Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Matanya membulat sempurna melihat foto serta artikel yang ada di sana.
Artikel itu mengungkapkan status hubungan Dion dengan Cantika dulu. Bahkan foto yang di tampilkan di sana adalah foto saat Dion dan Cantika berciuman.
Dalam artikel itu juga di tulis, kalau Dion terpaksa menikahi Mikha karena di paksa oleh pengusaha nomor satu yang tak lain adalah Rangga Wijaya.
Seketika hati Mikha bergemuruh, entah kenapa dia merasa begitu kesal saat melihat foto tersebut. Padahal sebelumnya dia tidak pernah merasa keberatan ataupun marah saat melihat live mereka melakukan adegan ciuman tersebut. Lebih kesalnya lagi saat dia membaca tulisan yang di sampaikan di artikel tersebut. Yang menampakkan kalau pernikahannya dengan Dion terjadi karena paksaan orang tuanya. Padahal semua terjadi akibat ulah Cantika sendiri yang menjebak dirinya.
"Mantan pacarmu itu benar-benar keterlaluan, dia sendiri yang berulah, eh malah dia yang berteriak seolah dia adalah korban," dengus Mikha kesal.
Dion hanya diam mendengarnya, dia justru khawatir kalau mertuanya akan melakukan sesuatu terhadap Cantika karena dia sudah berani mencatut namanya.
"Cewek resek! Bisakah kamu meminta pada daddy untuk tidak melakukan sesuatu terhadap Cantika?"
Mikha menatap suaminya, ternyata suaminya masih menaruh perhatian terhadap mantan kekasihnya tersebut.
"Tika seorang wanita, keadaannya yang sekarang saja sudah cukup sulit baginya," tambah Dion. "Apalagi jika daddymu turun tangan, itu pasti akan membuat keadaan dia semakin sulit."
Nampak kecemasan di wajah Dion.
"Biar aku yang menyelesaikannya dengan caraku," tambah Dion.
Nyeri!
Itulah yang Mikha rasakan saat ini, mengetahui fakta kalau ternyata Dion masih perduli dengan mantan kekasihnya tersebut. Dia paham jika penghianatan yang telah dilakukan oleh Cantika, tidak sertamerta bisa langsung menghilangkan rasa kasih sayang dan cinta di hati suaminya.
Mikha menghela napasnya, "Jika kamu bisa membujuk dia meralat artikel itu. Aku pastikan daddy tidak akan melakukan apapun padanya," jawab Mikha. Dia segera beranjak dari temapatnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Dion saat melihat Mikha mengambil tasnya.
"Mau pulang," jawab Mikha ketus.
"Cewek resek, Kamu lupa atau hilang ingatan? Sekarang ini, apartemen ini rumahmu."
"Aku kira kamu yang hilang ingatan," balas Mikha.
"Kamu marah?" tanya Dion.
Mikha terdiam, dia memang kesal karena Dion masih perduli dengan mantannya. Tapi apa dia punya hak? Dia memang istri sah Dion, sah menurut agama dan juga negara. Tapi bukankah pernikahan mereka terjadi karena keterpaksaan?
"Tidak," jawab Mikha singkat.
Dion beridiri tepat di depan istrinya, dia menatap lekat-lekat wajah itu. Dari yang dia lihat, Dion tahu kalau istrinya saat ini sedang kesal.
"Ayo, ikut!" ajak Dion. Dia menarik tangan istrinya ke luar dari apartemen. Mereka lalu menuju ke parkiran.
"Naik!" seru Dion.
Meski bingung, Mikha menuruti perintah suaminya, setelah menghidupkan mesin mobilnya, Dion melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir tersebut.
Mikha semakin bingung saat menyadari kalau jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju ke apartemen milik Cantika.
"Untuk apa kita ke sini lagi?" tanya Mikha saat mobil yang di kendarai suaminya berhenti di halaman parkir apartemen milik Cantika.
"Ayo!" Dion kembali menyuruh istrinya untuk turun dari mobil.
"Tidak mau," jawab Mikha.
Dion turun dari dalam mobilnya, dan berjalan memutar menuju ke pintu satunya.
"Cepat ke luar!" seru Dion lagi, kali ini dia yang membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dion melepaskan seatbelt yang di pakai oleh istrinya, setelah itu dia kembali menarik tangan istrinya agar ke luar dari dalam mobil tersebut.
Dion kembali mengajak Mikha memasuki apartemen milik mantan kekasihnya.
"Sayang, aku tahu kamu pasti akan datang menemuiku lagi," ucap Cantika dengan nada manjanya. Bahkan dengan tidak tahu malunya, dia bergelayut di lengan Dion tanpa memperdulikan keberadaan Mikha.
"Cepat ralat artikel itu sekarang juga!" seru Dion dengan memberikan tatapan tajamnya.
"Artikel yang mana, Sayang?"
Dion mengambil ponselnya dan menyuruh Cantika untuk menghubungi pimpinan redaksi yang telah menerbitkan artikel itu.
"Bicaralah dan bilang pada pimpinan redaksi itu kalau artikel itu salah!"
"Tidak mau," tolak Cantika.
"Jika kamu tidak mau, maka terpaksa aku akan serahkan video panasmu dengan si tua bangka Harun itu ke pimpinan redaksi!" ancam Dion.
Cantika langsung melepaskan lengan Dion dan menatapnya.
"Sayang, kamu mengancamku?" tanya Cantika.
"Menurutmu?"
"Sayang, aku terpaksa melayaninya. Kamu tahukan kalau orang yang aku cintai itu dirimu?" Cantika berusaha membujuk Dion dengan wajah memelasnya.
"Kamu bilang kamu mencintaiku?!" Dion kembali memberikan tatapan tajamnya kepada Cantika. "Jika kamu mencintaiku kamu tidak akan pernah menghianatiku apapun alasannya. Dan jika kamu memang mencintaiku, maka sudah sejak dulu kamu pasti mau menerima lamaranku dan saat ini mungkin hidup kita akan bahagia."
"Sayang aku menyesal. Aku terpaksa mau menjadi kekasih gelapnya si Harun karena dia mengancam akan membatalkan seluruh kontrak yang sudah aku tanda tangani. Saat itu aku takut kalau karirku akan hancur dan terpaksa aku mau menjadi kekasih gelapnya." Cantika masih berusaha untuk membela diri.
"Termasuk menyerahkan tubuhmu padanya?!"
"Itu..."
"Cepat ralat berita itu sekarang! Atau aku akan benar-benar menyerahkan video itu ke pihak redaksi!" Sekali lagi Dion menyuruh Cantika meralat tulisan yang ada di artikel tersebut.
Dengan terpaksa Cantika mengambil ponsel milik Dion, dia menelpon pimpinan redaksi yang memuat berita tentang dirinya dan Dion.
Cantika mulai meralat semua keterangan yang dia sampaikan sebelumnya. Dia menyampaikan ke pihak redaksi, kalau pernikahan antara Dion dan Mikha bukan karena paksaan dari Rangga, melainkan karena kesalahannya. Dan di akhir pembicaraannya, dia meminta maaf kepada pihak-pihak terkait terutama Rangga Wijaya.
Cantika mengembalikan ponsel milik Dion. "Aku sudah meralatnya, sekarang serahkan video itu!" pinta Cantika.
"Aku tidak punya video itu," jawab Dion santai.
"Jadi kamu menipuku?!" geram Cantika.
"Jika kamu tidak pernah melakukan apapun dengan si Harun, kamu tidak akan pernah takut walau aku mengancammu." Dion kembali memberikan tatapan dinginnya.
"Ayo kita pergi dari sini!" Dion kembali menarik tangan istrinya untuk ke luar dari apartemen itu.
"Awas saja kamu Dion, suatu saat nanti aku akan membalasmu!" ancam Cantika.
******
Dion melepaskan tangan istrinya saat mereka telah tiba di parkiran.
"Masuklah!" seru Dion, kali ini dia berbica dengan nada yang lebih lembut.
Mikha menuruti perintah suaminya lagi.
"Aku kira kamu ke sini untuk kembali dengan pacarmu itu," gumam Mikha.
"Aku tidak akan mau kembali dengan wanita yang sudah menjadi bekas orang lain."
"Lalu kenapa tadi kamu menyuruhku untuk bilang ke daddy untuk tidak memberikan tindakan apapun kepada pacarmu itu?"
Dion menatap istrinya, "Memangnya kamu mau daddy menganggapku tidak berguna karena tidak bisa mengatasi masalah kecil seperti itu?" tanya Dion.
"Tapi kenapa kamu kelihatan cemas tadi?"
"Aku cemas karena takut daddy sudah membaca artikel itu dan melakukan tindakan terhadap Tika," jawab Dion. "Bisa-bisa daddy akan menganggapku tidak becus karena tidak bisa mengatasi masalah sepele seperti itu," tambahnya.
"Cowok nyebelin! Apa kamu masih mencintai artismu itu?" tanya Mikha.
"Perasaan cintaku sudah hilang saat aku tahu kalau dia sudah menghianatiku," jawab Dion.
Mikha merasa lega mendengarnya.
"Kita mau kembali ke apartemen atau jalan-jalan dulu?" tanya Dion sebelum menginjak pedal gas mobilnya.
"Karena kita sudah di luar, bagaimana kalau kita nonton film."
"Boleh, ayo!"
Keduanya segera pergi meninggalkan tempat itu.