NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunuh dia di depanku

Pintu utama mansion keluarga Grimwald terbuka perlahan begitu salah satu pelayan menerima kedatangan Aveline. Cahaya siang dari luar masuk menerangi lantai marmer luas di aula depan itu, sementara beberapa pelayan yang sedang berlalu-lalang langsung menghentikan langkah mereka begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

Suasana mendadak berubah.

Beberapa pasang mata terlihat membesar samar. Ada yang langsung menundukkan kepala, ada pula yang diam-diam saling melirik seolah tidak percaya wanita yang datang itu benar-benar Aveline.

Liora yang berdiri sedikit di belakang majikannya bahkan bisa merasakan perubahan udara di dalam ruangan sejak mereka masuk.

Tidak ada sambutan hangat.

Yang ada hanya tatapan penuh penilaian dari orang-orang yang dulu terbiasa melihat Aveline berjalan menunduk melewati lorong mansion ini.

Namun wanita itu sekarang justru melangkah masuk dengan tenang seolah tempat itu tidak lagi mampu membuatnya merasa ketakutan.

Suara hak sepatunya bergema pelan memenuhi aula besar mansion. Tak lama kemudian, seorang pelayan pria buru-buru turun dari lantai dua sebelum membungkukkan tubuh dengan wajah tegang.

“Nona Aveline ... Marquis sedang berada di ruang tengah.”

“Hm.” Aveline hanya memberi tanggapan pendek sebelum kembali berjalan tanpa ragu.

Semakin jauh ia masuk ke dalam mansion itu, semakin banyak pelayan diam-diam memperhatikan punggungnya. Dan semuanya menyadari satu hal yang sama.

Aveline berubah terlalu jauh.

Penampilan Aveline hari itu terlalu berbeda dibanding terakhir kali mereka melihatnya. Tidak ada lagi gadis yang dulu selalu menghindari tatapan orang lain. Bahkan beberapa pelayan lama tanpa sadar langsung menyingkir membuka jalan saat Aveline lewat di depan mereka.

Begitu sampai di depan ruang tengah, pintu besar ruangan itu sudah terbuka, dan di sanalah keluarga Grimwald berada.

Marquis Edmund duduk di kursi utamanya sambil berbicara dengan nada santai sebelum akhirnya berhenti saat melihat siapa yang masuk ke ruangan.

Alis pria itu langsung bergerak naik samar. Di sisi lain sofa, Lillian ikut menoleh cepat dengan ekspresi terkejut yang tidak sempat ia sembunyikan.

Sedangkan Elowen—sang Marchioness perlahan meletakkan cangkir tehnya sambil memperhatikan Aveline dari ujung kepala sampai kaki.

Ruangan langsung hening beberapa detik. Tatapan mereka jelas memperhatikan perubahan Aveline.

Mobil mahal di depan mansion, gaun putih elegan, serta cara berdirinya yang sekarang terlalu anggun. Lillian akhirnya tersenyum tipis lebih dulu. Namun nada bicaranya terdengar jelas meremehkan.

“Menarik sekali,” ujarnya sambil menyilangkan tangan di dada. “Aku kira penjaga di depan salah lihat.”

Tatapannya turun sekilas ke arah luar jendela.

“Jadi rumor bahwa William benar-benar memanjakanmu ternyata memang nyata.”

Liora langsung menundukkan kepala lebih rendah. Namun Aveline tetap berdiri santai tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.

“Aku tidak datang untuk mendengar suaramu, Lillian.” Senyum wanita muda itu langsung memudar.

Elowen akhirnya ikut membuka suara dengan nada lembut yang justru terdengar lebih menusuk.

“Kalau begitu untuk apa kau datang kemari?”

Tatapan Aveline perlahan berpindah ke arahnya.

“Bukankah setelah menikah kau sudah bukan bagian keluarga ini lagi?” lanjut wanita itu tenang. “Atau sekarang kau mulai lupa di mana tempatmu?”

Sudut bibir Aveline bergerak tipis samar. Namun sebelum ia menjawab, Edmund lebih dulu menyandarkan tubuhnya sambil memandang Aveline terang-terangan.

“Dan sejak kapan kau masuk ke rumah ini tanpa memberi kabar?” tanyanya. “Kediaman Grimwald bukan tempat yang bisa kau datangi sesukamu.”

Nada bicaranya penuh tekanan khas seorang kepala keluarga bangsawan yang terbiasa mengendalikan seluruh isi rumah. Tetapi anehnya, Aveline justru tersenyum kecil.

“Tentu saja aku masih ingat.”

Wanita itu berjalan beberapa langkah lebih, masuk ke dalam ruangan sebelum berhenti tepat di tengah.

“Karena tidak semua orang cukup beruntung untuk melupakan tempat yang pernah membuat hidupnya menyedihkan.”

Ekspresi Lillian langsung berubah.

“Berani sekali kau bicara seperti itu di rumah ini.”

Aveline akhirnya menoleh ke arahnya perlahan.

“Rumah ini?” ulangnya santai. Tatapannya bergerak menyapu seluruh ruangan besar itu sepersekian detik sebelum kembali terangkat.

“Lucu mendengar kalian menyebut tempat ini rumah.”

“Kau pikir tempat ini masih pantas diinjak olehmu?” balas Lillian tajam. Kalimat itu membuat suasana ruangan langsung menegang. Akan tetapi, bukannya marah, Aveline justru tertawa kecil pelan.

“Kalau aku benar-benar tidak pantas berada di sini,” ucapnya santai sambil menatap lurus ke arah Lillian. “Kenapa kalian semua terlihat begitu tidak nyaman sejak aku masuk?”

Lillian langsung kehilangan jawaban sesaat. Elowen buru-buru membuka suara lagi sebelum suasana berubah semakin buruk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Tatapannya mulai tajam. “Untuk apa kau datang?”

Kali ini Aveline akhirnya menjawab. Wanita itu mengangkat tangan kanannya perlahan lalu membenarkan sedikit bagian perban putih yang melilit di telapak tangannya sebelum ia berbicara santai.

“Aku datang untuk menjemput seseorang.”

Alis Edmund langsung berkerut.

“Siapa?”

Sudut bibir Aveline kembali terangkat tipis.

“Kepala pelayanku.”

Ruangan langsung hening. Sebagian pelayan yang ada di luar pintu saling melirik cepat begitu mendengar kalimat itu.

Sedangkan Lillian tampak sedikit terkejut.

“Ines?” ulang Elowen perlahan.

Aveline mengangguk kecil.

“Ines tampaknya terlalu nyaman menikmati libur panjangnya di mansion ini,” ujarnya santai. “Padahal aku tidak pernah memberinya izin untuk pergi.”

Ekspresi Edmund langsung berubah tidak suka.

“Jadi kau datang hanya untuk seorang pelayan?” tanyanya dengan nada merendahkan.

“Hanya?” Aveline mengulang pelan. Tatapan hitamnya bergerak santai ke arah mereka satu per satu.

“Bukankah aneh?” lanjutnya. “Kepala pelayan dari kediaman William menghilang begitu saja lalu menetap di rumah keluarga Grimwald.”

Suasana ruangan mendadak terasa semakin berat. Dan untuk pertama kalinya sejak Aveline datang, Edmund benar-benar terlihat mulai kehilangan kesabaran.

“Apa maksudmu sebenarnya?!” tanyanya tajam.

Aveline menatap lurus ke arah ayahnya tanpa sedikit pun gentar.

“Maksudku sederhana.”

Sudut bibirnya kembali terangkat tipis.

“Aku datang untuk membawa Ines pulang.”

Edmund menarik napas dalam. “Panggil Ines ke sini.”

Perintah Marquis Edmund membuat suasana ruang tamu yang sejak tadi tegang kini menjadi semakin berat. Salah satu pelayan yang berjaga di dekat pintu langsung menundukkan kepala, lalu bergegas keluar tanpa berani bertanya apa pun. Setelah pintu tertutup kembali, tidak ada yang langsung bicara. Lilian yang semula duduk di sisi ibunya menoleh cepat ke arah Edmund, wajahnya memperlihatkan keterkejutan yang sulit ia sembunyikan.

“Ayah serius?”

“Aku tidak setuju.”

Marchioness Elowen langsung berdiri dari duduknya. Penolakannya keluar cepat dan tajam, seolah ia memang sudah menahan kalimat itu sejak Edmund memberi perintah. Wajahnya terlihat kaku, matanya menatap suaminya dengan jelas meminta agar perintah itu ditarik kembali. Namun sebelum Edmund sempat menjawab, salah satu alis Aveline sudah lebih dulu terangkat pelan. Wanita itu berdiri dengan tenang di dekat sofa, tidak bergerak dari tempatnya, hanya memandang Elowen dengan tatapan yang membuat penolakan Marchioness itu terdengar terlalu tergesa-gesa.

“Tampaknya status pelayan itu cukup istimewa di sini.”

Kalimat Aveline terdengar datar, tetapi sindiran di dalamnya langsung sampai pada orang yang dituju. Edmund yang memahami maksud ucapan itu segera menoleh ke arah istrinya. Tatapannya tidak keras, tetapi cukup jelas sebagai peringatan agar Elowen tidak membuat keadaan semakin buruk. Elowen mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan amarah yang hampir keluar, lalu menghela napas berat sebelum akhirnya duduk kembali. Meski begitu, wajahnya masih menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menerima keputusan tersebut.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Ines masuk dengan langkah cepat sambil sedikit menundukkan kepala. Awalnya kepala pelayan itu terlihat bingung karena dipanggil secara mendadak ke ruang tamu keluarga, tetapi langkahnya langsung tertahan begitu melihat Aveline berdiri di sana. Tatapan dingin wanita muda itu membuat wajah Ines berubah pucat dalam sekejap. Pelayan itu menelan ludah, lalu refleks menundukkan pandangan seolah tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya sendiri.

Elowen yang melihat perubahan sikap Ines langsung mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Reaksi itu terlalu jelas. Bahkan Lilian pun dapat melihat bahwa kepala pelayan itu tidak hanya gugup karena dipanggil, melainkan takut pada Aveline. Di sisi lain, Ines tampaknya sadar bahwa ia tidak bisa terus menunduk begitu saja. Ia memaksa dirinya mengangkat wajah, lalu menampilkan senyum kecil yang terlihat rapuh di ujung bibirnya.

“Nona ... tumben sekali Anda datang ke mansion.”

Aveline tidak membalas senyum itu. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya tidak berpindah sedikit pun dari Ines.

“Ines ... bukankah kau harus menjelaskan sesuatu padaku?”

Senyum Ines menegang. Ia menatap Aveline sesaat, lalu cepat-cepat menundukkan kepala lagi seolah sikap sopan itu bisa melindunginya dari tatapan wanita di depannya.

“No–Nona salah paham.” Ia mencoba tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar kering dan dipaksakan. “Saya hanya datang untuk menjenguk Marchioness. Saya benar-benar merindukan beliau.”

Sudut bibir Aveline perlahan terangkat. Senyum itu tipis, hampir tidak terlihat, tetapi justru membuat Ines tampak semakin kehilangan warna di wajahnya.

“Benarkah?”

Aveline melangkah mendekat. Gerakannya tidak cepat, tetapi setiap langkah membuat Ines semakin tegang. Saat jarak mereka mulai sangat dekat, Aveline sedikit menundukkan kepala ke sisi telinga pelayan itu. Suaranya tetap rendah, tetapi masih dapat ditangkap oleh orang-orang yang duduk tidak jauh dari mereka.

“Bukankah terakhir kali kau kabur karena aku membenturkan kepalamu ke dinding?”

Tubuh Ines langsung kaku. Bahunya naik sedikit, napasnya tertahan, dan senyum yang ia paksakan tadi hampir runtuh sepenuhnya. Ia berusaha mengendalikan wajahnya, tetapi ketakutan yang muncul di matanya terlalu jelas untuk disembunyikan.

“No–Nona bercanda, saya—”

Plak!

Tamparan keras menghantam pipi Ines sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Kepala wanita itu terpental ke samping, rambutnya sedikit berantakan, sementara telapak tangannya langsung naik memegangi pipi yang mulai memerah. Matanya membelalak, bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena ia tidak menyangka Aveline akan menamparnya di depan Edmund, Elowen, Lilian, dan para pelayan lain yang berada di ruangan itu.

“Aveline, berani-beraninya kau!” Elowen membentak sambil kembali berdiri dari duduknya. Suaranya penuh amarah, dan kali ini ia tidak lagi berusaha menahan diri. Namun Aveline tidak menoleh. Seolah bentakan itu tidak layak mendapatkan perhatiannya, ia tetap menatap Ines yang masih berdiri dengan tubuh gemetar.

“Berlutut.”

Perintah itu keluar pendek, dingin, dan jelas. Ines menatap Aveline dengan wajah pucat, tetapi lututnya belum juga bergerak. Ia tampak bimbang, antara takut pada Aveline dan takut pada Elowen yang masih berdiri di belakangnya. Keraguan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bagi Aveline, beberapa detik itu sudah cukup untuk dianggap sebagai pembangkangan.

“Aveline, kau keterlaluan!” bentak Edmund dengan rahang mengeras.

Aveline tetap tidak mundur. Tatapannya pada Ines berubah semakin tajam, lalu suaranya meninggi untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke ruangan itu.

“Aku bilang berlutut, kau tidak dengar?!”

Semua orang tersentak. Lilian bahkan refleks menegakkan tubuhnya di sofa, sementara beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas dan saling menatap tanpa berani mengeluarkan suara. Ines yang sudah kehilangan keberanian akhirnya menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Aveline. Gerakannya terburu-buru sampai kedua tangannya hampir menghantam lantai lebih dulu.

Elowen menatap pemandangan itu dengan wajah merah menahan marah. Pelayannya dipaksa berlutut di rumahnya sendiri, di depan seluruh keluarga, dan hal itu jelas terasa seperti penghinaan langsung terhadap dirinya.

“Apakah kau tahu konsekuensi membuat keributan dan merendahkan pelayanku di rumah ini?!”

Aveline akhirnya menoleh ke arah Marchioness itu. Gerakannya pelan, tetapi tatapannya langsung mengarah tajam pada wajah Elowen. Merasa ucapannya mendapatkan perhatian, Elowen tersenyum sinis. Ia tampak yakin bahwa kalimat berikutnya akan cukup untuk membuat Aveline berhenti.

“Ibumu masih ada di sini,” ucapnya pelan dengan nada mengancam. “Jika kau terus melakukan hal gila di rumah ini, cepat atau lambat aku akan membunuhnya.”

Ruangan itu langsung terasa membeku. Edmund tidak segera bicara. Lilian menahab napas. Para pelayan di sekitar pintu menundukkan kepala lebih dalam, seakan tidak ingin menjadi saksi dari ancaman yang baru saja keluar dari mulut Marchioness. Ines yang masih berlutut juga tidak berani bergerak, meski tangannya gemetar di atas lantai.

Namun beberapa detik kemudian, salah satu alis Aveline justru terangkat pelan. Tidak ada rasa takut maupun kepanikan di wajahnya. Ia hanya menatap Elowen sebentar, lalu melangkah melewati Ines dengan gerakan santai. Saat berjalan, ujung sepatunya menginjak tangan Ines yang masih menopang tubuh di lantai.

“Akh—!”

Ines meringis kesakitan, tetapi Aveline tidak menoleh ke bawah. Ia terus berjalan sampai mencapai sofa, lalu duduk dengan tenang seperti tidak ada ancaman besar yang baru saja dilemparkan kepadanya. Tangannya mengambil satu cangkir teh yang masih terbalik di atas meja, membaliknya perlahan, lalu menuangkan teh panas dari teko ke dalam cangkir itu. Gerakannya tampak anggun dan tidak tergesa-gesa, membuat semua orang semakin sulit memahami apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.

“Baiklah,” ucapnya datar. “Bawa dia kemari dan tunjukkan padaku bagaimana kau akan membunuhnya.”

Tangan Elowen langsung membeku di sisi tubuhnya. Edmund menatap Aveline dengan sorot mata tajam, tetapi untuk sesaat ia juga tidak mengatakan apa pun. Lilian yang sejak tadi mencoba mempertahankan sikap angkuhnya kini tampak benar-benar kehilangan kata-kata. Matanya berpindah dari ibunya ke Aveline, lalu kembali lagi ke cangkir teh yang kini berada di tangan wanita itu.

“A–apa?”

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru thor!!! 😍😍😍
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!