NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Rasa Ingin Melindungi

Interior mewah dari sedan hitam ini termyata cukup nyaman bagi Kharisma. Meskipun sejak tadi bibirnya sudah gatal ingin melontarkan pertanyaan pada Prabujangga, ia memaksakan diri untuk tetap diam. Dia sudah berjanji pada Prabujangga untuk tidak cerewet lagi.

Tapi jika Prabujangga bersikap seperti ini, bagaimana mungkin ia bisa tenang? Kenapa suaminya itu tampak tidak senang padahal berita kehamilan yang telah dia tunggu-tunggu telah tiba? Dan kenapa tiba-tiba Prabujangga ingin membawanya ke rumah Mama dan Papa?

"Kenapa diam saja?"

Kharisma buyar dari lamunnya saat suara Prabujangga terdengar. Ia menoleh, menatap suaminya yang sedang sibuk menyetir.

"Letakan tasnya di belakang, kamu membuat anak saya tidak bisa bernapas jika seperti itu."

Kharisma mengangkat tangannya saat Prabujangga meraih tas selempang di pangkuannya. "Tidak bisa bernapas? Tapi kan tasnya kecil, Mas." Kharisma mengerjap.

"Saya tidak peduli kecil atau besarnya." Prabujangga mengendikkan bahu, meletakkan tas itu ke jok belakang.

Kharisma menghela napas, bibirnya sedikit cemberut saat memproses kata-kata Prabujangga. Memangnya bayi bisa sesak jika ia memangku tas yang ringan seperti itu?

"Saya bertanya pada kamu, kenapa diam saja?" Prabujangga menghela napas. "Biasanya bawel sekali jika berada di dalam mobil seperti ini."

Mobil berhenti saat lampu lalulintas berubah merah.

"Umm... kan aku sudah mengatakan pada Mas Prabu kalau aku mau berubah. Aku tidak mau buat Mas marah lagi," ucap Kharisma, tubuhnya bergeser untuk bersandar nyaman pada jok. "Mas suka tidak?"

Prabujangga terdiam. "Suka apa?"

"Suka kalau aku diam seperti tadi," jawab Kharisma tersenyum. "Aku cuma akan bicara kalau Mas bertanya."

Kharisma memperhatikan reaksi Prabujangga. Matanya mencari-cari kepuasan di wajah suaminya. Setidaknya menjadi penurut akan membuat Prabujangga berhenti kesal padanya, kan?

"Saya suka jika kamu diam," guman Prabujangga, namun tumbuhnya terlihat menegang. "Tapi jujur saja, wajahmu terlihat jelek jika hanya diam seperti itu."

Kharisma membelalakan mata. "Jelek?" ulangnya tak terima, tapi Prabujangga mengabaikannya dan menginjak pedal gas lagi. Bahkan laki-laki itu terlihat tersenyum tipis mendengar protesnya. "Apa maksud Mas Prabu mengatakan aku jelek? Aku ini selalu cantik!"

Kharisma memberengut kesal, tangannya bersedekap. "Aku sudah mau menurut dan ingin berubah agar Mas tidak marah-marah, tapi Mas malah mengatakan kalau aku jelek."

Kharisma membuang muka, alih-alih menatap ke depan atau ke wajah suaminya yang tampan, ia lebih memilih memandangi gedung-gedung pencakar langit yang membosankan. Siapa juga yang tidak kesal dikatai jelek seperti itu?

"Begitu terlihat jauh lebih baik," Prabujangga berceletuk santai. "Bibirmu memang cocok manyun-manyun seperti itu."

Kharisma menoleh tajam. "Jadi Mas lebih suka kalau aku mengomel seperti ini? Mas mau kalau telinganya aku buat panas karena aku cerewet lagi?"

Prabujangga menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang menyebalkan. "Sepertinya begitu."

Kharisma mendengus sebal. Apa yang sebenarnya suaminya ini mau? Kemarin mengatakan bahwa dia muak dengan sikapnya yang seperti ini, tapi sekarang berbeda lagi.

"Tidak tau, ah, Mas Prabu menyebalkan sekali." Kharisma menekuk muka, bergeser lebih jauh hingga tubuhnya nyaris menempel pada pintu mobil.

Tapi tiba-tiba, Kharisma terbelalak saat dia merasakan tangan Prabujangga melingkari pinggangnya dan menariknya mendekat.

"Ingin jauh-jauh sekarang? Bukannya kemarin kamu menangis di kamar mandi karena ingin menggunakan sabun saya? Suka dengan aromanya?" Jari-jari Prabujangga merentang, menapak pada perut Kharisma dengan lembut. "Seharusnya kamu menggunakan kesempatan ini, aroma sabun itu menempel di tubuh saya."

"Menggunakan kesempatan apa, ya? Aku tidak mengerti." Meskipun kesal, Kharisma sama sekali tidak berusaha menjauh dari kekangan suaminya.

Seringai Prabujangga semakin lebar, bahkan dia terlihat berusah payah untuk mempertahankan raut datarnya meskipun gagal total. "Maksud saya..."

Kharisma dibuat kebingungan saat tiba-tiba Prabujangga menepikan mobil ke sisi jalan. Mesin tiba-tiba dimatikan.

"Kenapa mobilnya—Mas!"

Kharisma memekik kaget saat Prabujangga tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukannya di atas pangkuan. Punggungnya menekan stir cukup keras.

"Maksud saya seperti ini," bisik Prabujangga, tangannya bergerak di belakang punggung Kharisma untuk menghalangi stir. "Anak saya sedang menyukai aroma ayahnya, seharusnya kamu merengek untuk dekat-dekat dengan saya."

Kharisma terbelalak, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang mendengar ucapan Prabujangga. Sejak kapan suaminya itu tiba-tiba bersikap seperti ini? Apakah karena ada adik bayi di dalam perutnya?

Kharisma memejamkan matanya saat Prabujangga dengan lembut menekan kepalanya hingga terbenam di ceruk leher laki-laki itu. Kharisma menghirup rakus, aroma favoritnya beberapa hari terakhir ini memenuhi indranya. Kharisma tidak tau kenapa ia tiba-tiba suka sekali dengan aroma ini. Aroma suaminya.

"Mas Prabu... harum sekali."

...***...

"Letakan di sini saja, nak."

Prabujangga melangkah masuk ke dalam kamar saat Isabella—ibu Kharisma, membukakan pintu untuknya. Dengan Kharisma yang terlelap nyaman di gendongannya, Prabujangga perlahan mendaratkan tubuh istrinya ke atas ranjang empuk dengan seprei merah muda. Senada dengan aroma manis yang memenuhi kamar.

"Aduh... dasar manja sekali anak Mama ini," Isabella berucap lembut, kekehan hangat lolos dari bibirnya begitu melihat Kharisma yang memeluk erat leher Prabujangga. "Lepaskan dulu, kasihan itu suami kamu."

Isabella hendak membantu melepaskan tangan Kharisma di leher Prabujangga, tapi perempuan itu mengerang kesal dan menolak. Alih-alih lepas, justru semakin lengket.

"Mas Prabu..."

Prabujangga menahan senyum.

"Sudahlah Ma, biarkan saja. Bagus kalau manja seperti itu dengan suaminya," Dewandanu—ayah Kharisma yang mengintip di ambang pintu berdecak. "Berbeda dengan mamanya, sekarang di peluk saja sudah tidak mau."

"Papa..." Isabella melemparkan tatapan peringatan.

Prabujangga menggeleng pelan. Ia merasa bahwa hawa di rumah ini jauh berbeda dari rumahnya. Kehangatan yang menyambut bukanlah berasal dari para pelayan yang memang dibayar tanpa ketulusan seperti di rumahnya. Di sini, kedatangannya langsung disambut hangat oleh kedua mertuanya.

Prabujangga sedikit memundurkan wajahnya, menatap wajah damai Kharisma yang begitu pulas tanpa menyadari di mana sekarang dia berada. Setelah lima menit berpelukan di dalam mobil, tiba-tiba saja perempuan itu tertidur.

"Maaf ya, nak, kalau Kharisma banyak menyusahkan kamu," Isabella berucap pelan, tangannya mengelus surai panjang putrinya yang tergerai. "Di sini dia terbiasa dimanjakan, semua keinginannya selalu dituruti. Maaf jika dia banyak menuntut pada kamu."

Prabujangga terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ini sudah menjadi tanggungjawab saya sebagai suaminya," jawabnya pelan, namun tegas. "Memastikan kebutuhannya terpenuhi adalah tugas saya."

"Tuh denger, menantu aku itu yang bicara," Dewandanu kembali menyahuti, laki-laki tua itu bersedekap dan bersandar pada tembok.

Isabella mencebik. "Memangnya menantumu saja? Ini menantu aku juga," balasnya, dengan tangan menepuk bahu Prabujangga.

Senyum tipis terukir di bibir Prabujangga. Cara berinteraksi Dewandanu dan Isabella terkesan sangat akrab dan terbuka, sesuatu yang tidak ia dapati pada kedua orang tuanya yang lebih banyak bersandiwara.

Prabujangga melirik ke tangan Isabella di bahunya, kehangatan terasa hingga ke pusat dadanya.

Mungkin inilah yang membuat Kharisma tumbuh menjadi wanita manis yang begitu polos dan penurut, karena dia tumbuh diantara kemurnian, bukan di tengah-tengah perang dingin yang kotor sepertinya.

"Sudah, sudah, biar mereka beristirahat dulu." Dewandanu mendekat, lantas mengelus rambut Kharisma yang masih menempel manja di tubuh Prabujangga. "Nanti setelah ini kamu susul Ayah ke bawah ya, Prabu. Kita bisa mengobrol sebentar tentang putri manja saya ini."

Prabujangga mengangguk.

"Ayo, nanti saja mengobrolnya, tunggu tuan putri itu bangun dulu." Dewandanu meraih tangan isabella dan menuntun istrinya itu keluar dari kamar.

Kini, yang tersisa hanyalah Prabujangga dan Kharisma.

"Pantas saja kamu tumbuh menjadi perempuan bawel seperti ini, ternyata kamu benar-benar diperlakukan layaknya seorang tuan putri," bisik Prabujangga, matanya tak pernah lepas dari wajah Kharisma yanh tertidur. "Sayang sekali kamu harus menikah dengan pria seperti saya."

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kini Prabujangga merasakan emosi yang tidak bisa ia pahami seperti ini. Apa sekiranya yang akan Dewandanu lakukan padanya jika dia tau bahwa putri kesayangannya hanya dimanfaatkan? Sebanyak apa pukulan yang akan laki-laki itu berikan padanya?

Prabujangga perlahan-lahan melepaskan lengan Kharisma dari lehernya. Gerakannya begitu hati-hati saat merebahkan tubuh istrinya pada ranjang.

Prabujangga menempatkan bantal untuk menyangga kepala Kharisma, lalu dua bantal lainnya di sisi-sisi tubuh perempuan itu untuk menahan agar dia tidak berguling-guling sembarangan dalam keadaan seperti ini.

Mata Prabujangga melirik turun, tepat ke arah perut datar Kharisma yang kini menampung kehidupan yang telah ia ciptakan.

"Padahal saya selalu berpikir bahwa perutmu ini terlalu kecil untuk menampung anak saya," gumamnya, dengan lembut mengelus perut Kharisma. "Siapa sangka bahwa itu benar-benar terjadi. Sekarang anak saya tumbuh di dalam sini."

Prabujangga merendahkan kepalanya, menempelkan bibirnya pada perut Kharisma yang dibaluti oleh gaun cerahnya yang khas.

Apapun yang terjadi, ia harus segera memutar otak agar ia bisa melindungi dua nyawa sekaligus. Ia tidak tau apa yang kakeknya inginkan, tapi jelas itu bukan suatu hal yang baik.

Bersambung...

1
partini
dihhh jangan jadi Kunti bogel yah no good,, bisanya kaya gitu sih jadi parno aku baca Nya
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!