Rayya kemala putri, Wanita yang selama ini selalu di anggap menjadi beban suaminya. Menjelma sebagai wanita karir yang sukses setelah mengetahui perselingkuhan sang suami, apalagi kenyataan yang ia terima bahwa ternyata kakak iparnya sendiri mendukung perselingkuhan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rana putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
(Selamat pagi bu rayya, Saya ingin menyampaikan bahwa hari ini pak reino ijin tidak masuk kantor, Katanya hari ini dia mau mengurus penjualan rumah nya.)
Pesan yang dikirimkan pak nathan membuat dahi rayya berkerut, “Jual rumah? Rumah siapa yang mau dia jual? Kalau rumahku , Gak mungkin. Karna sertifikat nya aman di tangan sena.”
“Apa jangan jangan dia mau menjual rumah mbak raisa?” Gumam nya. Lalu tiba tiba terlintas ide di kepala rayya, Membuat rayya menyunggingkan senyum menyeringai. Lalu ia pun mengirimkan pesan balasan ke pak nathan, Berisi perintah.
Tak lama pesan rayya berbalas, Pak nathan akan mengerjakan perintah bosnya itu.
“Mamaa, ayoo. Itu nama arra di panggil.”
Rayya yang tengah melamun tersentak ketika baju nya di tarik tarik oleh arra, Ia pun menganggukkan kepalanya “Oh iya, ayo kedepan”
Mereka pun berlalu ke depan, Arra melakukan sesi pengukuran untuk seragam sekolah nya kelak. Arra terlihat sangat happy, sebentar lagi ia akan sekolah dan mempunyai banyak teman.
Ditempat lain.
Reino sedang bertemu dengan seorang teman nya, Ia sedang mendiskusikan rumah raisa yang akan ia jual. Dia juga meminta tolong pada teman nya ini untuk mencarikan pembeli.
“Harga yang kamu kasih itu sangat tinggi rei, Sedangkan ukuran dan luas rumah itu tak seberapa. Aku tak yakin bisa menjualnya..” Ucap dani tampak keberatan ketika reino meminta harga 3M untuk rumah raisa.
“Rumahku itu sangat luas dan mewah, Aku juga menjual semua beserta isinya. Jadi kamu bisa mempertimbangkan untuk menawarkan pada customer mu, Nanti aku akan memberikan mu bonus jika rumah itu laku terjual.”
“Customer akan melakukan nego nantinya, Bagaimana? Apakah kamu mau menurunkan harga nya?” Tanya dani.
“Mungkin aku bisa menurunkan nya sedikit, Asal jangan terlalu banyak. Karna aku benar benar sedang membutuhkan uang..” Ucap reino
Dani hanya menganggukkan kepalanya “Baiklah, nanti aku akan coba promosikan. Semoga saja ada yang nyantol.”
“Makasih dan.”
Dani menganggukkan kepalanya, Dani sendiri bekerja di perusahaan bidang sales properti. Tugas nya di perusahaan ialah membeli dan menjual properti bangunan. Seperti rumah atau apartement.
Drrtttt drrrttt drrrttt
Ketika reino masih sibuk membahas tentang rumah nya bersama dani, Tiba tiba ponselnya berdering. Reino pun pamit pada dani untuk mengangkat panggilan sebentar, Reino pun keluar dari rumah dani setelah melihat nama yang tertera di layar.
“Halo? Iya pak nathan? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya reino.
(Halo pak reino, Apakah kita bisa bertemu? Ada hal yang ingin saya bicarakan. Tenang saja, Ini bukan masalah perusahaan. Tapi masalah pribadi) Ucapan pak nathan entah mengapa membuat jantung reino berdegub kencang.
Masalah pribadi? Masalah apa? Seharusnya ia tak mempunyai masalah pribadi dengan wakil direktur itu, Apa ini membahaas tentang rayya? Apa pak nathan ingin mengakui hubungan nya dengan istri nya itu?
(Halo pak reino? Apakah anda masih ada disana?)
“Oh iya pak, Bisa. saya bisa, Mau bertemu dimana?” Tanya reino
(Saya akan mengirimkan alamatnya. Kalau begitu saya tutup dulu panggilan nya.)
Tak lama panggilan terputus, pikiran reino mendadak kacau, memikirkan apa yang akan di bicarakan pak nathan. Walau bagaimanapun , Rayya masih istrinya dia tak akan tinggal diam. Jika pak nathan mencoba mendekati rayya, Persetan walaupun pak nathan adalah bosnya.
“Ahh daripada aku terus memikirkan itu , Mending aku pulang . Mandi, Trus ketemu sama tua bangka itu.” Gumam reino
Reino pun kembali masuk ke dalam rumah dani untuk berpamitan, setelah nya ia kembali ke rumah raisa. Ia melihat maira tengah duduk di ruang tv sambil memakan cemilan di pangkuan nya.
“Sayang, Udah makan belum?” Tanya reino pada maira, Begitu lembut. Perlakuan nya sangat berbeda jauh dengan perlakuan nya pada arra - anak kandung nya sendiri.
“Udah om, Om kapan mama pulang? Maira kangen sekali sama mama.”
“Sabar ya sayang, Om juga masih mengusahakan supaya mama cepet pulang. Maira sabar dulu ya.”
Maira pun menganggukkan kepalanya “Ohya maira, Sebentar lagi om keluar sebentar ya.”
“Om mau kemana, Maira ikut. Maira takut dirumah sendirian kalau malem..” Rengek maira
Reino jadi tak tega meninggalkan maira sendiri, Ia pun akhirnya mengangguk “Yaudah kalau maira mau ikut, sekarang juga maira ganti baju terus kita berangkat.”
“Oke om.”
Maira pun berlari ke arah kamar nya untuk bersiap siap, begitupun reino yang masuk kedalam kamar mandi.