Yuk follow dulu ig nya Othor
'@lady.nuree
__
RUBY ALDERIA SMITH, tak ada kebahagian dalam hidupnya
Di fitnah oleh saudara angkat memang tak akan pernah di hiraukannya, tapi sakit, sakit hati jika orang tuanya tak mempercayainya.
Hidup rumit seorang gadis membuatnya tegar menghadapinya, walau berat tapi tetap harus semangat demi kelanjutan hidup nya.
MARAH, tentu pasti marah ! ruby anak yang mandiri walaupun selalu manja kepada orangtua dan kaka nya, tapi Ruby tidak pernah menyusahkan keluarganya.
dengan mengingat masalalunya membuat Ruby ingin membalas perbuatan Agatha, tapi tidak untuk keluarganya karena Ruby terlalu menyanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lady nuree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 29
Di ruangan operasi, dokter sedang memeriksa keadaan Ruby yang wajahnya kian memucat. Kakinya terbungkus rapih dengan perban putih, Ruby memejamkan matanya karena sedikit lelah menurutnya luka seperti ini baginya tidak seberapa.
Dokter khusus Ruby masih berasal dari Mafia Red Phoenix, tapi mereka dokter pribadi ruby sendiri.
" Bagaimana keadaannya Sya ?". Tanya Lucky yang sedari tadi tidak beranjak dari duduk nya bersama Kenzi.
" Dia baik-baik saja, tenanglah !". Seru nya menepuk ke dua pundak Lucky dan Kenzi.
hufhhhhhh
Helaan nafas terdengar dari Lucky dan Kenzi.
Ruby di pindahkan ke ruang perawatan hanya untuk istirahat, Ruby sendiri yang memintanya. Tadinya mereka akan masuk melihat keadaan Ruby secara langsung tapi di larang oleh Sasya.
" Kalian istirahat lah, Ruby sedang tidak ingin di ganggu ". Tutur Sasya berlalu dari hadapan mereka.
***
Mobil milik Edward dan David sudah terparkir di depan Markas Red Phoenix, mereka langsung masuk ke sana dengan langkah tegap. Pakaian yang di warnai merah bau amis masih menempel di sana, Luka yang sudah membiru di wajahnya terlihat jelas dari kejauhan.
Di saat mereka berjalan menuju ruangannya masing-masing, mereka berpapasan dengan Sasya di sana.
" Selamat malam King, Selamat malam Prince ". Sapa nya menundukkan sedikit kepalanya.
Mereka berdua langsung menghentikan langkah dan menoleh ke asal suara. Edward menatap David seolah bertanya, siapa dia ? dan di jawab dengan menaikkan kedua bahunya.
" Sasya, Dokter pribadi Lady ". Lanjut Sasya seakan tahu jika mereka tengah bertanya-tanya siapa dirinya.
" Oh, sedang apa disini ? kenapa aku baru pertamakali melihat anda disini ?". Tanya David. Kenyataan nya memang benar, selama ini David tidak pernah melihat orang-orang kepercayaan Ruby berada disini kecuali Kenzi dan Lucky.
" Saya akan datang kesini jika Lady memanggil, dan baru saja saya selesai mengoperasinya dan sekarang dia sedang beristirahat di ruang perawatan". Jelasnya dengan sopan.
Mendengar Ruby selesai melakukan operasi, mereka berdua langsung segera menuju ke ruang rawat dimana ruby berada tapi langkah mereka terhenti kala suara memperingatinya.
" Maaf Lady sedang tidak ingin di ganggu, tadi dia secara pribadi menyampaikan nya ke pada saya ". Sasya membalikkan badannya menghadap pada mereka berdua yang sudah melewatinya.
" Jika begitu saya permisi". Ucap nya berlalu dari sana
" Oh iya , bersihkan tubuh kalian dahulu dan rawat luka di wajah kalian, jika Lady melihat kalian berdua seperti itu akan berdampak pada semua yang ada di sini". Sambungnya sebelum membuka pintu keluar.
Edward dan David bingung dengan pernyataan Sasya, memangnya kenapa jika kita seperti ini ? pikirnya.
Euugghh
Ruby membuka matanya yang terpejam begitu lama
" Jam berapa ini ?". Tanya nya pada diri sendiri.
Ruby menoleh pada jam dinding yang berada di ruangan perawatan, terlihat jam menunjukan pukul 10 pagi. Tidak ada selang infus dan semacamnya yang menempel pada tubuhnya, tadinya Sasya akan melakukan perawatan sebagai mana biasanya tapi di tolak oleh Ruby karena menurutnya itu tidak perlu hanya butuh istirahat saja maka tubuhnya akan kembali dengan normal.
Ruby sangat enggan beranjak dari tempat tidurnya, rasanya malas sekali untuk keluar akhirnya Ruby memejamkan kembali matanya dengan sesuka hati.
Di luar sana Edward dan yang lainnya khawatir dengan keadaan Ruby, mereka terus melihat jam tangan yang melingkar pada lengannya.
" Kenapa Ruby belum sadar juga ?". Ucap David dengan posisi berdirinya,
" Ayo kita lihat saja kak, daripada disini terus ". Sambungnya mengajak Edward yang sedari tadi menekuk mukanya dengan khawatir yang sudah di ubun-ubun.
Mereka masuk ke sana mengabaikan akibat yang akan di terimanya, hukuman Ruby menurut mereka tidak akan sebanding dengan rasa khawatir dari mereka.
Ckleekkk
Sura handle pintu terbuka, mereka berempat langsung masuk ke sana dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Ruby.
Seorang gadis kecil masih terpejam dengan setia di sana, mereka terus menatap Ruby tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
" Baby ". Gumam Edward melangkahkan kakinya dan duduk di pinggir kasur yang di tempati Ruby.
David melihat mata yang penuh rindu dari kakaknya, terlihat jelas menurutnya. Kenzi dan Lucky duduk di sofa yang berada dekat jendela di sudut sana.
David mengikuti mereka duduk di sana
" Atagaa Lucky, lihatlah wajah bocah ini ". Kaget Kenzi menatap wajah David yang masih ada luka yang membekas di sana. Lucky dengan reflek menoleh ke wajah david dan segera beranjak menghampiri Edward yang sedang duduk menyamping di atas kasur.
Edward dan David di tarik keluar oleh mereka berdua sebelum Ruby melihatnya.
" Ada apa ini ken ?". Ucap Edward pelan
" Keluar dulu nanti akau jelaskan !". Seru Kenzi keluar dari sana.
" Ada apa ini kak, ada apa dengan wajah ku ?". David bertanya dengan rasa penasaran, mereka saling tatap dan kenzi menghela nafas begitu kasar.
" Apa kalian tau jika hal seperti itu bisa membuat semua yang ada di sini mendapat hukuman, bukan hukuman biasa tapi hukuman yang berat karena luka itu". Tutur Lucky menunjuk luka luka yang berada di wajah David dan juga Edward.
" Maksudnya ? aku masih bingung kak ". David menautkan kedua alisnya karena belum mengerti arah pembicaraan mereka.
" Ken, Luck bisa kan ke intinya saja ?!". Timpal Edward
" Disaat kami membebaskan David dari sekapan mafia Bloody knife wajahnya terlihat sangat menghawatirkan, Ruby memerintahkan dokter terbaik untuk merawatnya dengan begitu intensif. Malam itu Ruby terus berada di sisinya dan menatap wajah milik David begitu intens dan pada akhirnya Ruby mengeluarkan ultimatum pada malam itu juga bahwa siapapun yang merusak tubuhnya khususnya wajah tampan miliknya akan mendapat hukuman dari nya bukan hanya itu, Kita yang berada di sini pun akan mendapat hukuman berat dari Ruby yang tidak bisa kita bayangkan baik itu di sengaja ataupun tidak di sengaja". Jelas Lucky duduk dalam mengingat peristiwa yang lalu.
" Begitupun dengan mu Ed, apakah kau tau ? darah yang berada di tubuhmu sudah tercampur dengan darah miliknya. Aku tidak pernah melihat kegundahan terpancar dari matanya seperti itu, aku dan Lucky berpikir bahwa kau begitu spesial di matanya, maka dari itu pada malam kau di bawa oleh Ruby ke rumah sakit dengan air mata yang terus berlinang di matanya. Kami dengan gusar datang ke sana untuk melihat keadaanmu dan juga Ruby, sesampainya di sana kami melihat Ruby masuk ke ruangan operasi karena kata dokter darah yang tersedia di rumah sakit begitu terbatas sampai akhirnya Ruby mendonorkan darahnya. Kami menunggu dia keluar dari sana tapi pintu itu tidak terbuka sampai operasi selesai, kami terus menunggu sampai akhirnya kami melihat dia keluar dari sana dengan wajah begitu pucat dan mata sembabnya". Kenzi menengadahkan kepalanya ke langit-langit mansion mengingat kejadian itu.
" Malam itu Ruby menghubungi kami dengan terisak, tidak seperti biasanya dia seperti itu, Aku dan Lucky sangat terkejut dan juga khawatir saat itu dan tanpa berpikir panjang kita langsung berangkat ke rumah sakit tempat nya berada. Apakah kau tau Ed ? setelah dia keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya dia memberi tahu kami dengan nada yang tegas, siapapun dia, baik di sengaja ataupun tidak, yang merusak sedikitpun bagian dari tubuhmu akan menerima hukuman beribu kali lipat dan juga kita anggota Red Phoenix yang tidak bisa melindunginya akan mendapat hukuman begitu berat darinya. Pernyataan yang keluar dari mulutnya membuat kami menegang, pasalnya dia tidak pernah seperti ini walaupun dia begitu menyayangi kami, tapi tidak sebanding setelah kedatangan kalian, itu terlihat jelas di matanya". Sambungnya lagi
Edward dan David merasa begitu menjadi orang yang paling beruntung bisa bertemu dengan Ruby, keduanya merebahkan kepalanya pada sofa empuk di sana. Pikiran mereka menerawang jauh entak kemana.
" Ahsudahlah, rawat dulu luka kalian, walau sudah terlihat samar tapi Ruby akan tetap melihatnya mengerti ?". Seru David
Ekhemmmm
" Wa aku sangat tidak percaya". Deheman David membuat Kenzi dan juga Lucky sebal karenanya.
hahahahah
" Terserah yah, jika nanti kami dapat hukuman karena. Kami tidak segan akan memutasi tubuh mu". Seringai Lucky berlalu dari sana.
Hufhhhhhh
Salam hangat dari author
LIKE
KOMEN
SHARE
VOTE
🙏🙏🥰🥰😍😍
Semangatt terus...