Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Jawaban, Seribu Luka
Jam makan siang di kantor.
Semua karyawan bergegas menuju lift untuk sejenak melarikan diri dari tumpukan pekerjaan.
Sebagian pergi menuju kantin untuk memanfaatkan makan gratis.
Sebagian lainnya lebih memilih mencari makan di luar gedung.
"Aluna.. kamu mau makan dimana?" tanya Revan yang sedang berdiri di depan lift menunggu pintu itu terbuka.
Aluna terus menatap layar ponselnya sedari tadi, "aku.. mau keluar sebentar, ada urusan." Matanya masih fokus pada ponselnya.
Ting.
Pintu lift terbuka, mereka dan beberapa orang di belakang masuk ke dalam lift saling berdesakan.
Tubuh Aluna terdorong hingga ke bagian paling belakang, Revan berdiri tepat di hadapan Aluna, di tengah lift yang penuh sesak.
Kedua tangannya terbuka di sisi kanan dan kiri, menahan dinding lift, membuat Aluna seolah terkurung di antara dirinya dan ruang sempit itu.
Aluna menatap sekilas pria di depannya, rasa canggung merayap di antara mereka.
Lalu perempuan itu kembali ke layar ponselnya.
Setelah akhirnya pintu lift terbuka, mereka melangkah menuju lobi.
"Memangnya kamu mau kemana," tanya Revan yang berusaha menyamakan langkahnya dengan perempuan itu.
Aluna mendadak berhenti, "aku mau ke toko buku. Kak Revan.. selamat menikmati makan siangnya." Perempuan itu memberikan salam dengan sedikit membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkan Revan.
Revan hanya memandangi perempuan itu sampai ia menghilang di balik lalu lalang kendaraan.
Aluna kembali menatap layar ponselnya.
Ia berkali-kali membaca sebuah pesan dari Rumah Sakit.
Yth. Ibu Aluna,
Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa hasil pemeriksaan tes DNA Anda telah selesai dan sudah dapat diambil.
Silakan datang ke bagian laboratorium/administrasi pada jam operasional untuk pengambilan hasil. Mohon membawa identitas diri saat pengambilan.
Terima kasih atas perhatian Anda.
Dadanya berdegup kencang sejak ia masih berada di kantor.
Kini ia tengah berdiri di depan rumah sakit, menatap lama gedung itu sebelum akhirnya ia menghela nafas memberanikan diri untuk masuk.
Ia berjalan menyusuri lobi rumah sakit, langkahnya cepat namun tak pasti. Tatapannya berkelana tanpa arah, sementara jemarinya saling mencengkeram, mencoba menahan gemetar yang tak bisa ia kendalikan.
Di tengah hiruk pikuk yang ada, ia justru terasa sendirian—dengan kecemasan yang terus menekan dadanya.
Sampai kemudian langkahnya berhenti di sebuah ruang laboratorium.
Menyerahkan identitas, melakukan beberapa tanda terima, dan—
Sebuah amplop cokelat dengan logo rumah sakit dan tulisan kecil “Hasil Pemeriksaan” di sudutnya.
Ia berdiri di bawah langit yang mendung, amplop itu masih di tangannya…
Hembusan angin mengibaskan rambut panjangnya.
Ia memegangi amplop itu dengan tatapan kosong.
Apa yang akan terjadi setelah aku membuka amplop ini...
Pikirannya sendiri membuat ia semakin merasa takut.
Seolah jawaban di dalam amplop itu bukan hanya sekadar kebenaran—
tapi sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidupnya.
Ayo Aluna..
Semua akan baik-baik saja.
Bayi ini pasti anak dari Gavin.
Ia berusaha untuk berpikir positif.
Bukankah seharusnya memang begitu?
Bukankah ini juga akan menjadi kabar baik buat Gavin?
Terukir senyuman di wajahnya, senyuman yang sebenarnya dipaksakan.
Perihal perpisahan... Bisa dipikirkan ulang.
Aluna menghela nafas panjang, tangan itu akhirnya menyobek ujung amplop, meraih kertas yang ada didalamnya.
Matanya menelusuri setiap huruf dengan gemetar.
Setiap kata yang ia baca terasa semakin berat, seolah menekan dadanya tanpa ampun.
Di tengah kalimat—
Bibirnya tersenyum, matanya terpejam sesaat, wajahnya menengadah.
Ia menarik nafas panjang.
Lalu tawa menggema dari bibirnya—Seolah menertawakan kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.
Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, dengan tawa yang masih terdengar—namun semakin lama, tawa itu terdengar seperti tangisan yang dipaksa keluar.
Ia memeluk lututnya, membenamkan wajahnya disana.
Perempuan itu menangis di antara tetesan air yang perlahan jatuh membasahi bumi.
Beberapa saat kemudian.
"Aluna.."
Revan berjongkok di hadapan perempuan itu.
Kedua telapak tangannya ia angkat ke atas kepala Aluna, berharap tetesan gerimis itu tidak lagi membasahi kepala perempuan itu.
Aluna mengangkat kepalanya, wajahnya memerah, matanya terlihat bengkak, wajahnya basah bukan karena rintikan hujan—
Melainkan air matanya sendiri.
"Kamu kenapa?" rasa khawatir terlihat jelas di wajah pria itu.
Aluna hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh luka.
Ia terlalu lelah untuk menjawab.
"Kamu kehujanan.. kita kembali ke kantor ya."
Aluna mengusap wajahnya. "Kak Revan.." suaranya terdengar serak. "Sepertinya aku tidak sanggup untuk melanjutkan pekerjaan di kantor."
"Yasudah.. aku antar kamu pulang," tangannya merapikan helai rambut Aluna yang menempel di pipinya. "Nanti aku bisa minta izin dengan orang kantor."
Revan menuntun Aluna menuju motor yang terparkir tidak jauh dari sana.
Ia mengantar perempuan itu kembali ke kosnya.
Tanpa pertanyaan, tanpa penghakiman—
Pria itu seolah mengerti harus bersikap seperti apa.
Setelah kembali dari kos Aluna.
Revan memasuki lift perusahaan, disana ia Bertemu dengan Arka yang juga baru datang ke kantor.
Mereka berada di dalam lift yang sama—Hanya berdua.
Melihat Revan yang baru memasuki lift, ia melirik jam di tangannya, "kamu dari mana, Revan?"
Revan merapikan rambutnya yang sedikit basah karena gerimis. "Oh iya.. emm.. Aluna hari ini izin pulang lebih awal.. Pak," ucap Revan setengah gugup.
Arka langsung menoleh pada pria di sampingnya. "Memangnya kenapa?"
"Dia sedang tidak enak badan. Saya baru saja mengantar dia pulang," jelas Revan.
Arka terdiam.
Dadanya mulai berdegup, pikirannya kembali pada sosok perempuan itu.
***
Aluna meringkuk di atas kasurnya.
Tangannya mencengkeram seprai, matanya terpejam, nafasnya begitu berat.
Tak jauh dari hadapannya, secarik kertas lusuh yang basah oleh tetesan gerimis—
Di antara banyaknya tulisan, terdapat sebaris kalimat yang memiliki tinta paling tebal
“…tidak terdapat kecocokan genetik…”
“…bukan ayah biologis…”
Kalimat itulah yang menghancurkan Aluna secara tiba-tiba.
Karena ia tahu… ini berarti satu hal.
Dan entah kenapa—
jawaban itu tidak membuatnya lega.
Justru membuatnya semakin takut menghadapi kenyataan yang lain.
Ia berbalik perlahan dari posisi meringkuknya, matanya kosong menatap langit-langit kamar.
Tangannya mengelus perutnya,
Kalau begitu.. ini anaknya.
Pikirannya mulai berusaha mengingat-ingat kembali potongan masa lalu bersama seseorang.
Arka Mahendra..
Ucapnya lirih.
Sesaat kemudian, ia teringat akan yacht—
Momori yang membuatnya terluka.
Yacht.. tengah malam.. dia memaksaku.
Ia memaksa dirinya untuk mengingat. Namun setiap bayangan yang muncul justru membuat matanya meredup, napasnya tertahan, seolah ingatan itu terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Dia membuka matanya, menarik nafas panjang.
Ia mulai menghitung dengan jari-jarinya, perlahan dan ragu. Setiap angka terasa berat, seolah semakin mendekatkannya pada jawaban yang ia takuti.
Satu bulan lebih..
Kejadian itu.. sudah satu bulan lebih, berlalu.
Dadanya berdegup semakin kencang.
Lalu.. usia janin ini..
Ia menelan ludah.
Sudah empat Minggu..
***