18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Hati Somalia masih diliputi kegamangan, pasalnya setelah pengakuan mengejutkan dari lelaki yang secara terang-terangan mengatakan menyukainya Somi panggilan akrabnya tak mampu berpikir dengan jernih. Meski ia merasa lega namun tak bisa dipungkiri lagi rasa ragu pada pada Gandhi masih susah untuk segera dienyahkan dari lubuk hatinya. Traumanya pada sebuah hubungan menyebabkan Somi sedikit ragu pada Gandhi.
Jangankan Somalia, Stefani yang notabenenya adik Gandhi sendiri pun masih enggan percaya bahwa abangnya akan menjalin hubungan yang lebih serius dengan Somi. Fani bahkan mengatakan Gandhi seorang Gay karena tak pernah membahas masalah wanita dengannya dan tak pernah tampak sekali pun membawa wanita datang ke rumahnya. Bila Gandhi mengaku mencintai Somi seperti yang Somi katakan semalam, Fani akan sangat bersyukur bila lelaki itu telah sembuh dari penyakit kelainan seksualnya.
"Aku kan sudah mengatakan padamu agar tak perlu repot mengurusi rumah Dear ..." kata Gandhi mengejutkan sang kekasih yabg tengah menyiapkan sarapan untuk keduanya. Meski Ceu Dedeh telah bersama Somi membantu sang calon nyonya rumah, namun Gandhi masih meminta Somi agar tak mengerjakan pekerjaan rumah apa pun itu.
"Astaga Sayang ... kamu mengagetkan aku!" Seketika, Somi berbalik arah membelakangi tempat ia sedang memotong selada serta parslei yang akan ia pergunakan untuk salad.
"Aku merindukanmu!" ungkap pria yang telah rapi untuk segera menunaikan kewajibannya yakni mencari nafkah guna menghidupi calon keluarga kecilnya kelak.
"Apa lukamu sudah sembuh? Oh iya kunci mobil yang kamu berikan tempo hari padaku ada di dalam tas yang ku pakai semalam, ambil saja dan gunakan itu selagi mobilmu di bengkel!"
"Tapi aku telah memberikan mobil itu padamu? Mana boleh aku mengambilnya lagi Sayang?" kilah Gandhi. Ia memang telah ikhlas memberikan salah satu mobilnya untuk Somi waktu itu. Namun karena dibakar api cemburu lah pada akhirnya Somi tak mau menerima mobil itu dan lebih memilih mengunakan mobilnya sendiri. Meski begitu ia tak serta-merta menolak maksud baik dari Gandhi. Wanita yang bernama asli Somalia Wardana tersebut masih menyimpan dengan rapi kunci mobil serta kunci rumah sang kekasih.
"Gunakan saja, aku akan berangkat bersama Fani hari ini! Atau kamu mau menggunakan mobilku?" Ungkap Somi, lalu wanita itu dengan kesadaran lengkap membantu sang kekasih prianya dalam mengikat sebuah simpul pada dasinya.
Gandhi tak menjawab pertanyaan dari Somi, ia lebih disibukan oleh suara dering yang keluar dari ponsel di saku celananya. Terlihat Gusti pagi-pagi telah meneleponnya. Pasti ada hal penting yang akan dia bicarakan, karena Gusti bukan tipe orang yang suka rela akan menelpon sang bos hanya untuk suatu hal yang tak penting.
"Bos ada kabar buruk yang mengejutkan!"
"Cepat katakan Gus ... kau menggangu waktu berhargaku saat ini!"
"Hakim mengabulkan penangguhan penahanan tergugat yakni nyonya Amara!" jelas Gusti pelan-pelan. Ia sangat tahu sifat sang atasan, Gandhi tak akan suka bila mendengar berita buruk ini. Karena alasan kehamilannya lah yang membuat Amara tak jadi ditahan.
"Wanita ular itu tak akan lolos dari aku!" sahut Gandhi dengan wajah merah padam. Ia ingat betapa menyedihkannya Somi pada malam itu. Ia bersumpah akan membalas rasa sakit yang telah Somi alami saat itu. Masih segar dalam ingatannya seorang wanita yang masih mengenakan busana pernikahan berjalan tanpa ekspresi apa pun di bawah guyuran air hujan. Wajah sendunya masih Gandhi ingat hingga kini. Kedua bedebah itu tak akan lolos begitu saja dari tangan Gandhi.
"Dear ... apa kamu akan membiarkan musuh mu lolos begitu saja?" tegur Gandhi pada wanita yang kini sedang memasangkan dasi untuknya. Gandhi sengaja melantangkan suara pada ponselnya agar Somi bisa ikut berkomentar pada masalah ini.
"Sebagai sesama wanita tentu saja aku merasa simpati, namun sebagai seorang korban dari kebusukan yang telah mereka lakukan aku dengan tegas akan menolak apa pun permintaan mereka," ujar Somalia berapi-api. Ia masih menyimpan dendam yang membara pada Alex dan Amara. Keduanya telah menghancurkan kepercayaan yang telah Somi berikan pada mereka sekaligus mengkhianati bisnis Somi. Hal yang wajar bila Somi masih enggan untuk sekadar memaafkan Alex dan Amara.
"Kau dengar sendiri Gus, Nyonya tak akan membiarkan mereka berkeliaran dengan mudahnya!"
"Siap bos ... kita lanjutkan rencana berikutnya!" jawab Gusti sebelum Gandhi mematikan sambungan teleponnya.
"Terima kasih Sayang ... dan maaf aku sudah merepotkan dirimu dalam kasus tak jelas ini!" Sebagai rasa terima kasihnya Somi dengan tulus memeluk pria yang kini bersama dengannya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi untuk mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan yang telah Gandhi beri.
"Kamu bisa mengandalkan calon suamimu ini Nona!" ujar Gandhi sebelum ia menanggapi reaksi dari Somi dengan mencium kening wanita berdarah Pakistan-Indonesia tersebut.
"Waduh pagi-pagi gini amat yak nasib jomblo ...." sergah seorang gadis yang baru saja tiba di rumah kakak lelakinya. Sebagai seorang jones alias jomblo ngenes, Fani sedikit sebal melihat kemesraan yang tersaji pagi ini di depan matanya. Namun sebagai seorang adik yang baik, ia turut bahagia atas keberhasilan sang Abang dalam merebut hati sang pemilik perusahaan tempat Fani bekerja.
"Bocil diam deh ...." Sahut Somi sambil mengedipkan mata tanda sebuah kesepakatan yang telah terjadi. Keduanya memang sedang menyiapkan sebuah skenario untuk menguji lelaki yang sejak dulu Fani sebut sebagai seorang gay.
"Aku iri loh dengan kemesraan ini ... suwer deh!" Fani semakin gencar dalam menggoda keduanya. Ia lupa akan hasil rapatnya semalam bersama dengan Somalia.
"Kau pasti ke mari hanya untuk numpang makan bukan? Apa mama tak memberimu makan hingga merepotkan aku?"
"Kau dengar Mbak? Jahat sekali bukan dia?" Bagai anak kecil yang sedang diganggu anak kecil, Fani kini mengadu pada calon kakak iparnya. Ia sangat yakin bila sang calon kakak iparnya akan berpihak padanya.
**
Penangguhan penahanan adalah atas permintaan tersangka atau terdakwa, penyidik, penuntut umum, atau hakim sesuai dengan kewenangan masing-masing dapat mengadakan penangguhan penahanan dengan atau tanpa uang atau jaminan orang berdasarkan syarat yang ditentukan.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi