bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Motor butut itu jalan lagi. Kali ini bukan cuma ke gerbang SMP. Rasanya seperti kembali ke rumah. Rumah yang udah 8 tahun kosong, sekarang pelan-pelan ada isinya lagi. Sampai di gerbang, Awi berhenti. Resty turun. tidak langsung lari masuk seperti anak lain. Dia nengok. Senyum tipis, senyum pertama ke bapaknya dalam 8 tahun.
"Dadah.....Pak! Hati-hati pulangnya."
Awi mengangkat tangan. Melepas gas. Mata panas lagi. Tapi kali ini dia tidak nengok ke arah warung tuak. Dia nengok ke spion. melihat anaknya masuk gerbang. Hari itu, Awi tidak mabuk. Hari itu, dia pulang bawa kunci motor butut dan janji baru.
Angin pagi nyapu halaman SMP yang masih sepi. Resty jalan pelan, membawa ransel yang kebesaran. Tapi langkahnya beda dari 8 tahun lalu. Dulu dia masuk gerbang sambil nunduk, takut dilihat orang. Sekarang dia nengok sekali lagi ke luar gerbang. Motor butut Awi sudah tak kelihatan. Debu jalanan yang masih muter-muter. Di dalam tas, jari Resty meraba sesuatu. duit jajan. Tadi pagi, pas dia mau turun, Awi nyelip kan itu ke saku rok nya.
"duit jajan," bisik Awi waktu itu. Suaranya serak, tapi tidak mabuk."Biar...!biar kamu bisa jajan dengan temanmu."
Resty cuma mengangguk. Tidak bisa ngomong apa-apa. Tenggorokannya seperti dicekik 8 tahun. 8 tahun dia menunggu kata itu dari Bapak. Tidak pernah memberikan uang. Yang datang cuma bentakan, sumpah serapah, sama asap rokok dan bau tuak. Sekarang kata itu datang dari orang yang dulu sering menelantarkan anak dan istrinya yang sudah meninggal dunia.
Perlahan murid dan guru berdatangan. Halaman yang tadi sepi jadi ramai. Tapi ramai itu malah bikin dada Resty sesak. Dia melihat Bu Yanti, guru BK, nyamperin anaknya yang masih umur 4 tahun. Anak itu lari-lari kecil, ranselnya goyang-goyang. Bu Yanti langsung jongkok, nyuapin pisang sambil ngelapin ingus anaknya pake tisu.
"Hati-hati ya....nak! jangan lari-lari. Nanti jatuh. Ibu jadi sedih!," bisik Bu Yanti sambil nyium jidat anaknya.
Sederhana banget. dia ingat dulu, ibunya juga sering menciumnya saat mau berangkat sekolah. Tapi semua itu tinggal kenangan, ibunya sudah menghadap sang ilahi untuk selamanya. Dia merindukan saat-saat bersama ibunya, yang selalu memeluknya jika dia lage sedih.
Dari arah berlawanan Dinda baru datang sambil ngos-ngosan. Tek... tek... tek...sepatu Dinda mengetuk lantai semen halaman sekolah. Dia baru tiba di sekolah. Peluh membasahi bajunya, karena dia mengira akan telat sekolah, padahal bel masuk pun belum berbunyi.
Dinda ngernyit. "Eh....Res? Dari tadi di situ aja?"
Resty tidak menoleh. Masih fokus ke depan, padahal tidak ada yang dia lihatin beneran. Jari-jarinya mainin tali ransel kusut. Dinda samperin, berhenti selangkah di belakangnya. Diliat dari belakang, bahu Resty agak turun. Tapi mukanya datar aja, tidak menangis atau senyum. Tapi Kosong.
"Lagi mikirin PR matematika?" tanya Dinda asal. Soalnya tidak kepikiran alasan lain. krna hanya ingin mencairkan suasana.
Resty baru kedip, kayak kaget disapa. Dia menengok sekilas, terus senyum tipis yang dipaksa."Hah? Enggak...! cuma ngelamun doang."
Dinda mengangguk, tapi alisnya masih naik. Dia belum tau kenapa. Yang dia tau, Resty hari ini agak beda. Lebih diem dari biasanya.
Dinda colek pelan bahu Resty pakai bukunya. "Udah....!, jangan ngelamun. Nanti telat upacara. Temenin gue ke kantin dulu, yuk?"
Resty diam sesaat, terus ngikut aja langkah Dinda. Alasannya masih dia simpen sendiri. Masih ada waktu untuk kelapangan. upacara akan dimulai 15 menit lagi dan cukup waktu untuk nemanen Dinda sarapan.
Bel upacara bunyi. Tit... tit... tit... panjang. Anak-anak berhamburan keluar kelas, baris di lapangan. Tapi di meja kantin pojokan, Dinda sama Resty masih duduk.
"Res....upacara!" Dinda ngingetin pelan." ayoo...! Nanti ada yang patroli, kalau sampai ketahuan. Bisa bahaya."
Resty ngangkat muka. Matanya merah, tapi sudah tidak basah. Dia melihat lapangan yang sudah mulai rapi. Terus melirik Dinda, Resty diem sesaat. Jari dia masih mainin remah tempe di atas meja. Alasannya masih dia simpan sendiri, rapih. Luka lama tidak bisa diceritain 15 menit. Tapi Dinda udah nungguin dia dari tadi. Tidak komplain, Tidak pergi. Resty ngelap matanya pakai punggung tangan. Terus berdiri pelan. Kursinya bunyi ke gesek lantai."Ayo." Dia jawab pelan juga. Suaranya serak.
Dinda langsung senyum. Senyum lega yang dia tahan dari tadi. Dia buru-buru beresin bungkus gorengan, terus menarik lengan baju Resty. "Kita lari dikit ya. Biar gak disuruh push up sama Pak Satpam."
Lapangan sudah rapi. Barisan kelas sudah lurus. Tinggal baris paling belakang masih kosong dua petak. Buat anak telat. Mereka jalan cepat, bukan lari. Resty masih nunduk. Tapi kali ini langkahnya ngikutin Dinda. tidak ketinggalan, tidak kabur ke WC seperti anak lainnya.
"Berhenti." Bisik Dinda, pas sudah dekat barisan. Dia berdiri di petak paling pojok. Terus geser dikit, nyisain setengah petak buat Resty. Resty masuk ke petak itu. Sempit. Bahu mereka jadi nempel lagi. Seperti di kantin tadi.
Komandan upacara ngelirik mereka. Alisnya naik. "Terlambat 3 menit!"
Dinda angkat tangan...polos."Maaf Pak, temen saya jatuh. Saya tolongin dulu." Bohong. Tapi bohong yang nyelametin.
Pak Satpam cuma geleng-geleng. "Push up 10x habis upacara. Kalian berdua."
Resty mau protes. Tapi Dinda cubit lengannya pelan. Isyarat, diam dan ikutin aja. Lagu Indonesia Raya mulai."Indonesia tanah airku..."Resty nyanyi pelan. Sumbang. Tidak hafal semua lirik. Tapi kali ini dia tidak menutup mulut atau pura-pura nyanyi.
Dinda di sebelahnya nyanyi kenceng, sengaja fals biar Resty tidak malu. Tangan mereka masih nempel di bawah. Jari kelingking Dinda nyantol ke jari Resty. Tidak digenggam. Cuma nyantol. Bilang: gue di sini.
15 menit yang tadi buat sarapan, sekarang dipakai buat berdiri bareng. Kena panas. Kena omel. Tapi Resty tidak merasa sendirian lagi. Sekarang sudah ada bapaknya tempat untuk pulang, juga ada temannya dinda yang mau jadi temannya.
Upacara bubar. Anak-anak bubar. Tinggal mereka berdua sama lapangan kosong.
"Ya udah, push up." Dinda udah ambil posisi tengkurap duluan. "Hitung bareng ya...Res!. Satu..."
Resty melihat Dinda. Cewek yang rela telat, rela dihukum, cuma karena dia tidak kuat masuk barisan sendiri.
Dia ikut tengkurap. "Dua..."Hari ini dia kalah sama upacara. Tapi menang lawan diamnya sendiri.