Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-26 Rencana pertemuan tiga keluarga
Jonathan masuk ke kamarnya, dia langsung berbaring ditempat tidurnya. Dia merasa bingung dengan kondisi ini. Dia tidak tahu harus berbuat apa jalan yang terbaik untuk semuanya. Apakah pernikahannya memang harus dibatalkan? Dia tidak bisa seperti Vincent yang langsung saja minta bertukar pasangan, dia tidak bisa egois.
Ibunya Jonathan mengetuk pintu kamarnya.
“Jo, Mommy mau bicara!” teriak ibunya.
Meskipun malas akhirnya Jonathan tetap membuka pintu kamarnya. Setelah dibuka, diapun kembali masuk dan duduk di pinggir tempat tidur. Ibunya mengikutinya, duduk disampingnya.
“Jo, katakan yang sejujurnya, kau tidak bisa menghindar terus, Mommy harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata ibunya.
Jonathan menatap ibunya yang juga menatapnya.
“Agatha marah karena melihat foto aku berdua dengan Amanda,” jawab Jonathan.
“Apa? Kau berdua dengan Amanda? Kau ini bagaimaan sih? Calon istrimu Agatha, bukan Amanda! Tentu saja dia marah!” maki ibunya dengan kesal.
“Sebenarnya aku menyukai Amanda,” jawab Jonathan, membuat ibunya semakin terkejut lagi.
“Apa maksudmu menyukai?” tanya ibunya, menatap tajam.
“Aku mengira Amanda adalah Agatha, makanya aku menyutujui perjodohan ini. Aku tidak tahu dia mempunyai saudara kembar, aku kira dia calon istriku dan aku sudah berusaha menyukainya dan aku sudah mulai menyukainya tapi ternyata dia bukan Agatha,” jawab Jonathan.
“Tapi apapun alasanmu, kau sudah menyutujui menikah dengan Agatha, alasanmu itu hanya lelucon yang akan memalukan keluarga kita,” kata ibunya dengan ketus.
“Jadi aku harus tetap menikah dengan Agatha? Walaupun aku tidak menyukainya?” tanya Jonathan, masih menatap ibunya.
“Iya, karena semua ini sudah terlanjur terjadi. Kau sudah menyutujuinya!” kata ibunya.
“Aku salah mengira orang Mommy. Aku tidak sengaja melakukannya. Kalau dari awal aku tahu Amanda bukan Agatha, aku tidak akan mendekatinya. Aku berusaha menerimanya karena aku fikir dia calon istriku yang akan aku nikahi. Aku sudah melakukan keinginan kalian untuk mengenal Agatha, tapi ternyata aku salah orang,” ucap Jonathan panjang lebar, dia berharap ibunya mau mengerti.
“Pantas Agatha ingin membatalkan pernikahan ini. Dan kau fikir dengan batalnya pernikahanmu dengan Agatha kau bisa menikah dengan Amanda, begitu?” tanya ibunya. Jonathan tidak menjawab.
“Sekarang apa kau nyaman, menikah dengan Amanda tapi kau menyakiti Agatha, saudaranya Amanda?”tanya ibunya Jonathan. Putranya itu tidak menjawab.
“Kalau saja Amanda itu bukan saudara kembar Agatha, mungkin kau bisa menikah dengan Amanda tanpa bertemu lagi dengannya, tapi masalahnya mereka bersaudara, seumur hdiup kau akan ada didepan Agatha, kau fikir itu tidak akan menyakitinya?” tanya ibunya lagi.
“Aku juga kalau menikah dengan Agatha, Amanda akan tersakiti Mommy,” jawab Jonathan. Ibunya kini yang diam.
“Aku juga bingung Mommy. Kalau aku menikah dengan Agatha, aku harus mulai dari awal lagi untuk mencoba menyukainya, dan itu sangat sulit, aku terlanjur menyukai Amanda,” lanjut Jonathan.
“Daddymu tidak akan setuju kau menikah dengan Amanda, karena Amanda sudah dijodohkan dengan Vincent, itu akan jadi masalah dengan kelurganya Vincent,” ucap ibunya.
“Iya Mommy, aku juga mengerti,” kata Jonathan.
Ibunya kini diam.
“Jadi apa yang harus aku lakukan? Apakah menikah dengan Agatha lebih baik? Vincent menyukai Agatha, dia memperlakukan Amanda kurang baik,” kata Jonathan lagi membuat ibunya terkejut.
“Vincent menyukai Agatha? Kenapa bisa begitu?” Ibunya tampak kebingungan.
“Itulah yang terjadi Mommy. Aku juga tidak tega kalau Amanda tidak bahagia dengan pernikahannya,” kata Jonathan lagi.
Ibunya Jonathan merenung, dia terus berfikir mencari solusi yang baik untuk semuanya.
“Sepertinya ini harus dirembukkan dengan keluarga Vincent juga keluarga Mr.Edward, kita cari jalan yang terbaik untuk semuanya,” ucap ibunya Jonathan, sambil menatap putranya yang tampak kusut.
“Tiga keluarga harus bertemu, tapi sebelumnya Mommy harus bicara dengan Daddymu,” lanjut ibunya, akhirnya dia bangun dari duduknya, memegang bahu Jonathan sebentar lalu keluar dari kamarnya Jonathan.
***************
Di rumah Vincent…
Ibunya Vincent mendekati suaminya yang ada diruang kerjanya.
“Sayang, ada yang ingin aku bicarakan tentang pernikahan putra kita,” kata Ibunya Vincent.
“Bicaralah,” jawab Mr.Arthur.
“Aku harap kau tenang dulu sebelum aku menyampaikan apa yang telah terjadi,” kata ibunya Vincent.
Mr. Arthur menyimpan bolpointnya dan melepas kacamatanya.
“Ada apa?” tanyanya dengan serius, menatap istrinya.
Ibunya Vincent duduk di kursi disebrang meja kerja suaminya.
“Tentang putra kita,” ucap ibunya Vincent.
“Iya kenapa dengan Vincent?” tanya Mr. Arthur, tidak sabar.
“Dia..dia…” Ibunya Vincent tampak ragu-ragu untuk bicara.
“Katakan saja, aku baik-baik saja,” ucap Mr. Arthur.
“Dia melamar Agatha,” jawab istrinya.
“Apa?” tanya Mr. Arthur terkejut bukan main,dadanya tiba-tiba terasa sakit.
“Sayang apa kau baik-baik saja? Vincent! Vincent!” Ibunya Vincent sangat panik, dia segera bangkit dari duduknya dan buru-buru memeluk suaminya.
“Tidak apa-apa aku baik-baik saja,” ucap Mr. Arthur mencoba mengontrol nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
Terdengar langkah seseorang masuk ke dalam ruang kerja itu.
“Ada apa Mommy?” tanya Vincent, yang berlari tadi saat mendengar ibunya berteriak memanggilnya. Dilihatnya ibunya sedang memeluk ayahnya.
“Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, teruslah bicara,” ucap Mr. Arthur pada istrinya.
Ibunya Vincent perlahan melepaskan pelukannya, membetulan letak duduk Mr. Arthur supaya nyaman.
Vincent menoleh pada ibunya.
“Duduklah!” ucap ibunya pada Vincent. Dia segera duduk di sofa yang ada diruangan itu.
Ibunya Vincent menggeser kursi tadi supaya dekat dengan Mr.Arthur. Dia takut terjadi apa-apa dengan suaminya gara-gara mendengar hal ini.
“Vincent melamar Agatha, jadi dia tetap ingin menikah dengan Agatha,” lanjut ibunya Vincent. Yang sedang dibicarakan hanya menunduk tidak menjawab.
Mr.Arthur yang kini mulai tenang, menatap Vincent.
“Kau benar-benar keterlaluan!” makinya.
“Sayang, tenanglah, kontrol emosimu,” ucap Ibunya Vincent pada suaminya.
“Aku minta maaf Daddy, aku hanya ingin menikah dengan Agatha,” kata Vincent, masih dengan pendiriannya.
“Kau tahu, kita sudah menyiapkan pesta pernikahan kalian, semua kerabat dan relasiku tahu kau akan menikah dengan Amanda,” kata Mr. Arthur.
Vincent menatap ayahnya.
“Daddy, perlu Daddy tahu sebenarnya Jonathan juga menyukai Amanda bukan Agatha. Jadi aku merasa kalau kita bertukar pasangan itu tidak masalah. Daddy masih berbesan dengan Mr. Edward,” ucap Vincent.
“Kau fikir, Agatha dan Amanda itu barang? Yang bisa seenaknya ditukar-tukar?” bentak Mr. Arthur.
“Sayang, sayang, sabarlah, kau harus tenang,” ucap istrinya.
“Daddy tolonglah mengerti aku. Aku sangat mencintai Agatha. Aku hanya ingin menikah dengannya,” kata Vincent.
Mr. Arthur kini terdiam, kepalanya rasanya mau pecah melihat kelakuan putranya itu. Ibunya Vincent menatap suaminya.
“Sayang, menurutku, bagaimana kalau kita bertemu dengan keluarganya Mr. Edward juga Mr. Darwin? Kita harus membicarakan ini sebelum hari pernikahan putra kita? Kita juga harus minta maaf pada Mr. Edward atas kelancangan yang dilakukan Vincent, yang telah berani-beraninya melamar Agatha,” ucapnya.
Mr.Arthur tidak menjawab, dia memikirkan saran istrinya itu. Bagaimana dia bersikeras memaksa Vincent juga sepertinya tidak akan berhasil, putranya itu benar-benar keras kepala.
“Baiklah, aku akan bicara dengan Mr. Edward dan Mr. Darwin,” ucap Mr.Arthur, akhirnya mengangguk.
*****************
Di kediaman keluarga Edward…
Makan malam malam ini terasa begitu hening. Tidak ada seorangpun yang bicara. Edward tampak bingung dengan istri dan kedua putrinya yang saling diam tidak bicara.
“Sayang, apa kau mau tambah?” tanya Elsa pada Edward.
“Tidak, aku sudah kenyang,” jawab Edward.
Agatha dan Amanda tidak ada yang bicara, mereka diam sambil menyantap makan mereka dengan perlahan seperti enggan untuk makan.
“Kalian kenapa? Makanlah yang banyak,” ucap Edward. Tidak ada yang menjawab.
Kemudian Agatha menatap Edward, yang juga menatapnya. Elsa juga menoleh pada Agatha, hanya Amanda saja yang diam menunduk mengaduk aduk makanannya.
“Daddy!” panggil Agatha, mulai bicara
“Iya sayang, ada apa?” tanya Edward pada Agatha.
“Aku ingin membatalkan penikahanku dengan Jonathan,” jawab Agatha.
Edward sangat terkejut, begitu juga Amanda, dia menoleh pada saudara kembarnya. Elsa hanya diam mendengarkan, dia sebelumnya sudah mendengar dari Agatha soal keinginannya itu.
“Kenapa sayang? Bukankah kau menyetujui menikah dengan Jonathan, kau juga menyukainya kan?” tanya Edward, keheranan.
“Aku tidak bisa menikah dengannya,” jawab Agatha.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Edward.
Agatha tidak menjawab.
“Katakan saja. Bukankah Jonathan pria yang baik?” ucap Edward, mencoba menyelami hati putrinya.
“Iya Daddy, Jonathan pria yang baik, tapi dia menyukai wanita lain,” jawab Agatha sambil mengaduk aduk makanan dipiringnya.
Mendengar perkataan Agatha, Amanda terkejut, apa maksudnya dengan Jonathan menyukai wanita lain? Jonathan menyukai siapa? Bukankah jelas-jelas Jonathan bilang pada Mommynya kalau dia tidak menyukainya, terus menyukai siapa lagi kalau bukan Agatha?
“Apa maksudmu menyukai wanita lain? Jonathan punya pacar?” tanya Edward.
Agatha terdiam. Elsa hanya memperhatikan ayah dan anak itu bicara.
“Jonathan menyukai Amanda,” jawab Agatha.
“Apa?” Edward tampak terkejut, apalagi Amanda.
“Tunggu, tunggu, bukankah waktu itu kau bilang itu hanya akal-akalan Vincent saja karena dia terobsesi ingin menikah denganmu? Kenapa sekarang kau bicara begitu?” tanya Edward kebingungan.
“Jonathan menyukai Amanda, Daddy tanya sendiri saja pada Amanda,” jawab Agatha, matanya tidak mau melihat pada Amanda.
Melihat sikap Agatha seperti itu, Amanda merasa tidak nyaman. Dia merasa menjadi perusak hubungan Agatha dengan Jonathan, apalagi kalau sampai pernikahan dibatalkan gara-gara dirinya, dia akan merasa bersalah pada Agatha.
“Tidak Daddy, Jonathan tidak menyukaiku, dia sudah bilang pada Mommy kalau dia tidak menyukaiku,” ucap Amanda.
“Kau berbohong!” tiba-tiba Agatha membentak Amanda, membuat orangtuanya terkejut terlebih Amanda.
Agatha menatap Amanda dengan tatapan yang tajam.
“Kau jangan berbohong lagi! Aku benci dengan kebohongan kalian!” teriaknya, sambil menyimpan sendok dengan keras ke piringnya.
“Sayang, tenanglah sayang,” kata Elsa, terkejut melihat Agatha marah. Elsa buru-buru menghampiri Agatha dan memeluk bahunya.
Amanda lebih terkejut lagi melihat sikap Agatha seperti itu, dia merasa tidak enak melihat Agatha marah padanya.
“Sayang, jujurlah apa yang terjadi sebenarnya,” kata Elsa pada Amanda.
“Aku, aku juga sebenarnya tidak tahu Mommy. Mommy tahu sendiri Jonathan yang bicara pada Mommy kalau dia tidak menyukaiku, aku mendengar percakapan kalian,” ucap Amanda, sambil menatap ibunya.
Elsa menoleh pada Agatha.
“Sayang, kau yakin dengan pernyataanmu?” tanya Elsa.
“Aku melihat foto-foto mereka makan eskrim,” jawab Agatha, sambil menunduk. Hatinya terasa sedih menerima kenyataan kalau ternyata Jonathan menyukai Amanda, padahal mereka sedang mengurus persiapan pernikahan mereka.
Mendengar jawaban Agatha, Amanda terkejut. Makan eskirm?
“Kau tahu darimana aku dan Jonathan makan eskirm?” tanya Amanda pada Agatha.
“Di statusnya Asti dan Erna, saat kau pergi ke kampusmu,” jawab Agatha, dia kini sudah mulai tenang. Elsa kembali duduk di kursinya disamping Edward.
Elsa menoleh pada Amanda begitu juga Edward.
“Sayang, jadi sebenarnya apa kau ada hubungan dengan Jonathan? Kau jujur saja, biar semuanya jadi clear! Daddy tidak mau kalian bertengkar,” ucap Edward.
Amanda kini menunduk.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu Daddy, Jonathan tidak bicara apa-apa tentang perasaannya padaku,” ucap Amanda.
“Tapi kau juga menyukainya kan?” tanya Agatha. Amanda terdiam ditanya begitu, dia bingung harus mengakuinya atau tidak, dia tidak mau semuanya tambah runyam lebih baik dia diam, belum tentu juga Jonathan menyukainya.
Elsa menoleh pada Edward.
“Sayang, sepertinya kita tiga keluarga harus berkumpul untuk meluruskan semua ini. Kita harus tahu jawaban dari calon-calon menantu kita, terutama Jonathan, dia harus memberikan jawaban yang pasti untuk pernikahannya,” kata Elsa.
“Kau benar Honey, kita harus bicara dengan mereka,” ucap Edward.
Suasana kembali hening. Acara makan malam sekarang terasa begitu dingin dan hambar.
************
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤