Kisah dalam Novel ini hanya FIKSI belaka.
Saat menyelidiki pembunuhan yang terjadi pada ibunya empat belas tahun yang lalu, Bara Leonardo Handoko menemukan tekerkaitan pembunuhan ibunya dengan kejadian dua puluh tahun lalu, yaitu pembakaran rumah Cakra Handoko yang merupakan orangtua angkatnya.
Kejadian dua puluh tahun lalu itu, menyebabkan istri dan putri Cakra meninggal. Tapi, setelah menyelidik lebih jauh, Bara mengetahui bahwa ternyata putri Cakra masih hidup.
Dimanakah tuan putri?
Benarkah tuan putri masih hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Tuan Putri
Wulan termangah kagum saat mobil yang dinaikinya berhenti tepat di depan rumah mewah yang layak disebut istana.
"Ini istana, aku pasti sedang bermimpi." Batinnya.
Jehan membukakan pintu mobil untuk Bara terlebih dahulu, baru kemudian membukakan pintu mobil untuk Wulan.
Perlahan Wulan turun dari mobil dan melangkah sedikit menjauh dari mobil itu. Matanya menatap kesegala penjuru rumah mewah itu. "Di luar rumah saja sudah semegah dan seluas ini, aku tidak berani membayangkan betapa indahnya di dalam sana." Pikirnya.
Saat Jehan mengambil tas Wulan di bagasi belakang mobil, Bara sudah lebih dulu melangkah masuk ke rumah untuk menyapa Papa, Mama dan juga adik kecilnya.
"Tuan putri, mari ikut saya." Ajak Jehan.
"Tu… tuan putri? Dia memanggilku dengan sebutan tuan putri?" Wulan tidak percaya, ia benar benar merasa seperti mimpi.
Langkahnya perlahan mengikuti Jehan. Begitu pintu utama terbuka, empat orang pelayan rumah itu membungkuk menyambut kedatangan Wulan.
"Selamat datang, tuan putri!" Sapa mereka.
Wulan hanya sedikit tersenyum, sementara kakinya terus melangkah mengikuti Jehan menuju lantai atas dimana keluarga besar Cakra telah menanti kedatangannya.
"Tuan putri, selamat datang di rumah ini. Saya Jehan, pengawal tuan muda." Jehan menunduk kearah Wulan yang berdiri diam menatap orang orang yang tampak asing baginya.
"Tuan putri, saya Timo sekretaris CEO UT Holding." Kini giliran Timo memperkenalkan diri.
"Bara Leonado Handoko, putra sulung." Ucap Bara singkat dan tidak bersemangat.
"Putra Sulung?! Berarti dia anak angkat tuan Cakra. Dia sangat tampan. Tadinya aku kira dia hanya pengawal sama seperti Jehan." Pikir Wulan. Ya, Wulan tahu Bara anak angkat. Ia dapat info dari hasil penelusurannya digoogle saat dalam perjalanan menuju rumah ini sayangnya tidak ada foto Bara sama sekali, hanya namanya saja.
"Hai kak Wulan, saya Klara Handoko putri bungsu. Selamat datang di rumah kita kak Wulan." Sambut Klara gadis kecil berusia delapan tahun yang sangat menggemaskan dan kesayangan Bara.
"Selamat datang, sayang. Maaf Papa terlambat mengetahui keberadaanmu." Cakra melangkah menghampiri Wulan, lalu memeluknya dengan pelukan penuh kasih dan rasa kerinduan.
"Selamat datang sayang, meski bukan aku yang mengandungmu dan melahirkanmu, tapi kamu juga anakku." Ucap Karina istri Cakra, ibu dari Klara. Ia pun ikut memeluk Wulan dan memberikan elusan lembut di wajah Wulan yang tampak kebingungan.
"Aku berharap hasil tes DNA mengatakan bahwa aku adalah putri tuan Cakra." Batinnya, lalu ia pun jatuh pingsan dalam dekapan Cakra dan Karina.
"Kak Wulan!" Teriak Klara khawatir.
Kegaduhanpun terjadi, Cakra, Klara dan Karina sangat mengkhawatirkan Wulan yang tiba tiba pingsan. Sementara, Bara hanya menggelang tidak suka. Jehan dan Timo dibuat heran oleh tingkah Bara yang sangat kentara tidak menyukai Wulan bahkan dihadapan tuan Cakra.
"Tuan muda, bukankah saatnya anda menggendong tuan putri untuk di bawa kekamarnya." Bisik Timo.
Bara tidak menyahut, ia hanya mengikuti saran Timo. Ia segera mengangkat tubuh Wulan dan mengantarkan ke kamarnya yang sudah di siapkan oleh pelayan saat mengetahui bahwa Wulan akan tinggal di rumah ini.
Saat dalam gendongan Bara, tangan Wulan bergerak. Ia melingkarkan tangannya untuk memeluk erat bahu bidang Bara. Ia juga membenamkan wajahnya tepat di ceruk leher Bara. Hal itu membuat Bara jengkel, ingin rasanya ia menghempaskan tubuh Wulan begitu saja ke lantai, tapi ia tidak ingin membuat masalah di depan Papa dan Mamanya.
"Berhentilah berpura pura pingsan, tuan putri. Aku sangat tidak menyukaimu." Bisik Bara ditelinga Wulan. Bukannya membuka mata, Wulan malah semakin mengeratkan tangannya dan semakin membenamkan wajahnya diceruk leher yang memberikan sensasi harum yang menenangkan.
"Aku harap kamu bukan putri kandung Papa." Ucap Bara geram.
"Mau aku putri kandung tuan Cakra atau tidak, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, kak Bara." Ungkap Wulan dalam hati.
mlhan buat si Bra trllu goblok
si Bara trllu bodoh