Isabella dan Darren terjebak dalam situasi menggelikan yang tidak sengaja mereka ciptakan. Kesalahfahaman yang membawa mereka pada hubungan rumit. Bagaimana tidak rumit, Darren adalah kakak dari pria yang sudah menjadi tunangannya selama lima tahun!
***
"Aku akan membantumu agar bisa hidup normal kembali."
"Maksudmu?" Darren mengernyit bingung.
"Aku akan menjadi dokter untukmu."
"Seingatku, aku tidak sakit dan kau juga bukan seorang dokter."
"Dan kau akan menjadi Stylist-ku."
"Excuse me?"
"Kau akan sembuh dan normal kembali. Akan kubuat kau mampu menghamili wanita!!"
Darren tidak terkejut sama sekali dengan pemikiran ajaib wanita itu. Kemudian dengan tenang ia berkata, "Lalu kubuat Austin bersedia menidurimu?"
"Frontal sekali ucapanmu! Kau hanya perlu mengubah penampilanku agar adik tampanmu melirik ke arahku! Bagaimana, deal?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baju Mandi
Akhir pekan, pantai sangat ramai pengunjung. Bukan hanya warga setempat tetapi juga para turis.
Darren memindai sekitar, mencari lokasi yang bagus untuk bersantai. Bermain air tidak ada di dalam daftarnya. Sebuah kamera menggantung di leher. Ia hanya akan mengambil beberapa foto. Pantai Coney Island didekorasi dengan dermaga kayu yang luar biasa yang dilengkapi dengan bangku, sudut pandang, dan lentera. Ini memberikan pemandangan megah.
Berbeda dengan Austin, pria itu sangat menyukai air. Ia dan Isabell sudah merencanakan banyak hal. Seperti bersepeda, jogging, naik komedi putar, berenang, berjemur dan bahkan berencana untuk memancing. Coney Island memang menyediakan semua fasilitas tersebut, jadi tidak heran jika banyak anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Sementara Steve sedang sibuk mengolesi tabir surya di tubuh sang istri tercinta. Tidak terlalu peduli dengan apa yang akan dilakukan para saudara mereka.
"Apa yang kita lakukan pertama kali?" Austin bertanya seraya meletakkan tas milik Isabell di atas kain yang sudah digelar oleh Darren. Pria itu sendiri sudah sibuk dengan kameranya, mengambil beberapa spot foto.
"Bagaimana jika kita berenang?" tanya Austin itu kemudian.
"Baiklah," Isabell setuju saja. Apa pun yang dikatakan Austin tidak akan ada penolakannya. Benar-benar bucin.
"Kau ingin ikut bergabung dengan kami atau kau ingin di sini bersantai menemani Steve dan Lexi?" Austin menunjuk dengan dagunya ke arah sepasang suami istri tersebut.
Mengetahui pertanyaan itu ditujukan kepadanya, Darren segera menghentikan aktifitasnya. Ia menoleh kepada saudaranya yang sudah menanggalkan pakaian atasannya hingga memamerkan otot-otot yang sempurna.
Darren kemudian menoleh ke arah Isabell, begitu juga dengan Austin.
"Kau bisa mengganti pakaianmu di ruang ganti," Austin menunjuk ruang ganti yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Tidak perlu, aku di sini saja," ucap Isabell seraya membuka satu persatu kancing dress yang gadis itu kenakan. Isabell memang memakai dress panjang dengan kancing hidup sampai ke bawah.
Tiga anak kancing sudah dibuka. Austin dan Darren kompak beranjak dari tempat mereka untuk melindungi Isabell.
"Apa yang kau lakukan? Dengan menanggalkan pakaianmu di sini, kau akan menjadi pusat perhatian." Darren bertanya tanpa menatap Isabell. Ia justru sibuk memindai ke belakang, ke samping untuk memastikan apakah ada orang yang melihat. Kiri, kanan, depan, belakang, di mana-mana ada orang. Apa yang ada di dalam pikiran Isabell.
"Apa aku terlihat seperti gadis yang ingin mendapat perhatian?"
Meski Darren berkata dengan intonasi tenang dan wajah datar, Isabell tetap saja tersinggung dengan tuduhan pria itu. Ya, perkataan Darren ia anggap sebagai tudingan yang merendahkan.
"Kenapa wanita ini selalu salah sangka dengan semua kata yang keluar dari mulutku?" Darren bertanya kepada saudaranya tapi tatapannya tertuju pada Isabell yang juga sedang menatapnya dengan mata melotot.
Austin tergelak, "Sepertinya Isabell masih kesal kepadamu karena perkara mobil tadi malam."
"Cih! Situasi yang sedikit membagongkan." Darren mendengus malas. Yang dicemari adalah mobilnya, lantas kenapa Isabell yang merasa kesal. "Aku bahkan sudah membantunya memilih pakaian yang layak untuk berkencan denganmu."
"Wah, mulia sekali hatimu." Puji Austin seperti angin lalu. "Apa kau sudah mengenakan bikini di dalam?" Austin pria sejati, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jiwa predatornya secara otomatis aktif, ia sempat melirik ke kancing yang terbuka, melihat bahwa Isabell mengenakan sesuatu di balik dressnya yang berukuran jumbo.
Isabell mengangguk, Austin memang selalu penuh pengertian. "Aku tidak berniat memamerkan tubuh untuk menarik perhatian. Dan aku juga tidak bisa membatasi mulut seseorang untuk tidak memandangku dengan negatif."
"Astaga! Siapa yang memandangmu dengan negatif?" Darren langsung menanggapi. Ia tahu jika Isabell sedang menyindirnya.
"Kau menudingku!"
"Di mana dari ucapanku yang terdengar seperti sedang menudingmu?"
"Kenapa kau bertanya kepadaku?"
"Lalu kepada siapa aku harus bertanya disaat subjek yang salah sangka kepadaku adalah dirimu."
"Tanyakan saja pada angin yang berhembus dan laut yang membentang luas," Isabell menggerutu seraya meloloskan dressnya dari tubuhnya.
Kini dress itu teronggok di bawah kakinya dan Willson bersaudara kompak melarikan mata mereka ke bawah. Tentu saja bukan dress yang menjadi pusat perhatian mereka melainkan kaki yang ternyata cukup jenjang, ramping dan mulus berwarna eksotis.
Mata mereka semakin menjelajah hingga ke atas. Tepatnya hingga pertengahan paha. Keduanya sama-sama mengeraang dalam hati. Dasar durjana!! Astaga! Baru kaki Isabell yang terlihat kedua bersaudara itu sudah mengeluarkan liur!
Menyadari naluri kejantanan mereka yang sangat kurang ajar, baik Austin maupun Darren sama-sama berdehem dan menegakkan tubuh. Mereka juga memalingkan wajah, Darren ke kiri dan Austin ke kanan. Malu sendiri dengan sikap mereka yang kelewat normal.
"Tidak ada bikini?" Austin adalah orang pertama yang mampu mengendalikan dirinya. Kini ia kembali memusatkan perhatiannya kepada Isabell. Gadis itu ternyata mengenakan t-shirt big size berwarna putih yang menutupi sampai setengah paha. Apa yang dikenakan Isabel di balik kaos tersebut untuk menutupi bokongnya masih misteri. Tapi Austin menebak jika gadis itu mengenakan hot pant.
"Aku tidak menemukan bikini yang cocok," bohong Isabell. Alasan yang sebenarnya adalah ia tidak percaya diri mengenakan bikini yang mempertontonkan tubuhnya.
"Pilihan yang bagus," pungkas Austin sambil tersenyum simpul. "Ayo, kita berenang." Mereka meninggalkan Darren yang sudah duduk di bangku pantai merutuki tindakannya yang tidak bermoral.
Untuk melupakan tindakan memalukan yang ia lakukan, Darren kembali beraksi dengan kameranya. Menggambar beberapa foto secara sembarang.