NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muncul lagi

CAPTER 29

MUNCUL LAGI

Sudah dua minggu sejak pemerasan pertama Boy tidak ada kontak lagi darinya. Hanis mengira sudah kelar urusan lantaran tidak ada lagi teror masuk ke ponsel. Sayang, dugaan itu salah besar. Ketenangan hati dan pikirannya kembali terusik.

Pagi ini sewaktu ia keluar dari kelas dan hendak bersantai ria di halaman

kampus sambil menunggu jam berikutnya yang jaraknya sekitar tiga puluh menit tiba-tiba ponsel Hanis berdering. Ia sama sekali tidak menaruh dugaan, sambil bercanda dengan Ika dan dua orang teman lainnya ia membuka chat. Bahkan mereka berdua juga menggoda Hanis, mengira itu tak lain adalah chat dari seorang pria yang Hanis ceritakan kemarin. Siapa itu yang diceritakan? Tentulah Andik

jawabannya meski Hanis tidak menyebut nama laki-laki itu.

"Penasaran aku Nis, sama cowok yang kamu bilang berbeda dan spesial itu?!" seru Hilma.

"Iya benar, aku juga! Yang katanya nyebelin tapi gangguin pikiran terus?!"

sambung Ratih.

“Kayaknya ini cowok emang beda dari yang lain ya?! Buktinya nyebutin nama aja nggak bersedia padahal kita nggak kenal!” sambung Hilma lagi.

Hanis tidak menanggapi, ia menoleh ke beranda chat. Dan, tersentak ia kala itu dari nomor asing. Jantung Hanis berdegup kencang seketika, suhu tubuh juga meningkat sehingga memproduksi keringat secara massal. Raut wajah Hanis juga merespo; berubah seketika. Ia yang tadi santai sekarang nampak terlihat serius dan memerah lantaran tegang. Ketiga temannya terutama penasaran apa gerangan yang membuat wanita cantik itu berubah seketika tapi tidak dengan Ika. Ika bahkan sudah mampu menebak mengenai chat itu datangnya dari siapa. Ia bergeser ke Hanis namun Hanis tidak berniat menunjukkan.

Ya, sebuah chat yang berisi sebuah video berdurasi tak lebih dari tiga puluh detik dikirim. Hanis tidak mendownload video itu melainkan mengabaikannya saja dan mematikan ponsel. Menyimpan ponsel pada kantong dalam tas dan bahkan memposisikan ponsel itu dalam mood senyap.

"Siapa Nis? Dari cowok nyebelin itu?!" tanya Hilma ingin tahu, menggoda juga.

“Diblas dong Nis, entar dia murka lagi!” sambung Ratih.

Hanis melempar senyum singkat, ia angkat bicara mengalihkan pembicaraan. Hilma protes, dibantu oleh Ratih tapi syukur Ika berada di kubu Hanis. Ia membantu Hanis mengalihkan pembicaraan.

Hingga kelas berikutnya yang ditunggu pun tiba, mereka berempat beranjak dari kursi di bawah pohon palm yang berjejer

rapi di halaman kampus. Di tengah lorong perbatasan antara jurusan keperawatan dan farmasi tak sengaja Hanis dan tiga orang temannya melihat Indah dan Joko sedang jalan berdua. Mereka terlihat akrab satu sama lain, Joko yang tak sengaja menoleh melihat Hanis memperhatikan dirinya dan Indah melempar senyum sebelum akhirnya mereka berdua berbelok dan tak nampak lagi.

"Itu tadi pak Joko kan?!" seru Ratih.

"Anda betul pak Joko dosen jurusan ilmu gizi!" sahut Ika.

"Mereka memang pasangan yang cocok ya!" imbuh Hilma.

Hanya Hanis yang tidak berkomentar, melihat keakraban yang ditunjukkan Indah teringat ia pada Ilyas. Sampai kini ia belum menceritakan hal itu pada Ilyas, "Secepatnya aku harus cerita," guman batin Hanis.

Dan pada akhirnya mereka

berpencar menuju gedung perkuliahan masing-masing mengingat jurusan mereka berbeda. Sebenarnya yang berbeda hanyalah Ika seorang, Hilma dan Ratih sama dengan Hanis berada di jurusan keperasawan Maternal.

Kampus dimana Hanisnkuliah merupakan sekolah tinggi di bidang ilmu kesehatan dengan tiga fakultas

yang ditawarkan yaitu fakuktas ilmu keperawatan, fakultas ilmu gizi dan

fakultas ilmu farmasi. Dan pada kelas berikutnya tersebut Hanis dan dua orang

temannya mengikuti kelas praktek.

 

Di waktu jam istirahat siang di tempat lain yakni di butik, Naura memanggil Angga; teringat ia akan rencana yang terlupakan.

"Angga, kalo sudah istirahat sama makan siang tolong ke ruanganku ya bentar!" kata Naura memerintah di sambungan telepon.

"Iya Nona!" jawab Angga singkat,

kemudian meletakkan lagi gagang telepon pada tempatnya.

Kala itu Angga berada di lantai atas, sedang santap siang bersama bawahannya sambil mencari keramaian agar menutupi kegaringan hatinya.

Tiba-tiba hal tak terduga yang tak pernah dinyana terjadi, Lisa yang nyaris

tidak pernah makan di kantin datang bersama dua orang karyawan butik yang kali ini berseragam warna merah. Mulanya Angga tidak memperhatikan baru setelah lengannya disenggol oleh Iwan, Angga menoleh.

"Tumben banget ya, ibu Lisa naik ke sini?!" guman Edo yang juga merasa seolah itu mimpi.

“Iya, mimpi apa dia semalam sampai-sampai bersedia makan

siang di sini?!” sambung Iwan.

Lisa bukanlah orang yang congkak sebenarnya, ia juga bisa akrab asal sudah saling kenal. Tapi di mata karyawan yang lain terlebih bagi karyawan di lantai tiga ia dinilai suka pilih-pilih dalam bergaul. Itu cukup beralasan karena ia memang tidak pernah kumpul bersama. Apalagi di luar tim nyaris tidak pernah, tidak seperti Angga yang bisa membaur dengan siapa saja meskipun di luar

tim.

"Pasti ada maksud dan tujuan nampaknya dia di sini?!" guman Iwan.

Telinga Angga yang tidak betah mendengarkan pembicaraan Iwan dan Edo akhinya memutar kepala, merujuk pada pandangan yang lain. Cukup terusik juga dirinya, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihat tapi itu nyata.

Pertama Angga hanya terpusat pada wajah Lisa saja, serta dua orang karyawan butik tapi saat ketiganya semakin dekat pandangan Angga tak sengaja  teralih ke bagian bawah. Kedua alis Angga mendadak kawin kala melihat sepatu yang dikenakan wanita itu.

"Setelah sekian lama, dipakai juga itu sepatu," guman batinnya dan teringat sewaktu ia menyerahkan sepatu tersebut.

****

Kala itu suasana tengah sibuk di butik, semua organ serta jasa pindahan mengemasi semua yang ada di butik. Disaat kesibukan itu Angga yang

teringat dengan sepatu yang ia simpan di bawah meja berlari ke atas sebelum mereka semua lanjut pada lantai dua butik. Sebenarnya semua miliknya sudah ia bereskan tapi tidak dengan paperbag itu yang terlupakan.

Tangan Angga menyambar paperbag tersebut kemudian diletakkan di atas meja. Sebelum menyerahkan pada Lisa ia mengecek kembali khawatir bandrol harga masih tertera atau nota pembelian terselip di sana. Sungguh memalukan jika itu sampai terjadi,

pastilah wanita itu akan menertawakannya juga, pikir Angga.

"Kayaknya udah nggak ada," guman Angga saat tidak menemukan sesuatu yang tertinggal.

Kemudian, ia berjalan menuruni tangga dengan tenang, tidak bersikap menjolok agar Naura tidak memperhatikan dirinya serta apa yang ia tenteng di tangan. Dalam diam Angga kembali berbaur seperti yang tadi, ia menunggu celah untuk memberikan kantong tas itu pada Lisa.

Tiba-tiba ponsel Naura berdering, longgar hati Angga begitu mendapat kesempatan. SaatnNaura menerima telepon dan menjauh dari sana Angga menggunakan kesempatan itu,

ia mendatangi Lisa yang sedang mengatur pengemasan gaun dan dress agar tidak mengalami kerusakan.

"Lis," panggil Angga rendah., terdengar

ragu-ragu pula.

Lisa menoleh, kedua alisnya menyatu

memperhatikan Angga yang berada di dekat dirinya. Sepertinya ia tidak senang

tapi Angga mana peduli, ia terus menghadap dan menyodorkan kantong tas itu pada Lisa.

"Apa ini?!" tanyanya seolah menaruh kecurigaan saja padahal tangannya mengambil kantong tas tersebut.

"Itu sepatumu yang rusak aku ganti! Sorry agak telat ngasihnya!" kata Angga dan berlalu setelah selesai berucap.Tanggapan Lisa jelas tidak penting, terlebih ia tidak mau ketulusannya mengganti hanya mendapat cemooh saja dari wanita yang senantiasa memandang

sebelah dirinya.

"Aku pikir dia udah lupa yang mau

ganti?!" gumannya dan berbalik badan.

Naura datang lagi, ia melangkah mendatangi Lisa dan karyawan butik untuk memeriksa dress yang mereka kemas, memastikan saja. Melihat kantong tas di tangan Lisa, mulut Naura gatal untuk takbertanya, "Apa itu Lis,

yang di tangan?!."

Lisa menoleh, cukup kaget juga dia dengan pertanyaan itu. Sesaat Lisa menurunkan pandangan mata, mengarah pada kantong tas di tangan mencari jawaban apa yang akan diberikansebelum terangkat lagi dan menjawabnya.

"Oh ini ... Kapan hari saya beli sepatu Mba! Lupa di simpan di meja!" kata

Lisa enggan berterus terang.

****

Pandangan Angga terus mengarah pada mereka meski tidak benar-benar memperhatikan, Iwan yang tak sengaja menangkap itu menepuk pundak Angga. Menyadarkan laki-laki itu dari ingatannya sesaat.

"Pak," ucap Iwan.Angga tersentak,

seketika tiga orang itu tercampakkan dari pandangan Angga.

Kembali, Angga menikmati waktu santainya bersama Iwan dan Edo di meja tak jauh dari Lisa dan dua orang

butik duduk.

Ingin tahu bagaimana Lisa bisa makan siang di kantin? Ya, itu karena Lisa tidak jadi makan siang dengan Rian seperti biasanya. Tiba-tiba saja Rian menelepon, minta maaf tidak bisa menjemput untuk sekedar makan siang karena ia memiliki urusan yang mendesak. Lisa yang sudah bersiap

pergi sedikit kecewa, Meri dan Mayang

yang tak sengaja mengetahui mencoba mengajaknya makan bersama. Pada

akhirnya ia menyetujui ajakan dua karyawan butik itu untuk makan siang di kantin.

"Makan apa Mba?!" tanya Mayang setelah mereka menemukan kursi kosong.

"Apa ya?!" seru Lisa bingung.

Meri menunjuk pada daftar menu yang terpajang di benner, Lisa mulai memperhatikan semua daftar menu makanan dan juga minuman yang tersedia.

"Soto daging sama teh botol dingin aja minumnya!" kata Lisa setelah melihat semuadaftar menu.

"Ok, saya pesankan dulu! Mayang,Kamu

pesan apa?" tanya Meri.

Tidak selama Lisa menentukan pilihan Mayang lekas menunjuk pada baris nomor dua sambil mengucapkannya. Meri pun beranjak dari kursi menuju petugas kantin untuk memesan makan siang.

Di meja yang lain kelompok Angga masih memperhatikan, mereka juga berdiskusi rendah alias sedang membicarakan Lisa dan juga dua orang yang datang bersamanya.

"Kenapa ya kebanyakan anak-anak di bagian penjualan itu dandanannya nggak ngalahi model?! Padahal mereka ya pakai seragam, sama kayak kita!" seru Edo memperhatikan cara berdandan Mayang dan juga Meri, serta karyawan di butik yang lain yang juga berada di sana.

"Kita kan meski pakai seragam cuma atasannya saja, kalo seragam mereka berbeda ... Mereka itu dandan biar pengunjung itu bisa betah, nggak bosan buat balik lagi!" kata Iwan menjawab.

"Iya aku ngerti, kalo showroom mobil kan pengunjungnya banyak yang cowok wajar berpakaian super cantik, pengunjung butik ini kan banyak dari kalangan hawa ... Ya meski tak jarang kaum pria juga datang!" sahut Edo menimpali jawaban Iwan.

"Itu namanya strategi pemasaran, kalo karyawannya gembel sementara yang dijual berkelas mana ada pengunjung datang?!" kata Angga ikut menanggapi.

“Tapi Pak, rasanya kayak berlebihan gitu ... padahal seragamnya sudah berbeda, apalagi soal modelnya nggak ngalahi pramugari!” bantah Edo masih tidak sependapat.

“Kamu ini, itu strategi pemasaran! Termasuk pada pelayanan juga ... orang yang datang pas lihat karyawannya berpenampilan bagus dan rapi, senyum nggak pernah sirna mereka bakal merasa nyaman dan merasa diperlakukan dengan baik!” kata Angga memaparkan.

“Iya juga sih ... saya kao nyampek sini baru masuk lihat mereka jadi segar ini mata!” aku Edo pada akhirnya.

"Emm benarkah itu? Apa ada yang kalian naksir?!" imbuhnya.

Kompak Iwan dan Edo nyengir, memberi jawaban yang ambigu lewat gerak tubuh mereka. Angga melirik keduanya kemudian berucap lagi, memberi tantangan pada mereka berdua.

"Kalo ada yang kalian naksir buruan ditembak, entar keduluan orang!" ucapnya dan menyenggol lengan Iwan dan Edo.

Keduanya malah senyum-senyum, menambah geli Angga saja. Laki-laki itu mencondongkan tubuh ke depan dan menarik keduanya agar lebih merapat lagi.

"Siapa diantara kalian yang berani kenalan aku kasih traktir belanja," ucap Angga setengah berbisik.

Iwan dan Edo nampak antusias, mereka membetulkan posisi duduknya yang dirasa kurang nyaman. Sekali lagi Angga mengulangi ucapannya yang tadi bahkan kini ia menyebutkan jumlah yang akan ia berikan.

"Beneran nih,Pak?!" sahut Edo.

"Loh iya, tapi harus sekarang di depan aku langsung!" seru Angga menantang keduanya.

Iwan dan Edo merapat lagi, Iwan bersuara rendah, "Siapa ini yang lebih dulu, Pak?!" tanyanya.

"Emm ... Kalian pingsuit yang kalah harus maju lebih dulu," kata Angga memberi usulan.

Berikutnya mereka berdua semakin merapat, melakukan pingsuit di bawah meja agar tidak ketahuan oleh yang lain. Angga bertindak sebagai wasit, menentukan hasilnya. Pingsuit pun dimulai dan ternyata Iwan pemenangnya.

"Buruan sana!" ujar Iwan merasa di atas

angin, menyeringai pula.

Edo mengambil persiapan, ia membentulkan pakaian dan memeriksa penampilan lewat kamera ponsel. Berikutnya Edo bangkit dari kursi itu, melangkah gugup mendatangi Lisa dan dua orang karyawan butik berseragam warna merah dengan rambut disanggul rapi.

"Permisi," ucap Edo takut-takut.

Edo yang tadi sudah berjuang mengumpulkankeberanian kini malah membeku saat mereka bertiga sontak menoleh. Laki-laki itu sempat melempar senyum meski hanya singkat sekali, Lisa mengerutkan dahi menatap Edo yang berdiri di dekat mereka. Detik kemudian ia memalingkan wajah, sadar jika Edo berasal dari satu meja dengan Angga.

Lisa mengarahkan pandangannya ke meja Angga, sontak Angga tersenyum padanya. Lisa mana mungkin membalas senyum itu,yang ada ia cepat-cepat memalingkan muka.

"Maaf, ada apa ya datang ke meja kita?!" tanya Lisa dengan nada tak suka.

"Saya ... Saya cuma mau kenalan sama mba yang berkacamata ini," ucapnya dan menundukkan muka.

Mayang yang dimaksud juga sama menundukkan wajah, merona dia. Meri menggodanya, ia menyenggol lengan Mayang agar wanita itu terangkat mukanya. Nyali Edo kembali, ia mengulurkan tangan meski tidak segera disambut oleh Mayang. Sekali lagi Meri menggoda Mayang, meraih tangannya dan membantu wanita itu menyambut

uluran tangan Edo.

"Kenalin saya Edo," ucap Edo.

Mayang masih tertunduk malu meski tangannya sudah saling menempel. Meri kembali bertindak, ia mewakili Mayang menyebut nama wanita itu.

"Ini Mayang namanya, dia masih jomblo lho!" kata Meri menahan tawa.

Lisa yang kesal berderham agar Edo lekas enyah dari hadapannya. Ia bahkan melotot pada Meri agar wanita itu menarik tangan Mayang. Seketika wajah Meri jadi datar, tangannya menepuk tangan Edo agar terlepas.

"Dasar nggak tahu malu," umpat batin Lisa.

Saat Edo sudah berlalu Lisa langsung memasang muka acuhnya namun sebelum menyantap makan siangnya sekali lagi ia menoleh ke meja Angga. Memberi tatapan ganas seolah berniat menerkam mereka yang di meja itu.

Angga mana mungkin menanggapi, ia fokus menghabiskan makanan sebelum beranjak pergi lebih dulu dari kantin.

"Harap, diingat janjinya Pak!" kata Edo mengingatkan.

"Iya," sahut Angga singkat.

Kini giliran Iwan yang bersiap, ia sudah bangkit dari kursi namun ditarik oleh

Angga. Tanpa menoleh ia membuka mulut, menyuruh Iwan untuk duduk kembali. Terpaksa laki-laki muda itu berangsur kembali ke kursi. Dalam hati ia menggerutu lantaran tidak kebagian traktiran.

"Enak Edo Pak!" seru Iwan rendah.

"Jangan sekarang, kuntilanak lagi naik darah entar bisa-bisa Kamu ditelan mentah-mentah sama dia!" kata Angga memperingati.

"Terus kapan,Pak?!" tanya Iwan tak

sabar mendapat giliran.

"Kan ada besok, Bocah!" umpat Angga memarahi Iwan.

"Kalo gitu aku perhatikan dulu diantara mereka yang paling cantik," seru Iwan kembali bersemangat.

"Hmm ... aku duluan!" ucap Angga kemudian berdiri.

Ada satu hal yang ingin Angga selesaikan meski itu hanya lewat sambungan telepon. Setibanya di meja kerja ia langsung menghubungi temannya yang beberapa waktu lalu dimintai tolong.

"Gimana uda dapat?!" tanya Angga tidak sabar manakala telepon terhubung.

"Udah ... Ini aku ada dua barang, gimana kalo entar sore habis kerja Kamu lihat

barangnya sama aku?!" serunyamemberi jawaban.

"Ok, aku usahakan lekas ke tempatmu!" kata Angga.

"Harganya?!" imbuhnya lagi.

"Sama-sama di bawah dua ratus juta, tapi aku belum ngecek langsung!" jawabnya.

"Ohh ... Makasih bantuannya, aku usahakan pulang lebih cepat biar nggak

kemalaman!" kata Angga.

Selesai bicara lewat telepon ia beranjak

bangun, berjalan keluar dari ruang kerja untuk menghadap Naura. Sayangnya saat ia sudah mencapai ruang kerja Naura dan mengetuk pintu tadi sebelum masuk, orang yang dituju ternyata tidak ada di tempat.

"Yah kecepatan, Nona pasti masih di luar!" guman Angga dan terpaksa keluar dari sana.

Kembali, ia menuju meja kerja dan menyalakan komputer, tangannya sigap meraih mouse untuk membuka program Adobe. Ia berniat ingin membuat sebuah logo usaha yang akan ia rintis sambil menunggu waktu istirahat siang usai.

Kebingungan, Angga mencari contoh logo-loga usaha dari mbah google sebagai refrensi baginya mendapatkan ide.

“Sudah juga,” guman Angga yang memang tidak begiitu mahir

dengan program tersebut. Namun ia tidak mau menyerah, terus berusaha hingga pada akhirnya ia menyerah.

“Tunggu Nurul aja!” gumannya. Angga berniat meminta tolong karyawan IT khusus desain dan editing.

Jam kerja sudah kembali, semua karyawan yang sedang istirahat santai kini kembali ke ruang kerja masing-masing termasuk Lisa

dan juga karyawan butik yang lain. Naura datang sepuluh menit kemudian, ia masih singgah di lantai satu lebih dulu sebelum akhirnya naik ke atas menuju ruang kerja.

Sesampainya di meja kerja ia menghungi Angga, meminta laki-laki itu datang menghadap. Angga menyudahi pekerjaan, bangkit segera meninggalkan ruang kerja untuk menghadap. Masih seperti biasanya ia mengetuk dua kali pintu kaca sebelum masuk ke dalam.

"Ada apa Nona?" tanya Angga begitu berdiri di hadapan Naura.

Naura tidak menjawab, ia malah mengamati Angga dengan seksama. Laki-laki itu menjadi kikuk dan malu sendiri dibuatnya, ia menundukkan kepala menyembunyikan mukanya yang memerah.

"Angga, kenapa kamu nggak pelihara jenggot atau kumis?" tanya Naura menyentak Angga.

Laki-laki itu mengangkat kembali wajahnya saat itu juga. Bingung dengan pertanyaan yang diajukan Angga menuntut penjelasan lebih. Bukannya menjawab Naura malah berucap lagi.

"Mungkin tipis-tipis gitu! Jangan polos gini!" imbuhnya semakin nambah kebingungan saja.

"Maaf, kenapa Nona tiba-tiba nanya kayak gini?!" tanya Angga penasaran.

"Ya saya ini hanya berpendapat biar Kamu kelihatan lebih ganteng!" jawab Naura tidak memuaskan hati Angga.

"Oh ... Lantas apa tujuannya Nona manggil saya?" tanya Angga lebih penasaran.

"Oh iya, sebenarnya aku pengen minta bantuannya Kamu tapi...." kata Naura

tidak dilanjutkan.

"Tapi kenapa Nona?!" sambung Angga tidak sabar.

"Ya berhubung Kamu nggak pelihara kumis sama jenggot jadi saya nggak

yakin...." sahut Naura. Angga semakin penasaran, dahinya menyatu bersama

dengan kedua alisnya memperhatikan raut wajah Naura.

"Maksud Nona?!" seru Angga mendesak.

"Angga," ucap Naura terputus.

"Angga ... Carikan aku orang yang bisa mencukur kumis sama jenggot!" kata Naura mengungkapkan maksud dan tujuannya memanggil Angga.

"Cari orang yang bisa nyukur?!" seru Angga kaget, bingung dan tidak percaya.

"Iya ... Aku mau kursus!" sahut Naura yakin.

"Kenapa mau kursus mencukur?!" kejar Angga bertambah bingung saja.

"Ya biar bisa mencukur! Aku pengen dandanin suamiku nanti kalo pulang!" kata Naura bersemangat.

"Oh ... Soal yang kapan hari di telepon

itu Nona?!" kata Angga akhirnya lega juga.

"Iya itu maksud dan tujuanku, tapi ... Kamu mukanya rata kayak aspal so nggak yakin aku kalo Kamu bisa mencukur!" kata Naura setengah meledek Angga.

"Wah Nona ... Muka saya ini rata mulus, karena saya rajin mencukur!" sahut

Angga tidak terima.

Naura tersenyum lebar sebelum menjawabnya, "Oh ... Kalo gitu ajari aku mencukur dan bawakan orang yang bisa dibuat praktek sekaligus belikan peralatan untuk mencukur!" perintah Naura membuat Angga mengerutkan dahi.

"Rencananya Nona mau belajar mencukur itu kapan?!" tanya Angga.

"Emm ... Lebih cepat lebih bagus! Mungkin besok malam aku tunggu di rumah!" jawab Naura memutuskan.

"Ngerti saya Nona, khawatir kalo diundur-undur keburu abang Hasan datang!" goda Angga sebelum keluar dari ruang kerja Naura.

Naura tersipu, “Nah itu Kamu ngerti maksudnya,” ucap Naura.

Angga pun mait untuk kembali ke ruang kerja. Sesampainya di meja kerja Angga memanggil dua bawahannya yang paling akrab dengan dia, siapa lagi kalau bukan Iwan dan Edo. Keduanya saling menatap kebingungan sebelum bangkit dari kursi mereka yang bersebelahan dan menghadap Angga.

"Iwan, Edo kalian punya saudara cowok yang jenggotan gitu?!" tanya Angga

memancing tawa namun mereka berdua buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.

"Wah kalian ini nggak sadar diri lagi berdiri di hadapan siapa?! Gini-gini aku ini atasan kalian! Serius aku!" ujar Angga semakin membuat mulut mereka

kembung.

"Iya Pak, maaf...." ucap Iwan menundukkan wajah.

"Aku kasih waktu sampai jam sembilan malam, hubungi aku ada dan tidaknya!"

perintah Angga.

"Kenapa cari orang yang jenggotan Pak?!" tanya Edo penasaran.

"Buat percobaan," jawab Angga singkat.

"Ohh...." seru keduanya.

Namun cepat-cepat Iwan menambahkan, "Kalo cari yang jenggotan gampang Pak, apalagi buat percobaan!" ucapnya bersemangat membuat binar pikiran Angga.

"Wah langsung konek juga dirimua, ok berapa pun yang dia minta asal wajar aku sanggupi!" seru Angga langsung menyetujui.

"Ngapain dibayar Pak, tinggal kasih makanan pasti senang!" sahut Iwan.

Kedua alis Angga menyatu bersamaan dengan matanya yang menyipit, ia menaruh curiga.

"Jelaskan maksudmu ini dengan jelas?!" ucapnya mendesak.

"Kita cari orang gila yang di pelataran toko atau di trotoaraja Pak!" kata Iwan mengungkapkan usulannya.

Sontak saat itu juga Angga memarahinya, ia bahkan mengambil katalog edisi lama yang tergeletak di meja dan memukul lengan Iwan.

"Bisa-bisanya Kamu ngusulin orang gila?! Sudah sana balik ke mejanya!" ujar Angga berasa semakin dongkol.

Angga masih menggerutu meski dua orang bawahannya sudah kembali ke meja masing-masing. Bertambah dongkol dadanya, mana juga memikirkan Lusi yang hingga kini tidak menghubungi bahkan chat darinya

tidak dibalas.

"Punya bawahan otak sableng tambah bikin nggak mood aja!" gerutu Angga menyandarkan kepala yang terasa berat.

Tidak berputus asa tangan kiri Angga mengeluarkan ponsel dari saku kemeja, sekali lagi ia menghubungi Lusi yang hasilnya tetap sama, tidak bisa terhubung.

"Jangan seperti ini," gumannya meletakkan ponsel di meja.

Saat hati mulai kembali kondusif Angga menarik punggungnya dan duduk tegak, menyalakan komputer dan mulai fokus pada pekerjaan. Hal lain di luar

masalah pekerjaan tidak diijinkan memasuki rongga otaknya.

Sebelum jam pulang tiba Angga memberi pengumuman bagi bawahannya untuk briefing sebentar begitu jam kerja usai. Angga

membuka beberapa laporan yang akan dievaluasi saat bfriefing nanti, ia

mengambil selembar kertas kosong dari printer. Mencatat beberapa poin penting

dari laporan pekan ini mulai dari hasil penjualan, pemasaran serta jaringan.

Seolah terasa disetting saja, setelah selesai mencatat beberapa poin dari laporan jam kerja usai. Angga menghubungi ruang kerja Naura untuk memberitahu lady bosnya itu jika ia masih melakukan briefing sebentar, khawatir wanita itu menunggu.

Angga datang terakhir ke rumah rapat yang masih di lantai tiga, uang rapat

itu sendiri tak lain adalah ruangan kosong yang disekat dan dirancang sebagai ruang rapat. Berisi meja panjang, layar monitor touch screen dan kursi berjejer rapi.

"Maaf telat," ucapnya setelah mencapai kursi.

Sebelum dimulai rapat diawali oleh sambutan dan doa singkat saja sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dan Angga lah

yang memimpinnya. Berikutnya ia menyalakan layar monitor dan membuka laporan dari masing-masing departemen seperti pemasaran dan jaringan. Namun anggota yang ikut briefing tidak hanya karyawan IT saja, tiga admin juga turut hadir. Sehingga total semua yang ikut briefing sore itu sebanyak sembilan orang.

Setelah sambutan singkat Angga mulai membaca hasil laporan dari penjualan terlebih dulu, ia menyampaikan evaluasi dari laporan itu dan meminta penjelasan dari patugas yang menangani untuk

mendapatkan titik temu serta acuan dalam mengambil langkah dalam pesatnya persainganpasar online.

Terus ia memimpin rapat singkat tersebut dan memberikan masukan pada masing-masing departemen. Ia juga memberikan informasi terbaru mengenai rencana pengembangan bisnis.

"Insyaallah dua atau tiga bulan

lagi penjualan kita tidak hanya fokus pada fashion wanita saja tapi juga

fashion pria ... Tapi di tahap awal akan lebih fokus pada pakaian formal dan terbatas mengingat sejauh ini desain masih digarap penuh oleh Nona, mungkin nanti akan ada rencana untuk

mengambil partner. Dan yang pasti setelah semuanya ready akan menambah karyawan!" kata Angga menginformasikan hasil diskusinya dengan Naura kemarin.

"Pak, ada info lain?!" tanya Iwan memberanikan diri.

"Info lain? Sejauh ini belum ada!" jawab Angga mengerti akan pertanyaan yang

diajukan.

Briefing sore itu usai dan Angga cepat-cepat meninggalkan ruang rapat. Mengambil tas yang sudah tergeletak di atas meja kerja dan keluar dari ruang kerja itu. Ia tidak mampir dulu ke ruang kerja Naura, berpikir wanita itu pasti sudah keluar dan menunggu di lantai satu.

Sesuai dugaan Naura saat itu tengah berada di lantai satu dan duduk bersama Lisa, sedang membicarakan hal yang mungkin menyangkut bisnis. Begitu melihat sosok Angga muncul Naura menyudahi, ia pamit pada semuanya dan berjalan keluar. Tidak menunggu Angga mendekat padanya.

Angga yang mengira dirinya akan ditunggu berjalan mendatangi meja Lisa, lekas ia berbelok tak jadi mendatangi. Namun baru beberapa langkah menjauh Lisa berjalan menyusul dan menghentikan langkah kaki Angga.

"Tadi itu apa-apaan sama  bawahnmu? Pasti itu ulahmu kan?!" cerca Lisa langsung menuduh.

"Kalo iya kenapa? Aku hanya ngasih kesempatan bagi dia yang berjiwa muda! Nggak usah sok berkuasa, urusan hati itu bebas!" sahut Angga tidaksuka dengan cara pandang Lisa selama ini yang suka membeda-bedakan.

Seusai berucap demikian Angga tak lagi

menoleh, langkahnya lurus menuju pintu kaca; meninggalkan Lisa dengan kemarahan yang mencapai ubun-ubun.

Di luar Naura berdiri di dekat pintu mobil, melipat tangan dan mengamati Angga yang berjalan ke arahnya.

"Masih mampir dimana?!" tanyanya yang tidak sabar lantaran dibuat berdiri di luar mobil.

"Maaf Nona, di hadang kuntilanak,"

ucap Angga yang rendah di ujung kalimat.

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!