NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:140
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: GHOST IN THE SPECTRUM

Ibu kota pasca-Keheningan Agung tampak seperti sebuah sirkuit listrik yang baru saja di-reset. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif kini bersinar dengan cahaya yang lebih stabil, namun kehadiran militer di setiap sudut jalan memberikan kontras yang mencekam.

Kai dan Elara masuk ke kota melalui jalur kereta bawah tanah yang sudah lama ditinggalkan, mengikuti navigasi cahaya emas yang terpancar dari telapak tangan Kai.

"Suara itu... kau yakin itu Ayahmu?" Elara berbisik, suaranya bergema di terowongan yang lembap. "Kai, sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk sebuah hantu bertahan dalam mesin."

"Aku tidak tahu apakah itu jiwanya atau sekadar sisa-sisa kesadaran yang terunggah," Kai berhenti di depan sebuah panel akses tua. "Tapi frekuensinya... frekuensi itu memiliki tekstur yang sama dengan sketsa-sketsa yang dia buat saat aku masih kecil. Ada 'cacat' manusiawi di dalam kodenya yang tidak bisa ditiru oleh AI mana pun."

Kai menempelkan tangannya pada panel baja itu. Simbol emas di kulitnya berdenyut, dan seketika pintu baja itu terbuka tanpa suara. Mereka masuk ke ruang bawah tanah gedung galeri tempat pameran pertama Kai seharusnya diadakan—tempat yang kini disegel oleh garis polisi dan sensor biometrik tingkat tinggi.

Di tengah galeri yang gelap, satu-satunya benda yang masih berdiri adalah kerangka proyektor Spektrum Biru yang telah rusak saat kejadian di sekolah seni. Namun, di mata Kai yang monokrom, proyektor itu tidak tampak rusak. Ia melihat pendaran data yang meluap dari mesin itu, membentuk siluet seseorang yang sedang duduk di kursi lipat di pojok ruangan.

"Kai..." suara itu bukan terdengar lewat telinga, tapi bergetar langsung di saraf pendengaran Kai. "Kau datang tepat waktu."

Siluet itu perlahan memadat. Itu adalah Malik, ayah Kai, namun dalam wujud yang aneh—tubuhnya terdiri dari ribuan baris kode cahaya yang terus bergerak.

"Ayah?" Kai melangkah maju, tangannya gemetar. "Bagaimana mungkin kau... di sini?"

"Aku tidak pernah benar-benar meninggalkan Lumina, Kai," sosok cahaya itu berdiri. "Saat kecelakaan sepuluh tahun lalu terjadi, aku menyadari bahwa tubuh fisikku tidak akan selamat. Aku menggunakan prototipe Spektrum untuk mentransfer pola neural-ku ke dalam jaringan utama gedung ini. Aku telah menjadi hantu di dalam mesin selama satu dekade, menunggu seseorang dengan resonansi yang tepat untuk mengaktifkan kuncinya."

"Tapi kenapa kau melarang kami ke biara?" tanya Elara, melangkah ke samping Kai.

"Karena biara itu bukan lagi tempat perlindungan, Elara," Malik menatapnya dengan tatapan digital yang sedih. "Konsorsium telah menempatkan 'Penyerap Spektrum' di sana. Jika Kai masuk, mereka akan menyedot habis energi emas di tangannya untuk menciptakan Spektrum Hitam yang sesungguhnya—senjata untuk menghapus emosi manusia secara total."

Kai mengepalkan tangannya. "Jadi, perdamaian yang aku rasakan di gunung tadi... itu belum permanen?"

"Itu hanya percikan, Kai. Dunia baru saja terbangun dari mimpi buruk, tapi mereka masih mengantuk. Sekarang, Konsorsium mencoba menggunakan namamu untuk menciptakan kedamaian yang palsu—kedamaian melalui peniadaan diri."

Malik menunjuk ke arah layar monitor besar di galeri yang tiba-tiba menyala. Di sana terlihat berita utama: *'Subjek Nol Dinyatakan Berbahaya – Pemerintah Siapkan Protokol Penstabilan Mental Global.'*

"Mereka akan menggunakan frekuensi yang kau buat untuk menidurkan dunia kembali," Malik memperingatkan. "Kecuali, kau memberikan mereka apa yang sebenarnya mereka takuti."

"Apa itu?"

"Warna yang tidak bisa mereka kontrol. Spektrum Merah—frekuensi keinginan dan kehendak bebas."

Kai tertegun. "Tapi Spektrum Merah itu berbahaya, Ayah. Itu bisa memicu kemarahan, gairah, dan kekacauan kembali."

"Benar," Malik mendekati putranya. "Tapi tanpa sedikit kekacauan, manusia hanyalah robot. Kau harus memilih, Kai: kedamaian yang sempurna namun mati, atau dunia yang penuh warna namun penuh tantangan. Aku tidak bisa menekan tombolnya. Hanya kau, yang pernah merasakan kegelapan dan cahaya, yang bisa melakukannya."

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari pintu utama galeri. Pasukan khusus dengan helm sensor khusus telah mendobrak masuk.

"Mereka di sini!" Elara bersiap dengan tabung frekuensinya.

"Kai, dengarkan aku," sosok Malik mulai berkedip-kedip tak stabil. "Gunakan simbol di tanganmu. Hubungkan dengan suara Elara. Jangan cari Putih, carilah Merah yang murni. Merah yang berarti 'aku ada'. Itulah satu-satunya cara untuk memutus kendali mereka atas jaringan ini."

"Ayah, tunggu! Kau akan ikut menghilang jika aku mereset jaringan ini!" teriak Kai.

Malik tersenyum, sebuah senyuman yang kini tampak sangat manusiawi di tengah debu digital. "Aku sudah mati sepuluh tahun lalu, Kai. Aku hanya tinggal untuk memastikan kau bisa melukis duniamu sendiri. Sekarang, lukislah!"

Sosok cahaya itu meledak menjadi ribuan partikel perak saat peluru-peluru sensorik mulai menghujani ruangan. Kai menarik Elara ke balik pilar batu.

Di tengah desingan peluru dan cahaya merah dari helm musuh, Kai menatap telapak tangannya. Simbol emas itu mulai berputar dengan sangat cepat. Ia menoleh ke arah Elara.

"Elara, aku butuh nada yang paling berani yang kau miliki. Bukan nada yang menenangkan... tapi nada yang membakar!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!