"Kalau kau ingin aku tidak mengenali mu di kampus. Oke!! Itu tidak masalah bagi ku. Tapi kalau nikah dan pakai kontrak kontrakan seperti di novel-novel! I say NO! Aku tidak akan bersedia!! Dan kalau pun kau ingin menyembunyikan ini dari semua orang maka aku punya satu syarat yang harus kau penuhi.” Sebut Saka.
"Aku tidak sedang melakukan negosiasi saat ini tuan Gyan Assaka Hardata." Jawab Bia malas.
"Kalau begitu sayang sekali. Karena begitu sampai dikampus aku akan langsung mengumumkan pernikahan kita ke semua orang.." Ujar Saka dengan enteng nya.
Bia menghela nafas panjang dan melihat malas pada Saka. " Baik. Aku setuju. Tapi aku tidak mau ada siapapun yang tahu tentang pernikahan kita selain keluarga kita dan orang yang datang ke nikahan kita kemarin.."
“cepat katakan!” sambung Bia.
"Aku ingin kau melayani k-u... "
"Apa!!!" sela Bia, langsung memotong ucapan Saka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
“Owen! Maaf, aku jadi memanfaat mu sekali lagi.” Bia melepaskan pegangan tangan nya setelah Bia rasa jarak nya dan Owen sudah cukup jauh dari ruangan kampur mereka.
“Aku tidak merasa keberatan dimanfaatkan oleh mu Bia. Kau tenang saja. Dan silahkan manfaat kan aku sesuka hati mu.” ucap Owen yang malah membuat Bia semakin merasa bersalah pada Owen. Bia tidak lah buta untuk dapat melihat pria yang ada di samping nya saat ini bergitu mencintai nya. Bia sangat tahu akan hal itu tapi yang nama nya perasaan tidak dapat di paksakan.
Mungkin Bia adalah gadis yang sangat bodoh yang mana cinta nya telah berkali di sakiti oleh Saka tapi dia tetap bertahan memegang teguh cinta untuk Saka seorang. Hati nya tertutup rapat untuk pria lain. Begitu lah Bia setia pada cinta nya.
“Jangan berkata seperti itu. Kau membuat ku merasa bersalah kuadrat pada mu Owen.” Ucao Bia dengan wajah sedih nya melihat pada Owen.
“Aku hanya bercanda Cristal Bianca! Setengah bercanda, setengah lagi betulan heehhee..’”Kekeh nya di depan Bia. “Aku tahu cinta nya hanya untuk laki-laki yang menyebalkan tadi. Dan mungkin saja suatu saat kau akan kembali pada nya. Tapi please Bia, biarkan aku disini untuk tetap menemani sambil menanti kau membalas cinta ku. Dan selama itu pula, kau bebas memanfaat ku untuk menghindari laki – laki itu.”
“Owen please...”
“Sudah! Kok jadi bahas ini lagi?! Hmmm kita makan di mana ya enak nya?? Bagaimana kalau di restoran yang ada di dekat taman. Di sana ada jual masakan khas Indonesia. Mana tahu kau rindu dengan masakan Indonesia.” Owen langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Owen-“
“Ssssttt... Sekali saja! Sekali saja kau nurut dengan ku kenapa Bia!” ujar Owen yang sukses membuat Bia diam. “Nah, seperti itu kan bagus. Ayo masuk ke dalam mobil! Kalau telat, antrian nya bisa panjang.”
***
“Apa kau dosen baru di sini?” tanya seorang wanita yang kalau di lihat- lihat dari penampilan nya dia pasti lah dokter sekaligus dosen di rumah sakit ini. “Kau orang Indonesia juga kan? Kenal kan nama ku Amelia. Kau bisa panggil aku Amel.” Si wanita langsung mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Saka. Tapi alih-alih berjabat tangan dengan wanita yang bernama Amelia itu Saka hanya berlalu sambil menyebutkan nama nya.
“Hmm.. Aku Saka.” Ucap Saka dan berlalu begitu saja dari Amelia dengan tangan yang masih menggantung di Udara karena di lewati oleh Saka begitu saja.
“Apa dia baru saja menyuekin aku?” gumam Amelia dengan suara pelan lalu menarik tangan nya sambil melihat ke kiri dan ke kanan, takut kalau- kalau ada orang yang melihat kejadian yang memalukan itu.
“Saka! Baiklah, akan aku ingat nama mu baik-baik dokter Saka! Tidak ada satu orang pun selama ini yang pernah aku ajak kenalan. Dan kau adalah yang pertama. Tapi kau malah menuliskan sejarah baru di dalam hidup ku! Sejarah pertama aku di tolak oleh seorang pria. Tungguu! Akan ku buat kau yang mengejar ku!” Amelia menatap lekat ke arah ruangan Saka.
Jam perkuliahan pun telah selesai... Semua mahasiswa pun sudah berangsur-angsur pulang. Demikian pula dengan Bia yang kebetulan di jam terakhir nya beda kelas dengan Owen.
“Bia aku duulan ya...” ujar salah seorang teman Bia pakai bahasa inggris.
“ya... Bye!” jawab Bia singkat.
Kini tinggal Bia sendiri di dalam ruangan itu karena masih ada soal yang harus Bia kerjakan.
“Perlu bantuan???” tanya Saka yang tiba-tiba muncul di pintu masuk ruang kuliah Bia.
Bia melirik sebentar lalu lanjut fokus mengerjakan soal yang sudah menguras hampir sembilan puluh persen otak nya itu. “Seharus nya aku tidak perlu memaksakan diiri ku untuk menjadi dokter!”gerutu nya dalam hati.
“Apa ada soal yang tidak bisa kau pecahkan Bia?” tanya Saka berjalan mendekat ke arah Bia.” Kalau kau perlu bantuan ku, katakan saja! Aku bisa punya waktu luang yang cukup banyak untuk membantu mu.” Kini Saka sudah berada tepat di depan meja Bia. “katakan saja.”
Bia melihat Saka selali lagi kemudian memutar sedikit tubuh nya sehingga ini posisi memunggungi Saka.” Ini orang kenapa sih? Gila atau kenapa!” sungut Bia dengan suara sangat pelan.
“Bukan seperti itu Bia, seharusnya kau cari dulu nilai X yang itu baru setelah itu kau masukan ke dalam rumus. Hmmm.. rumus mu itu seperti nya kurang tepat juga. Seharus nya kau – TAP !!” Bia menutup kasar buku nya.
Bia menarik nafas dan menghelanya dengan kasar. Keberadaan Saka di dalam ruangan ini bersama Bia saja sudah membuat Bia menahan rasa sesak yang kuar biasa di dalam hati ini. Eh malah di tambah lagi dengan sikap sok pintar nya yang membuat Bia menjadi semakin muak dengan Saka.
“Sabar Bia! Sabar!” ujar Bia dalam hati.
“Apa bapak tidak ada kerjaan pak? Kalau tidak, mengapa bapak tidak pulang saja? Karena ini sudah waktu nya untuk pulang. DAN SAYA PUN SUDAH INGIN PULANG!” Tukas Bia, lalu memasukan semua buku nya ke dalam tas nya.
“Lama-lama di sini aku bisa gila!” gumam Bia dalam hati.
“Ayo kita pulang!” ajak Saka sungguh tidak tahu diri. Sudah sejelas itu Bia menghindari nya eh dia malah tambah lengket seperti magnet dengan Bia.
“Aku pulang sendiri. Terima kasih. Tempat tinggal saya sangat dekat dari sini!” Tolak Bia, dan berjalan meninggalkan Saka yang malah tersenyum setelah di tolak oleh Bia.
“Sama! tempat tinggal ku juga dekat dari sini.” Ujar Saka dengan suara pelan setelah Bia jauh meninggalkan nya di belakang.
Usai mengatakan itu Saka pun berlari kecil mengejar Bia dan tetap mengikuti Bia yang berjalan kaki di depan nya.
Sambil berjalan Bia sambil melihat ke belakang nya sesekali dan benar dugaan Bia kalau pria yang bernama Gyan Assaka Hardata itu sedang mengikuti nya dari belakang. “Saka, apa dia benar-benar sudah jadi gila?” seru Bia merasa risih Saka mengikuti nya.
“Aku harus segera sampai di rumah.” Bia mempercepat langkah nya.
“Aku pulang!” Ucap Bia dengan tergesa-gesa di sebuah rumah tidak terlalu besar yang memang tidak begitu jauh dari kampusnya. Bia sengaja pindah ke rumah milik pasangan suami istri asal Inggris ini supaya Saka tidak dapat mencari nya. Tapi seperti nya usaha Bia sia-sia sebab saat Bia akan menutup pintu rumah itu, Saka menahan pintu itu dan ikut masuk.
“Saka Please! Ini rumah orang! Kalau gila itu juga ada batas nya Saka!” Teriak Bia dengan suara tertahan tapi Saka sama sekali tidak menghiraukan Bia dan malah menerobos masuk begitu saja.
Bia yang melihat Saka masuk jadi gelagapan secara apa yang akan di jelaskan nya pada tuan dan nyonya Meyer saat mereka melihat Bia pulang membawa seorang pria. Bia pun jadi berdecak kesal dan menarik tangan Saka yang dengan santai nya malah melepaskan jas dan meletakan jas tersebut di lengan sofa.
“Saka! Bisa tidak jangan seperti ini! Ini bukan rumah ku! Aku tinggal dengan orang lain disini! Aku tidak ingin mereka berpikiran aneh-aneh saat melihat aku pulang dengan seorang pria! So Please pergi lah dari sini!” Bia mendorong jas Saka ke dada Saka dan menarik tangan Saka untuk keluar dari rumah itu. “jangan datang-datang lagi ke tempat ini!” Dengan sekuat tenaga Bia mendorong Saka menuju pintu keluar.
Namun saat Saka sudah hampir saja keluar, tiba-tiba dari lantai atas turun Marine Meyer, putri kecil dari pasangan Meyer yang baru berusia empat tahun...”Uncel Saka............” teriak nya sambil berlari kemudian menangkap kaki Saka.
“Uncle Saka ???????” gumam Bia terkejut melihat Scene epik ini. “kenapa Marine bisa mengenal Saka?"
**********
Ayoooo ada yang tahu kenapa Marine bisa kenal Saka? Ayoo tulis jawaban halu mu di bawah kakak..
Dan jangan lupa, bantu untuk like 20 komentar di bab mana pun untuk menaikan popularitas novel BI-SA ini. Terima kasih.🥰