NovelToon NovelToon
Cinta Dari Tuan Duda

Cinta Dari Tuan Duda

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:221.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Seri Melani

Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.

Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.

Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.

Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDTD - Chapter 28

Seorang laki-laki tampan berkulit putih dan memiliki badan yang tinggi serta tegap itu masih terduduk sambil memandangi raut wajah sang ibu.

Diamatinya garis-garis wajah yang mulai terlihat.

Seketika itu pula ia luruh. Luruh setelah mengingat pergorbanan yang sudah dilakukan sang bunda.

Ingatannya kembali melayang ke kejadian beberapa waktu silam. Ketika itu, Arsen di sandera oleh pria yang mengaku mencintai Nyonya Abyakta semasa duduk di bangku kuliah. Lelaki itu seolah gila, karena meminta Nyonya Abyakta nenukarkan dirinya sebagai tembusan Arsen. Tapi Nyonya Abyakta bukanlah orang bodoh, dirinya membawa beberapa orang polisi untuk berjaga di luar gedung dan akan menyergap mereka ketika Arsen sudah di lepaskan.

Tepat saat itu, setelah sang pria berhasil melepaskan Arsen. Nyonya Abyakta mengajak Arsen untuk lari bersamanya.

Pria itu merasa tertipu dan hampir membunuh Arsen. Dan disitu Nyonya Abyakta mendapati sebuah pisau dan langsung menghalangi tubuh Arsen, sehingga Nyonya Abyakta lah yang terkena tusukan pisau dari teman pria Nyonya Abyakta semasa kuliah.

Arsen sangat ingat betul kejadian itu. Ia hanya seorang diri berusaha menyelamatkan sang bunda dari si pelaku kriminal. Karena sewaktu itu, Arsen berpikir bahwa ibunya lah satu-satunya yang terpenting dalam hidupnya saat itu setelah sang ayah meninggal dunia.

Ingatan lain kembali mengilas, kala Nyonya Abyakta menitihkan air mata tapi tersenyum sambil membelai wajahnya.

Arsen sangat takut jika ibunya kenapa-kenapa. Arsen kalang kabut, takut ibunya tidak bisa diselamatkan.

Tangan Arsen terus mengenggam jemari Nyonya Abyakta sampai ke rumah sakit. Bibirnya tidak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan kata 'Bu, di sini ada Arsen.'

Setelah ditangani oleh dokter ahli, ternyata ginjal di bagian kiri ibunya terkena tusukan pisau. Arsen sangat terpukul mendengar semua itu. Tubuh Arsen bergetar hebat. Kala itu, ia hanya ditemani Dokter Gyan Permana orang yang sangat dekat dengan keluarga Abyakta Gavano. Gaza, saudara kembar Arsen sedang tidak tinggal bersama mereka di Indonesia.

Dokten Gyan sangat peduli dan begitu dekat dengan keluarga ini. Sudah menganggap bagian dari keluarga sendiri, sampai-sampai dua keluarga itu menjodohkan putra-putri mereka masing-masing.

Sejak Tuan Abyakta Gavano hidup, mereka telah merencanakan hubungan itu. Tapi, Arsen selalu mengelak dan mencari-cari alasan untuk tidak menikah muda masa itu. Meski bagi kedua orang tua Arsen keduanya telah tepat untuk menikah.

Sang ibu terbaring lemah tak berdaya. Nyonya Abyakta harus hidup dengan satu ginjal. Hal itu membuat Arsen merasa bersalah.

"Menikahlah dengan Kanaya, putri Dokter Gyan seperti permintaan almarhum ayahmu dan sekarang ibu pun meminta padamu, Arsen"

Kalimat itu yang terucap dari satu-satunya wanita yang Arsen cintai kala itu. Kanaya adalah putri tunggal dari Dokter Gyan Permana.

Baiklah mulai itu, Arsen mengikrarkan dalam hati akan menuruti semua keinginan sang ibu demi kebahagiannya.

"Kamu mau dibuatkan apa, Arsen? Ibu tahu kamu pasti merindukan masakan ibu," ucapnya dengan sumringah, kehadiran anaknya, seperti menjadi pengobat rindu bagi wanita paruh baya ini.

Nyonya Abyakta bangkit dari duduknya bermaksud ingin membuatkan makanan kesukaan Arsen. Namun, tangan besar Arsen lebih dulu menahannya.

"Bu, duduklah. Ibu pasti lelah, duduklah kembali," pinta Arsen.

Nyonya Abyakta tersenyum. "Lelah apanya, sayang. Orang Ibu tidak melakukan apapun. Ibu hanya ingin membuat sarapan untuk kita." Ia membelai wajah putranya, memberi pengertian.

Arsen tersenyum lembut, lalu menggeleng.

"Bagaimana pekerjaanmu di sana, lancar?" tanya Nyonya Abyakta, sembari mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dapur.

"Kerjaan yang mana Bu?"

"Oh iya, kamu tidak hanya mengurus bisnis di Paris ya, tapi juga di Yaman"

"Arsen tidak punya bisnis di Yaman. Di sana hanya ikut membantu penggalangan dana, mengajak para donatur untuk berpartisipasi dalam relawan kemanusiaan Yaman. Yah, alhamdulillah untuk kegiatan di Paris, pertemuan dengan investor lancar. Mereka sangat tertarik untuk menanam saham di perusahaan yang aku rintis, Juga penyediaan alat kesehatan."

"Oh begitu, Syukurlah." kata Nyonya Abyakta penuh syukur.

"Ini juga berkat doa, ibu" balas Arsen.

"Apa rencanamu hari ini?"

Arsen diam, ia terlihat berpikir. Hari ini belum ada rencana untuk dirinya. Terlebih akhir pekan ini ia ingin menikmati quality time bersama putrinya, yang sempat terbuang karena sibuk bekerja.

"Hm, belum ada sepertinya. Rasanya mau menghabiskan waktu berdua dengan Kyara dulu." sahutnya, lalu mengesap segelas coffie late favoritnya.

"Kamu, tidak mau mengucapkan selamat atau memberikan hadiah pernikahan untuk saudara kembarmu gitu, Ar?"

"Astagfirullah, hampir lupa. Ia aku bahkan belum memberi ucapan selamat dengan saudara kembarku, Bu," Arsen menertawai dirinya sendiri.

"Baiklah hari ini, aku akan mengajak Kyara untuk berjalan-jalan juga mampir ke rumahnya. Lagi pula, barang-barangku masih banyak di sana."

"Nah, ide bagus. Tapi yang lebih bagusnya ayo kita sarapan bersama-sama dulu. Setelah itu barulah kalian berdua pergi kemana pun yang kalian suka."

Nyonya Abyakta telah menyelesaikan masakannya, dan meminta Arsen untuk mencicipi masakan yang sudah dirindukan putranya jauh-jauh hari.

"Papahh.... " suara teriakan itu, menunda Arsen untuk menyendok nasi ke dalam piringnya.

Kyara, putri Arsen nyata telah terbangun dari tidurnya. Ia terlihat masih tak percaya bahwa papahnya sekarang sudah berdiri di depan tubuh munggilnya.

Arsen langsung menarik Kyara dalam rekuhannya, memeluknya dan menciumnya penuh gemas.

"Haloo... Tuan Putri Kyara" Arsen menyentil hidung mungil Kyara, usai memeluknya.

Wajah Kyara asli lebih banyak mengarah mirip ke Kanaya, bundanya. Alisnya bak semut beriring, matanya bulat dengan iris hitam pekat serta rambut yang sangat lurus.

"Papah kok nggak kasih tahu Kya kalau papah pulang?" bibirnya dimanyunkan, melihat tingkahnya kian membuat Arsen merindu dan gemas.

"Tuan putri tahu dari mana Papah ada di sini?"

"Tahu dari Mbak Ayuni, katanya Papah Kya udah pulang. Terus Kya lari, turun dari kamar cariin papah. Pah, Kyara rindu ama Papah" katanya dengan terus mendumel, celotehannya sangat nyaring menyapa gendang telinga Arsen.

"Sama. Papah juga. Gimana enak nggak, kalau nggak ada Papah?"

Kyara menggeleng cepat.

"Nggak!" tangannya terlipat dua di dipan dada.

"Tinggal sama Om Gaza, nyebelin. Suka marah, marah! Kayak harimau."

Nyonya Abyakta yang mendengarnya hanya tersenyum sambil mengeleng-geleng melihat kelakuan sang cucu.

"Hmmm... Memangnya harimau bisa marah?"

"Bisa, itu buktinya Om Gaza."

Arsen mengelus kepala Kyara dan merapikan poninya yang berantakan.

"Itu mungkin karena Kyara nya memang nakal. Ya kan, Oma?" Arsen mengekor mata pada Ibunya. "Om Gaza baik kok. Sangat baik."

Kyara mendengus dengan keras, seperti sebuah ucapan penolakan atas penyataan yang diucapkan Arsen.

"Pah, Papah udah tahu belum?"

"Belum, Papah belum tahu tuh sayang"

"Ih, Pah. Kya belum selesai ceritanya, dengerin dulu," Kyara mendengus kesal, saat merasa dikerjai oleh sang Ayah. Arsen balik menertawai ekspresi Kyara ketika kesal.

"Iya, iya apa sayang. Ayo lanjutkan"

"Pah, Om Gaza udah nikah loh"

"Oh ya"

"Nikah sama tante baik dan ramah. Kyara suka Pah sama tenta Dayna."

"Dari mana Tuan Putri tahu kalau tante itu baik dan ramah?"

"Waktu itu, Kyara pernah kabur dari Om Gaza, karena bosen nungguin Om Gaza nggak selesai-selesai kerja. Akhirnya, Kya kabur. Kabur cari makanan, Pah. Terus kebetulan Kya liat ice cream. Enaakkk.... banget. Tapi Kya nggak bawak duit. Dan tantenya ngasih Kya ice cream gratis. Eh, tapi malah dimarahin sama Om Gaza."

"Hmm... Gitu ya sayang."

"Iya, Pah. Eh, tapi Om Gaza malah nikah sama tante Dayna."

"Ya Nggak papa dong sayang, kan sudah jodohnya Om Gaza."

Bocah itu terdiam sebentar dengan dua bola matanya menatap intens sang ayah yang duduk berjongkok di depannya.

Binar mata bocah itu ingin berbicara.

"Coba tante Dayna, jadi Bundanya Kya. Kan pas sama Papah," ujar Kyara dengan polos.

Hatinya tersentak. Arsen mencoba memahami situasi yang dihadapi Kyara. Ia membaca bahwa ucapan bocah lima tahun itu seperti sebuah pengharapan terhadap dirinya.

Namun, Arsen tidak bisa berbuat apa-apa. Ia masih menyimpan dalam-dalam cinta itu untuk Kanaya. Wanita pilihan ibunya dan juga telah menjadi pilihan hatinya sejak ijab qobul itu terucap. Sejak saat itu, ia telah manaruh sepenuhnya cinta kepada Kanaya meski bermula pada perjodohan keluarga.

Arsen sangat tahu Kanaya menerimanya dengan ikhlas. Setahun pernikahan mereka begitu bahagia, sampai mereka dikaruniai putri kecil, bernama Kyara.

Entah, sebab suatu hal. Kian hari Arsen merasa ada yang berbeda dari Kanaya. Singkatnya, diusia Kyara yang ke dua tahun. Sebuah surat tertulis di sebelah tubuh sang bayi. Memo singkat yang mengabarkan kalau dia pergi. Itu saja.

"Ehem!"

"Cucu Oma sayang, Yuk kita makan dulu. Hari ini Papah akan mengajak Kya jalan jalan."

Deheman itu membuyarkan lamunan Arsen.

"Tuan Putri, kita makan dulu yuk sayang" Arsen menggendong tubuh Kyara dan mendudukkannya di kursi tepat di sebelahnya duduk saat ini.

Kyara melonjak kegirangan.

Keluarga itu melanjutkan santap paginya kembali.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

......................

1
Nady Henio Usry
ceritanya msh mutar2 blm jelas thor
Sena Fiana
😃😃
Aisyah Hasan
lanjut
Ammy Rahmy
in arsen bisa g' sih g' muncul d rumh tnggax gaza....
Imelda Chua
mana kelanjutan episode 41
Imelda Chua
cdtd
Imelda Chua
episode 41
Efrida Lubis
kok aku gak suka ama karakter Dayna
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
Halimah
lama bangét upnya, sampai lupa ceritanya..
sekali up ngulang 😔😔
Ibu Komariyah
kok d ulang lg,,, jg lama2 thor keburu lupa
Safnidewi Dewi
ko di ulang kak. ini kan sudah...
Azka Ical
kok g ada kelanjutannya ya
Sukayatin Sukayatin
up thor
Halimah
kénapa dah lama gak di lanjut ya..
Nadia Putri
lanjut
Azka Ical
Kak mana kelanjutannya kok lama up nya
Kresna Dewi
lanjutttttttt......
Anisa Al Usmani
lanjut dong....
Indrawati Indra
penasaran dilanjuttttt..........dong.
Azka Ical
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!