Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ponsel Baskara yang tergeletak di atas meja terapi bergetar hebat. Thomas segera mengambilnya, namun rahangnya mengeras saat melihat nomor tak dikenal melakukan panggilan video.
Ia memberikan ponsel itu kepada Baskara.
Begitu panggilan diterima, wajah Jayden yang penuh keringat dan kegilaan muncul di layar.
Ia tertawa sinis, lalu memutar kamera ponselnya ke arah bagasi mobil yang terbuka.
Di sana, Ambar terbaring pucat, tangan dan kakinya terikat, tampak tak berdaya dalam kondisi pingsan.
"Lihat ini, Naga Mahendra!" teriak Jayden parau.
"Istrimu yang cantik ini ada di tanganku. Satu perintah dariku, dan dia tidak akan pernah bangun lagi!"
Baskara mencengkeram pinggiran ranjang terapi
hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah yang meledak-ledak tertahan di dadanya, namun matanya tetap dingin mematikan.
"Apa maumu, pecundang?"
"Aku mau semua asetmu! Transfer seluruh saham Mahendra Corp ke rekening rahasia yang akan kukirimkan. Dan satu lagi, hubungi pihak penjara. Pastikan Clara bebas dan bersih dari segala tuntutan sore ini juga!" ancam Jayden sambil menodongkan pisau ke arah wajah Ambar yang pingsan.
"Jika dalam satu jam aset belum pindah dan Clara belum keluar, anggap saja ini kencan terakhirmu dengan Ambar!"
Sambungan terputus seketika.
Baskara melempar ponsel itu hingga retak.
"Thomas! Lacak lokasi sinyalnya sekarang! Gunakan satelit jika perlu!"
Thomas bergerak secepat kilat. "Sudah dalam proses, Tuan. Sinyalnya bergerak menuju arah dermaga utara. Tapi, apakah Anda benar-benar akan mentransfer aset itu?"
Baskara mencoba menggerakkan kakinya dengan paksa, rasa sakit yang luar biasa menjalar di sarafnya, namun ia tak peduli.
"Aset bisa kucari lagi, tapi jika seujung rambut Ambar terluka, aku akan meratakan seluruh kota ini untuk menemukan bajingan itu. Siapkan tim penembak jitu, kita berangkat sekarang!"
Ambulans pribadi Mahendra melaju membelah jalan tol dengan kecepatan tinggi, sirinenya meraung memecah keheningan jalanan.
Di dalamnya, Baskara duduk tegang di kursi roda yang terkunci otomatis, matanya terpaku pada layar monitor yang melacak posisi mobil Jayden.
"Dia berganti mobil ke sedan hitam, Tuan! Dua ratus meter di depan kita!" teriak Thomas yang mengemudi dengan keahlian setingkat pembalap profesional.
Di dalam sedan hitam itu, Ambar mulai mengerjapkan mata.
Kesadarannya kembali lebih cepat dari perkiraan Jayden. Ia merasakan kepalanya berdenyut hebat, namun matanya langsung menangkap sosok Jayden yang menyetir dengan kalap sambil sesekali melirik ke kaca spion.
Menyadari Ambar mulai bergerak, Jayden merogoh saku jas dokternya, mengeluarkan sehelai sapu tangan yang sudah dibasahi cairan bius.
"Tidur lagi, jalang! Jangan coba-coba mengacau!" bentak Jayden sambil berusaha membekap wajah Ambar dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap di kemudi.
Namun, Jayden meremehkan tekad seorang istri yang ingin kembali pada suaminya.
Ambar menghirup napas dalam sebelum sapu tangan itu menempel, lalu dengan seluruh tenaga yang tersisa, ia tidak melawan tangan Jayden.
Sebaliknya, ia menjatuhkan tubuhnya ke arah tengah dan kedua tangannya menyambar kemudi mobil, memutarnya dengan sentakan tajam ke arah kanan.
"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Jayden histeris.
Mobil meliuk tak terkendali dalam kecepatan 120 km/jam.
Di tengah guncangan hebat itu, Ambar melihat celah.
Ia menendang pintu penumpang yang tidak terkunci rapat, melepaskan sabuk pengamannya, dan membiarkan tubuhnya terlempar keluar tepat sebelum mobil itu kehilangan keseimbangan sepenuhnya.
BRAKK!!
Tubuh Ambar berguling-guling di aspal jalan tol yang panas, sementara mobil sedan yang dibawa Jayden menghantam pembatas jalan dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Mobil itu terbang, berguling berkali-kali di udara sebelum akhirnya mendarat dalam posisi terbalik dengan kondisi hancur berantakan.
"TIDAKKK!!" raung Jayden dari dalam kabin yang ringsek, sebelum suara ledakan kecil mengakhiri teriakannya.
Di dalam ambulans, Baskara melihat pemandangan horor itu secara langsung melalui kaca depan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tubuh kecil istrinya tergeletak tak bergerak di tengah jalan raya.
"AMBARRR!!!" teriak Baskara dengan suara yang sanggup meruntuhkan langit.
Belum sempat ambulans berhenti sempurna, Baskara melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dengan kekuatan adrenalin yang memicu sarafnya secara paksa, ia menyeret tubuhnya keluar dari kursi roda, merangkak di lantai ambulans, dan memaksa kakinya untuk menapak aspal meski rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum.
"Nyonya!" Thomas mengerem mendadak dan langsung melompat keluar, berlari menuju Ambar untuk memastikan tidak ada mobil lain yang melindasnya.
Baskara mencoba berdiri, gemetar hebat, air mata kemarahan dan ketakutan bercampur di wajahnya.
Ia melihat Ambar tergeletak bersimbah darah beberapa meter di depannya.
Di saat itu, ia tidak peduli lagi pada lumpuh atau operasi; ia hanya ingin mendekap nyawanya kembali.
Aspal jalan tol yang panas terasa membakar telapak tangan Baskara, namun ia tidak merasakannya.
Fokusnya hanya satu: sosok wanita yang tergeletak diam beberapa meter di depannya.
Dengan sisa tenaga dan adrenalin yang memacu saraf rusaknya secara paksa, Baskara menyeret tubuhnya, merangkak dengan napas tersengal-sengal.
"Ambar, Sayang, bertahanlah," rintih Baskara, suaranya parau tertelan deru angin jalan raya.
Begitu jemarinya menyentuh helai rambut Ambar yang basah oleh darah, jantung Baskara serasa diremas.
Ia meraih kepala istrinya, meletakkannya di atas pangkuannya yang masih lemah.
Darah segar mengalir dari pelipis Ambar, membasahi kemeja rumah sakit yang dikenakan Baskara.
Baskara mendekatkan telinganya ke bibir Ambar. Ada embusan napas tipis, sangat lemah, namun nyata.
"Terima kasih Tuhan. Dia masih bernapas," bisik Baskara sambil terisak, ia mengecup dahi Ambar yang dingin berkali-kali.
"Bangun, Ambar. Jangan tinggalkan aku sekarang. Kita sudah sejauh ini."
Di sisi lain jalan raya Thomas melangkah mendekati gundukan besi yang dulunya adalah sebuah sedan hitam.
Asap tebal mengepul dari kap mesin yang hancur.
Di dalamnya, Jayden terjepit di antara kursi kemudi dan dasbor yang melesak masuk. Wajahnya penuh luka sayatan kaca, dan kakinya tampak patah dengan posisi yang mengerikan.
Jayden terbatuk, memuntahkan darah, matanya yang mulai meredup menatap Thomas yang berdiri tegak di hadapannya seperti malaikat pencabut nyawa.
"Tolong, tolong aku..." rintih Jayden dengan suara tercekat.
Thomas tidak bergerak. Ia hanya menatap dingin ke arah pria yang hampir menghancurkan hidup tuannya itu.
Ia melihat pistol yang tergeletak di samping tangan Jayden, lalu menendangnya menjauh ke kolong mobil.
"Kamu meminta pertolongan setelah mencoba membunuh Nyonya Ambar dan Tuan Baskara berkali-kali?" tanya Thomas dengan suara datar yang mematikan.
"Keberuntunganmu sudah habis, Jayden."
Thomas menyentuh earpiece-nya. "Unit medis, segera amankan Nyonya Ambar. Prioritas utama. Untuk bajingan di dalam mobil ini, biarkan tim evakuasi bekerja dengan sangat lambat. Pastikan dia merasakan setiap detik sakitnya sebelum dibawa ke sel tahanan rumah sakit."
Baskara yang masih memangku Ambar menoleh ke arah bangkai mobil itu.
Matanya merah, penuh kilat kebencian yang belum pernah dilihat Thomas sebelumnya.
"Thomas! Jangan biarkan dia mati dengan mudah," teriak Baskara dari kejauhan, suaranya menggelegar di tengah kesunyian jalan tol.
"Aku ingin dia melihatku berdiri tegak di depannya sebelum dia membusuk di penjara selamanya!"
Ambulans kedua datang dengan raungan sirine yang memekakkan telinga.
Para paramedis berlarian dengan tandu, segera memberikan pertolongan pertama pada Ambar yang kondisinya semakin kritis.
Baskara menolak dilepaskan dari tangan Ambar, ia terus menggenggamnya erat saat mereka berdua dinaikkan kembali ke dalam ambulans.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰