Pagi yang cerah dengan jalanan ibu kota yang padat dengan kendaraan. Terdapat satu keluarga dengan seorang anak gadis yang sangat cantik.
Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya ada satu kejadian yang di harus kan ayah dari gadis itu di penjara.
Setiap hari gadis itu mendapatkan bully di sekolah karena ayah nya yang berada di dalam penjara. Sampai akhirnya dia bertemu salah satu pria yang menemani dia saat semua orang menghinanya.
Pria itu sangat baik, tetapi dari kebaikan nya itu ada maksud tersendiri, sampai akhirnya gadis itu mengetahui apa maksud pria itu mendekati nya.
Sampai pada suatu hari ayah dari gadis itu akhir nya bebas dari tuntutan yang membuat gadis itu sangat senang, tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama gadis itu harus menuruti perkataan orang tuanya.
Dia harus menikah dengan seorang pria yang sudah di tentukan oleh orang tua nya, pria itu ternyata satu sekolah dengan dia dan bisa di bilang musuh nya sejak awal masuk sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Elfaro tidak menghiraukan siswa yang memperhatikan mereka. Dia tetap menggenggam tangan Adira menuju kelas. Semua orang riuh melihat Elfaro dan Adira.
“Waduh si es batu sudah cair.”
“Kok Elfaro bisa sama si Adira sih.”
“Kok bisa bareng sih bukannya mereka musuh?.”
“Duh gue enggak bisa dapetin Adira ini.”
“Bukannya Adira pacaran sama Alfino ya? kok bisa sama si El sih?”
“Duh si El kok mau sih sama cewek kaya dia.”
Begitu lah yang Elfaro dan Adira dengar, tetapi mereka tidak menghiraukannya, tetapi tetap saja Adira risih.
Tidak lama dari itu akhirnya mereka sampai di depan kelas.
*Kelas Adira
Walaupun sudah sampai di kelas Elfaro tetap menggenggam tangan Adira.
“Lepas El ini uda di kelas.”
Di dalam kelas Aliya dan Ica mereka hanya melongo melihat keduanya.
“Duduk!” perintah Elfaro.
Adira pun hanya menuruti perintah Elfaro, lalu dia langsung duduk di kursi nya.
“Bentar lagi aku antar sarapannya,” ucap Elfaro kepada Adira yang membuat kedua sahabatnya itu terheran-heran dengan sikap dan perlakuan Elfaro kepada Adira.
Adira hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berkata sedikit pun.
Krmudian Elfaro pun keluar dari kelas, melihat Elfaro yang sudah tidak ada di kelas, kedua sahabat itu langsung menyerang Adira dengan pertanyaan pertanyaan yang menumpuk.
“Hah demi apa Dir?” Ica heran.
“Kalian ke sekolah bareng?” tanya Aliya.
Adira hanya menganggukkan kepalanya.
“HAAAAAA sumpah ini Dir? Sejak kapan kalian akur? Sejak kapan kalian deket?” tanya Ica yang masih heran.
“Iya apa lagi posisinya loe baru putus sama Alfino, dan sekarang loe deket sama Elfaro yang jelas-jelas dia musuh loe dari awal masuk sekolah,” lanjut Aliya.
“Apa jangan-jangan kalian berdua baper waktu di camping yah?” goda Ica.
“Tapi ya Dir kalau loe sama Elfaro kita bisa tripel date nih, gue sama Brandan, Ica sama Aldi dan loe sama Elfaro, ihhh lucu banget tau,” ucap Aliya menghayal.
“Apasih Al pikiran loe ngawur,” kata Adira kesal.
“Tapi gue pikir-pikir, loe beruntung tau deket sama El udah baik ganteng lagi, apalagi loe bisa manas-manasin si Zahra,” lanjut Ica.
“Bukan hanya deket Ca, dia juga bakal jadi suami gue,” batin Adira.
“Ah norak loe,” kata Aliya
“Apan sih loe, loe lebih norak,” Ica menjitak kepala Aliya.
“Udah ah jangan berantem sehari aja bisa enggak?” Dira kesal dengan kedua sahabat nya yang terus berantem setiap hari, di tambah dia sudah di buat kesal oleh Elfaro, membuat Adira stres aja.
Aliya dan Ica pun diam. Tidak lama dari itu Elfaro datang lagi ke kelas Adira.
“Nih,” ujar Elfaro sambil memberikan roti kepada Adira.
“Makasih,” kata Adira.
Elfaro pun langsung keluar kelas Adira dan menuju kelasnya.
“Dasar cowok aneh,” gumam Adira.
“Aneh aneh tapi ganteng kan?” ujar Aliya.
“Ganteng dari mananya, mukanya aja enggak pernah senyum,” kesal Adira, karena semua orang bilang kalau Elfaro itu ganteng, tapi menurut dia Elfaro itu masih di bawah standar rata rata.
*Kelas Elfaro
Saat Elfaro memasuki kelas dia langsung di sambut dengan kedua sahabatnya.
“eh bro dari mana aja loe kok langsung pergi tadi?” tanya Brandon kepada Elfaro karena dia masuk kelas hanya menaruh tasnya lalu pergi keluar lagi.
“Beli sarapan,” jawab Elfaro singkat.
“Emang loe ga sarapan tadi di rumah?” tanya Aldi karena Elfaro jarang sekali sarapan di luar.
“Udah,” jawab Elfaro.
“Terus sarapannya buat siapa buat kepala sekolah? buat satpam sekolah? atau buat guru-guru sekolah?” lanjut Aldi.
“Buat Adira.”
“HAAAAAAA”
”kaget Aldi dan Brandan bersamaan.
“Berarti bener dong tadi anak-anak gosipin kalian berdua berangkat sekolah bareng itu beneran tah kalian berangkat bareng?” cerocos Brandan.
“Iya tadi gue berangkat bareng sama Adira ke sekolah tadi gue jemput dia dulu ke rumah disuruh orang tua gue,” jelas Elfaro.
“Demi apa El? sejak kapan loe sama Adira deket dan kenapa kok orang tua loe tahu kalau misalkan kalian satu sekolah?” lanjut Brandan.
“Iya kok orangtua loe bisa tahu kalau misalkan loe satu sekolah sama Adira? Dan bukan loe sama Dira itu musuhannya dari awal masuk sekolah kenapa sekarang bisa bareng?” lanjut Aldi.
“Nanti pas istirahat kita bareng sama Adira dan teman-temannya, kita satu meja sama Adira dan teman-temannya loe mau kan temenin gue apalagi loe Brandon pasti loe mau dong satu meja sama Aliya,” kata Elfaro.
Brandon dan Aldi hanya menggelengkan kepala tidak menyangka bahwa Elfaro yang mereka kenal sekarang sudah berubah menjadi Alvaro yang cair dan tidak seperti kulkas lagi apalagi seperti es batu yang dinginnya setengah mati, sampai tidak ada satu cewek pun yang bisa meluluhkan hatinya tapi entah mengapa Adira bisa meluluhkan hati Elfaro.
*Jam istirahat.
Akhirnya jam istirahat pun tiba semua murid-murid berhamburan keluar kelas untuk ke kantin mengisi perut mereka yang kosong, begitu juga dengan Adira dan teman-temannya mereka ke kantin untuk memesan makanan setelah memesan makan akhirnya mereka mendapatkan bangku kosong untuk mereka makan.
Saat mereka lagi asik-asik nya makan tiba-tiba Zahra menghampiri meja Adira, dia langsung memukul meja Adira sangat kencang sampai semua siswa yang ada di kantin itu melihat ke arah Adira dan Zahra.
Adira, Ica dan Aliya yang mendapat perlakuan seperti itu mereka sangat tidak terima, mereka langsung bangun dari tempat duduknya dan memarahi Zahra.
“Apaan sih loe datang-datang marah-marah gak jelas,” kata Adira.
“Tahu enggak ada sopan santunnya amat sih loe,” lanjut Aliya.
“Eh Adira loe tuh cewek caper, sasimo loe tuh maruk amat sih kalau mau sama cowok itu pilih aja satu mau Alfino atau Elfaro jangan semuanya loe embat,” cerocos Zahra.
“Kampungan banget sih loe,” kata Ica.
“Maksud loe apa ngomong kayak gitu ke gue?” tanya Zahra.
“Lah loe sendiri yang duluan menghina Adira.”
“Kan yang gue omongin emang fakta dia cewek sasimo yang mau sama semua cowok dasar maruk,” sindir Zahra.
“Emang kenapa kalau gue sama Elfaro ada urusan sama loe? emang loe siapanya Elfaro ceweknya? bukan kan?! jadi loe nggak berhak buat ngatur-ngatur gue mau deket sama siapapun dan ingat gue udah putus sama Alfino jadi gue bukan cewek yang loe pikirin ya. Gue putus sama Alfino itu emang ada sebabnya dan gue deket sama Elfaro juga bukan urusan loe ya,” ucap Adira emosi.
“Lagian kenapa sih kalau misalkan Adira deket sama Alfino kek Elfaro kek urusan sama loe tuh apa Zah? kan lu bukan siapa-siapanya mereka kenapa loe harus marah sama Adira heran gue sama loe tuh enggak jelas frek,” marah Ica.
akhir nya setelah lama menunggu Dira sadar juga.