Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bandel
Pagi kembali datang dengan tenang di rumah besar milik Zayn. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela-jendela tinggi, memantul lembut di lantai marmer yang masih sepi. Setelah malam yang sunyi dan damai, rumah itu perlahan mulai hidup lagi. Namun di salah satu kamar lantai dua, seseorang sedang merencanakan pelarian kecil-kecilan.
Aurora membuka mata perlahan. Beberapa detik ia hanya diam sambil menatap langit-langit kamar.
Lalu tiba-tiba matanya membesar penuh semangat, “Hari ini aku harus keluar.”
Aurora langsung bangkit duduk cepat sebelum menoleh ke arah sofa dekat jendela.
Sofa itu kosong. Tidak ada Zayn.
Aurora langsung tersenyum penuh kemenangan kecil, “YES.”
Ia buru-buru turun dari ranjang lalu berjalan pelan menuju lemari.
Hari itu Aurora benar-benar sudah merasa sehat, kepalanya tidak pusing, jubuhnya juga tidak selemas kemarin, dan yang paling penting ia sudah bosan setengah mati di rumah.
Aurora mengambil blouse putih simpel dan celana cream panjang lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah cepat.
Tak lama kemudian Aurora keluar dengan rambut yang masih sedikit basah.
Ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut panjangnya perlahan.
Aurora bahkan sudah memakai sedikit lip tint tipis supaya terlihat lebih segar, “Kalau ketahuan pasti dilarang…” gumamnya pelan.
Karena itu satu-satunya cara adalah keluar diam-diam.
Aurora segera mengambil tas kecilnya lalu membuka pintu kamar sangat pelan.
Aurora mengintip keluar.
Lorong masih sepi.
Aurora langsung berjalan pelan seperti pencuri amatiran sambil sesekali menoleh kanan kiri.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Aurora bahkan berhasil sampai dekat tangga tanpa ketahuan siapa pun.
Sampai akhirnya, “Pagi.”
Aurora langsung membeku di tempat. Pelan-pelan ia menoleh.
Dan benar saja.
Zayn berdiri di bawah tangga sambil membawa segelas susu hangat di tangannya.
Tatapannya lurus mengarah ke Aurora yang sudah rapi seperti orang mau kabur dari rumah.
Suasana langsung hening beberapa detik.
Aurora tertawa kecil canggung, “Hahaha, pagi…”
Zayn hanya menatapnya tanpa ekspresi sebelum akhirnya menggeleng pelan, “Kamu tuh bandel banget.”
Aurora langsung salah tingkah sendiri.
Zayn menaiki beberapa anak tangga perlahan lalu berhenti tepat di depan Aurora.
Tatapannya turun ke tas kecil di tangan gadis itu, “Mau ke mana?”
Aurora langsung memeluk tasnya refleks, “Nggak ke mana-mana…”
“Pakai tas.”
“Biar fashionable.”
Zayn menatap datar.
Aurora langsung menyerah, “Aku cuma mau kerja bentar…”
“Kembali ke kamar.”
“Aku udah sehat.”
“Kembali.”
“Aku bosan.”
“Kembali.”
Aurora langsung mendengus kesal, “Bapak nyebelin banget sih…”
Namun Zayn malah menyodorkan gelas susu hangat itu ke arah Aurora, “Minum.”
Aurora menatap tidak percaya, “Lagi?”
“Lagi.”
Aurora ingin protes lagi, tapi melihat tatapan Zayn akhirnya ia pasrah mengambil gelas itu.
Dan seperti biasa, Zayn menang lagi.
Beberapa menit kemudian Aurora kembali duduk di kamarnya sambil memeluk boneka kucing dengan wajah ditekuk kesal.
Sedangkan Zayn kembali bekerja di sofa dekat jendela seperti tidak terjadi apa-apa.
Aurora melirik pria itu beberapa kali sebelum akhirnya mendengus pelan, “Bapak mafia tapi hobinya nyuruh orang minum susu…”
Zayn tetap fokus pada laptopnya, “Daripada hobinya kabur.”
Aurora langsung diam, “Nyebelin” batinnya.
Waktu berjalan perlahan sampai siang datang.
Aurora yang dari tadi hanya bermain ponsel akhirnya mulai bosan lagi.
Ia berguling di atas ranjang sambil menghela napas panjang.
Dan tepat saat itu ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama Sheila muncul di layar.
Aurora langsung duduk cepat, “YA AMPUN SHEILA.”
Aurora buru-buru mengangkat telepon itu.
“HALO?!” suara Sheila langsung terdengar keras dari sana.
Aurora menjauhkan ponselnya sedikit sambil meringis kecil, “Kuping aku…”
“KUPING APANYA?!”
Aurora langsung tertawa kecil.
“RA. LO KE MANA SIH?!” lanjut Sheila heboh.
“Aku masih hidup tenang aja.”
“MASALAHNYA LO HILANG!”
Aurora langsung menggigit bibir kecil menahan tawa.
Dari sofa dekat jendela, Zayn sempat melirik sekilas mendengar suara teriakan dari ponsel Aurora.
Sheila masih lanjut ngomel tanpa napas, “Lo bilang ke luar negeri cuma seminggu! Ini udah lebih dari seminggu!”
“Aku tau…”
“Gue tiap pagi ke rumah lo!”
Aurora langsung membelalakkan mata, “HAH?!”
“IYA! Rumah lo sepi terus! Gue kira lo diculik!”
Aurora langsung terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar matanya melirik ke arah Zayn.
Pria itu masih mengetik di laptopnya dengan tenang.
Aurora akhirnya menghela napas kecil, “Sebenernya…”
Beberapa menit kemudian Aurora mulai menceritakan semuanya, tentang kepulangannya, tentang penculikan, dan tentang bagaimana sekarang ia tinggal sementara di rumah Zayn.
“APA KAMU TINGGAL SAMA ZAYN?!”
Suara Sheila menggema keras sampai Aurora langsung menjauhkan ponsel panik.
Bahkan Zayn yang tadi fokus bekerja sampai mengangkat pandangan ke arah Aurora.
Aurora langsung malu sendiri, “Sheila kecilin suara kamu!”
“GIMANA GUE NGGAK TERIAK?!”
Aurora langsung menutup wajahnya pakai bantal.
Dari arah sofa, Zayn memperhatikan Aurora beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus ke laptopnya.
Namun sudut bibirnya sempat bergerak samar seperti menahan senyum.
“Pokoknya gue mau ketemu lo” ucap Sheila cepat.
Aurora langsung berkedip, “Sekarang?”
“Iya!”
Aurora menoleh ke arah Zayn ragu-ragu, “Eee…”
Setelah obrolan yang panjang dengan Sheila, Aurora mematikan teleponnya. Ia hanya diam menatap langit-langit kamar. Lalu tanpa sadar ia tertidur.
Zayn merasa kamar terasa sunyi. Ia melirik ke arah Aurora yang tertidur, “Pantes.”
Beberapa jam kemudian. Sore mulai turun perlahan ketika suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Aurora yang sejak tadi duduk di ruang tengah langsung bangkit semangat, “Itu Sheila!”
Aurora buru-buru berjalan ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka, Sheila langsung masuk cepat lalu memeluk Aurora erat, “YA TUHAN LO BENERAN MASIH HIDUP!”
Aurora langsung tertawa kecil sambil membalas pelukannya, “Aku bukan zombie…”
Sheila langsung memegang kedua bahu Aurora lalu memperhatikan wajahnya serius, “Kurus.”
“Lebay.”
“Trauma nggak?”
Aurora terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum kecil, “Sedikit.”
Ekspresi Sheila langsung melunak.
Namun suasana haru itu cuma bertahan lima detik.
Karena detik berikutnya Sheila melihat isi rumah itu. Matanya langsung membesar, “Wah…”
Aurora langsung panik kecil, “Sheila…”
“RA INI RUMAH APA HOTEL?!”
Aurora langsung malu sendiri.
Tak lama kemudian Rakha muncul dari ruang tengah sambil membawa minuman dingin.
Dan seperti biasa, suasana langsung rusuh.
“Ini temen lo?” tanya Rakha santai.
Sheila langsung menatap Rakha beberapa detik. Lalu berbisik ke Aurora, “Cowok rumah lo ganteng semua.”
“DIEM.”
Evan yang baru lewat malah langsung tersedak minuman mendengarnya.
Sedangkan Nelly hanya tertawa kecil sambil mempersilakan Sheila duduk.
Malam datang perlahan dan rumah itu kembali ramai.
Untuk pertama kalinya Sheila akhirnya melihat sendiri kehidupan aneh Aurora sekarang.
Makan malam yang penuh keributan kecil. Rakha dan Evan yang berdebat receh, Nelly yang terus menenangkan keadaan, dan Zayn yang tetap dingin, meski diam-diam selalu memperhatikan Aurora.
“Jadi…” Sheila menatap Aurora curiga.
Aurora langsung merasa tidak enak.
“Kalian tidur sekamar?”
Aurora langsung keselek minuman, “SHEILA?!”
Rakha langsung tertawa keras sampai hampir jatuh dari kursinya.
Evan menutup wajah frustrasi.
Nelly sampai menunduk menahan tawa.
Sedangkan Zayn hanya diam sambil menatap Sheila datar.
Aurora langsung merah total, “KAMI NGGAK SEKAMAR!”
Sheila malah makin curiga, “Oh jadi sebelahan?”
“SHEILA!”
Rumah itu langsung dipenuhi suara tawa lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurora merasa hidupnya benar-benar berubah.
Malam semakin larut. Satu per satu lampu rumah mulai dimatikan.
Setelah berpamitan panjang dan memeluk Aurora berkali-kali, Sheila akhirnya pulang.
Rakha dan Evan juga mulai masuk ke kamar masing-masing sambil masih saling ejek.
Nelly mengucapkan selamat malam sebelum menghilang ke lantai atas.
Rumah besar itu perlahan kembali tenang.
Aurora berdiri sebentar di ruang tengah sambil memeluk boneka kucingnya.
Lalu tanpa sadar matanya bertemu dengan Zayn yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Sampai akhirnya Zayn berkata pelan, “Besok jangan coba kabur lagi.”
Aurora langsung mendengus kecil, “Kalau aku bosen?”
“Gangguin Rakha aja.”
Aurora langsung tertawa kecil.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, rumah besar milik Zayn terasa seperti rumah sungguhan.