Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, Qinan namanya. Qinan adalah putri yang terbuang dan dibesarkan di panti asuhan. Kemudian Qinan diasuh oleh janda yang mempunyai satu anak.
Dipanti asuhan Qinan mempunyai sahabat lelaki dan perempuan yang bernama Tiara dan Zio. Qinan harus berpisah dengan sahabatnya karena mereka diasuh oleh orang tua angkatnya masing masing. Namun nasib Qinan berbeda dari sahabatnya, Qinan harus menghadapi konflik batin yang bertubi tubi dan Qinan harus merelakan kebahagiannya untuk menggapai impiannya. Hingga harus merelakan cita citanya demi membalas budi orang tua asuhnya. Meski berat, Qinan tetap mengabulkan permintaan ibu asuhnya untuk menikah dengan lelaki tampan dan kejam yang bernama Angga Wilyam. Meski Angga banyak dikagumi oleh wanita wanita cantik namun Angga tidak meresponnya. Angga tetap pada pendiriannya wanita hanya mencintai harta dan tahta bukan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbuh Rasa
Mentari pagi yang menghangatkan, suasana Panti riuh riuh seperti suara burung berkicauan, penuh riang dan juga semangat yang membara para pejuang masa depan. Siapa lah orang nya,tentu pemilik mimpi, yang terkadang hanya menjadi angan semata.
Dialah Qinan gadis kecil yang kini sudah tumbuh dewasa, penuh liku demi meraih angan yang diimpikannya.
Kini Qinan sedang sibuk di dapur untuk membuat sarapan pagi, dan juga akan bersiap siap mau pergi mengantar Suaminya untuk berobat.
Setelah semuanya tertata rapih di meja makan, Qinan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan mengajak Suaminya sarapan pagi, Namun Qinan dikagetkan dengan penampilan Angga yang membuat perasaan Qinan meleleh seperti coklat yang lumer.
"Heiii.. kenapa bengong, naksir? masuk lah dan segera mandi," Titah Angga heran melihat ekspresi Qinan.
Sedangkan Qinan hanya bengong dan menelan saliva nya karena melihat ketampanan Suaminya,dan Qinan dibuat kaget setelah mendengar penuturan dari Angga.
Benarkah ini suamiku, tampan sekali.. gumam Qinan tanpa sadar.
Angga hanya geleng geleng melihat ekspresi Qinan yang terlihat lucu.
Dasar wanita aneh, baru lihat orang setampan aku kali ya.. gumam Angga sambil geleng geleng.
Tanpa menghiraukan Angga yang berada di dekat tempat tidur, Qinan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Qinan keluar dari kamar mandi ternyata sudah tidak ada sosok Angga di dekat tempat tidur.
Untung lah dia sudah keluar duluan jadi aku bisa santai sebentar untuk memanjakan badanku. Paling tidak bisa merebahkan tubuh ku ini. Gumam Qinan.
Karena waktu terasa sudah cukup,lalu Qinan bersiap siap membawa keperluan untuk pergi mengantar Angga berobat.
Qinan pun langsung menuju meja makan dan memastikan jika Angga sudah menunggunya.
"Nak Qinan ayo sarapan, Suami kamu sudah menunggu lama loh," ucap Ibu Reni mengagetkan.
"Eeeh Ibu..." jawab Qinan spontan karena kaget. Qinan pun langsung melanjutkan bicaranya.
"Bu... Qinan kangen.... sekali dengan suasana sarapan bareng bersama yang lainnya," dan apakah Qinan boleh ikut bergabung dengan mereka?" tanya Qinan meminta.
"Boleh saja sih Nak... tapi asalkan Suami kamu mengizinkan." Jawab Ibu Reni.
"Boleh kok Bi, Angga juga mau ikut makan bersama dengan yang lainnya, sepertinya sangat menyenangkan karena bisa berkumpul bersama yang lainnya." Ucap Angga menimpali.
Qinan terasa diperdulikan oleh Angga,dan jantungnya pun terasa mau copot mendengar penuturan Angga yang sudah tidak seperti waktu lalu, entah ini drama atau tidak, Qinan menerima perlakuan Angga dengan baik. Fikir Qinan dalam lamunannya.
Qinan maupun Angga dan yang lainnya sarapan pagi bersama dengan anak anak lainnya, senyum yang dulunya hilang, kini Qinan terasa telah kembali lagi seperti masa masa menjadi gadis kecil.
Begitu juga dengan Angga,sikap dan prilakunya mulai melunak terhadap Qinan, dan rasa kesal pun mulai berkurang. Kini Angga sudah tidak pernah berhenti untuk memperhatikan sosok Qinan, karena yang sebenarnya Qinan adalah sosok anak yang begitu ceria dan suka menutupi kesedihannya demi orang orang yang disayanginya.
Rasa apa yang sebenarnya ada pada diriku ini padamu Qinan, kamu yang tidak pernah lelah ku perlakukan kasar, dan tidak pernah bosannya kamu berada disampingku. Meski aku ini lumpuh namun rasa percaya dirimu sangat lah besar,rasa malu mu terbungkus rapih dengan keistimewaanmu yang kamu miliki. Pantas saja Zio sangat menyukaimu, bahkan rasa ku ini kalah besar dengan perasaanmu. Mungkinkah hari hariku dengan Qinan tidak lah lama, dan secepat mungkin Zio lah pemenangnya. Gumam Angga sendu dan tidak lagi berani menatap Qinan, Angga pun segera menepis pandangannya ke sembarang arah,agar Qinan tidak memperhatikannya juga.
Setelah semua nya selesai, Qinan maupun Angga berpamitan untuk pergi ke suatu tempat yaitu tempat dimana Angga akan berobat untuk pemulihan kaki maupun tangan nya.
Dengan pelan Qinan mendorong kursi roda yang diduduki Angga untuk masuk ke dalam mobil.
Tidak terasa Qinan maupun Angga telah sampai di halaman tempatnya Angga akan berobat.
Dengan antrian yang sangat cukup lama, akhirnya Qinan mencoba untuk mengajak Angga berkeliling halaman klinik spesialis kelumpuhan agar tidak terlalu capek menunggu nomor antrian.
Setelah berasa capek dari jalan jalan mengelilingi halaman, Qinan mencoba melihat nomor antrian dan rupanya tidak lama lagi urutan nomor Suaminya. Perasaan Qinan yang tadi nya was was takut Suaminya bosan menunggu sangat lama dan ternyata perasaan Qinan menjadi lega dan tidak menunggu begitu lama, sebenarnya tidak perlu menunggu lama dalam antrian, cukup memberikan identitas Suaminya yaitu Angga pasti semuanya akan berjalan dengan lancar. tetapi Qinan tidak menyukai jika diperlakukan terlalu istimewa dan berlebihan hanya karena Harta maupun Tahta. Fikir Qinan.
Saatnya nomor urut yang dinanti nanti dan telah tiba waktunya memasuki ruangan, dan Qinan membawa Angga kedalam ruangan tertentu khusus pasien. Perasaan was was maupun gugup kini menghantui fikiran Qinan maupun Angga.
"Saya periksa dulu ya Pak," ucap Dokter tersebut.
"Baik Pak, silahkan.." jawab Angga.
"Sudah berapa lama Bapak mengalami kelumpuhan ini," tanya Dokter.
"Sekitar lima tahun Pak," jawab Angga lesu.
"Ternyata sudah lama juga Bapak menderita kelumpuhan, untung Bapak segera bawa kemari,kalau tidak cepat cepat ditangani atau lebih dari enam tahun mungkin saya akan menyerah karena melihat kondisi yang Bapak alami sangat lah parah, Baik lah, " akan saya coba melalui terapi dengan bertahap. Semoga Bapak segera lekas sembuh. Ucap Dokter.
"Baik Pak Dokter," jawab Angga singkat.
"Tapi sebelumnya Bapak periksakan terlebih dahulu kerumah sakit untuk memeriksa kaki dan tangan Bapak, kemudian hasilnya bawalah kemari. Agar terlihat jelas, karena disini alat nya kurang memadai, jadi saya harap Bapak dapat memaklumi nya." Ucap Dokter.
"Baik Pak Dokter, besok saya akan datang kembali lagi." Jawab Angga.
"Semoga segera sembuh Pak," ucap dokter.
"Terimakasih banyak Pak Dokter,semoga Suami saya akan segera pulih kembali, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak Dokter," ucap Qinan menimpali dan langsung pamit untuk pergi, dikarenakan yang menunggu antrian sudah banyak, dan Qinan tidak ingin mengobrol begitu lama dengan Dokter karena pasien tidak hanya satu. Fikir Qinan.
Qinan langsung mengajak Angga untuk memeriksanya kerumah sakit, agar hasilnya cepat ke luar. Karena Qinan sebenarnya sudah tidak sabar menunggu untuk kesembuhan Angga, Qinan sudah berbagai cara namun tidak membuahkan hasil, dan kini Qinan tidak putus asa untuk mencari pengobatan Suaminya yaitu Angga.
Begitu juga dengan Angga, ingin rasanya cepat sembuh dan tidak lagi harus merepotkan orang lain. Kini Angga sudah mulai semangat untuk kesembuhannya. Entah karena Zio yang akan segera kembali untuk mendapatkan Qinan atau sesungguhnya Angga yang benar benar mencintai Qinan dan akan mempertahankan pernikahannya. Entahlah apa yang Angga fikirkan dalam dilema nya atas perasaan nya sendiri.Fikir Angga dalam benaknya.
Galuh apa vino....