatap cincin dan Galuh secara bergantian. "Aku harap setelah kamu, tidak ada lagi wanita selanjutnya yang akan membeli cincin yang serupa dengan lelaki ini."
Ada penekanan pada kata -lelaki ini- sambil mengalihkan pandangan tepat ke wajah Riski. Ia terlihat terkejut, begitu juga dengan Galuh. Ekpresi gadis itu berubah drastis. Tak ada lagi senyum kemenangan yang melengkung di bibir merahnya, yang ada hanya wajah merah padam.
Bersambung...
_______
Hai Reader!
Jika kamu suka dengan cerita CINTA ARINI (Love story is complicated), jangan lupa tinggalkan jejak ya! Berupa like, komen, rate 5 dan vote supaya Author makin semangat dalam menulis.
Salam sayang untuk kalian semuanya!
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏