Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pagi itu kota masih diselimuti udara sejuk sisa hujan semalam. Jalanan belum terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan yang melintas malas di antara gedung-gedung tinggi. Rayhan memarkir mobilnya di depan sebuah kafe kecil langganannya, tempat yang biasa ia datangi ketika butuh waktu sendiri untuk berpikir.
Beberapa hari terakhir terasa melelahkan. Urusan perusahaan Samira, daftar karyawan yang harus diselidiki, serta bayang-bayang ancaman dari sisa-sisa orang Arga membuat kepalanya nyaris tak pernah benar-benar beristirahat. Ia hanya ingin secangkir kopi hitam dan setengah jam ketenangan.
Bel kecil di atas pintu berdenting pelan ketika ia masuk.
Aroma kopi yang baru digiling langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan. Musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara. Rayhan memilih duduk di sudut dekat jendela, tempat favoritnya, lalu memesan americano tanpa gula.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia menghembuskan napas panjang. Ia bisa merasa tenang, setidaknya untuk beberapa menit. Ia membuka ponsel, membaca beberapa surel pekerjaan, lalu menatap jalanan di luar jendela. Orang-orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing. Hidup tampak biasa saja.
Tetapi, tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya tanpa izin.
“Rayhan?” panggil perempuan itu lembut, ragu, tapi begitu familiar.
Jantungnya seperti tersentak. Perlahan, ia mengangkat kepala. Dan waktu seakan berhenti selama beberapa detik. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang, berpakaian rapi dengan coat terang dan sepatu hak rendah. Wajahnya terlihat lebih dewasa, lebih matang, tapi sorot matanya sama persis seperti yang ia ingat bertahun-tahun lalu.
“Christy,” lirih Rayhan, terkejut dengan kehadiran perempuan itu. Sudah bertahun-tahun mereka berpisah, dan saat melihatnya lagi setelah sekian lama, Rayhan seakan tak bisa mempercayai penglihatannya.
Rayhan berdiri tanpa sadar. Tangannya menegang di sisi tubuh.
“Christy? Bagaimana kau bisa ada di sini? Sejak kapan, m-maksudku, sejak kapan kau kembali?” tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum hangat yang dulu begitu akrab, senyum yang pernah menemaninya di masa-masa paling ceroboh dalam hidupnya.
“Aku sempat ragu itu kau,” katanya pelan. “Tapi mataku ternyata tidak pernah salah saat melihatmu.”
Rayhan masih terlalu terkejut untuk bereaksi wajar. Ingatan lama berkelebat begitu cepat, masa kuliah, mimpi-mimpi bodoh, janji-janji yang tak sempat ditepati, dan perpisahan tanpa penjelasan yang masih terasa pahit sampai sekarang.
“Aku tidak tahu kau sudah kembali,” ucap Rayhan akhirnya.
“Aku baru mendarat dua hari lalu,” jawab Christy ringan. “Ada urusan pekerjaan. Sekaligus memang ingin pulang, untuk menemuimu.”
Belum sempat Rayhan mencerna kalimat itu, Christy melangkah maju. Dan tanpa aba-aba, memeluk Rayhan.
Gerakannya cepat dan spontan. Lengan perempuan itu melingkar di punggung Rayhan erat, seolah mereka tak pernah terpisah selama bertahun-tahun.
Rayhan membeku di tempat. Tubuhnya kaku, kedua tangannya menggantung canggung di udara sebelum akhirnya terangkat perlahan, sekadar balasan sopan.
Aroma parfumnya terasa asing sekaligus familiar. Kenangan lama menyeruak begitu saja, membuat dadanya sesak.
“Aku benar-benar merindukanmu,” bisik Christy pelan.
Kalimat itu membuat Rayhan menegang. Ia bingung harus meresponnya seperti apa, karena hidupnya sekarang sudah jauh berbeda.
Beberapa detik kemudian, ia menarik diri pelan. Memberi jarak yang sopan.
Christy menatapnya, sedikit terkejut oleh sikap kaku itu.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku terlalu bahagia bertemu denganmu sampai tidak sadar kita sedang di tempat umum. Aku terlalu bahagia melihatmu lagi setelah sekian lama.”
Rayhan mengusap tengkuknya, canggung. “Tidak apa-apa. Aku tidak menyangka akan bertemu di sini.”
Mereka duduk berhadapan. Kopi Rayhan datang, disusul pesanan latte untuk Christy. Uap tipis naik di antara mereka, tapi suasana terasa lebih tegang daripada hangat.
“Aku dengar kau masih di kota ini,” ujar Christy. “Kupikir mungkin takdir memang ingin kita bertemu lagi.”
Rayhan tersenyum tipis, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Kepalanya terus memikirkan perempuan yang baru saja berjuang mempertaruhkan nyawanya, yang kini pelan-pelan membangun hidupnya kembali dan tanpa sadar sudah mengisi ruang paling tenang di hatinya.
Perasaan itu membuat dadanya terasa berat.
“Apa kabarmu selama ini, Ray?” tanya Christy lembut.
“Aku baik,” jawabnya singkat. “Banyak hal berubah.”
Christy menatapnya lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya. “Kau terlihat berbeda. Lebih dewasa dan juga lebih tenang.”
Rayhan tertawa kecil. “Hidup memaksaku begitu.”
Obrolan mereka berlanjut, ringan di permukaan, tapi penuh jeda-jeda aneh. Setiap kali Christy tersenyum terlalu dekat atau menatapnya terlalu lama, Rayhan merasakan keganjilan yang tak bisa ia jelaskan. Seolah masa lalu sedang mengetuk pintu yang sudah lama ia tutup.
***
Rayhan menarik napas dalam, pertemuan itu jelas membuatnya terkejut dan menimbulkan sesuatu yang tak biasa baginya.
“Ada apa denganmu, Rayhan? Tenangkan dirimu,” monolognya menyugar rambutnya asal.
Ia menarik napas panjang berkali-kali, entah mengapa pertemuannya dengan Christy membuatnya merasa bersalah pada Samira.
“Tidak, dia tidak seharusnya kembali lagi ke kehidupanku. Kisah antara aku dengannya sudah berakhir sejak bertahun-tahun yang lalu. Setelah begitu banyak usahaku untuk melupakannya, kenapa dia tiba-tiba kembali begitu saja?” Rayhan mengusap wajahnya kasar.
“Sialan!” makinya kesal pada dirinya sendiri.
Lalu, tiba-tiba, pintu rumahnya diketuk. Rayhan terlonjak kaget tetapi kemudian langsung membuka pintunya.
“Samira?”
Samira menoleh dan tersenyum lembut. “Kau baik-baik saja? Aku mencoba menghubungimu, tapi sepertinya ponselmu mati,” katanya, ekspresinya menunjukkan kecemasan, apalagi saat melihat pria di depannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Ray? Kau baik-baik saja, kan? Atau kau sakit?” tanya Samira lagi.
Rayhan mengangguk kaku, “Ya, aku baik-baik saja,” sahutnya singkat. Tetapi kemudian, Rayhan tidak bisa lagi menahan dirinya.
ia maju selangkah dan langsung memeluk Samira erat, seolah takut kehilangan perempuan itu.
Samira yang terkejut tak bisa berkata apa-apa, merasakan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
Perasaan macam apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang? pikirnya.