Ketika cinta pertama Michele kandas saat di tinggal pas sayang-sayange oleh Aldi, hati Michele menjadi beku.
Janji yang sudah mereka sepakati, nyatanya lebur oleh waktu.
Berusaha membuka hati, dan akhirnya pilihan Michele jatuh kepada sang ketua osis.
Dua tahun berjuang, kini mulai terlihat hasilnya. Namun, di saat hatinya hampir berlabuh kepada sang ketua osis, cinta masa lalunya datang kembali.
Akankah Michele kembali melabuhkan hatinya kepada Aldi, atau Michele akan move on karena status yang mengikat mereka.
Nyatanya, ikatan kakak adik orang tua mereka tidak akan mudah untuk Michele lewati bila memilih Aldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketangkep lagi
****
Setelah memastikan mobil Rasya menghilang, Michele pun segera masuk ke dalam rumah dengan sesekali bersenandung kecil. Hatinya begitu bahagia karena bisa jalan berdua dengan Rasya. Suatu hal yang sama sekali tidka pernah bisa ia bayangkan sebelumnya. Ia berfikir kisah percintaannya dengan Rasya akan berakhir cinta bertepuk sebelah tangan, tapi nyatanya tidak. Kisah nya begitu manis dan menyenangkan.
Ia berfikir, bila dengan Rasya bisa terus begini, maka ia akan dengan mudah Membuang perasaan nya pada Aldi. Ia yakin itu, ia tidak mau terus berharap dengan manusia salju, selain karena manusia salju sangat sulit untuk ia gapai, lagi pula mereka sepupu. Om dan papa nya juga tidak akan membiarkan mereka bersama kan. Jadi sebelum rasa sakit nya terlalu dalam, lebih baik ia berhenti sejak sekarang.
Pyaarrr!
Michele begitu terkejut saat mendengar suara gelas atau piring pecah. Dengan cepat ia pun langsung berlari mencari arah sumber suara. Kamar Aldi, dia pun tanpa mengetuk langsung membuka kamar Aldi dengan rasa khawatir.
“Al!” pekik Michele begitu terkejut saat melihat keadaan Aldi. Ia pun segera berlari dan menghampiri Aldi, hingga tanpa sadar mata nya berkaca kaca, “Kok bisa kaya gini sih? Tadi kan lo gapapa!” ucap nya khawatir sampai menangis.
Bagaimana Michele tidak khawatir, tadi saat mereka bertemu di parkiran sekolah, Aldi masih baik baik saja. Dan sekarang coba lihat, wajah tampan manusia salju itu sudah penyok sana sini, dan kaki nya juga sudah di perban. Entah apa yang terjadi hingga membuat Aldi seperti ini.
“Yang sakit aku, kenapa kamu yang nangis?” tanya Aldi menghela napas heran.
“Hiks hiks, kamu itu bikin orang jantungan. Gue khawatir sama lo. Lo kenapa sih, kenapa bisa begini coba? Hiks hiks, lihat tuh muka plastik lo jadi penyok kan. Kaki lo juga di tambal tambal begitu hiks hiks.” Kata Michele sambil mengumpat namun juga air mata nya terus mengalir.
“Cuma luka ringan>” kata Aldi lalu ia berusaha untuk membenarkan posisi duduknya.
“Hati hati.” Seru Michele takut, lalu ia membantu Aldi dengan sangat hati hati. Aldi pun akhirnya menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan luka seperti ini. Menurut ceritanya, ia terserempet mobil dengan lawan arah. Ia tidak bisa menghindar karena di samping nya juga ada mobil, untung saja luka nya tidak parah, jadi dia bisa langsung pulang tidak perlu menginap di rumah sakit.
“Ngebut aja lo terus! Sok sok an ngebut segala, kalau gak bisa bawa motor tuh jangan bawa motor. Kalau udah begini siapa yang susah? Gue juga kan! Lo itu nyusahin gue tau gak! Nyusahin hati gue, gue tuh tadi udah seneng bahagia sama kak Rasya, kenapa lo rusak mood gue. Kenapa sekarang lo buat hati gue jadi sakit karena khawatirin elo! Dasar olaf manusia salju gak punya hati!” cerocos Michele panjang lebar.
Aldi hanya diam tidak menimpali ucapan Michele. Karena sekali saja gadis itu di jawab, maka akan semakin merembet sampai tuju hari tuju malam. Hinga hampir setengah jam Michele mengoceh, merasa jengah karena ia tadi hendak minum namun nyatanya minuman nya jatuh. Ia pun langsung menarik Michele hingga terduduk di paha nya.
“AL!” seru Michele menatap tajam ke arah Aldi.
“Aku haus, dengerin kamu ceramah malah semakin haus.” Ucap Aldi sedikit kesal, lalu sedetik kemudian ia menyeringai tipis ke arah Michele.
“Ma- mau apa lo?” tanya Michele sedikit takut.
“Aku kan sudah bilang, aku haus.”
“Biar gue ambilin ke dapur.” Michele hendak beranjak, namun Aldi mencegah nya, dengan cepat Aldi langsung mencium bibir Michele dengan lembut.
Kini bukan lagi kecupan seperti kemarin, namun benar benar ciuman. Ciuman yang begitu dalam dan menghanyutkan hingga membuat Michele ikut terlena ke dalam nya.
“Kakakkkk!”