"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jembatan Cinta Yang Terbangun Kokoh
...*TIGA BULAN KEMUDIAN, TAMAN SUROPATI. 07.00 WIB*...
Pagi ini lebih dingin dari biasanya. Langit kelabu, tapi tidak menurunkan hujan. Nerrisha tiba dengan coat krem dan syal biru muda. Di tangannya, dua paper cup kopi. Ia sudah menunggu di bangku kayu yang sama.
Nicholas datang tepat waktu. Kemeja abu-abu, celana bahan, tanpa dasi. Ia duduk, menerima satu paper cup dari Nerrisha.
“Pagi, Mas,” sapa Nerrisha. Suaranya lebih tenang, lebih dewasa. Dua tahun bekerja membuatnya tahu cara menata emosi.
“Pagi, Ner,” balas Nicholas.
Sejak go live proyek pertama dan Nerrisha resmi jadi Business Analyst, Nicholas mulai memanggilnya Ner. Pendek, hangat, dan hanya untuk dia. Nerrisha suka. Rasanya seperti rumah.
Nerrisha menyesap kopinya. “Tinggal satu minggu lagi, Mas. Satu tahun yang Papa minta...”
Nicholas mengangguk. “Kamu siap?”
Nerrisha menoleh. Angin mengibarkan ujung syalnya.
“Aku sudah gak takut, Mas. Aku sudah gagal di sprint pertama, sudah dimarahi user, sudah begadang tiga hari karena bug produksi. Aku sudah tahu rasanya berdiri sendiri itu rasanya gimana...”
Nicholas tersenyum. “Lalu?”
“Lalu aku sadar satu hal,” lanjut Nerrisha. Ia menatap Nicholas lekat.
“Setiap kali aku pulang dari kantor, kepala penat, yang aku cari bukan kasur. Yang aku cari cerita untuk Mas. Setiap kali aku berhasil, yang aku ingin kabari pertama kali bukan Mama, tapi Mas...”
Hening. Hanya suara daun angsana bergesekan.
“Mas,” Nerrisha meletakkan paper cupnya.
"Dulu Mas bilang, Mas mau nunggu sampai aku puas melihat dunia luar yang luas. Aku sudah lihat, Mas. Dunia kerja, dunia kegagalan, dunia kebanggaan. Dan di semua dunia itu, aku selalu ingin Mas ada...”
Nicholas tidak langsung menjawab. Ia menggenggam paper cupnya erat, menahan debar yang sudah ia latih setahun untuk bersabar.
“Jadi?” tanyanya pelan.
Nerrisha tersenyum. Air matanya jatuh, tapi bukan air mata keraguan.
“Jadi, kalau Mas masih mau, aku mau menutup buku harian setiap malam dengan nama Mas di halaman terakhirnya. Sampai tua nanti...”
Nicholas menghela napas panjang. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan. Bukan untuk menggenggam, tapi untuk membantu Nerrisha berdiri.
“Sabtu depan, Ner,” ucapnya.
“Mas datang dengan Papa mas. Bawa cincin. Bukan karena deadline Papa kamu sudah habis. Tapi karena deadline hati Mas sudah tidak bisa ditunda lagi...”
Nerrisha berdiri, menaruh tangannya di atas tangan Nicholas. Genggaman pertama setelah satu tahun hanya saling menguatkan lewat kata.
“Ok, Mas. aku tunggu di rumah. Bersama dengan Mama, dan Papa...”
...****************...
...*Sabtu Sore, Seminggu Kemudian. Mansion Adiwangsa.*...
Meja makan panjang sudah ditata. Tidak ada prasmanan, tidak ada tamu lain. Hanya dua keluarga.
Pak Chakra duduk di kepala meja, Mama Shanty di sampingnya. Pak Adinatha dan Bu Ningrum duduk di seberang.
Nicholas dan Nerrisha duduk berdampingan, untuk pertama kali tanpa jarak satu jengkal.
“Jadi,” Pak Chakra membuka suara setelah teh melati tersaji.
“Satu tahun sudah terlewatkan, Nak Nicholas...”
“Sudah, Om,” jawab Nicholas. Ia mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku jasnya, meletakkannya di meja, belum dibuka.
"Dan saya menepati janji. Saya datang dengan Papa saya, bukan dengan sembunyi...”
Pak Adinatha mengangguk. “Pak Chakra, Bu Shanty. Kami datang hari ini bukan untuk melamar terburu-buru. Kami datang untuk meminta izin. Izin untuk menjaga Nerrisha, dengan cara yang benar, di hadapan keluarga...”
Pak Chakra menatap putrinya. “Ner, kamu yakin?”
Nerrisha menoleh ke Nicholas, lalu ke papanya.
“Yakin, Pa. Ner sudah lihat dunia. Dan Ner memilih pulang ke orang yang sejak awal menyuruh Ner pergi dulu...”
Mama Shanty menggenggam tangan suaminya di bawah meja. Pak Chakra terdiam lama. Lalu ia mengambil kotak beludru itu, menyerahkannya kembali ke Nicholas.
“Buka. Pakaikan ke anak saya. Tapi ingat, Nak. Cincin itu bukan belenggu. Itu hanya sebagai sebuah pengingat. Kalau suatu hari nanti kamu membuatnya menangis bukan karena bahagia, Saya yang pertama kali ambil kembali dia dari sisimu...”
Nicholas mengangguk. Tangannya gemetar saat membuka kotak. Cincin emas putih dengan mata kecil akan ia sematkan ke jari manis gadisnya itu. Ia menoleh ke Nerrisha.
"Ner, mau kamu jadi rumah untuk Mas pulang?”
Nerrisha mengulurkan tangan kirinya. “Mau, Mas. Sejak di Taman Suropati setahun lalu pun aku sudah siap...”
Cincin itu melingkar sempurna di jari manis Nerisha. Pas, seperti semua penantian yang akhirnya menemukan tempatnya untuk pulang.
Pak Adinatha berdiri, menjabat tangan Pak Chakra.
“Mulai hari ini, kita akan menjadi besan, Pak...”
Pak Chakra membalas jabatan itu, kuat dan tulus. “Iya, Pak Adinatha. Jaga anak kita sama-sama...”
Di sudut ruangan, Mama Shanty dan Mama Ningrum berpelukan, berurai air mata.
...****************...
...*Malam Hari. Balkon Kamar Nerrisha.*...
Nerrisha bersandar di pagar, menatap cincin di jarinya. Nicholas bersandar di sampingnya. Tidak ada kata, hanya langit Bintaro dan bintang yang sama dengan malam di Karang Bolong dua tahun lalu.
“Mas,” bisik Nerrisha.
“Terima kasih sudah tidak terburu-buru...”
Nicholas merangkul bahunya, hati-hati. “Terima kasih juga kamu sudah tidak menyerah begitu saja, Ner...”
Dua tembok telah runtuh. Jembatan telah selesai. Bukan karena mereka melompati jurang, tetapi karena mereka sabar menyusun bata berupa kejujuran, waktu, dan keyakinan bahwa cinta yang baik tahu kapan harus menunggu dan pulang pada tuannya. Dan esok, mereka mulai berjalan di atasnya. Bersama dalam satu iringan yang sejalan, sehati,seirama dan sepikiran.
BERSAMBUNG!!! ⭐🌟🌠
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris