Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Willa langsung ngakak puas melihat reaksi Summer.
“Nah tuh kan emosian. Berarti bener ada yang disembunyiin dari gue.”
“Gak ada, Willa.”
“Bohong kan lo?”
“Bodo amat ah kalau lo nggak percaya. Udah ah, gue berangkat dulu. Udah kesiangan ini.”
Summer langsung berjalan lebih dulu keluar gerbang kost supaya pembicaraan itu berhenti. Namun Willa malah mengikuti di sampingnya sambil masih nyengir.
“Eh tar dulu.”
“Apalagi sih Will.”
“Itu lo yakin ke kampus mau bawa oleh-oleh dari gue? Kalau direbut warga kampus gimana? Nggak kebagian dong lo?”
Summer seketika sadar kalau ditangannya saat ini ada dua kotak kue dalam satu plastik, dan satu plastik lain berisi minuman yang memang dibawakan Willa tadi.
“Eh iya, ko gue lupa,” kekeh Summer.
“Itu artinya, lo nggak fokus. Terlalu banyak yang lo pikirin,” sahut Willa. “Makanya, kalau ada apa-apa itu cerita ke gue, jangan bohong sampe bilang lo nggak kenapa-kenapa.”
“Ya elah, kan gue bilang gapapa Will. Gue cuma kurang tidur, makanya gue nggak fokus,” balas Summer.
“Iya deh iya,” timpal Willa. “Udah sini, biar gue simpenin dulu oleh-olehnya di kamar lo. Kalau yang udah dibuka, lo makan aja buat sarapan atau sekedar cemilan lo nanti. Biar sisanya gue taro di kamar lo, ya.”
“Hehe, tencuuu Willa-kuh. Jadi sayang deh kalau baik gini,” kekeh Summer menggoda Willa.
Namun berbeda dengan Willa, ada sesuatu yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar saat mendengar Summer mengatakan sayang padanya.
“Anjir, jantung tahaaan. Jangan bikin malu. Inget, dia bilang sayang sama Willa, bukan sama eluuu.”
“Mer…”
“Iya.”
“Gue masih normal btw.”
“Anjir, gue juga normal kocak,” balas Summer. “Aaah udah ah, lo gak asik. Sayangnya gue tarik balik, gue masih normal.”
Willa terkekeh lagi, saat berhasil membuat Summer kesal.
“Udah ya, gue berangkat. Ini titip barang-barang gue. Makasih ya, bye.”
Summer langsung berbalik dan meninggalkan Willa sendiri. Namun baru beberapa langkah, Willa kembali berteriak.
“Eh serius, kalau sakit bilang aja sama gue ya. Gue bisa jadi suster cantik.”
“Lo lebih cocok jadi suster ngesot, daripada suster cantik.”
“Kurang ajar.”
“Tapi makasih kuenya.”
Willa langsung melirik Summer cepat. “Nah tuh. Akhirnya ngomong makasih juga.”
“Kan emang gue bilang makasih dari tadi, lo nya aja budeg.”
“Haha, sialan lo.”
“Biarin, bye.”
Willa terkekeh kecil, lantas memperhatikan Summer dengan lama, sampai akhirnya summer menghilang dibalik tikungan depan gerbang kost.
“Gue tahu ada yang lo sembunyiin, Mer. Gue bakalan cari tahu sendiri. Semoga aja, bukan hal yang bikin trauma lo balik,” gumam Willa, lalu berbalik hendak masuk kedalam kamarnya.
Namun baru saja ia melangkah, seseorang memanggilnya.
“Willa!”
Willa langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil.
Di dekat lorong parkiran motor kost, Giana berdiri sambil membawa tas kuliah dan map bening di tangan.
“Oh, Mbak Giana tercinta,” sahut Willa heboh sambil melambaikan tangan. “Apa kabar manusia random paling ramah se-kost bunga bangsa?”
Giana langsung ngakak kecil. “Apaan sih lo.”
“Lah iya. Lo tuh vibes-nya kayak ibu-ibu arisan tapi versi mahasiswa.”
“Kenapa jadi ibu-ibu arisan dah?”
“Soalnya gampang akrab sama orang.”
“Najis banget analoginya.”
Willa terkekeh puas lalu berjalan mendekat. “Gimana? Kangen gue juga gak selama dua hari ini?”
“Enggak sih.”
“Jahat.”
“Becanda,” balas Giana cepat sambil tertawa. “Eh tapi serius, lo kemana aja sih dua hari ini?”
“Pulang.”
“Ke rumah?”
“Enggak, ke planet Bekasi.”
Giana langsung melotot. “Hah?”
“Ya iyalah ke rumah, Gi. Masa ke kandang zebra.”
“Lo tuh ya...” Giana geleng-geleng kepala sambil ketawa sendiri. “Terus sekarang balik lagi?”
“Iya. Gue kangen penghuni kost yang nyebelin.”
“Summer?”
“Terutama dia.”
Willa menjawab santai sambil memasukkan satu tangannya yang ngangguk ke kantong hoodie-nya. Giana memperhatikan Willa beberapa detik sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil.
Jujur saja, sekarang ia mulai paham kenapa Summer bisa dekat dengan Willa. Karena manusia satu ini memang gampang bikin suasana jadi ringan. Bahkan obrolan random pun terasa seru kalau keluar dari mulutnya.
“Eh tapi serius,” lanjut Giana lagi. “Kemarin Summer nyariin lo terus loh.”
Langkah Willa sedikit berhenti. “Hah?”
“Iya. Dia gak bilang langsung sih, tapi keliatan banget."
“Cieee, orang semanis eykeu emang sering di cariin. Dikangenin.”
“Ih najis, kenapa lo jadi ngondek?”
“Eh Astaghfirullah, kenapa juga gue kaya gini ya?” Willa menutup mulutnya sendiri, sementara Giana terbahak melihat tingkah Willa yang memang absurd.
“Udah santai aja, gue cuma becanda doang kali,” kekeh Giana. “Eh iya, kemarin si summer emang kecarian gitu sama lo. Mungkin karena kalian terbiasa barengan kali ya, jadi dia kaya kehilangan gitu.”
“Maklum, gue kan ngangenin banget.”
“haha, percaya deh gue.” Giana terkekeh kecil sebelum melanjutkan. “Apalagi pas hujan dua hari kemarin, beuh dia yang diomonginnya lo mulu.”
Senyum Willa perlahan memudar tipis. “Hujan? Emang dia hari kemaren hujan?”
“Iya, noh halaman depan aja masih basah kan.”
Kening Willa langsung mengerut.
“Lah, kok gue baru ngeuh,” sahut Willa yang memang baru menyadari kalau tanah depan kost itu masih basah dan ada air yang menggenang. “Emang kesini hujan gede?”
“Iya lah. Deres banget malah. Mana petir juga gede.”
Willa diam beberapa detik.
“Aneh.”
“Kenapa?”
“Di rumah gue gak hujan malah.”
“Hah?”
“Serius. Paling cuma gerimis kecil bentar doang.”
“Issh, cuaca emang gitu sih. Kadang disini hujan di tempat lain juga nggak. Sama kaya di tempat temen gue yang lain, katanya di mereka juga gak hujan.”
“Biasalah, Indonesia. Kaya yang baru tahu aja,” sahut Willa, yang dibalas anggukkan Giana.
“Terus gimana, pas hujan kemaren? Ada apa, ko sampe si summer nyariin gue?”
Willa langsung teringat obrolannya dengan Summer beberapa waktu lalu. Tentang hujan. Tentang petir. Tentang rasa takut yang selalu muncul setiap suara itu datang.
Tanpa sadar, raut wajah jahilnya perlahan menghilang.
Giana yang menyadarinya langsung memiringkan kepala.
“Lo kenapa?”
Willa cepat tersadar.
“Eh? Enggak.”
Namun pikirannya tetap berjalan ke arah yang sama.
Kalau Summer selama dua hari ini terus kena hujan dan petir...
Apa itu alasan dia kelihatan lelah?
Apa karena itu dia jadi pucat?
“Gi,” panggil Willa pelan.
“Hm?”
“Pas hujan kemarin... Summer ngapain aja?”
Giana berpikir sebentar. “Ya biasa aja sih.”
“Biasa gimana?”
“Gue nemenin dia di kamar.”
“Terus?”
“Ngobrol. Minum coklat panas. Cerita random.”
Willa mendengarkan serius. Dan semakin ia mendengar, semakin ada rasa tidak enak di dadanya.
“Terus gue baru tahu juga ternyata Summer takut petir,” lanjut Giana santai tanpa sadar.
Willa langsung diam.
Tatapannya berubah.
“Dia cerita?”
“Iya.”
“Cerita apa?”
“Sedikit soal masa kecilnya.” Giana menghela napas kecil sebelum melanjutkan. “Kayaknya traumanya lumayan berat deh. Dia bilang tiap hujan gede sama petir, rumahnya dulu selalu ribut.”
Willa mengangguk, tapi jelas ia tahu kalau trauma Summer bukan hanya karena di rumahnya selalu terdengar keributan pas hujan, tapi karena dia juga sempat ditinggal di luar saat petir dan hujan deras.
“Pantas aja, kalau lo kelihatan pucat banget tadi Mer.”