Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan
Klub malam tersebut berdiri seperti dosa yang dibungkus cahaya. Lampu neon ungu dan biru memantul di dinding kaca, dentuman suara bass dari lantai utama terdengar samar sampai ke lorong privat di lantai dua. Di balik pintu berlapis peredam suara itu, Ethan sudah datang lebih dulu.
Ia mengenakan jas hitam sederhana tanpa dasi. Rambutnya di tata rapi, ekspresi wajah tampan tersebut tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa hari lalu berhasil melumpuhkan mereka —anggota Adrian.
Di atas meja sudah tersedia sebotol whiskey mahal yang tak ia sentuh. Pria berambut sebahu itu duduk bersandar dengan satu tangan di sandaran kursi dan satu lagi di pangkuan.
Nama yang ia gunakan malam itu bukan Ethan. Dan nama orang yang akan datang juga bukan Riven, mereka sengaja menyamarkannya.
Cklek!
Pintu terbuka tanpa ketukan. Suara langkah kaki terdengar ringan, namun penuh tekanan. Seorang pria masuk dengan setelan abu gelap seraya menyunggingkan senyuman, bukan senyum ramah tapi lebih seperti peringatan.
Klek!
Pintu tertutup kembali, mengurung dua orang asing dalam satu ruangan. Beberapa detik pertama, tidak ada yang berbicara. Mereka hanya saling menatap. Bukan sekedar melihat, tapi juga mengukur. Di dalam ruangan kedap suara itu aura mereka berbenturan tanpa suara.
Ethan tak berdiri menyambut, sementara Riven juga tak menawarkan jabat tangan. Keduanya paham, formalitas hanya untuk orang yang tak punya niat tersembunyi.
Tanpa dipersilahkan, Riven duduk di seberang Ethan, menyilang kan kaki dengan santai. Suara samar dentuman bass dari bawah terdengar seperti detak jantung yang diperkecil. Riven menuangkan whiskey untuk dirinya sendiri, lalu menyesapnya perlahan, tanpa melepas tatapan.
"Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?," tanyanya tiba-tiba.
Ethan menarik napas pelan. "Aku ingin menawarkan sesuatu. Riven tertawa kecil, tapi tatapannya jelas mengejek. Namun Ethan tak terpancing. "Aku sempat dikejar, oleh anggota Adrian," lanjut Ethan tenang.
Gelak tawa kecil Riven terhenti sepersekian detik,
Tatapan mengejek itu berubah, Ethan jelas bisa melihat dari raut wajahnya yang mulai waspada.
"Jika dia sampai bisa melacak keberadaan ku, artinya posisi orang itu semakin dekat," ujar Ethan serius.
Riven menaruh gelasnya pelan, lalu menyandarkan diri pada kursi, "jika memang semakin dekat, seharusnya kau sudah menghilang," ujarnya masih menatap remeh.
Ethan sedikit mencondongkan tubuh ke depan, "nyatanya orang yang kau pikir sudah menghilang itu, ada di di depanmu," balas Ethan penuh percaya diri.
Riven terdiam sejenak, tangannya tampak terlipat, kemungkinan besar apa yang dikatakan pria di seberangnya bukan hanya bualan semata. Bekas luka di pelipis serta bibir itu bisa menjadi bukti yang nyata. Namun ia masih ragu, baginya tidak mungkin orang yang seharusnya dilindungi bisa melakukan hal tersebut.
"Gunakan aku, jadikan diriku sebagai umpan."
Sekarang tatapan mereka benar-benar terkunci.
Kalimat tersebut membuat udara terasa lebih berat, masih dalam posisi yang sama, pria berjambang tipis itu kembali menatap ke arah pria di seberangnya, ia seperti melihat bidak catur yang tiba-tiba mengaku ingin jadi raja.
"Apa ini karena.."
"Tidak, justru tidak ada hubungannya sama sekali. Tujuanku hanya ingin hidup dengan tenang," potong Ethan. Ia tahu jika pembicaraan mereka akan berujung pada seseorang yang memiliki kaitan besar dengan semua ini —Serra.
"Jadi kalian putus?."
Ethan tidak menjawab, namun Riven bisa melihat dengan jelas raut kekecewaan tersebut. Ia kembali menyunggingkan senyum, tapi kali ini lebih tajam. Jemarinya mulai mengetuk meja dengan ritme yang sama.
"Bagaimana jika wanita itu menolaknya?," tanya Riven penasaran.
"Aku tidak peduli."
Itu serangan halus, dan Riven merasakannya. Entah apa yang ingin pria di seberangnya lakukan, namun yang jelas ia merasa tertarik. Ia tak lagi membahas hubungan mereka, pikirannya kini hanya tertuju pada hal-hal penting terkait dengan target utama miliknya, yaitu Adrian Vale.
Jika Ethan Hale benar-benar diincar, maka semakin mudah baginya untuk mengakhiri misi, dan keinginannya untuk naik lebih cepat bisa segera terwujud.
Riven mulai bangkit dari kursinya. Ia berjalan pelan ke sisi meja, lalu mendorong sekotak rokok dan korek api ke arah Ethan tanpa ada maksud dan penjelasan apapun, membuat pria di hadapannya merasa bingung sesaat. Namun setelah melihat kembali tatapan Riven, membuat Ethan tersadar. Tatapan itu seakan ingin menguji sekaligus menantang ketahanannya.
Ia mulai mengambil satu batang, lalu menyelipkannya di bibir. Api kecil menyala di ujung korek, memantul di mata mereka berdua.
Secara perlahan Ethan menghisapnya, asap mulai masuk dengan kasar ke paru-parunya. Pada dasarnya ia bukanlah perokok. Rasa panas mulai membakar tenggorokan, diikuti rasa sesak yang membuatnya hampir terbatuk. Namun ia berhasil menahannya walau dengan kedua mata yang sedikit berair.
"Fiuhhh.."
Ethan menghembuskan asap perlahan, tangannya sedikit gemetar namun nyaris tak terlihat. Tak sampai beberapa detik, ia kembali menghisap. Kali ini lebih dalam, rasa pusing mulai datang dengan cepat, tapi ia tetap tenang. Ia tahu jika Riven sedang memperhatikannya secara detail.
Ruangan tersebut kini dipenuhi aroma tembakau.
Beberapa saat kemudian, Riven mengambil kartu dari dalam saku jasnya. Sebuah kartu identitas sederhana, dengan alamat kantor yang tercetak jelas. Ia meletakkannya di meja.
"Besok, temui aku disini," ujar Riven.
Tidak ada kalimat lain yang terlontar dari bibir pria berjambang tipis tersebut, namun Ethan mengerti jika secara tak langsung dirinya telah mendapat persetujuan.
Riven mulai berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar, "jika kau mencoba bermain-main," ucapnya tanpa menoleh, "aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang."
Klek!
Pintu ruangan itu akhirnya tertutup kembali, meninggalkan Ethan seorang diri. Pria berambut sebahu itu mulai menekan ujung rokoknya ke dalam asbak. Sudut bibirnya mulai terangkat tipis.
"Umpan telah dilempar," gumamnya seraya mengepalkan tangan.