Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Dia Berpikir
Lidah Laila serasa kelu. Tak sanggup lagi berucap. Bagaimana tidak? tatapan Laskar begitu tajam menghujam ulu hatinya. Laila hanya bisa menunduk lesu. Namun ia tetap berharap, Zein mencari Zi dengan caranya. Bukankah ia sudah memberikan beberapa clue bahwa wanita itu saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Laila beranjak dari tempat duduknya. Hendak mendekati sang suami. Namun dengan cepat Zein pun melarang ibu sambungnya itu
"Ma, Mama belum jawab pertanyaan Zein," ucap Zein, memohon.
Laila menatap sang suami, tentu saja ia tak berani menjawab jika begini.
"Berusahalah sendiri, kamu akan tahu dia sakit apa kalo kalian bertemu. Sudah ya," jawab Laila. Lalu pegangan tangan Zein melemah. Laila pun bisa melepaskan diri tanpa berdrama dengan kedua pria yang sekarang sukses membuatnya pusing ini.
"Ma, ayo pulang!" ajak Laskar santai. Namun mata pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Zein.
"Nggak nginep di sini aja, Pa?" tanya Zein, mencoba mengambil hati sang ayah.
Laskar, si pria dingin dengan pendirian keras itu, sama sekali tak mau menjawab pertanyaan dari Zein. Rasanya malas saja. Intinya Laskar masih malah.
Mengetahui emosi sang suami mulai muncul, dengan cepat Laila pun membelikkan tubuh sang suami dan mengajaknya keluar dari kamar sang putra.
Sedangkan Zein, masih duduk termenung memikirkan apa yang ibu sambungnya katakan.
Zi sakit? Sakit apa?
Pertanyaan itu seperti berputar dan mencoba mencari jawabannya sendiri. Lalu ia pun teringat Safira. Zein yakin jika adiknya itu pasti tahu di mana sang mantan istri itu berada. Rasanya tidak mungkin jika ibu sambungnya itu tidak memberi tahu dirinya. Sedangkan Zein hafal benar, bahwa mereka berdua sangat dekat.
"Ra.... Fira!" panggil Zein.
Sayang tak ada yang menjawab panggilan tersebut. Lalu ia pun mencari sang adik di kamarnya.
"Ra.... Ra!" panggil Zein lagi, kali ini ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu. Namun tetap sama, tidak ada jawaban.
Zein membuka pelan pintu kamar itu. Kosong! tak ada siapapun di dalam kamar tersebut. Semua kosong, sepi, seperti mereka telah pergi meninggalkannya tanpa kata.
Mereka marah padanya. Sangat-sangat marah.
Zein duduk lemas di ranjang yang biasa ditempati Safira dan sang suami. Kembali mengingat pertanyaan yang pernah Safira lontarkan perihal sang mantan. Berkali-kali Safira bertanya mengenai perasaannya pada Zi dan bodohnya dia selalu menyangkal rasa yang ia miliki.
Lalu, sekarang... semua terlambat. Di saat ia bisa bisa mengerti apa yang hatinya inginkan, mereka seolah muak padanya. Muak pada kemunafikannya. Lagi-lagi Zein menyesal dengan itu. Sangat-sangat menyesal.
Namun, Zein tak ingin terus berpangku tangan meratapi kebodohannya. Ia pun segera berlari ke kamarnya dan mencari ponsel miliknya.
Harapannya saat ini adalah Safira. Ya... hanya dia. Opsi kedua adalah Lutfi. Tapi Lutfi saat ini sedang ke Malaysia untuk mewakili Laskar menghadiri rapat di sana.
"Ayo, Ra.... angkat. Abang mohon," ucap Zein. Sayangnya, Safira seperti marah padanya. Panggilan ponsel itu sama sekali tidak Safira hiraukan. Fix Safira kesal padanya.
***
"Tidak usah diangkat! Biar dia ngrasain bagaimana tidak dianggap!" ucap Laskar, sepertinya ia juga sakit hati dengan anak sulungnya itu.
Safira dan Laila saling menatap. Ingin membantah namun tak kuasa. Sebab pria paruh baya itu terlihat sangat kecewa.
Tak lama terdengar kembali ponsel Safira berdering. Ingin rasanya Safira menyambut panggilan itu Namun lagi-lagi Laskar melarang.
Kali ini Safira memberanikan diri menawar pada sang ayah.
"Kasihan abang, Pa. Dia udah telpon berkali-kali. Pasti ada yang mau ia tanyakan ke Fira," ucap Safira, menatap sendu pada papanya. Seperti memohon.
Namun, siapa di sini yang tidak mengenal pria ini. Sekali dia bilang tidak maka tidak akan ada kata iya setelahnya. Apapun yang terjadi.
Laila dan Safira hanya bisa pasrah jika begini. Tetapi mereka berharap bahwa Zein segera bertindak untuk mencari mantan istrinya itu. Sebelum ada tiga hati yang terluka. Hatinya, hati mantan istrinya dan terlebih hati wanita yang tidak tahu apa-apa, yaitu hati calon istrinya.
***
Di lain pihak, Nadia sedang bersiap untuk pergi ke rumah Zizi. Karena selama dia tidak bekerja, maka ia wajib menemani Zizi. Agar Zizi tidak bosan dan menjaga emosi serta kesehatan Zizi adalah tugasnya saat ini.
Nadia tersenyum riang ketika melangkah keluar dari tempat tinggalnya. Namun, langkahnya terhenti ketika seorang pria tinggi besar berdiri tegak di depannya.
"Hey, suster jelek... mau ke mana kamu?" tegur pria itu tanpa basa-basi.
Nadia memundurkan langkahnya. Menatap penuh kebencian pada pria itu.
"Ngapa matanya melotot begitu? Nggak sopan!" hardik pria itu.
Nadia masih enggan menjawab, lalu tanpa kata ia pun tetap melangkah meninggalkan pria menyebalkan itu menurutnya.
Pria tersebut tak mau kalah, ia pun segera berlari dan mencekal tangan sang target.
"Ih, apaan sih!" tepis Nadia kasar.
"Dih... dia marah!" ledek pria itu.
"Kita nggak saling kenal ya, sebaiknya anda tidak perlu sok akrab dengan saya!" pinta Nadia kesal. Masih dengan tatapan penuh kebencian.
"Dih, buruk sangka, siapa yang mau dok akrab sama situ. Aku ke sini cuma mau nanya aja, Mbak Sus," canda pria itu.
Sayangnya kebencian yang tertanam di hati Nadia seperti sudah melekat sempurna.
"Nanya apaan? Cepet!" Nadia membuang pandangannya menjauh dari pria itu.
"Jangan judes-judes lah! Aku cuma mau minta tolong sama kamu!" pria itu tersenyum menggoda.
"Apaan sih! Cepetan!" balas Nadia, masih enggan bersahabat dengan pria itu.
"Aku butuh bertemu langsung dengan Zizi, untuk membicarakan masalah pekerjaan. Tapi kamu tahu kan, tak mudah menemui Zi sekarang. Ajudan mertua Zi sangat sulit dikelabui. Mereka tidak mau mengizinkan sembarangan pria menemuinya. Meskipun aku... si dokter tampan ini bisa keluar masuk kamarnya ketika dia di rumah sakit. Tapi tidak kalo di rumah. Emmm, kamu mau nggak membawaku ke sana sekarang!" rayu Bima.
Nadia tersenyum meledek, ternyata si pria arogan nan penipu ini sedang membutuhkan bantuannya.
"Sebaiknya anda puasa tujuh hari tujuh malam dulu, baru aku mau bantu. Enak aja!" Nadia melirik sambil melangkah meninggalkan pria yang pernah menipunya itu. Tetapi Bima enggan menyerah. Karena proyek ini sangat penting bagi kelangsungan bisnisnya.
Dengan cepat Bima pun berlari mengejar Nadia, bermaksud merayu gadis itu. Agar mau membantunya kali ini.
Bersambung....