NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Ruangan bunker terasa lebih dingin setelah file ORISON dibuka. Monitor tua itu masih menampilkan deretan data anak-anak yang dijadikan “subjek”. Nama-nama yang sebagian besar bahkan tidak pernah benar-benar menjadi manusia di mata Helios.

Arga duduk diam di depan layar. Tangannya yang biasanya tidak pernah berhenti bergerak kalau sudah berhadapan dengan komputer, sekarang berbeda. Ia hanya menatap data itu dengan wajah kosong.

Nara berdiri di dekat meja sambil memeluk lengannya sendiri. Sementara Han, tetap berdiri di depan layar seperti seseorang yang sedang dipaksa melihat kuburannya sendiri.

Sunyi panjang memenuhi ruangan. Arga menelan ludah lalu bertanya dengan suara pelan.

“Han…”

 “Apa Kai…”

 “…dia juga bagian dari program ini?”

Han menoleh sedikit lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Ruangan kembali sunyi beberapa detik.

Lalu, tanpa banyak bicara, Han menarik kaus hitamnya pelan. Nara sempat mengernyit bingung. Namun begitu kaus itu terangkat, napasnya sedikit tertahan.

Di pundak belakang Han, tepat di bawah leher, ada tato hitam kecil.

Angka: 21

Bukan tato biasa tapi lebih mirip sebuah penandaan kasar dan dingin, persis nomor inventaris.

Arga langsung duduk tegak.

“Bangsat…”

Han belum selesai. Ia memutar tubuhnya sedikit lalu menunjukkan bagian dada kirinya. Dan tepat di atas jantung, terdapat tato barcode hitam memanjang dengan deretan angka kecil di bawahnya. Persis seperti label barang produksi. Nara menatap barcode itu yang membuat dadanya terasa sesak. Karena semua yang Han ceritakan terasa jauh lebih nyata. Helios  tidak memperlakukan mereka seperti manusia. Mereka hanya produk, asset atau objek.

Han menatap Arga, “Masukkan kode itu.”

“Hah, kode apa?” tanya Arga sambil berkedip bingung.

“Ini..,” sambil menunjuk angka barcode di dadanya.

“Ketikkan ke dalam sistem.” Lanjut Han dengan nada suaranya yang tetap datar. Namun terasa ada sesuatu yang ditutupi di baliknya.

Arga perlahan memutar kursi menghadap ke monitor lagi. Tangannya bergerak pelan mengetik angka di bawah barcode Han. Beberapa detik tidak terjadi apa-apa.

Lalu, monitor berkedip. Sebuah file baru muncul otomatis.

SUBJECT 021

STATUS: OBSIDIAN

ACCESS LEVEL RESTRICTED

Arga membuka file itu perlahan. Dan seluruh ruangan langsung tenggelam dalam diam. Foto Han muncul di layar, bukan Han yang sekarang, tapi Han kecil. Usianya mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Rambut di kepalanya dicukur habis. Wajahnya penuh dengan lebam dengan tatapan mata yang kosong. Di bawah foto itu tertulis:

SUBJECT 021

MALE

VIABILITY: HIGH

AGGRESSION RESPONSE: STABLE

Nara menutup mulutnya, Ia tidak tahu kenapa pemandangan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada foto mayat tadi. Mungkin karena anak kecil yang di layar itu masih hidup. Dan jelas sudah kehilangan segalanya.

Arga terus men-scroll perlahan. Setiap halaman terasa makin buruk.

Evaluasi psikologis.

Tes rasa sakit.

Reaksi terhadap kekerasan.

Ketahanan lapar.

Ketahanan isolasi.

Bahkan ada grafik khusus untuk “loyalty conditioning”.

“Ya Tuhan…” bisik Arga.

Han berdiri diam, seolah-olah itu bukan dirinya. Padahal justru karena itu dirinya bisa terlihat tenang  seperti sekarang. Nara melangkah lebih dekat ke layar. Di salah satu bagian tertulis:

SUBJECT GROUP: ORISON BATCH-5

INITIAL TOTAL: 100

FINAL SURVIVORS: 7

Napas Nara langsung terasa berat. Ia menoleh ke Han.

“Dari seratus…”

“Hanya tujuh yang bertahan.”

Arga berhenti mengetik dan wajahnya perlahan mulai berubah pucat lagi.

Han mengangguk kecil, lalu berkata lebih lanjut,“....Kai…”

“...dia, termasuk satu angkatan denganku,” kata Han sambil menatap layar tanpa ekspresi.

“Yang lain sudah mati.”

Sunyi. Ventilasi bunker berdengung pelan di kejauhan.

Han melanjutkan dengan suara rendah.

“Sebagian dibunuh saat pelatihan.”

“Sebagian hilang setelah evaluasi medis.”

“Sebagian…” rahangnya sedikit menegang, “…dibawa ke bawah.”

Nara mengernyit, “...maksudnya ke bawah?”

Han menatap kosong beberapa detik.

“Ada fasilitas lain di bawah sektor pelatihan.” Tatapannya perlahan mulai mengeras, “...aku tidak pernah melihat dengan jelas.”

“Tapi anak-anak yang dibawa ke sana…” Ia berhenti, lalu berkata lebih pelan, “…tidak pernah kembali.”

Arga menelan ludah keras, “…Organ?”

Han mengangguk kecil, “…atau ritual.”

Sunyi total.

Bahkan Arga tidak punya energi untuk bercanda sekarang. Ia menatap file Han lagi. Di salah satu halaman terdapat daftar “kemampuan”.

Close combat adaptation

Firearm synchronization

Emotional suppression

Dan semuanya diberi nilai hampir sempurna. Nara perlahan mulai memahami sesuatu. Han bukan sekadar orang terlatih. Ia sudah dibentuk sejak kecil untuk menjadi mesin. Dan faktanya bahwa ia masih punya empati… itu mungkin sudah keajaiban sendiri.

Arga akhirnya bersandar lemas di kursinya.

“Gue benci organisasi ini.”

Han tertawa pendek tanpa emosi, “...aku juga.”

Nara memperhatikan barcode di dada Han lagi. Ada luka samar di sekitarnya. Seperti pernah berusaha dihilangkan.

“Kamu pernah coba hapus?”

Han menunduk sebentar melihat dadanya sendiri.

“Dulu.”

“Kenapa gagal?”

Han menatapnya, “karena mereka sengaja menanam tintanya terlalu dalam.”

Jawaban itu membuat Nara merinding. Helios benar-benar memastikan identitas para “subjek” tidak pernah hilang. Bahkan jika mereka kabur sekalipun.

Arga kembali melihat layar. Lalu matanya berhenti di satu bagian file.

“Ada data psikologis tambahan.” Ucap Arga.

Han tidak bereaksi. Arga membacanya pelan.

SUBJECT 021 displays unusual resistance to indoctrination attachment failure detected repeatedly.

Nara mengernyit, “…apa artinya?”

Han menjawab sebelum Arga sempat menerka.

“Mereka gagal menghilangkan emosiku sepenuhnya.”

Sunyi.

Arga perlahan menoleh, “dan hal itu dianggap cacat?”

Han mengangguk kecil, “…dan itu alasan aku masih hidup sebagai manusia.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang lain. Karena Han mengucapkannya tanpa drama dan tanpa emosi. Seolah itu hanya fakta biasa. Padahal tidak ada yang biasa dari hidupnya.

Nara memandang Han cukup lama. Bukan karena takut atau bingung, tapi ia benar-benar merasa marah. Karena seseorang yang melihat anak kecil seperti Han…dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi senjata.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!