Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Pagi hari itu, Andika terbangun terlebih dahulu lalu dia tersenyum menatap wajah pulas Silvi yang tidur sambil memeluknya. Rasanya seperti mimpi dia bisa kembali tidur bersama Silvi. Kehangatan setiap malam kini akan dia rasakan di setiap harinya.
"I love you..." Satu kecupan mendarat di kening Silvi yang membuat Silvi mengerjapkan matanya.
Dia melepas pelukannya dan bergeliat sambil menguap. "Udah pagi ya?"
Andika tersenyum kecil. "Bukan pagi tapi siang."
Seketika Silvi membuka matanya lebar dan melihat sinar matahari yang menerobos tirai jendela kamarnya.
"Kenapa bingung? Biasa pengantin baru bangun siang. Lagian ini di hotel. Gak ada mama mertua jahat kayak di sinetron-sinetron." Andika justru menggoda Silvi sambil membelai rambut Silvi.
Silvi meluruskan tubuhnya dan menatap langit-langit hotel sambil merasakan badannya yang sangat pegal. Sepertinya suaminya itu semalam sampai menambah tiga ronde. Mengapa Andika kuat sekali sedangkan dirinya sudah lemah tak berdaya.
"Masih mau malas-malasan? Aku pesankan makanan ya, pasti kamu lapar."
"Gak cuma lapar, tapi badan aku pegal banget."
Andika mencium singkat pipi Silvi lalu dia turun dan memakai piyama kimononya. Kemudian dia memesan makanan lewat telepon agar diantar ke kamarnya. Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi. Dia basuh dirinya dengan cepat lalu mengisi bathub dengan air hangat untuk Silvi
Kemudian dia keluar dan menghampiri Silvi. "Mandi dulu, biar enakan."
Silvi bangun dengan malas tapi Andika justru menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Dia menurunkan tubuh polos Silvi ke dalam bathub lalu membasahinya dan mengusapkan sabun ke sekujur tubuhnya. Kemudian dia pijat pelan punggung Silvi.
"Nyaman sekali." Silvi tersenyum kecil sambil memejamkan matanya. Sepertinya perlakuan Andika benar-benar sudah berubah. Andika sangat perhatian dan manis padanya.
"Nanti kalau masih pegal semua, aku panggilkan tukang pijat ya."
"Nanti aja Mas kalau udah pulang ke apartemen," jawab Silvi. "Tapi setelah makan aku mau lanjut tidur ya Mas."
"Oke. Tapi Mama sama Papa ingin kita menginap sehari di rumahnya setelah kita pulang dari hotel nanti. Gak papa?" tanya Andika meminta persetujuan Silvi.
Silvi membuka matanya lalu memutar tubuhnya. "Ya gak papa Mas. Kapanpun Mas mau ya aku siap menemani."
Andika semakin tersenyum. "Oke, kalau gitu nanti gantian aku menginap di rumah kamu."
"Di rumah aku? Jangan Mas, rumah aku sempit dan gak ada ac. Nanti Mas Dika gak bisa tidur."
Andika mencubit hidung Silvi karena gemas. "Aku bisa tidur dimana pun asal ada kamu. Nanti kita renovasi ya rumah kamu, lalu kita tempati sama Ayah kamu."
Seketika Silvi menatap Andika dengan binar matanya. "Mas Dika serius?"
"Iya, kasihan kalau Ayah kamu tinggal sendiri. Kita temani Ayah, selagi kita mampu."
Seketika Silvi memeluk Andika dengan erat. "Makasih Mas Dika."
"Iya sayang. Kamu anak satu-satunya, jadi aku akan menemani kamu berbakti pada Ayah kamu selagi Ayah kamu masih ada."
Mendengar hal itu air mata haru menetes di pipi Silvi. Dia tidak menyangka seseorang yang dulu sangat kejam kini telah berubah menjadi seseorang yang sangat baik.
Andika melepas pelukannya dan menatap Silvi. "Sayang, kok nangis?" Dia usap air mata yang membasahi pipi Silvi.
"Mas Dika tetap kayak gini ya, sampai nanti."
Andika tersenyum lalu mengecup bibir Silvi. "Aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu dan menjadi yang terbaik buat kamu."
Mereka saling menatap lekat. Kedua wajah itu kembali saling menyatu dan memagut, semakin lama semakin liar.
Andai saja tidak ada bunyi bel, mereka pasti sudah berlanjut ke adegan selanjutnya.
"Pasti orang antar makanan. Kamu mandi dulu setelah itu kita makan sama-sama." Andika mengusap puncak kepala Silvi lalu dia berdiri dan keluar dari kamar mandi.
Silvi masih saja tersenyum menatap punggung Andika yang kini menghilang di balik pintu.
"Andika yang kejam dulu, sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah menjadi Mas Dika yang penuh cinta." Silvi masih mengulum senyumnya. Rasanya dia semakin dibuat jatuh cinta oleh Andika.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Maaf ya up nya pendek dan tidak setiap hari. 🤭 Author bingung mau lanjut seperti apa cerita ini.. 😂
ditgg karya selanjutnyaaaa