"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."
Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.
Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.
Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....
(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)
ooOoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
...Godaan Lara Season 5...
"Sebenarnya nggak ada yang salah sama diri kamu kok," kata Richard tenang. "Apa yang kamu takutin itu cuma perasaan parno kamu aja. . ."
Apa benar?, Molly melirik Richard yang menyetir dengan serius.
"Kenapa kamu nggak bisa ngerasa main piano itu sama kayak mengambar? Hanya itu yang bisa kamu lakuin karena kamu nggak bagus dalam pelajaran," ujarnya. "Gampang kan?"
"Itu beda, Kak. . .," Molly terdengar sedikit mengeluh.
"Apa bedanya?" Richard mengernyit.
Sulit untuk dijelaskan. Menggambar itu lebih seperti pelarian di mana ia nggak perlu melibatkan orang lain untuk membuatnya. Tapi, main piano, ia akan dilihat banyak orang dan mereka akan menilai. Gimana kalau ia nggak bisa melakukannya dengan baik? Terlebih ikut festival, sungguh ia nggak bisa berada di hadapan ratusan orang yang mengharapkan sebuah permainan bagus dan menghibur. Lebih-lebih ada musisi ternama yang akan ikut mendengarkan.
"Kamu pikir-pikir dulu aja. . .," ujar Richard. "Kalau kamu bener-bener udah yakin, kamu baru isi formulirnya"
****
"Kamu pulang sama siapa, Molly?" tanya Papa yang menunggu di pintu dan menyaksikan sendiri mobil Richard baru pergi.
"Sama teman, Pa," jawab Molly sedikit cemas, sadar Papanya sengaja menunggu di teras karena matahari sebentar lagi mau tenggelam dan sepertinya mendung. Nggak biasanya juga ia pulang setelat ini.
"Cowok?" tanya Papa lagi.
Molly semakin cemas.
"Itu paling Richard, temennya," kata Mama dari ruang tamu. "Udah yuk, makan"
Papa menoleh ke Molly sebentar sebelum ia masuk lebih dulu dan Molly mengikuti dengan langkah ragu-ragu. Untung Mama membantu menjelaskan dan nggak biasanya ia terlihat tenang-tenang saja walaupun Molly pulangnya telat.
"Cepat mandi dan ganti baju. Habis itu makan," kata Mama pada Molly yang melangkah dengan lesu ke kamarnya.
Nggak lama ia turun dengan mengenakan piyama hijau mudanya sambil membawa pamflet dan formulir pendaftaran yang diberikan oleh Cariss tadi. Awalnya ia merasa nggak yakin dengan keputusannya, tapi ini juga bukan sesuatu yang bisa ia putuskan sendiri.
Sambil memperhatikan Mama dan Papanya, Molly duduk dengan perlahan di kursi. Terlihat Mama sedang menuangkan minuman dalam gelas untuk Papa yang sedang menyendok makanannya. Mereka nggak bicara sama sekali sampai Mama duduk di sampingnya dan ikut makan.
Molly menaruh lembaran-lembaran itu di atas meja makan, menatapi keduanya, ia membuka mulutnya. "Ma, Pa. . .," panggilnya hati-hati dan terlihat makin cemas saat mereka menoleh.
"Kenapa, Molly?" sahut Papa, dengan mulut masih berisi makanan, dan penuh perhatian. Ia sudah lebih dulu melihat kertas di sisi Molly yang baru saja ia taruh. Papa meneguk air putihnya setelah menelan habis makanannya lalu mengambil selebaran yang tampak enggan Molly berikan langsung.
Mama ikut memperhatikan selebaran itu di tangan Papa.
"Aku mau ikut itu. . .," katanya pelan, dan tertunduk. "Ada tempat les yang bisa ngajarin aku sampai festivalnya di mulai. Tapi. . .harus ada izin dari orang tua sama izin dari sekolah. . ."
"Les piano?" Mama tampak mengernyit.
"Iya, Ma. . .," jawabnya menatap Mama ketakutan. "Kak Richard kenalin aku ke instrukturnya. . ."
Papa menatap Mama, heran. "Tunggu," dia menengahi sebentar.
"Richard ini siapa?"
"Teman sekolah, Pa. . .," jawab Molly, suaranya masih pelan. "Kak
Richard main piano juga. . ."
Papa kembali menatap Mama yang tertegun. Masih heran, ia beralih ke Molly yang belum berani mengangkat kepalanya.
"Kamu main piano?" Papa kelihatan nggak percaya, dan lagi-lagi menoleh ke Mama.
"Aku nggak tau apa aku bisa, tapi aku cuma ingin ngelakuin sesuatu yang lain. . .," jelasnya. "Aku nggak pintar di sekolah, makanya aku mau main piano, karena aku pikir aku bisa. . ."
Papa dan Mama sama-sama diam. Saling tatap sebelum Papa akhirnya tersenyum.
"Kamu serius?" tanya Papa.
Molly mengangguk.
"Kamu yakin sekolah kamu nanti nggak akan terganggu?" tanya Mama.
"Aku langsung pergi les habis pulang sekolah," jelas Molly. "Latihannya dari jam tiga sampai jam enam dari Senin sampai Kamis, Ma. . ."
"Kamu kuat?" tanya Mama. "Kamu nggak bisa tidur siang kayak biasanya. Dan pasti bakalan capek begitu sampai di rumah. Kamu juga harus belajar dan ngerjain PR kan?"
"Aku janji bisa ngatur waktu buat sekolah dan les, Ma," kata Molly, menatapnya dengan sedikit kekhawatiran.
Mama tampak menarik nafas. "Selama kamu bisa bertanggungjawab sama diri kamu sendiri soal waktu, nggak apa-apa," katanya. "Asal kamu nggak lupa sama apa yang lebih penting. Yaitu sekolah"
Molly mengangguk lebih cepat dan bersemangat. Terlihat senyum lega di wajahnya.
Papa ikut tersenyum. "Oke, kalau Mama setuju Papa juga setuju," katanya. "Tapi, harus ingat, nggak boleh terlalu lama di luar. Kalau udah jamnya pulang kamu harus pulang. Kalau pulang telat, kamu harus kasih kabar ya?"
Molly mengangguk dengan lebih bersemangat lagi. "Iya," jawabnya.
"Makasih Ma, Pa. . ."
"Ya udah, ayo makan," kata Mama. raut kaku dan tegangnya sudah agak berubah.
****
Hari terasa melelahkan bagi Chika. Susah-susah ketemu Getta hanya buat berantem ngeributin Molly. Setibanya di depan rumah, ia juga nggak langsung dibukain pintu sama pembantu yang biasa menyambut kedatangannya di ruang depan.
Chika harus mengetuk beberapa kali, sampai Mbok Nah dengan sopannya bukain pintu.
"Kok lama amat sih, Mbok?!" protesnya dengan tampang super jutek.
"Maaf, Non. . .," wanita itu tampak cemas.
Chika mencak-mencak melewati ruang depan menuju kamarnya di lantai dua. Tapi, langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara-suara gaduh dari ruang sebelah -ruang keluarga.
"Kamu mau jelasin apa lagi, hah?!" teriakan Papa-nya terdengar histeris.
Mbok Nah cemas melihat Chika pergi ke asal suara-suara itu. Ia nggak ingin Chika menyaksikan pertengkaran orang tuanya.
"Semua ini udah jelas!" Papa berteriak lagi seraya melemparkan beberapa lembar foto ke hadapan Mama yang berdiri termangu di depannya. "Ini yang kamu lakukan di saat aku sibuk kerja, cari uang demi semua kebutuhan kamu itu!"
"Karena kamu sibuk terus makanya jadi begini!" balas Mama berteriak lebih keras. "Kamu nggak pernah punya waktu buat aku!"
Lembaran foto yang tercecer di lantai itu membuat Chika penasaran, sehingga ia maju beberapa langkah dan sesaat kemudian kedua orang tuanya sadar akan kehadirannya.
"Chika. . .," Mama menatapnya dengan mata yang dinodai air mata penyesalan.
Langkah Chika pelan saat menghampiri kedua orang tuanya.
"Chika, masuk ke kamar kamu," kata Papa padanya sambil menunjuk ke tangga.
Tapi, Chika nggak menghiraukannya. Ia memunguti foto-foto itu untuk memastikannya sendiri. Di sana Mama terlihat berpelukan dengan laki- laki lain yang jelas bukan Papa-nya, bahkan laki-laki itu kelihatan lebih muda.Dalam sekejap, ingatan tentang keluarga harmonis dan sempurna itu lenyap. Ternyata inilah yang tersembunyi di balik kesempurnaan itu.
"Chika Sayang. . .," Mama mendekatinya, tampak memohon maaf lewat tatapannya.
Papa terdiam melihat Chika syok dengan foto-foto dalam genggamannya.
Chika mengambil beberapa langkah mundur, memalingkan wajahnya dari sang ibu yang benar-benar kelihatan hancur. Tiada kata-kata yang bisa mengungkapkan bahwa dibandingkan perasaan Mama dan Papa-nya, perasaannya jauh lebih hancur. Yang terbayang di kepalanya adalah mereka akan tercerai berai.Akhirnya Chika berlari ke lantai dua sambil menangis. Merasa bahwa selama ini mereka hidup di atas kebohongan!
ooOoo
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita