Kirani, bisa di katakan gadis yang malang. Hidupnya tak di inginkan oleh Ayah kandungnya sendiri bahkan saudara kembarnya pun ingin menghancurkan nya hanya demi kepentingan nya sendiri.
Bagaimana caranya Kirani melewati semua tantangan hidupnya yang sangat berat, apakah Ia mampu bangkit dan menemukan kebahagiaan nya sendiri tanpa merasa ketakutan oleh bayang-bayang masa lalu yang membuatnya trauma.
Yuk simak kelanjutan kisahnya di karya " Korban Saudara Kembar "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tinggal Azka bekerja
...****************...
Rani begitu di manjakan oleh Sinta, sore itu Sinta bahkan menyiapkan langsung makan siang yang tertunda untuk menantunya itu.
" Makasih Bu, seharusnya Ibu tidak perlu bersusah- susah menyiapkan ini semua buat Tiara. Tiara bisa kedapur kalau memang Tiara lapar. "
" No No No, kamu nggak boleh capek- capek. Sudahlah, sekarang makanlah. Ini sudah sore, sebentar lagi Azka pulang. Kamu harus sudah bersiap- siap menyambut nya kan. "
Rani hanya mengangguk dan berusaha memberikan senyum terbaiknya, meskipun itu terpaksa.
Rani memindai kembali seisi kamar itu, seharusnya memang Ia melayani suaminya karena walau bagaimana pun juga pernikahan mereka sah dimata agama, tapi itu hal yang tidak mungkin.
Malam hari Rani menunggu kepulangan Azka namun hingga pukul sembilan malam Pria itu belum juga kembali.
Sinta yang tadi menemani nya pun memutuskan turun karena sang suami juga sudah kembali dari pekerjaan nya.
Karena tak kunjung pulang akhirnya Rani memutuskan untuk tidur, itu karena Ia sudah terbiasa tidur lebih awal.
Azka yang baru kembali satu jam kemudian, masuk dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan suara.
Ia tau kalau Rani pasti sudah tidur jam segini, namun ternyata usahanya gagal. Rani justru terbangun entah karena apa.
" Azka, kamu baru kembali. Maaf tadi aku ketiduran. "
" Tiara, loh kok bangun. Maaf, apa kedatangan ku mengganggu tidur mu. "
Rani menggeleng pelan, keduanya terdiam cukup lama. Azka melangkah ke samping ranjang dan mengambil bantal, bermaksud tidur di sofa.
Sebenarnya tadi Ia ingin tidur di kamar lain namun Ibunya yang mengetahui nya justru menggurui nya, daripada kena omelan sang Ibu akhirnya Azka pun kembali ke kamar ini.
" Mas Azka mau kemana. " Tanya Rani.
Azka menghentikan langkahnya, panggilan Rani membuat hatinya menghangat.
" Aku tidur di sofa Tiara. "
" Nggak perlu Mas, Mas Azka tidur disini saja. Aku percaya kok sama Mas Azka, Mas tidak akan berbuat macam- macam meskipun kita satu ranjang. "
Entah ada sesuatu yang berbeda di rasakan oleh Azka, Ia sempat terdiam untuk beberapa saat.
" Apa tidak apa- apa Tiara, maksud ku kamu tidak merasa terganggu kalau aku tidur di samping mu. "
Rani mengangguk cepat dan menampilkan senyum terbaik nya, akhirnya Azka pun kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
Keduanya sama-sama menatap langit- langit kamar karena ada yang mereka pikirkan masing-masing.
" Hm..... Mas, bagaimana kalau kita kembali ke apartement saja. "
Azka memiringkan tubuhnya menatap ke arah Rani.
" Kenapa Tiara, apa kamu merasa tidak nyaman disini. Apa Ibu tidak memperlakukan mu dengan baik atau, apakah Rana....
" Bukan Mas, bukan begitu. Ibu sangat memperlakukan aku dengan baik dan soal Kak Rana mungkin aku masih bisa atasi. "
" Lalu, apa yang membuatmu tidak bisa tinggal disini. " Tanya Azka lagi
Kali ini Rani terdiam, Ia bingung harus memberi alasan apa. Nyatanya Ia merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu, karena tidak terbiasa di layani.
" Baiklah Tiara, kita akan kembali tinggal di apartement tapi tidak sekarang, mungkin minggu depan. Aku juga ingin minta ijin padamu, besok aku akan keluar kota untuk urusan pekerjaan. Apakah boleh. "
Entah mengapa Azka merasa dirinya harus meminta ijin pada wanita yang baru beberapa jam lalu Ia nikahi itu.
" Kenapa harus minta ijin Mas, kamu bisa pergi kemana pun tanpa harus meminta ijin terlebih dulu dariku. Memangnya Mas akan berapa lama perginya. "
Tetap saja Rani merasa terkejut namun tidak bisa Ia tunjukkan itu pada Azka.
" Kemungkinan seminggu Tiara, tapi aku akan usahakan agar urusan nya cepat selesai biar bisa kembali lebih awal. Itulah sebabnya aku meminta mu tetap tinggal disini sementara aku tidak dirumah. Setidaknya disini ada orang lain yang menjaga kamu, bukan hanya itu saja Tiara. Rumah ini juga sudah di lengkapi dengan CCTV di hampir semua tempat, jadi untuk seseorang yang ingin berbuat jahat padamu akan berpikir seribu kali. Karena pasti akan ketahuan. "
Akhirnya Rani pun setuju, memang benar apa yang di katakan Azka. Kalau disini Ia bisa berteriak minta tolong dan sudah pasti ada yang mendengar nya, sementara kalau di apartement, Ia tinggal sendiri.
Karena malam semakin larut baik Rani maupun Azka memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka karena mereka akan memerlukan tenaga extra untuk menghadapi hari esok.
Sesudah sarapan pagi, Rana dan Rani sama- sama melepas keberangkatan suaminya. Kebetulan pesawat yang di tumpangi Azka pilotnya adalah Tedi.
Rani mencium tangan Azka dengan begitu takzim begitu juga dengan Azka,
Ia memberikan kecupan di kening Rani.
Mereka terlihat begitu mesra seperti pasangan suami istri pada umumnya, dan apa yang keduanya lakukan tentu menjadi perhatian pasangan Gunawan yang juga akan berangkat bekerja, begitu juga dengan Rana dan Tedi.
Rana mencebikkan bibirnya seolah mencemooh apa yang di lakukan Rani terlalu berlebihan.
" Pergilah Mas dan cepatlah kembali, kami berdua akan sangat merindukan mu. "
Rani tersenyum tulus mengiringi keberangkatan Azka, Azka berpamitan pada Ayah dan juga Ibunya sebelum pergi.
" Hati-hati Mas, cepatlah kembali. "
Rani melambaikan tangannya dan terus menatap mobil yang di tumpangi Azka dan Tedi sampai tak terlihat lagi oleh nya, Sinta yang melihat itu merasa sangat bahagia.
Akhirnya Putra nya mendapatkan istri yang begitu mencintai nya, setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran wanita itu.
Rana masuk kedalam terlebih dulu, la mencak- mencak ketika sudah tiba di kamar.
" Pergilah, kembalilah,hati-hati Mas... lebay.....!! "
Rana menirukan apa yang di ucapkan Rani tentu dengan perasaan dongkol, bibirnya tak habis- habis mencemooh wanita hamil itu.
Ponselnya berdering dan dengan cepat Rana pun menerima panggilan tersebut.
" Jangan lupa ada pemotretan pagi ini, jangan sampai terlambat sebelum di gantikan dengan orang lain. "
Rana mengepalkan tangannya, pagi ini moodnya benar-benar hancur. Semua orang seolah ingin menghancurkan dirinya.
Rana berlalu keluar setelah selesai bersiap, namun di ruang tengah Ia justru berpapasan dengan Rani dan juga Sinta.
Rani dan juga Sinta serempak menatap ke arah Rana dengan tatapan bingung.
" Kenapa menatap ku seperti itu. " Tanya Rana tidak senang.
" Kamu mau kemana Ran. "
" Masih nanya Bu, tentu saja Rana ingin berangkat kerja, memangnya mau ngapain lagi. Emangnya seperti menantu Ibu yang hanya tinggal di rumah saja, enak- enakkan, menghasilkan harta suaminya, itu pun di rumah masih di layani oleh asisten rumah tangga. " Jawab Rana ketus.
Sinta terkejut sekaligus bingung dengan jawaban Rana, wanita itu hendak buka suara untuk membela menantunya namun Rani melarangnya.
" Maafkan Rana ya Nak, entah mengapa dia bicara seperti itu. Disini tugas seorang istri untuk melayani suaminya, tidak ada paksaan harus bekerja dan kalau Ia mau pun semua keperluan nya bisa di siapkan oleh asisten rumah tangga. "
Rani hanya mengangguk mendengar keluh kesah Ibu mertuanya itu, jujur dirinya pun merasa apa yang di katakan Rana sudah menusuk relung hatinya.
...****************...