Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Mekanis yang Abadi
Pembangunan fondasi utama Akademi Horologi Kalani di Sektor Tujuh seharusnya menjadi proses teknis yang sederhana. Namun, tanah tempat rahasia dikuburkan selama satu dekade tampaknya enggan melepaskan memorinya begitu saja. Sore itu, ketika bor raksasa menyentuh lapisan granit sedalam sepuluh meter di bawah bekas ruang kerja Aris Kalani, suara dentuman logam yang berat bergema ke seluruh area konstruksi.
Hael, yang sedang meninjau cetak biru bangunan bersama para insinyur, segera berlari menuju lubang galian. Sora, yang sedang membersihkan beberapa komponen jam saku ibunya, mengikuti dengan jantung yang berdegup kencang. Firasatnya mengatakan bahwa tanah ini belum selesai bicara.
"Berhenti! Matikan mesinnya!" teriak Hael kepada operator alat berat.
Di dasar lubang yang menganga, debu semen perlahan mengendap, menampakkan sebuah kubah logam berbentuk oval yang terbuat dari campuran titanium dan iridium—material yang jauh melampaui standar teknologi horologi sepuluh tahun lalu. Kubah itu tidak memiliki sambungan baut, seolah-olah ditiup dari satu bongkahan logam cair yang murni.
"Hael... ini bukan bagian dari fondasi," bisik Sora, matanya terbelalak menatap permukaan kubah yang mulai memancarkan cahaya biru elektrik yang redup.
Sora menuruni tangga darurat ke dasar lubang. Begitu tangannya menyentuh permukaan logam yang dingin, sebuah panel sensor biometrik muncul dari balik dinding kubah. Ia teringat kata-kata ayahnya di rekaman Paris: Hanya sentuhanmu yang bisa membuka kunci terakhir.
Sora meletakkan telapak tangannya di atas panel tersebut. Sebuah getaran halus merambat ke lengannya, melakukan pemindaian garis tangan dan frekuensi denyut nadi.
KLIK. SSSSSS...
Kubah itu terbelah secara simetris, mengungkapkan sebuah tangga spiral yang menuju ke ruang bawah tanah yang jauh lebih dalam dan luas daripada yang pernah Sora bayangkan. Hael menyalakan senter taktisnya, menerangi jalan setapak yang dindingnya dilapisi dengan ribuan cermin kecil yang memantulkan cahaya ke segala arah.
Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri sebuah monumen mekanis setinggi lima meter. Itu bukan sekadar jam tangan atau jam menara. Itu adalah sebuah Chronosphere—bola dunia mekanis yang seluruh benuanya tersusun dari roda gigi mikroskopis yang bergerak secara sinkron.
"Ini adalah 'Mesin Ketiga' yang sebenarnya," suara Sora bergetar karena takjub. "Bukan hanya data rahasia Vance, Hael. Ini adalah The Eternal Pulse."
Hael melangkah mendekat, menyentuh bayangan roda gigi yang mewakili zona waktu Asia. "Sora, lihat ini... jam ini tidak terhubung ke baterai atau listrik apa pun. Ia bergerak berdasarkan rotasi bumi dan fluktuasi medan magnet planet ini. Ini adalah jam yang benar-benar abadi."
Di bawah kaki Chronosphere, terdapat sebuah meja kristal yang menampilkan data real-time. Sora menyentuhnya, dan seketika ribuan titik cahaya terproyeksikan ke udara. Titik-titik itu adalah lokasi setiap jam yang pernah dibuat oleh Aris Kalani di seluruh dunia—termasuk jam-jam yang selama ini disembunyikan oleh para diktator, kartel, dan keluarga elit seperti Vance.
"Ayahku tidak hanya membuat jam untuk mereka, Hael," Sora menyadari kebenaran yang jauh lebih besar. "Dia membuat jaringan. Setiap jam yang dia buat adalah sensor. Mesin ini... Chronosphere ini adalah pusat kendalinya. Ayah bisa melacak setiap pergerakan uang, komunikasi rahasia, dan rencana gelap mereka hanya dengan memperhatikan detak jam-jam itu."
Hael menarik napas tajam. "Itulah kenapa Alistair Vance begitu terobsesi membunuh ayahmu. Dia bukan hanya ingin teknologinya, dia ingin menghancurkan mata yang selalu mengawasi kejahatannya dari balik meja kerja seorang tukang jam."
Sora melihat sebuah slot kosong di pusat mesin tersebut. Bentuknya sangat presisi, persis seperti bentuk The Chronos Weaver yang baru saja ia letakkan di prasasti atas tadi. Tanpa ragu, Sora kembali ke atas, mengambil kotak perunggu itu, dan membawanya turun.
Begitu The Chronos Weaver dimasukkan ke dalam slot pusat, Chronosphere itu meledak dalam cahaya keemasan yang megah. Seluruh roda gigi di benua-benua mekanis itu mulai berputar dengan suara musik yang begitu harmonis—sebuah simfoni waktu yang sempurna.
"Sora, lihat!" Hael menunjuk ke layar kristal.
Data-data yang tadinya terenkripsi kini terbuka sepenuhnya. Ternyata, selama sepuluh tahun ini, mesin di bawah tanah ini telah merekam setiap percakapan rahasia di dalam rumah keluarga Vance, karena Alistair selalu memakai jam saku buatan Aris di sakunya.
"Semua bukti pembunuhan, semua perintah eksekusi... semuanya ada di sini, terekam secara otomatis oleh getaran suara yang ditangkap oleh jam tangan mereka sendiri," Sora menangis, tapi kali ini adalah tangis kemenangan. "Ayah tidak pernah membiarkan mereka menang. Bahkan saat dia terbakar, dia memastikan bahwa setiap detik kejahatan mereka tercatat oleh sejarah."
Hael merangkul Sora erat. "Sekarang dunia akan tahu, Sora. Bukan hanya tentang pengkhianatan Ezra, tapi tentang bagaimana waktu sendiri yang akhirnya menjatuhkan mereka. Akademi ini tidak akan hanya mengajar cara memperbaiki jam, tapi cara menjaga integritas dunia melalui waktu."
Di dalam kedalaman Sektor Tujuh, di bawah fondasi masa depan, jantung mekanis yang abadi itu terus berdenyut. Ia tidak lagi menjadi rahasia yang terkubur, melainkan menjadi cahaya penuntun bagi keadilan.
Sora menatap pantulan dirinya di permukaan bola dunia mekanis itu. Ia bukan lagi gadis yang ketakutan di depan api. Ia adalah pewaris dari mata dunia yang tidak pernah tidur. Dan di sampingnya, Hael Arlo berdiri sebagai pelindung yang kini tahu bahwa tugasnya telah tuntas, berganti menjadi sebuah janji untuk membangun masa depan bersama sang nakhoda waktu.
Waktunya telah tiba. Dan kali ini, waktu benar-benar berpihak pada mereka yang jujur.