NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Jawaban yang Sama, Makna yang Berbeda

Husain menyandarkan punggungnya. Tatapannya kembali ke cucunya.

Alvian masih sibuk dengan oleh-oleh. Fatima mulai bercerita ringan.

Namun Husain… tidak benar-benar mendengarkan.

Tatapannya perlahan beralih ke Ayza.

“Ayza.”

Ayza menoleh. “Iya, Yah?”

Nada itu… tetap sopan.

Tapi Husain menangkap sesuatu. Ia tidak langsung bertanya inti.

“Kaisyaf ke luar kota… urusan kerja?”

“Iya, Yah.” Jawaban cepat.

“Ke mana?”

Pertanyaan sederhana. Tapi cukup untuk membuat jeda kecil.

“…Surabaya,” jawab Ayza.

Husain mengangguk pelan. “Berapa lama biasanya?”

Ayza mengernyit tipis. “Tergantung kerjaannya, Yah.”

“Kalau yang sekarang?”

Sekali lagi, pertanyaan biasa.

Namun kali ini, Ayza tidak langsung menjawab. “…belum tahu pasti.”

Husain tidak langsung bereaksi. Hanya mengangguk kecil. Seolah cukup. Namun beberapa detik kemudian—

“Dia sehat?”

Pertanyaan itu berubah arah.

Ayza sedikit terdiam. “…sehat, Yah.”

Jawaban itu keluar. Tapi tidak sehalus sebelumnya.

Husain menangkapnya. Ia tidak membantah. Tidak juga menekan. Hanya… mengalihkan sedikit.

“Jarang pulang. Susah dihubungi. Sekarang ke luar kota lama…”

Ia berhenti sejenak.

“Kerjanya lagi berat, ya?”

Kalimat itu… seperti simpati. Padahal sebenarnya… umpan.

Ayza mengangguk. “Iya, Yah. Lagi banyak kerjaan.”

Husain menatapnya. Lebih dalam sekarang. Lalu—

“Dia tidak cerita apa-apa ke kamu?”

Satu kalimat itu… berbeda. Tidak tinggi. Tapi langsung ke inti.

Ayza menatapnya. Untuk satu detik, terlalu lama.

“…tentang apa, Yah?” Ia balik bertanya.

Dan di situ… Husain hampir yakin. Ia tidak menjawab langsung. Hanya mengangguk pelan. Seolah menyudahi.

“Tidak apa-apa.”

Namun tatapannya… tidak lagi sama.

***

Sementara itu di tempat lain.

Ruang kerja itu kembali hening setelah pembahasan terakhir selesai.

Beberapa berkas masih terbuka di meja. Angka-angka. Strategi. Semua sudah diputuskan.

Ridho menutup map terakhir. Mengangguk kecil.

“Sudah cukup, Pak Fahri.”

Nada suaranya hormat. Tegas. Tapi kali ini… ada sedikit kepuasan di sana.

Fahri tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada berkas di depannya.

Ridho melanjutkan.

“Pak Kaisyaf memang tidak pernah salah menilai orang.”

Fahri akhirnya menoleh.

Ridho tersenyum tipis.

“Waktu beliau bersikeras mengadakan tes ulang untuk Anda… Waktu beliau mensponsori Anda ikut balapan…”

Ia berhenti sejenak.

“Semua keputusannya selalu tepat.”

Kalimat itu tulus. Namun—

Fahri tidak membalas senyum itu. Tatapannya justru berubah. Lebih dalam. Lebih tajam.

“Pak Ridho.”

Panggilan itu halus. Tapi cukup membuat suasana berubah.

Ridho langsung diam.

“Ada yang ingin aku tanyakan.”

Nada Fahri tetap tenang. Tidak tinggi. Tapi… tidak bisa diabaikan.

Ridho mengangguk kecil. “Silakan, Pak.”

“Kak Kaisyaf sekarang di mana?”

Pertanyaan itu langsung. Tanpa pembuka.

Ridho tidak langsung menjawab.

“Beliau sudah bilang pada Bapak. Beliau sedang di luar negeri. Terkait tender—”

“Di mana?”

Fahri memotong..Tetap tenang. Tapi lebih tajam.

Ridho terdiam sepersekian detik.

“Di Singapura, Pak.” Jawaban cepat. Siap. Seolah sudah disiapkan.

Namun, Fahri tidak langsung mengangguk.

“Proyek apa?”

Satu lagi.

Ridho mulai merasakan arah ini.

“Pengembangan kerja sama—”

“Berapa hari?”

Kali ini… Ridho benar-benar berhenti.

“…masih berjalan, Pak.”

Fahri menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Tatapannya tidak lepas dari Ridho.

“Tender itu…” ucapnya pelan, “…biasanya tidak sampai berhari-hari tanpa jeda.”

Ridho memilih diam.

“Apalagi sampai tidak bisa dihubungi.”

Kalimat terakhir itu… pelan. Tapi jelas.

Ridho tidak menjawab.

Fahri menatapnya lebih dalam.

“Pak Ridho…”

Nada suaranya turun. Lebih tenang. Tapi justru lebih berat.

“…ini benar soal tender?”

Fahri diam sejenak, lebih lama dari sebelumnya.

“…atau ada hal lain yang aku tidak tahu?”

Ridho menarik napas pelan.

“Maaf, Pak,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya tetap hormat. Namun kali ini… jelas membatasi.

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda.”

Fahri tidak langsung bereaksi. Tatapannya tetap tertuju pada Ridho. Tidak berkedip.

“Soal ini…” lanjut Ridho, “…nanti saat beliau kembali, Anda bisa menanyakannya langsung.”

Kalimat itu selesai. Dan justru setelah itu… suasana terasa lebih berat.

Beberapa detik berlalu.

Fahri akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Perlahan. Tenang. Namun tatapannya… tidak berubah.

“Tidak bisa…” ulangnya pelan.

Bukan bertanya. Lebih seperti… memastikan.

Ridho tidak menjawab.

Fahri mengangguk kecil.

“Baik.”

Satu kata. Pendek. Namun entah kenapa… justru itu yang membuat Ridho sedikit menegang.

Karena itu bukan jawaban biasa. Itu… penerimaan. Atau sesuatu yang lebih dari itu.

Fahri meraih berkas di depannya. Menutupnya pelan.

“Kalau begitu…” lanjutnya tenang, “…berarti memang ada hal yang tidak seharusnya aku tahu.”

Ridho terdiam. Ia tidak membantah. Dan itu… sudah cukup.

Fahri berdiri. Merapikan jasnya.

“Terima kasih, Pak Ridho.”

Nada suaranya kembali formal. Tertata. Namun sebelum berbalik, ia berhenti sebentar.

“…aku tidak akan berhenti mencari tahu.”

Kalimat itu ringan. Tapi jelas. Bukan ancaman. Lebih ke… keputusan.

Fahri lalu melangkah pergi. Meninggalkan Ridho yang masih berdiri di tempatnya.

Kali ini, bukan Fahri yang tertekan.

Tapi Ridho.

***

Malam sudah cukup larut saat Fahri pulang. Rumah masih terang. Itu sudah cukup membuatnya tahu… ada yang belum selesai.

“Fahri.”

Suara Rahman terdengar dari ruang tengah.

Fahri menghentikan langkahnya. Menoleh. Lalu berjalan mendekat.

“Ayah.”

Rahman duduk tenang. Namun tatapannya… tidak biasa.

“Duduk," katanya singkat. Tegas.

Tanpa berkata apapun Fahri duduk.

Beberapa detik… tidak ada yang bicara.

Rahman mengamatinya. Seolah menimbang sesuatu.

“Kamu masih sering ke rumah Ayza?” tanyanya akhirnya.

To the point.

Fahri tidak kaget. Tapi jelas… tidak menganggap itu pertanyaan ringan.

“Sesekali,” jawabnya tenang. “Kalau ada perlu.”

Rahman mengangguk kecil.

“Perlu… atau kamu yang cari alasan?”

Pertanyaan itu halus. Tapi mengarah.

Fahri menatap ayahnya. Kali ini lebih serius.

“Perlu, Yah.”

Tidak defensif. Tapi jelas.

Rahman menyandarkan punggungnya.

“Kamu tak pernah dekat dengan wanita manapun…” ucapnya pelan, “…Ayza satu-satunya perempuan yang dekat denganmu. .”

Fahri tidak langsung menjawab.

“Memang benar,” katanya akhirnya. Jujur.

Rahman mengangguk. Tidak terkejut.

“Tetap menganggap dia kakak?.”

“Iya.”

“Dan kamu tahu dia istri orang.”

“Iya.”

Jawaban tetap tenang. Tidak goyah.

Rahman menatap lebih dalam.

“Kalau suatu hari…” ia berhenti sejenak, “…dia tidak lagi jadi istri orang… kamu tetap akan bilang itu ‘sekadar dekat’?”

Pertanyaan itu… inti. Tidak ada lagi lapisan.

Fahri diam. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena… ia memilih.

Beberapa detik.

Lalu—

“Iya.”

Satu kata. Namun keluar tanpa ragu.

Rahman tidak langsung bereaksi.

Fahri melanjutkan, suaranya tetap rendah.

“Karena dari awal… aku tahu posisiku di mana.”

Tatapannya lurus.

“Dan aku tidak pernah punya niat keluar dari itu.”

Rahman mengamatinya lama. Seolah mencari celah. Tapi tak ada.

“Reza berpikir kamu menunggu,” ucap Rahman.

Fahri sedikit mengernyit.

“Aku tidak menunggu siapa pun.”

Jawaban itu cepat. Tegas.

“Termasuk Ayza?”

-

...🔸🔸🔸...

..."Kebenaran tidak selalu disembunyikan dengan kebohongan, tapi dengan jawaban yang terdengar benar."...

..."Semakin banyak yang bertanya, semakin jelas ada sesuatu yang disembunyikan."...

..."Tidak semua diam berarti tidak tahu, kadang itu hanya menunggu waktu yang tepat."...

..."Ada jawaban yang terdengar benar… tapi tidak pernah benar-benar menenangkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Gadis misterius
Diakhir hayat nanti nikahkan fahri dngn ayza kaysaf dr pd dinganggu buaya buntung setiap hari
septiana
lanjut kak Nana semangat 💪🥰
abimasta
ridho jujur aja sama fajti kalau kaisyaf sedang sakit parah
Wardi's
do ridho... jujur saja do ridho..
Siti Jumiati
up
Siti Jumiati
lanjut
Siti Jumiati
lanjut kak nana💪🙏
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
Ridho sudah mulai tertekan oleh pertanyaan Fahri....

dan sampai rumah Fahri di interogasi olah Ayahnya🤭
Hanima
Lanjut Za..
Dew666
💃💃💃
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Memang ya, Reza ini memang nggk bener. Dan tidak berubah sejak 10 Tahun yang lalu 🤬🤬🤬
Dek Sri
lanjut
abimasta
coba jujur dari awal kaisyaf tidak akan serumit itu
Puji Hastuti
Alhamdulillah ayah tahu juga😍
tse
semoga mereka mengetahui penyakitny lebih awal sehingga bisa mengobatinya
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Yunita Sophi
sukurlah akhirnya ayah membuka sedikit rahasia Kaisyaf... ayo pak selidiki kasian anak istri nya tdk tau klo Kaisyaf sakit...
Anitha Ramto
nah kebenaran Kaisyaf yang sakit akan terungkap,jalannya dari Perawat yang mengatakan Critis

Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.

langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺
Wardi's
gk usah tlp ridho., yg ada d blokir aksesnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!