Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Jessica memundurkan langkahnya, menjaga jarak. “Aku tidak hancur sama sekali,” ucapnya dingin. “Justru kau… untuk apa datang ke sini? Apa tujuanmu hanya ingin menertawakanku?”
Holdie tersenyum tipis, seolah tidak tersentuh.
“Jessica… kita sudah lama berteman,” ujarnya lembut, namun sarat sindiran. “Aku merindukan masa-masa saat kita bersama… juga Adrian.”
Ia berhenti sejenak, matanya berbinar.
“Kebaikannya padaku… kelembutannya…” lanjutnya pelan, “membuatku semakin jatuh cinta.”
Tatapannya kembali ke Jessica—tajam.
“Sementara kau… sejak dulu diabaikan,” sambungnya tanpa ampun. “Dan sekarang? Kau bahkan bukan lagi nona besar. Hanya seorang yatim piatu yang kehilangan segalanya.”
Jessica menatapnya lurus.
Tidak ada air mata.
Tidak ada getaran.
“Bahagia atas penderitaan orang lain membuatmu merasa hebat?” ucapnya tenang, tapi menusuk. “Holdie Fu… kita tidak pernah dekat. Dan mulai sekarang… kita tidak perlu bertemu lagi.”
Suasana sejenak hening.
Tiba-tiba—
sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Pintu terbuka.
Nico dan Catty turun dengan tergesa, wajah mereka dipenuhi kecemasan.
“Jessica!” panggil Catty, mendekat cepat. “Kami datang menjemputmu.”
Nico berdiri di sampingnya, suaranya lebih berat.
“Papa dan mama akan dikremasi hari ini,” ucapnya pelan. “Kau harus hadir.”
Jessica terdiam.
Beberapa detik.
Tatapannya kosong.
Namun tanpa sepatah kata pun—
ia melangkah menuju mobil.
Melewati Holdie begitu saja, seolah wanita itu tidak pernah ada.
Catty langsung mengikuti di sampingnya, sementara Nico membuka pintu mobil.
Jessica masuk ke dalam.
Pintu tertutup.
Mobil itu pun perlahan bergerak pergi.
Meninggalkan Holdie sendirian di tempat itu.
Senyum di wajahnya perlahan memudar.
Tatapannya berubah dingin.
“Jessica Zhou…” gumamnya lirih.
Jemarinya mengepal pelan.
“Permainan ini… baru saja dimulai.”
“Kalau kau tahu kebenarannya… apa reaksimu?” gumam Holdie pelan, matanya menyipit. “Sayangnya… kebenaran itu hanya aku yang tahu.”
Senyumnya terangkat tipis.
“Dan Adrian Li… hakim terkenal itu,” bisiknya, “hanya akan menjadi milikku.”
***
Rumah duka.
Suasana dipenuhi kesunyian dan isak tangis tertahan.
Jessica tiba dengan pakaian serba hitam, berjalan di antara Nico dan Catty. Wajahnya pucat… langkahnya pelan.
Namun saat pandangannya jatuh pada dua peti di depan—
kakinya langsung melemah.
Dua peti itu terbaring berdampingan.
Dingin.
Tak bernyawa.
Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan.
Jessica melangkah mendekat… lalu—
jatuh berlutut di hadapan kedua peti itu.
“Pa… Ma…” suaranya pecah.
Tangannya gemetar saat menyentuh tepi peti.
“Maafkan aku… aku tidak bisa menyelamatkan kalian…” tangisnya semakin dalam. “Aku tidak ingin kalian meninggalkanku… kalian sudah berjanji…”
Napasnya tersengal.
“Kalian mengatakan akan melihat aku menikah… melihat aku bahagia… bahkan menggendong anakku…” suaranya bergetar hebat. “Tapi kenapa… kenapa kalian pergi secepat ini…?”
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
Ruangan itu dipenuhi kesedihan yang menyesakkan.
Nico menunduk, matanya memerah.
Catty menutup mulutnya, menahan isak.
Namun tidak ada yang berani mendekat.
Karena rasa sakit Jessica terlalu dalam.
Perlahan, Jessica mengepalkan tangannya.
Tangisnya belum berhenti… tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.
Amarah.
“Pa… Ma…” ucapnya lirih, namun penuh tekad. “Aku janji… pelakunya tidak akan bebas.”
Ia mengangkat wajahnya, air mata masih mengalir.
“JJ Zhou adalah pelakunya…” lanjutnya dengan suara bergetar. “Andai saat itu aku tidak pingsan… mungkin semua ini tidak akan terjadi…”
Gedung kehakiman.
“Hari ini kedua orang tua Jessica dikremasi,” kata Max pelan, nadanya berubah lebih serius. “Gadis itu hampir saja pingsan… sangat malang sekali.”
Adrian berdiri di dekat meja kerjanya, sementara Max berada di seberangnya.
“Lepaskan JJ Zhou,” titah Adrian tiba-tiba.
Max langsung mengernyit tajam. “Ha… lepaskan dia? Apa aku salah dengar?”
“Lakukan saja sesuai perintahku,” jawab Adrian dingin. “Aku tidak suka membuang waktu.”
Max melangkah mendekat. “Kau serius? Kita sudah susah payah menahannya.”
Adrian menatapnya lurus.
“Paksa dia mengaku dan vonis hukuman mati… itu cara yang paling cepat,” lanjutnya tenang, namun tegas.
Max terdiam sejenak.
“Apa lagi yang kau inginkan?” tanyanya, nada suaranya setengah menyindir. “Kubur hidup-hidup? Tenggelamkan ke laut?”
Adrian tidak terpengaruh.
“Aku akan menggunakan cara lain,” ucapnya pelan.
Max menyipitkan mata. “Ketika kau bicara seperti itu, aku menjadi sedikit cemas."
"Jj Zhou tidak layak hidup sebagai manusia," kata Adrian.
"Adrian, satu-satu caranya adalah membawa Jessica ke lokasi kejadian. Kata dokter bisa membuatnya ingat kejadian itu," ujar Max.
"Dan risikonya adalah Jessica tidak akan mampu menghadapinya," jawab Adrian.