Berjuang mendapat hati sang suami, meski terluka fisik dan batin. Dia tetap bertahan ... dalam kesakitan yang di rasakan dalam pernikahannya. Dia selalu yakin dengan rencana besar Allah yang di berikan padanya suatu hari kelak.
Ketabahan dan kesabarannya tidak usah di ragukan lagi dari sosok Famira Az-zahra wanita shalihah yang sangat tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang di berikan Allah kepadanya dalam pernikahannya.
Bagaimana akhir pernikahan yang tidak didasari cinta?
SELAMAT MEMBACA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Ecyy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━━━
Pekerjaan tangan yang paling sederhana sekalipun demi mempertahankan harga diri seseorang, jauh lebih utama daripada kekayaan yang disertai penyelewengan.
[ Ali Bin Abi Thalib ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━━━
Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
Malam ini, suasana di kediaman Vernandes begitu mencekam. Setelah menceritakan semua masa lalunya pada Erwin, membuat hati Vernandes sedikit lega. Namun Erwin masih mendiaminya setelah mendengar kisah masa lalunya.
Erwin mengunci dirinya di dalam kamar, hati Erwin sakit ketika mengetahui bahwa ayahnya memiliki istri lain di belakang ibunya selama ini dan lebih parahnya lagi, ayahnya mempunyai anak perempuan dari istrinya itu.
"Erwin, buka pintunya Nak. Ayah masih belum selesai menceritakannya." suara lembut dari Vernandes sambil mengetuk pintu kamar Erwin, mencoba menjelaskan secara lebih detail kepada Erwin. Vernandes masih belum menceritakan bahwa Sintia ibu kandung Erwin adalah istri keduanya.
Erwin tidak menjawab, Ia fokus menikmati keindahan langit bertabur bintang di balkon kamarnya. Sorotan matanya kosong, pikiran kembali melayang kepada sosok almarhumah ibunya.
'Aku kecewa sama Ayah'
"Erwin, buka pintunya Nak." Vernandes masih tetap berusaha membujuk putranya.
"Apa lagi yang perlu di jelaskan Yah, Erwin tidak mau mendengar penuturan Ayah lebih jauh lagi. Erwin tidak menyangka Ayah menduakan Ibu. Erwin kecewa sama Ayah ...," kata Erwin penuh penekanan di setiap kalimat yang di ucapkan.
"Ayah tahu itu Nak, kamu pasti marah sama Ayah. Tetapi tolong dengarkan penjelasan Ayah dahulu Nak." nada suara Vernandes melemah. Dia tidak mau bertengkar dengan putranya.
Erwin berjalan ke arah pintu kamarnya untuk membuka pintu, dia pun tidak boleh egois. Erwin sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membenci Vernandes bila mengetahui rahasia yang di sembunyikan.
"Ayah masuklah," ucap Erwin di ambang pintu kamar.
Vernandes tersenyum tipis, kemudian duduk di atas sofa di kamar Erwin. Erwin pun ikut duduk berhadapan dengan ayahnya.
Vernandes mengambil nafas panjang, lalu menceritakan secara rinci tentang masa lalunya pada Erwin. Erwin mendengarkan penjelasan Vernandes dengan antusias walaupun sangat menyayat hatinya ketika Ia mengetahui ibunya hanyalah istri kedua dari Vernandes.
"Jadi, Ayah menikahi Ibu karena desakan Kakek, lalu di mana istri pertama Ayah sekarang?"
"Iya Nak, dulu Kakekmu tidak merestui Ayah menikahi Ismia karena istri Ayah yang pertama itu status sosial di bawah keluarga Ayah. Saat pernikahan kami hampir satu tahun, kami belum juga dikaruniai keturunan, sehingga membuat Kakekmu semakin tidak suka dengan Ismia, Kakekmu menyuruh Ayah menceraikan secepatnya. Ayah tidak pernah berpikir untuk menceraikan istri pertama Ayah, Ayah sangat mencintai Ismia tapi desakan Kakekmu Ayah terpaksa melepaskannya. Lalu menikah dengan perempuan pilihan Kakekmu, ibumu Erwin."
Vernandes berhenti sejenak untuk mengambil mengambil nafas.
"Tak lama setelah kelahiran kamu Erwin, Ayah juga mendengar kelahiran dari istri pertama Ayah. Ismia menyembunyikan kehamilan selama ini kepada Ayah. Dan malangnya lagi Ismia meninggal saat melahirkan putri Ayah." Vernandes menundukkan kepalanya, merasakan sesak yang melanda dadanya. Dia sudah banyak salah pada Ismia, dan sekarang Ia lebih merasa bersalah karena tidak bisa menemukan putrinya.
Erwin berpindah duduk ke samping Vernandes, Erwin juga merasa kesedihan yang sangat mendalam dari ayahnya sekarang. Erwin tidak pernah melihat sisi rapuh pahlawan hidupnya selama ini.
"Yah, Erwin minta maaf ya. Erwin janji akan mencari adik Erwin demi Ayah. Erwin tidak akan pernah membencinya karena dia tidak salah. Erwin janji pada Ayah akan menemukannya secepatnya," ucap Erwin meyakinkan Vernandes, Erwin mengusap punggung Vernandes memberikan semangat supaya tidak menyerah.
"Sudah satu tahun ini Ayah mencarinya, dan menyuruh orang-orang yang ahli dalam bidang ini untuk mencari keberadaannya tetapi hasilnya nihil Nak. Putri Ayah menghilang seperti di telan oleh bumi. Ayah takut dia sudah meninggal Erwin."
"Erwin yakin adik Erwin masih hidup Yah, Ayah tidak boleh putus asa seperti ini."
"Semoga saja putri Ayah masih hidup, dan Ayah ingin sekali memeluknya."
"Aamiin Yah, kalau boleh tahu nama adik Erwin siapa Yah?"
"Zahra Nak."
"Maksud Erwin nama panjangnya Yah, biar Erwin mudah untuk mencarinya."
"Famira Az-Zahra Alfatunnisa."
Deg!
Jantung Erwin berdegup dua kali lebih kencang mendengar nama itu.
'Tidak mungkin, ini hanya sebuah kebetulan'
"Nama yang bagus Yah," ucap Erwin tersenyum simpul.
"Ayah hanya punya ini sebagai petunjuk kamu untuk mencarinya." Vernandes mengambil secarik kertas di dalam dompetnya.
"Ini alamat rumah siapa Yah?"
"Itu alamat rumah seseorang yang merawat adikmu selama ini, Ayah pernah ke sana namun tidak hasil. Ayah berharap kamu bisa bertanya kepada tetangga sekitar rumahnya."
"InsyaaAllah yah, doakan saja Erwin supaya bisa menemukannya secepatnya."
***
"Alhamdulillah Mas, akhirnya Mas siuman juga," ucap Anita penuh syukur melihat Doni di atas brankar.
Anita mendapat kabar pada siang tadi dari sekretaris Doni, bahwa Doni berada di rumah sakit karena suatu insiden. Anita segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Doni, meskipun hatinya masih sakit karena Doni membela adik iparnya itu tetapi Anita tidak dapat membohongi perasaannya dia sangat mencintai Doni dan sangat khawatir dengan kondisi suaminya. Anita bertanya kepada sekretaris Doni, siapa yang berani melukai suaminya, namun sekretaris Doni bungkam. Sekretaris Doni menyuruh Anita bertanya langsung pada atasannya. Dia tidak mau urus campur lebih dalam.
"Terimakasih sudah datang kemari menjenguk Mas," ucap Doni tersenyum tipis ke arah istrinya.
"Iya Mas, Anita juga kan istri Mas. Sudah seharusnya Anita mengurusi Mas, meski Anita masih kecewa sama Mas." Anita memalingkan wajahnya di hadapan Doni, bulir air matanya ingin luruh dengan derasnya mengingat Doni dan Famira seperti ada hubungan spesial yang di sembunyikan dari dirinya.
Doni yang sedang berbaring mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menggenggam tangan Anita.
"Nit, Mas minta maaf soal kejadian tadi di rumah Bara. Benar kata kamu Nit, Mas di goda oleh Famira. Famira hanyalah bermuka dua Nit, dia ingin menghancurkan keluarga kita dan keluarga kamu Nit."
" .... lalu kenapa Mas membelanya?"
"Mas, tidak membelanya Nit, Mas cuman tidak terjadi keributan. Mas itu sangat mencintaimu Nit, tidak ada perempuan lain di hati Mas."
Anita hanya diam.
"Nit kamu percaya sama Mas kan? Mas tidak akan menduakan kamu. Famira itu hanya wanita munafik dan miskin tidak tahu diri Nit." Doni berusaha meyakinkan Anita untuk mempercayai ucapannya.
"Anita percaya sama Mas, Anita sudah menduga Famira itu wanita yang tidak benar. Anita tidak sudi dia menjadi istri Bara lagi. Anita harus meyakinkan Bara bahwa Famira wanita yang tidak benar dan hanya ingin memanfaatkan dia saja. Anita harus membuat Bara berpisah dengan wanita munafik itu!" geram Anita pada Famira.
'Wanita bodoh, mudah sekali kamu mempercayaiku.'
"Mas akan membantu kamu untuk menyingkirkan wanita itu di keluarga Wijaya."
"Iya Mas, kita harus berusaha meyakinkan Bara. Otak Bara sudah di cuci oleh wanita munafik itu."
"Tentu saja Nit, Mas akan selalu mendukung dan membantu kamu untuk meyakinkan Bara." Doni tersenyum puas.
"Muka Mas bisa babak belur gini, kenapa? siapa yang lakuin kepada Mas?"
"Bara yang melakukannya, sepertinya wanita munafik itu sudah mengadu yang tidak-tidak kepada Bara. Famira melebihkan kejadiannya, seolah-olah Mas yang salah Nit," aduh Doni merintih kesakitan saat memegang luka yang ada di wajahnya.
Anita semakin membenci Famira, kedatangan dia dalam keluarganya membuat hubungan antara dia dan Bara merenggang.
"Aku akan menyingkirkan Famira segera mungkin Mas, sungguh dia adalah wanita munafik dan berotak licik!"
'Permainan di mulai Bara, siapa yang akan menang setelah ini.'