NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Berondong
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.

‎Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.

‎Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.

‎Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.

Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?

Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Arumi

Tiga hari berlalu sejak Ardi hampir pingsan setelah meeting. Arumi kembali ke rumah di malam saat Ardi ambruk. Kayla diantar Dimas ke rumah sekalian menjemput Dira yang mengantar Ardi dan Arumi pulang. Sejak hari itu, Arumi tinggal di rumah Ardi.

"Kamu masak apa, Rum?" tanya Ardi pagi-pagi saat Arumi sibuk di dapur.

"Cah kangkung sama tahu goreng, Mas," jawab Arumi sambil sibuk menumis sayur. Ardi berjalan mendekat, menatap Arumi.

"Makasih, Rum, udah mau pulang malam itu," kata Ardi, tulus. Arumi tersenyum sambil terus menumis.

"Aku kira... kamu nggak akan pulang lagi," kata Ardi. Arumi mematikan kompor lalu memindahkan sayur dari wajan ke piring saji.

"Makan dulu, Mas," kata Arumi sambil berjalan membawa sayur dan tahu ke meja makan. Ardi mengikuti Arumi.

Arumi mengambilkan nasi, sayur dan tahu untuk Ardi. Lalu menyiapkan segelas air putih.

"Makasih, Rum," ucap Ardi. Arumi tersenyum tipis.

Ardi baru sadar, dia tak pernah mengucapkan terimakasih pada Arumi atas hal sekecil apapun yang Arumi lakukan untuknya.

Arumi sudah duduk di hadapan Ardi dengan sepiring nasi dan sayur. Arumi mulai menyantap sarapannya setelah berdoa. Ardi melakukan hal yang sama.

Hening.

Ardi menatap Arumi dalam-dalam. Selama ini dia tak pernah menatap isterinya sedalam hari ini. Ada rindu yang menjalar dalam hati Ardi.

"Kayla belum bangun, Rum?" tanya Ardi di sela-sela makannya.

"Hari Minggu dia biasa bangun siang. Bentar lagi mungkin bangun," kata Arumi sambil mengunyah makanannya.

Ardi menatap Arumi. Sedari tadi Arumi tak menatapnya sama sekali. Bahkan sedari tiga hari yang lalu Arumi terkesan menghindari tatapan mata Ardi.

"Rum," panggil Ardi.

"Hm?"

"Kamu kenapa?" tanya Ardi akhirnya. Arumi menghentikan makannya. Arumi meminum air putih sebelum akhirnya berbicara.

"Mas," kata Arumi. Ardi menegakkan duduknya.

"Aku udah memikirkan ini dengan tenang. Dan aku sudah yakin dengan keputusan ku," lanjut Arumi. Ardi menelan ludah seolah tahu apa yang akan Arumi katakan selanjutnya.

"Aku mau... cerai, Mas," kata Arumi. Tak ada keraguan sedikitpun dalam nada suaranya.

Ardi menahan nafasnya sepersekian detik. Dia memang sudah merasa hal ini akan datang. Tapi, dia tak menyangka apa yang dia rasakan benar-benar menjadi nyata.

"Tapi, Rum..."

Arumi menyodorkan sebuah flash disk ke arah Ardi. Hati Ardi mencelos melihat flash disk itu. Entah mengapa perasaannya tak nyaman.

"Aku mendapat ini. Entah dari siapa," kata Arumi.

"Apa ini, Rum?" tanya Ardi.

"Kamu bisa cek sendiri, Mas," kata Arumi. Ardi menatap flash disk itu dalam diam.

"Aku akan mendengarkan apapun penjelasan mu terkait hal yang ada di dalamnya," kata Arumi.

"Tapi... Apapun penjelasan kamu...," kata Arumi.

"Keputusan aku tetap sama," lanjut Arumi.

Ardi masih diam sambil menatap flash disk itu. Arumi beranjak dari meja makan lalu mencuci piringnya meninggalkan Ardi yang terpaku menatap flash disk di atas meja yang seolah menertawakannya.

'Jangan bilang... di dalamnya ada...'

***

"Serius?" tanya Dira pada Dimas saat Dimas menceritakan semuanya pada Dira. Dimas mengangguk.

Dimas memutuskan menceritakan pada Dira setelah Dira menceritakan keanehan salah satu perwakilan PT. Sanjaya Abadi pada Dimas.

"Jangan bilang wanita yang di video itu Farida," kata Dira.

"Kita nggak bisa mastiin. Tapi kalo dari cerita kamu, aku yakin itu adalah dia," kata Dimas. Dira manggut-manggut, setuju.

"Bajunya provokatif banget pas meeting terakhir kemarin," kata Dira.

Dimas dan Dira diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.

"Tapi, Dim, kemarin Ardi bener-bener keliatan mencoba buat nggak peduliin wanita itu," kata Dira.

"Kamu yakin?" tanya Dimas. Dira mengangguk.

"Bisa aja yang di video itu bukan Ardi," kata Dira.

"Tapi, Ra, itu jelas mereka. Aku liat mereka di hari yang sama, bajunya sama. Itu jelas mereka," kata Dimas.

"Mungkin kalo kamu liat videonya kamu bakal langsung tau siapa yang ada di dalam video itu," lanjut Dimas.

Dira tahu, Dimas tak mungkin salah mengenali Ardi. Dira hanya tak menyangka Ardi bisa melakukan hal itu. Dira sangat yakin, pada rapat terkahir kemarin Ardi mencoba sekuat tenaga untuk tidak melihat Farida.

"Gue rasa, Ardi ngajak gue ikutan rapat supaya gue bisa bawa dia pergi dari wanita itu," kata Dira.

Dimas diam. Dia berpikir, mungkin benar kata Dira. Ardi mencoba memperbaiki semuanya, dengan mengajak Dira mengikuti rapat untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama terulang lagi.

"Mungkin yang di video itu karena dia khilaf, Dim. Kita nggak tau apa yang wanita itu lakukan dan katakan pada Ardi sebelum mereka melakukan itu," kata Dira.

"Gue yakin, wanita itu emang udah ngincer Ardi dari lama. Bahkan alamat rumah Ardi aja dia tau. Buktinya, pasti dia yang ngirim flash disk berisi rekaman CCTV itu sendiri," lanjut Dira. Dimas mengangguk setuju.

"Yah, kita cuma bisa doain semoga Arumi dan Ardi baik-baik aja," kata Dira.

Dimas menatap lurus ke depan. Dia tidak yakin Arumi akan memaafkan Ardi begitu saja. Namun, melihat reaksi Arumi saat Ardi jatuh sakit beberapa hari yang lalu, membuat Dimas berpikir mungkin Arumi bisa memberi Ardi satu kesempatan lagi.

'Apapun keputusan kamu. Aku akan menerimanya,'

***

Setelah sarapan yang sama sekali tak mengenyangkan pagi itu, Ardi kembali masuk ke kamar. Arumi sedang sibuk mengurus Kayla —memandikan, menyiapkan sarapan, dan bermain bersama.

Ardi menatap flash disk di tangannya. Dia tak ingin melihat file apa yang ada di dalamnya. Dia cukup tahu hal apa yang membuat Arumi cukup berani untuk meminta perceraian darinya. Namun, dia penasaran, apakah apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar ada dalam flash disk itu.

Ardi membuka laptopnya lalu menghubungkan flash disk itu ke laptop. Dengan jantung berdegup kencang dan tangan yang bergetar hebat, dia mengklik satu-satunya folder di dalam flash disk itu. Hatinya seketika mencelos saat melihat file video di dalam folder itu.

Ardi tak ingin membukanya. Dia tahu video apa itu. Namun, hatinya tak sejalan dengan otaknya. Jarinya mengklik file video itu. Benar! Pantas saja Arumi mengingingkan perceraian. Ardi segera menutup laptopnya.

Sekalipun Ardi menghapus file itu, dia tak dapat menghapus apa yang sudah tertanam dalam ingatan Arumi saat melihatnya. Dia tak dapat menghilangkan luka Arumi hanya dengan menghapus file video itu.

Ardi mencabut flash disk dari laptop dan melemparkannya sembarangan. Dia mengacak rambutnya kasar sambil menangis, menyesali apa yang sudah tak dapat diperbaiki lagi.

'Kalau saja waktu itu gue nggak lengah... Kalau saja waktu itu gue teguh... Kalau saja waktu itu gue nggak tergoda... Tapi... Udah terlambat. Menyesal pun percuma,'

***

1
Vivi Zenidar
penyesalan tiada guna
Vivi Zenidar
huuuufttt... semoga arumi tidak salah mengambil keputusan
Vivi Zenidar
cerita nya menarik
Purnamanisa: makasi kak 😊
total 1 replies
YuWie
ya gara2 kamu lah pak..main api, menatap istri malas..rak jelas pak2..sekarang baru kerasa ditinggal.
YuWie
iya yokk..ardi.. istrimu sdh punya bukti kelanjutan ons mu tuh. terus aja berpura2,sdh anyep kenapa dipaksa
YuWie
kamu kie ya masih lajang pak dokter..apa ortu mu nanti gak keberatan dpt janda beranak.
YuWie
Luar biasa
Purnamanisa: terimakasih 😊😊
total 1 replies
YuWie
siap2 ditinghal istrimu yaa
YuWie
iya bener2 brengaek..bersalah tapi ketagihan...
YuWie
ehhh jgn panasss pak dokter..mereka kan mmg suami istri
YuWie
lho lho pak dokter kok berani pegang tangan... apa suami ngopinya gak siseputan situ ya
YuWie
ya berhenti lebih bagus dokter dimas , konseling untuk pernikahan malah dokternya tertarik sama pasien..nantiii nunggu jandanya aja klo mmg si suami sdh semakin kebablasan.
YuWie
nah lhooo..gak profesional kan dokternya. Rawan ya profesi dokter ternyata 🤣
YuWie
maaih bisa bersiri tuh burung? klo rasa bersalahmu tinggi tapi kurasa kau malah nafau dg farida kan
YuWie
suami yg merasa siperior.. ujung2 nya pasti selingkuh . apalagi sdh mencicipi kebun yg tidak halal.
YuWie
lha kok blm ada kemajuan konsul nya ke rmh tàngga arumi ya... gagalkah dokternya? krn sejauh ini gak ada keberanian arum untuk ngobrol dg suami.. eman2 biayamu rum 🤣
YuWie
oalah..pak suami..pak suami..kamu yg salah..ehhh nyolotnya ke istri yg bkin trauma sampe sekarang.
YuWie
mendapatkan senyuman semua donk bu arumi..bukan hanya untukmu saja../Facepalm/
YuWie
haus kasih sayam ya rum..punya suami hy sambil lewat..eh pak dokter melakukan kebaikan2 kecil yg membangkitkan gairahmu..right?
Purnamanisa: terkadang wanita memang butuh perhatian2 kecil yang mungkin terlihat sepele
total 1 replies
YuWie
Baru 7th, anak satu sdh gak ada minat ke istri..malah main api dg rekan sekerja...hmmm..realita zaman now
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!