Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kita Salah Masuk Rumah
Pagi hari sebelum berangkat bekerja Hasan menghampiri Umi, Umi tersenyum dan menawarkan Hasan untuk sarapan bersama namun Hasan menolak dengan alasan dirinya akan sarapan di kantornya saja.
" Hasan sarapan di kantor saja, Oh ya Umi, bisakah kita bicara sebentar. Hanya berdua saja. "
Umi kemudian meminta asisten rumah tangga nya meninggalkan mereka berdua agar menantunya tidak merasa terganggu.
" Ada apa Nak. " Tanya Umi kemudian.
Hasan mengeluarkan sesuatu dari kantong jas nya dan meletakkan nya di atas meja.
" Hasan ingin tau soal ini, apa ini milik Sya. "
Umi mengangguk setelah lama terdiam, ada senyum terbit di sudut bibir Hasan, Ia menghela nafas merasa lega karena tebakan nya benar.
"Dia memang sedang hamil, tapi kamu tidak perlu khawatir Nak, karena Sya tidak akan membebani mu. Dia akan merawat anak itu walau tanpa kamu, karena dia bilang itu adalah kesalahan nya yang mengakibatkan janin itu ada di rahimnya. "
Hasan menggeleng pelan, bagaimana bisa Sya menanggungnya seorang diri.
" Maaf Umi, sebenarnya Hasan lah yang bersalah. Waktu itu Hasan masih terjerat cinta di masa lalu, tapi dia tetap Istri Hasan, Hasan punya tanggung jawab besar untuk menjaganya. "
Umi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Hasan.
" Maaf Nak, bukankah Umi sudah menyerahkan berkas dari pengadilan yang di tinggalkan Sya untukmu. "
Hasan tersenyum, Ia memang menerimanya namun tidak pernah membubuhkan apapun disana.
" Berkasnya ada di kamar Sya dan Hasan tidak akan pernah menandatangi nya. Umi, Hasan tidak akan pernah meninggalkan Sya. Dia akan menjadi Istri satu- satunya buat Hasan. "
Umi tercengang mendengar pengakuan Hasan, beliau tidak menyangka akan mendengar kabar itu pagi ini.
" Umi, bisakah Umi beritahu dimana Istri Hasan berada saat ini. Hasan ingin menjaganya, memberikan semua kasih sayang yang selama ini tidak Ia dapatkan. "
Umi menghela nafas berat, Ia sudah berjanji pada Putrinya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai dimana alamatnya saat ini.
" Maaf Nak, tapi Umi sudah janji tidak akan mengatakan kepada siapapun dimana keberadaan Sya kini.
" Tapi Umi, Hasan ini bukan orang lain. Hasan adalah suami Sya, apa Hasan tidak berhak untuk bersama Istri Hasan. Hasan mohon Umi. "
Melihat Hasan yang memohon sampai jongkok di depannya, membuat Umi tidak tega. Ia meminta Hasan menunggu sebentar, Umi masuk kedalam kamar miliknya. Tidak berselang lama wanita itu keluar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah.
" Ini barang terakhir yang di kirimkan Sya untuk Umi, carilah Dia disana. Hasan, Umi tidak bisa membantu banyak. Untuk masalah Sya, kalau Dia mau menerimamu kembali maka Umi juga akan menerimamu. Begitu sebaliknya, kalau Sya tidak ingin bersamamu maka Umi juga tidak bisa berbuat apa-apa apa. "
Hasan menerima kotak berwarna merah itu dan mengamati apa yang ada di dalam kotak tersebut, bibirnya tersenyum seraya memegang hasil rajutan Istrinya. Hasan menajamkan penglihatannya, ternyata disana ada tertera alamat si pengirim.
" Makasih Umi, ini juga sudah cukup. Hasan mohon restunya Umi, agar Hasan bisa membawa pulang Istri Hasan secepatnya. "
Umi hanya mengangguk dan tersenyum, Hasan berpamitan sebelum pergi. Mulai hari ini Ia akan memperjuangkan keluarga kecilnya, mungkin sedikit sulit namun Hasan tetap akan melakukannya.
" Sayang tunggu aku, Nak tunggu Papa. Kita akan sama- sama lagi Nak. " Gumam Hasan sembari memacu kecepatan roda empat nya.
Setelah menempuh tujuh jam perjalanan akhirnya Hasan tiba di tempat tujuan, Hasan turun dan mengamati sekeliling.
" Ya Allah, sungguh pemandangan yang indah. Tapi dimana kamu sayang. " Gumam Hasan lagi.
Ia terus menyusuri tepian pantai hingga tiba di sebuah tempat, senyumnya mengembang sempurna ketika ekor matanya menangkap seseorang yang Ia cari.
Nampak Sya sedang menyulam sambil tersenyum sembari sesekali Ia mengelus perutnya yang sudah nampak membesar.
" Ya Allah sayang, maafkan Mas karena membuatmu melalui semua ini sendirian. Sayang, maafkan Papa Nak. "
Ingin rasanya Hasan berlari dan memeluknya namun setelah berpikir akhirnya niat itu di urungkan nya. Hasan mencari tempat duduk yang nyaman untuk bersembunyi, dari jauh Ia mengintip Istrinya yang semakin terlihat cantik dengan perut buncit nya.
Entah sudah menghabiskan berapa jam Hasan duduk di tempat persembunyian, Ia bergegas keluar ketika melihat Sya meninggalkan gazebo tempat Ia duduk tadi.
Hasan terus mengikuti kemana perginya sang Istri, hingga Ia masuk ke sebuah rumah minimalis yang berada di belakang rumah besar di depannya.
" Jadi kamu tinggal disini sayang. " Batin Hasan.
Hasan memutuskan akan kesana lagi nanti, saat ini Ia harus mencari tempat penginapan yang berada tidak jauh dari tempat sang Istri berada.
Pagi-pagi Hasan sudah mengintip kapan Istrinya akan keluar, dengan banyaknya barang belanjaan di tangannya. Seperti biasa pagi-pagi Sya pergi bekerja, Ia keluar rumah dengan pakaian yang sudah rapi.
Atas bantuan seseorang akhirnya Hasan bisa masuk secara diam-diam kedalam tempat tinggal Sya, disana Hasan memperhatikan seisi ruangan itu.
Hasan membuka kulkas dan ternyata kulkas itu hanya tersisa sedikit stock bahan- bahan makanan. Di atas kulkas juga ada formula untuk Ibu hamil, Hasan tak henti- hentinya menyunggingkan senyum.
Ia melangkah kearah kamar, senyumnya semakin melebar ketika melihat sebuah foto yang di letakkan di atas meja rias. Ternyata itu adalah foto dirinya.
Hasan kembali keluar dan menuju dapur, Ia mengeluarkan semua barang belanjaannya dan menyusunnya di dalam kulkas.
Ia menyisakan beberapa barang untuk Ia olah untuk makan siang Istrinya. Bermodal gadget, Hasan mulai berpetualang dengan alat masak yang ada di dapur Istrinya.
Berburu waktu, Hasan segera merapikan semua alat masaknya dan segera pergi dari tempat itu. Ia kembali pada tempat persembunyiannya dan menunggu kepulangan Istrinya.
Sya yang sudah menyelesaikan rajutannya dan merasa lapar akhirnya bergegas pulang.
" Ah sepertinya sudah cukup, kamu pasti lapar kan Nak. Bagaimana kalau kita pulang sekarang. "
Sya berbicara dengan buah hatinya yang masih di dalam kandungannya, Ia pamit pada pemilik toko tempatnya bekerja.
" Duh Nak, Mama lupa. Di kulkas kita hanya punya telur doang, Mama belum belanja Nak. Gimana dong, tapi Mama sudah lapar. Sudahlah Nak, kita makan seadanya dulu ya. Nggak apa- apa kan, jangan marah sama Mama ya. Nanti sore sehabis kerja baru kita pergi belanja, oke ! . "
Sya masuk kedalam rumah, Ia mengganti alas kakinya dengan alas kaki khusus di dalam rumah.
" Duh Nak, sepertinya Mama benar-benar lapar, ini buktinya Mama sampai mencium bau masakan yang sangat lezat. " Ucap Sya.
Sya mencuci tangannya lebih dulu, Ia mengambil mangkuk dan juga sendok untuk wadah Ia membuat telur dadar. Namun alangkah terkejutnya dirinya ketika membuka kulkas, ternyata di dalam sudah tersedia berbagai macam bahan makanan disana.
" Nak, kok kulkasnya ada isinya, kapan kita belanja ya. Perasaan Mama belum belanja Nak, tapi ini kok. "
Masih dengan kebingungan nya, Sya mengambil telur miliknya dan membawanya ke meja. Disana Ia membuka tutup saji dan semakin terkejut ketika melihat ternyata disana juga sudah tersaji makanan siap makan.
" Ya Allah Nak, ini apalagi. Apa kita salah masuk rumah, tapi nggak mungkin deh. "
Sya masuk ke kamarnya dan benar itu adalah kamarnya, Ia kembali lagi ke meja makan. Karena sudah ileran melihat menu yang tersaji di atas meja, akhirnya Sya duduk dan menyantap sebagian dari makanan itu.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan